365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
51# Raka, tolong aku...


__ADS_3

Raka berlari menuju ruangan dimana Jonathan dirawat. Saat ia membuka pintu kamar itu, ia melihat Lala menangis dihadapan bocah kecil itu. Raka melangkah masuk dan menghampiri Jonathan.


Bocah lelaki itu menatapnya dengan seksama. Mata sipit nya terlihat sayu, rambut bocah itu juga sudah rontok karena efek kemoterapi. Lala beranjak dari duduknya dan mempersilahkan Raka untuk duduk di samping ranjang Jonathan.


Bocah itu terus menatap Raka. Raka menelan salivanya dan berusaha menahan tangisan nya. Bocah itu terlihat kurus dan pucat. Membuat siapa saja yang memandangnya menjadi sedih melihat keadaannya.


"Jonathan, beri salam Papi Raka," Ucap Lala.


Jonathan menatap Lala dengan kening yang berkerut.


"Mi, bukan nya Papi nya Jonathan itu Papi Max?" Tanya Jonathan.


Lala terlihat gelisah mendengar pertanyaan Jonathan.


"Iya, tapi ini adalah Papi kandung kamu nak," Ucap Lala.


"Jadi.... Papi Max bukan Papi kandung Jonathan?"


"Bukan, Papi Raka lah Papi kandung mu,"


"Jonathan, apa kabar?" Tanya Raka yang bingung akan berbicara apa dengan bocah laki-laki itu.


"Baik Om, eh... Papi," Ucap Jonathan sambil tersenyum.


Raka meraih tangan mungil Jonathan dan menggenggam nya. Lalu, ia mengusap lembut pipi Jonathan.


"Kok bisa sih Papi Raka jadi Papinya Jonathan?" Tanya bocah polos itu.


"Hmmmm, begini.. jadi, Papi bekerja jauh sekali. Sekarang Papi datang," Ucap Raka dengan ujung suara tercekat.


"Terus Papi Max kemana? Kenapa dia tidak pernah datang lagi? Aku menunggunya."


Lala menahan tangisan nya, lalu ia keluar dari ruangan itu.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Batin Raka.


Ia tidak pernah punya pengalaman dengan anak kecil sebelum nya. Raka menjadi bingung harus bagaimana dengan Jonathan.


"Papi, ganteng ya..." Ucap Jonathan sambil mengusap pipi Raka.


Saat itu juga air mata Raka tidak terbendung lagi. Ia menangis dihadapan bocah yang sedang sekarat itu.


"Jonathan juga ganteng, seperti Papi. Jonathan, Papi senang bertemu dengan kamu," Ucap Raka.


"Jonathan juga senang bertemu dengan Papi,"


Raka langsung memeluk tubuh kurus Jonathan. Ia memeluk bocah itu dengan erat. Seakan ia tidak mau melepaskan pelukan nya dari bocah itu.


Seorang dokter memasuki ruangan itu, lalu menyapa Jonathan dengan ramah. Bocah itu pun menyambut dokter dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajah nya, walaupun rasa sakit sedang ia rasakan di tubuhnya yang mungil.


"Dokter!" Seru Jonathan.


"Hai, apa kabar Jonathan hari ini? Maaf ya, dokter datang nya terlambat. Tadi jalanan macet sekali. Eh, ternyata ada si Komo sedang lewat." Ucap dokter itu sambil tersenyum ramah.


"Wah.. Komo itu apa dok?"


"Eh, Jonathan belum tahu ya Komo itu apa. Komo itu, adalah binatang Komodo. Binatang asli Indonesia. Dia bisa membesar hingga sebesar tubuh orang dewasa," Terang dokter itu.

__ADS_1


"Wah... seru!"


Dokter itu tertawa sambil melanjutkan pemeriksaan kepada tubuh Jonathan.


Beberapa saat kemudian, dokter itu selesai memeriksa tubuh mungil Jhonatan. Lalu, ia berpamitan dengan Jonathan dan beranjak dari ruangan itu.


"Dokter," Panggil Raka sambil berlari kecil menghampiri dokter itu.


"Ya Pak,"


"Saya Ayah kandung dari Jonathan. Kalau saya boleh tahu, apakah pendonor sum-sum tulang belakang untuk Jonathan sudah dapat?"


Dokter menghela nafas saat mendengar pertanyaan dari Raka.


"Untuk saat ini belum Pak,"


"Bagaimana saya saja?"


Dokter itu menatap Raka dengan seksama.


"Apakah Bapak sudah memikirkan nya?"


"Sudah dok, demi anak saya," Ucap Raka dengan wajah yang memelas.


"Kalau Bapak bersedia, Bapak bisa melakukan serangkaian test terlebih dahulu. Bila cocok dengan Jonathan, Bapak dan Jonathan langsung bisa di operasi."


"Saya bersedia dok," Ucap Raka dengan yakin.


"Baik, besok Bapak bisa melakukan test di sini. Silahkan Bapak menghubungi bagian administrasi terlebih dahulu."


Lala beranjak dari duduknya dan menatap Raka dengan seksama.


Raka melanjutkan langkahnya dan menghampiri Lala.


"Aku akan menjadi pendonor untuk Jonathan," Ucap Raka.


"Kamu serius?"


"Ya,"


"Terima kasih Raka!" Lala menangis dan memeluk Raka dengan erat.


Raka menghela nafasnya dan merasakan sesak di dadanya. Andaikan dari dulu ia tahu bila Jonathan anak kandungnya. Mungkin, ia akan menjadi orang tua yang sangat bahagia. Walaupun tidak bisa bersama dengan Lala lagi.


"Aku mau mengisi formulir dulu," Ucap Raka sambil melepaskan pelukan Lala.


"Iya, aku akan menemani Jonathan ya."


Raka mengangguk dan beranjak menuju ruang administrasi.


Dreett...!


Setibanya di ruang administrasi, ponsel milik Raka pun berdering. Karena ia sedang mengisi formulir, ia mengabaikan pesan yang baru saja ia terima.


Setelah mengisi semua data dan mendengarkan arahan dari seorang suster, Raka pun beranjak kembali ke ruangan Jonathan.


Saat itu juga ia menatap jam di dinding lobby rumah sakit itu.

__ADS_1


Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, tiba-tiba saja ia teringat akan Queen. Raka langsung mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Queen. Namun ponsel milik gadis itu tidak aktif.


Raka mulai merasa cemas, ia takut sekali bila Queen marah kepada dirinya. Maka, Raka pun mengecek pesan-pesan yang masuk ke ponselnya.


Raka melihat 2 kali panggilan tak terjawab dan sebuah pesan misterius dari Queen. Raka pun mengerutkan keningnya.


"Bukankah Queen ada di restoran? Mengapa dia mengirim ku lokasi di Bogor?" Gumam Raka.


Raka kembali menghubungi Queen, tetapi ponsel gadis itu tak kunjung aktif.


Merasa ada yang aneh, Raka pun berencana menyusul Queen ke lokasi yang Queen bagikan kepada dirinya. Tetapi, sebelum ia menyusul, ia sudah menghubungi seorang kenalan nya di daerah Bogor. Dan meminta kenalan nya itu untuk membawa serta petugas yang berwenang untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan Queen.


...


Queen buru-buru meletakkan ponselnya kembali kedalam tas setelah melihat Antoni memasuki ruangan dimana ia merasa sedang di sekap oleh lelaki itu. Ia beruntung, bisa membagikan lokasinya kepada Raka, sebelum baterai ponselnya habis. Entah mengapa, walaupun saat ini ia sangat merah dengan Raka. Tetapi, ia yakin, hanya lelaki itu yang bisa menyelamatkan dirinya.


Antoni menatap Queen yang duduk di sebuah sofa. Lalu, ia berjongkok di hadapan Queen dan meraih kedua tangan Queen. Antoni menggenggam tangan Queen dengan lembut.


"Sebelum nya, aku minta maaf, bila aku sudah membawa mu tanpa seizin mu," Ucap Antoni.


Queen menatap lelaki itu dengan wajah penuh kebencian. Saat itu juga Queen mulai menyadari rasa cinta nya kepada Antoni sudah benar-benar habis tidak tersisa sedikitpun.


"Kamu mau apa? Antoni kamu tahu? Kamu sudah memiliki anak dan istri. Mohon sadarilah itu," Ucap Queen.


"Ya, aku sadar. Tasya sudah pergi dari rumah. Aku tahu dia akan menceraikan aku dan aku akan menceraikan dia. Queen, mari hidup bersama. Aku akan melamar mu setelah sidang perceraian di putuskan."


"Antoni... astaga...! Ini dimana?" Tanya Queen sambil celingukan ke sekeliling ruangan itu.


"Ini milik orang tuaku, sudah lama tidak di tempati. Maaf bila kotor sekali."


"Antoni, aku bisa melaporkan kamu dengan tuduhan penculikan loh!"


"Aku tidak peduli Queen. Kamu tidak akan melakukan nya. Karena sebentar lagi kamu akan menjadi milik ku."


"Kamu sudah gila ya? Pikiran mu sudah tidak sehat Antoni. Kamu tidak bisa begini, aku hanya masa lalu kamu!"


"Aku tidak peduli Queen!"


"Kamu benar-benar sudah terobsesi, ini bukan lagi cinta!"


"Queen...! Mari kita menikah, kita kembali seperti dulu lagi. Aku masih sangat mencintai kamu Queen..!"


Antoni berusaha mengecup bibir Queen. dengan cepat, Queen menghindarinya dan menampar Antoni.


Antoni terdiam, ia menatap Queen dengan tatapan yang penuh amarah.


"Sakit jiwa kamu ya? Apa kamu gila karena orang tuamu yang terlalu mengatur hidup kamu? Hah?"


"Mengapa sekarang kamu kasar sekali Queen?" Antoni menerkam Queen, pergumulan pun terjadi di atas sofa. Jelas, Antoni berniat buruk dengan mantan kekasihnya itu. Sedangkan Queen mencoba meronta dengan sekuat tenaga. Ia berupaya mempertahankan kehormatan nya, walaupun saat ini ia harus mati di tangan Antoni.


"Ya Allah, tolonglah aku," Gumam Queen saat dirinya sudah hampir tidak berdaya karena cengkraman yang kuat dari Antoni, di kedua tangan nya.


Kini Antoni sudah berada di atas tubuh Queen, Antoni berusaha menyingkap rok yang menutupi bagian tubuh bawah Queen dan mencoba melucuti apa saja yang menutupi kehormatan Queen.


Queen menangis, tetapi ia berusaha untuk terus berdoa. Ia yakin, bila pertolongan pasti akan datang. Bila tidak, ia harus berusaha menerima takdirnya malam ini.


"Raka, tolong aku....."

__ADS_1


__ADS_2