365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
50# Pengakuan


__ADS_3

Lala, wanita berusia 32 tahun itu duduk di depan Raka. Wajah nya yang kuyu jelas sekali menunjukan bila dirinya sedang tidak baik-baik saja. Tubuhnya terlihat kurus, membuat dirinya tampak lebih mungil dari pada sebelumnya.


Raka menatap wanita yang pernah sangat ia cintai itu. Lalu, Raka mendaham untuk memecahkan suasana sunyi diantara mereka.


Lala menatap Raka, terlihat jelas air mata yang hampir saja tertumpah di pelupuk matanya.


"Apa kabar?" Tanya Raka yang berinisiatif untuk memulai obrolan terlebih dahulu.


"Baik," Sahut Lala, tanpa berani menatap mata Raka kembali.


"Ada apa?" Obrolan itu terasa kaku, setelah 4 tahun mereka tidak bertemu.


"Sebelumnya aku ingin meminta maaf," Ucap Lala dengan ujung suara yang tercekat.


"Untuk?" Tanya Raka lagi.


"Untuk segalanya,"


Raka menghela nafas panjang dan membuang pandangannya ke luar jendela ruangan nya.


"Raka, maaf aku telah mengkhianati kamu dan lebih memilih Max,"


Raka kembali menatap Lala dan menundukkan wajahnya.


"Raka, kalau boleh aku bercerita sedikit..."


"La, itu hanya masa lalu. Kita sudah hidup masing-masing dan aku sudah memaafkan kamu," Ucap Raka.


Lala menatap Raka dengan air mata yang berlinang di pipinya.


"Kita punya anak,"


Degggg...!


Seketika wajah Raka terlihat serius, ia menatap Lala dengan tak percaya.


"Anak? Anak dari mana?" Tanya Raka dengan wajah yang bingung.


"Jonathan adalah anak mu, itulah mengapa aku ingin bercerita," Pungkas Lala.


Raka tertawa getir, lalu ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin," Ucapnya sambil beranjak berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruangan nya.

__ADS_1


Lala menatap Raka dengan wajah yang risau.


"Raka, saat Ibumu mendatangi aku, aku merasa sakit hati. Lalu, aku memutuskan minum dengan Max. Max adalah asisten pribadi Papi ku. Maka, terjadilah hal itu. Aku merasa bersalah denganmu, karena aku telah mengkhianati kamu. Lalu, aku mengambil keputusan untuk menikahi Max, karena aku rasa, kita tidak ada harapan untuk bersatu. Ibumu terlalu mengintimidasi aku."


"Lalu? Anak dari mana?" Desak Raka yang mulai panik.


"Awalnya aku berpikir kalau itu adalah anak Max. Lalu, kami menikah dan hidup dengan bahagia."


"Terus? Langsung saja Lala, aku ada janji dengan orang."


"Kekasih mu?" Tanya Lala dengan mata yang terus basah karena air mata.


"Ya, dengan kekasihku," Tegas Raka.


Lala mengangguk paham, lalu ia menelan salivanya, seiring rasa kecewa yang terlihat jelas diwajahnya.


"Lala, jangan mengada-ada. Bila Jonathan anak ku, sudah lama kamu akan meminta tanggung jawab ku, tetapi selama ini kamu kemana?" Cecar Raka.


"Raka, dengar dulu penjelasan ku. Aku tahu ini terasa aneh bagimu,"


"Apa!"


"Beberapa bulan yang lalu, Jonathan sakit. Dia dinyatakan menderita leukemia. Dan sum-sum tulang belakang nya sudah rusak. Maka, ia harus menerima donor sumsum dari seseorang." Lala mengawali ceritanya.


"Max mengajukan dirinya untuk menjadi pendonor. Namun, setelah melakukan serangkaian test. Disitu aku dan Max tahu, bila Jonathan bukan anak kandung Max."


Raka terperangah, ia menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lala.


"Kamu tahu, aku tidak pernah tidur dengan orang lain, selain Max dan kamu. Maka, sudah bisa dipastikan kamulah Ayah kandung dari Jonathan."


"Lala, lelucon apa ini? Saat kamu menikah bukan nya kamu tidak hamil?"


"Aku telat haid, hanya saja aku pikir aku stress, dan andaikan aku hamil pun aku merasa itu adalah anak Max. Tetapi, kenyataannya kamulah Ayah kandung Jonathan. Aku tidak asal berbicara Raka.."


Raka terdiam, ia terlihat panik dan gelisah.


"Max menceraikan aku. Ia sangat mencintai Jonathan. Dia gak terima bila ternyata Jonathan bukan anak kandungnya. Karena perceraian itu, kondisi Jonathan memburuk. Dia sangat dekat dengan Max. Tetapi, sejak Max tahu Jonathan bukan anaknya, Max lepas tanggung jawab dan meninggalkan kami."


"Sedangkan pendonor tidak kunjung dapat. Kondisi Jonathan semakin lemah. Awalnya aku tidak ingin memberitahu kamu. Hanya saja, melihat kondisi Jonathan yang tidak ada harapan lagi, aku ingin jujur kepadamu. Aku harap, kamu bisa melihat anak mu untuk yang terakhir kali," Air mata semakin deras membasahi pipi Lala.


"Maaf, aku baru mengatakan nya saat ini dan aku rasa, mungkin saja terlambat. Kamu boleh tidak percaya. Tetapi, ketahuilah, Jonathan mungkin hanya memiliki waktu satu bulan saja,"


Raka terdiam membisu. Ia memijat pelipisnya yang terasa pusing.

__ADS_1


"Raka, aku minta maaf..."


"Dimana Jonathan di rawat?" Tanya Raka.


"Di rumah sakit swasta. Kalau kamu mau menemuinya, datanglah,"


Raka termenung, sedangkan Lala beranjak dari duduknya.


"Terima kasih waktunya, aku tidak bisa berlama-lama. Aku takut bila kehilangan momen dengan Jonathan."


Lala pun meninggalkan ruangan Raka, sedangkan Raka masih mematung. Ia belum percaya dengan apa yang ia dengar.


Memang, saat pertama kali ia berjumpa dengan Jonathan, ia merasa getaran yang aneh di hatinya. Ia merasa Jonathan sangat mirip dengan dirinya saat seusia bocah laki-laki itu. Tetapi, Raka mencoba menepis kecurigaan dirinya. Ia merasa semua orang bisa saja tampak mirip, walaupun tidak ada hubungan darah sama sekali.


Ternyata, kenyataan membuat dirinya merasa menyesal tidak mengikuti kata hati nya. Andaikan saat itu ia mencoba mencari tahu dengan tes DNA, mungkin ia bisa bersama dengan Jonathan.


Raka mulai menangis memikirkan nasib Jonathan. Lalu, tanpa membuang waktu, Raka pun memutuskan untuk segera menyusul Lala dan Jonathan ke rumah sakit.


...


Queen terlihat cantik dengan dress berwarna ungu dan bermotif bunga lili. Gadis itu terus menatap ke arah pintu masuk restoran itu. Ia berharap Raka tidak akan terlambat. Tetapi, ia harus menelan rasa kecewa berulang kali.


Queen pun memutuskan untuk menghubungi Raka, tetapi lelaki itu tidak bisa di hubungi. Ada rasa yang sesak di dada Queen. Ia mulai merasa bodoh karena mulai membuka hati kepada seorang pria yang terlihat mencintai dirinya. Nyatanya, kini pria itu tidak datang dan mengabaikan dirinya.


"Bodoh kamu Queen.. Bodoh!" Pekik Queen di dalam hatinya.


Queen pun memutuskan untuk menghubungi Tika, tetapi gadis itu pun tidak bisa menemui Queen. Tika sedang berada di luar Kota untuk reservasi tempat dimana pesta pernikahan dirinya akan diadakan di sana.


Queen memutuskan untuk makan sendirian, dengan dada yang sesak dan hati yang begitu kacau. Ia ingin sekali berteriak sekuat tenaganya.


"Jangan pernah jatuh cinta lagi Queen. Elu bakalan jadi perawan tua selamanya!" Ucap Queen kepada dirinya sendiri.


Baru saja beberapa suap, Queen kehilangan selera makan nya. Lalu, ia memutuskan untuk meninggalkan makanannya dan membayarnya dengan penuh dan segera meninggalkan restoran tersebut.


Saat Queen baru saja hendak masuk kedalam mobilnya, tangan Queen di tarik seseorang dan mendorong nya masuk kedalam sebuah mobil.


Queen terkejut hingga ia tidak mampu bersuara. Terdengar mobil itu terkunci, Queen mencoba melihat seorang yang baru saja masuk kedalam mobil itu. Ya, dia adalah Antoni.


Mendadak Queen merasa panik dan mual, ia menarik gagang pintu mobil tersebut. Tetapi, pintu itu tidak bisa terbuka. Sedangkan mobil beranjak meninggalkan restoran itu.


"Antoni! Gila kamu! "


"Hanya dengan cara ini kamu mau berbicara dengan ku, memberikan aku waktu untuk berbicara," Ucap Antoni.

__ADS_1


Queen memukuli Antoni dan berteriak minta tolong. Tetapi, lelaki itu tidak bergeming. Ia terus melajukan mobilnya ke arah keluar Kota.


__ADS_2