365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
134# Hidup yang positif


__ADS_3

Raka memarkirkan mobilnya di dalam garasi rumah nya, saat ia baru saja sampai dari mengantar Queen. Ia terus tersenyum mengingat Queen yang memaksa dirinya harus memakai baju putih saat melamar gadis itu.


"Ada-ada saja," Gumam nya.


Seharian ini, setelah kabar buruk yang bertubi-tubi, akhirnya Raka bisa tersenyum. Mulai dari Lala, ide Ayah Andra, serta Queen yang aneh. Ia menggelengkan kepalanya, ia menyadari orang-orang di sekitarnya sungguh punya kelakuan yang unik-unik.


Sambil berjalan masuk ke rumahnya, Raka mulai membayangkan bila dirinya menjadi anggota keluarga besar Andra. Yaitu, menjadi suami Queen. Sudah dipastikan hari-harinya begitu terasa santai dan jauh dari kata tegang. Karena, bagaimana pun, Raka mulai mempelajari Ayah Andra. Ketegasan dan kerasnya Ayah Andra hanya akan muncul saat diperlukan. Aslinya, sikap Ayah Andra tidak sama sekali keras dan mengerikan.


Ayah dan Ibunya Raka, yang duduk di ruang keluarga, melihat putra satu-satunya itu melintasi ruang keluarga tanpa melihat mereka yang sedang berbincang di sofa. Mereka melihat sikap aneh Raka yang terus tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Raka," Tegur nyonya Amara.


Raka menoleh dan menatap kedua orangtuanya.


"Ah, ada Ibu dan Ayah ternyata," Ucap Raka seraya terlihat salah tingkah. Lalu, ia menghampiri kedua orangtuanya dan mengecup punggung tangan mereka.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Tanya nyonya Amara yang bingung melihat putranya yang terlihat begitu senang.


"Ya gak ada apa-apa sih, hanya hari ini senang saja," Ucap Raka seraya duduk dan bergabung dengan kedua orangtuanya.


"Oh begitu, lain ya kalau orang sedang jatuh cinta," Ucap nyonya Amara, di iringi tawa dari Ayahnya Raka.


"Ah, Ibu bisa saja," Ucap Raka malu-malu.


Kebahagiaan Raka pun bertambah. Tidak hanya keadaan yang berubah. Tetapi, kedua orangtuanya pun berubah. Hubungan nya dengan kedua orangtuanya kembali dan semakin harmonis. Tak jarang, mereka tertawa bersama dan semakin akrab.


Raka menatap kedua orangtuanya dan kembali tersenyum.


"Aku bahagia Bu, Yah," Ucap nya.


Ayah dan Ibu Raka saling bertatapan. Lalu, mereka pun ikut tersenyum.

__ADS_1


"Ada benarnya Raka, orangtua adalah segalanya bagi anak. Mulai dari sikap kami, perlakuan kami, perhatian kami, cara kami berbicara, kamu akan mencontoh nya." Ucap nyonya Amara.


Raka tersenyum dan menundukkan pandangan nya.


"Kalau kami berubah lebih bijak, maka kamu akan berubah lebih baik juga. Walaupun kamu sudah dewasa, pada dasarnya kamu adalah anak yang baik. Maka, kamu akan bersikap baik bila kami yang berubah. Kami salah selama ini, terlalu egois dan mementingkan diri sendiri. Tanpa kami sadari, kami akan semakin tua dan harta sesungguhnya yang kami miliki, yang paling berharga adalah dirimu." Ucap nyonya Amara dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Raka tersenyum, ia pun berpindah duduk di antara kedua orangtuanya. Lalu, ia merangkul kedua orangtuanya dan mengecup mereka berdua.


"Terima kasih Ibu, Ayah," Ucap Raka.


Mereka bertiga pun tersenyum haru.


Benar apa kata nyonya Amara. Semua anak tergantung orangtuanya. Pada dasarnya anak-anak itu bagaikan sebuah buku catatan yang kosong. Kedua orangtuanya lah yang menulis di lembar demi lembar halaman kosong di buku tersebut. Tinggal pilihan bagi orangtuanya, mau menulis apa di lembar kosong tersebut. Baik yang tertulis, akan baik lah isi dari buku catatan itu. Bila buruk, maka buruk juga lah isi dari catatan tersebut.


Walaupun sempat yang tercatat itu buruk, tidak berarti, tidak ada kesempatan bagi yang menulis untuk merevisinya. Revisi lah dengan komunikasi, berbicara dari hati kehati, hingga sepakat untuk saling berbenah, memulai menulis cerita yang baik, kesan yang baik dan lebih bertoleransi dan mengenal satu dengan yang lain nya. Tidak, tidak ada kata terlambat di dunia ini. Berawal dari kata maaf dan menyadari kesalahan adalah awal mula dari terjalin nya kembali komunikasi yang baik.


"Bu, Yah, sudah saatnya kita mempersiapkan acara lamaran untuk Queen." Ucap Raka.


"Iya Bu." Sahut Raka seraya tersenyum malu-malu.


"Raka, Ibu harap, Queen adalah yang pertama dan yang terakhir bagi pernikahan kamu. Ibu bertanya sekali lagi, apakah kamu yakin dengan Queen?" Tanya nyonya Amara.


Raka mengangguk dengan pasti.


"Tidak hanya dia yang membuat Raka jatuh cinta Bu. Tetapi, keluarga nya juga membuat Raka jatuh cinta. Menikahi seseorang, berarti kita menikahi keluarga besarnya juga. Keluarga Queen adalah keluarga yang baik dan luar biasa. Raka sungguh menginginkan Queen dan keluarganya." Terang Raka.


"Alhamdulillah kalau begitu," Ucap Ayahnya Raka.


"Tetapi memang benar, Ibu sudah dekat dengan Bundanya Queen, dan sekarang, Ibu mengenal Ayah nya. Mereka sungguh keluarga yang harmonis dan luar biasa. Pikiran dan ucapan mereka juga selalu positif. Oleh karena itu, Ibu sangat merestui kamu dengan Queen. Queen juga anak yang pemaaf, Ibu sungguh malu pernah menghina dirinya," Ucap nyonya Amara, seraya tertunduk penuh penyesalan.


"Sudahlah Bu, dengan Ibu mengakui kesalahan Ibu dengan Queen. Itu semua sudah menjadi awal yang baik. Queen juga bukan orang yang pendendam. Itulah mengapa aku sangat menyukai sosok dirinya," Ucap Raka.

__ADS_1


"Alhamdulillah," Nyonya Amara tersenyum dan menatap Raka dengan tatapan yang penuh kasih sayang.


"Ya sudah, Raka mau mandi dahulu. Lalu, shalat dan makan malam bersama ya yah, Bu," Ucap Raka seraya beranjak dari duduknya.


"Ok, Ibu tunggu," Ucap nyonya Amara.


Nyonya Amara menatap Raka yang beranjak ke kamarnya. Ia sangat-sangat bersyukur melihat Raka yang kini menjadi pribadi lebih baik lagi setelah menjalin hubungan dengan Queen. Karena pada dasarnya, menjadi pasangan akan saling mempengaruhi. Mendapatkan pasangan yang baik, maka baik juga pola pikir kita. Begitupun sebaliknya.


Nyonya Amara menatap suaminya saat Raka sudah menghilang di balik pintu kamarnya. Nyonya Amara tersenyum dan memeluk suaminya.


Suaminya pun tampak bingung dengan sikap nyonya Amara yang biasa keras dan dingin, kini memeluk dirinya dengan begitu penuh perasaan dan kehangatan.


"Hon, maafkan aku selama ini ya," Ucap nyonya Amara.


"Ng....maaf untuk apa Hon?" Tanya Ayahnya Raka.


"Maaf untuk bila aku tidak sempurna menjadi istri mu. Kita hanya sibuk dengan dunia kita sendiri. Aku pun, kurang perhatian denganmu. Maukah kita memperbaikinya juga?" Tanya nyonya Amara.


Ayahnya Raka melepaskan pelukan nyonya Amara dan menatap wajah wanita yang sudah 36 tahun ia nikahi itu.


"Aku mencintaimu, sampai kapanpun aku akan mencintaimu. Aku tidak pernah merasa salah memilih mu. Aku lah yang salah, aku terlalu sibuk dengan dunia bisnis ku. Aku juga minta maaf. Mari kita perbaiki semua, mulai menjalani hari tua bersama. Aku ingin pensiun dan memberikan segala bisnis ku untuk Raka. Mari kita tebus waktu yang terbuang sia-sia." Ucap Ayahnya Raka.


Nyonya Amara menangis haru. Mereka pun berpelukan dengan erat.


Tidak terbayangkan bagi nyonya Amara, memiliki masa tua yang bahagia seperti ini. Ya, bahagia. Dirinya pernah membayangkan, ia akan sibuk dengan dunia nya hingga akhir hayatnya. Tidak sekalipun terlintas di pikiran nya untuk menikmati dan bersyukur dengan orang terdekat, untuk menikmati masa tua dan kesuksesan bersama-sama.


Tetapi kini, pola pikirnya sudah berubah. Ia siap untuk mencontoh keluarga Queen. Khususnya Bunda Farah. Bunda Farah kini menjadi wanita favorit nyonya Amara. Dari Bunda, nyonya Amara juga banyak belajar, menjadi seorang Ibu dan istri yang selalu berpikiran positif, dan menikmati hidup tanpa harus berlebihan dalam pikiran yang tidak penting.


Bagi nyonya Amara, Bunda Farah adalah wanita sukses dalam hidup. Semua serba seimbang. Dunia, akhirat, anak-anak, suami, usaha, dan lain sebagainya.


Dan kesimpulan dari semuanya adalah, dekati orang yang positif. Maka, pola pikir kita pun akan terbawa positif. Pandangan dalam hidup juga akan terbawa ke arah yang positif. Begitulah.....

__ADS_1


__ADS_2