
Tepat pukul 22.00, Queen meraih kunci mobilnya dan menenteng tas tangan milik nya. Ia mematikan lampu ruangan kerja nya di butik dan beranjak keluar dari ruangan itu.
Di luar, beberapa pegawainya sudah bersiap-siap untuk pulang. Mereka sudah memakai jaket dan menyandang tas mereka. Saat itu, mereka sedang berkumpul di samping meja kasir, sambil berbincang dan menunggu Queen keluar dari ruangan nya.
Queen menghampiri mereka dan menyapa mereka semua.
"Thanks ladies, kalian hebat hari ini. Sampai jumpa besok," Ucap Queen sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih kembali Bu.." Sahut mereka dengan senyum yang tulus.
Begitulah Queen, dia adalah tipe pimpinan yang ramah dan suka berterima kasih kepada bawahan nya. Hal itu tentu saja membuat siapa saja nyaman bekerja dengan dirinya.
Lampu butik pun dipadamkan, yang tersisa disana hanya penerangan di luar butik. Queen bersama dengan para pegawainya pun melangkah keluar dari butik. Setelah itu, dua orang pegawai nya menutup pintu butik itu dan menguncinya.
Queen melangkah menuju ke parkiran mobil. Dari jarak beberapa meter, Queen membuka kunci mobilnya menggunakan remote dan terus berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya.
Saat Queen hendak masuk kedalam mobilnya, seseorang pun menahan lengan nya. Tentu saja Queen merasa terkejut, ia menoleh dan menatap Antoni yang berada tepat di belakangnya.
"Mas..." Queen benar-benar gugup saat melihat lelaki itu.
Antoni yang sedang memegang buket bunga di tangan kirinya pun tersenyum manis.
"Selamat untuk butiknya," Ucap Antoni sambil menyerahkan buket bunga itu kepada Queen.
Terlihat dari depan butik, para anak buah Queen memperhatikan Queen dan Antoni.
Queen menoleh kearah anak buahnya dan lalu menatap Antoni.
"Hmmmm, Mas, gak enak di lihat sama orang," Ucap Queen sambil berusaha untuk melepaskan tangan Antoni dari lengannya.
"Terima dong bunganya..." Antoni tidak mempedulikan apa yang baru saja Queen ucapkan.
"Tapi, tolong lepaskan tanganku dulu," Ucap Queen dengan wajah yang memohon.
Antoni tersenyum dan melepaskan tangan nya. Lalu, ia menyerahkan buket bunga itu kepada Queen. Queen melihat ke sekitarnya, ia takut sekali bila ada yang salah paham dengan dirinya yang sedang bersama dengan Antoni.
Para pegawai Queen sudah beranjak pergi dengan menggunakan sepeda motor mereka. Kini, di parkiran itu tinggal Queen dan Antoni saja.
"Terima kasih," Ucap Queen dan dengan ragu, ia menerima buket bunga itu.
Antoni tersenyum puas, ia pun menghela nafas lega.
"Aku ingin berbicara...."
"Hmmm Mas, sudah malam. Tidak pantas bila suami orang menemui wanita lain." Ucap Queen sambil bergegas masuk kedalam mobilnya.
"Queen, aku masih mencintai kamu," Antoni kembali menahan tangan Queen.
Queen menatap Antoni dengan wajah yang merasa tidak nyaman. Ia merasa ingin menghilang saja dari hadapan lelaki yang pernah mengisi hari-harinya dengan cinta dan kasih, itu.
__ADS_1
"Mas, semua sudah berakhir. Apalagi kamu tahu kalau aku sudah..."
"Bertunangan?" Tanya Antoni.
Queen mengangguk pelan dan menundukkan pandangan nya.
"Aku tahu kaku tidak bertunangan. Kamu masih sendiri, aku tahu semua Queen,"
Queen terperanjat dan menatap Antoni dengan tak percaya. Ia benar-benar Antoni sedikit agak berlebihan bila mencari-cari tahu tentang kehidupan nya saat ini.
Queen menggelengkan kepalanya, lalu ia mencoba tersenyum.
"Tidak, aku sudah bertunangan."
"Belum, aku sudah mendapatkan informasi dari orang yang terpercaya. Kamu masih sendiri Queen."
Queen terdiam, lalu ia berusaha untuk melepaskan tangan Antoni yang semakin kuat memegang lengan nya.
"Mas, mau aku sendiri atau aku sudah berdua, tetap tidak pantas kamu mendatangi aku," Tegas Queen.
"Aku tahu kamu masih mencintai aku Queen... dan kamu tahu aku masih mencintai aku. Kita masih bisa kembali bersama-sama Queen. Aku janji, aku akan tinggalkan anak dan istri ku."
Dada Queen terasa sesak saat mendengar ucapan Antoni.
"Apa kamu sudah gila?"
"Ya, aku gila karena kamu. Aku benar-benar gila karena kamu. Hati ku bagaikan terkunci dengan mu. Aku bisa apa? Aku hanya ingin kamu Queen."
"Mas!" Queen menahan Antoni dengan kedua tangan nya yang ia tahan di dada Antoni.
Antoni terdiam, ia menatap kedua mata Queen lekat-lekat.
"Bila kamu tega meninggalkan anak istri mu hanya untuk aku, maka tidak ada jaminan bagiku bila kamu akan berlaku setia kepadaku kedepannya. Aku sudah melupakan kamu, semua sudah berakhir. Kita sudah SELESAI." Tegas Queen lagi.
"Queen..."
"Lepas!"
"Queen... aku mohon..."
"Aku teriak nih!" Ancam Queen dengan wajah yang mulai terlihat emosi.
"Queen please..."
"Kita sudah lama selesai. Kubur semuanya, buang imajinasi mu yang mengatakan bila aku mau untuk kembali dengan mu. Tidak akan pernah, aku tidak akan mau merusak rumah tangga kamu," Ucap Queen.
"Queen.. please.. aku bisa gila tanpa kamu Queen. Aku sama sekali tidak mencintai dia!"
"Itu bukan urusan ku!" Ucap Queen sambil mencoba membalik badan nya dan beranjak masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
"Queen!"
Antoni menarik tubuh Queen dan memeluknya dengan erat. Saat itu juga Queen ingin berteriak, tetapi tiba-tiba bibir hangat Antoni sudah mendarat di bibirnya.
Queen terdiam beberapa saat,
"Bibir ini..."
Air mata mulai mengalir di sudut mata Queen.
"Aku mencintai kamu. Kita pergi yuk. Kita kawin lari," Ucap Antoni sesaat setelah ia mencium bibir Queen.
Plakkkkk...!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Antoni. Dengan wajah yang penuh emosi, Queen menatap Antoni dan mendorong lelaki itu.
"Bajingan! Semua sudah terlambat. Jangan berpikir aku perempuan murah yang bisa kamu ajak aneh-aneh ya Mas! Jalani hidupmu baik-baik dengan wanita pilihan orangtuamu! Kalau kamu niat dengan ku, kamu pasti akan memperjuangkan aku! Tidak akan menyerah apa pun yang terjadi! Tetapi, kamu menyerah! Sekarang kamu datang dan meminta aku memperjuangkan kamu? Silahkan bermimpi!"
Antoni terdiam mendengar ucapan Queen yang terdengar sangat menyakinkan di telinga nya.
"Queen," Dengan wajah memohon, Antoni pun bertekuk lutut di hadapan Queen.
"Kamu bajingan."
Queen pun beranjak masuk kedalam mobilnya, lalu ia menyalakan mesin mobil nya. Dari luar, Antoni terus mengetuk kaca jendela mobil Queen dengan kata-kata yang terus membuat hati Queen menangis.
"Queen.. aku mohon, Queen.. aku cinta sama kamu Queen. Aku minta maaf Queen. Kita bisa bersama lagi kan sayang... Aku sakit menahan ini semua... Queen!"
Queen mengabaikan apa pun itu, ia melajukan mobilnya dengan segera.
Queen mengusap air matanya yang terus tumpah di pipinya. Ia berteriak sekuat tenaga sambil terus melajukan mobilnya.
"Kenapa! Kenapa kamu datang? Kenapa!"
Queen menepikan mobilnya di sisi jalan. Ia pun menjatuhkan dahinya di atas kemudi, lalu ia menangis pilu.
Beberapa saat kemudian, ia menyentuh bibirnya yang tipis. Lalu, ia memejamkan kedua matanya. Masih terasa jejak bibir Antoni disana. Rasa hangat nya tidak pernah berubah. Ada rasa rindu yang meledak di dadanya. Ada perasaan bila ia ingin sekali kembali dan memeluk lelaki itu seerat-eratnya. Tetapi apa daya, semua itu tidak mungkin. Antoni milik Tasya dan dia hanyalah masa lalu bagi Queen.
"Tuhan..." Bisik Queen dengan perasaan yang risau.
...
Dari kejauhan, tampak sepasang mata yang sembab melihat kearah Antoni yang sedang berjalan dengan gontai menuju ke mobilnya yang terparkir di halaman butik Queen.
Mata itu basah dengan air mata. Ia menyaksikan semua apa yang telah dilakukan Antoni kepada Queen.
Ya, dia adalah Tasya. Seorang istri yang terus berharap bila suaminya akan mencintai dirinya sama seperti suaminya mencintai gadis yang baru saja di kecup mesra oleh suami nya.
Tasya merapatkan bibirnya, ia menangis dalam diam. Kecurigaan nya benar adanya. Bila alasan lembur Antoni adalah untuk menyambangi Queen dan mencoba menggoda Queen untuk kembali kepada dirinya.
__ADS_1
Dunia Tasya terasa hancur, ia pun menyalahkan mesin mobilnya dan beranjak pulang.
"Andai bisa ku tukar hatimu dan hatiku, mungkin kamu akan merasakan sakit yang tiada tara Mas," Gumam nya dengan hati yang pilu.