
"Sudah pulang Mas?" Sapa Tasya saat Antoni baru saja sampai dirumah.
Antoni menatap Tasya dan mengangguk dengan wajah yang dingin.
"Aku hangatkan ya masakan nya.. Mas mau makan?" Tanya Tasya lagi.
"Sudah makan," Jawab Antoni, lalu ia beranjak ke kamar.
Tasya mengikuti Antoni dan membantu suami nya itu untuk melepaskan pakaian dan menaruhnya di keranjang baju kotor.
"Mas, boleh minta peluk?"
Antoni mengerutkan keningnya dan menatap Tasya.
"Tumben," Ucap Antoni yang terlihat bingung.
"Kangen saja, kan Mas suami ku. Hari ini pulang terlambat, jadi aku rindu," Tasya mendekati Antoni dan memeluk tubuh suaminya itu.
"Hmmm bau keringat nya bikin kangen," Ucap Tasya sambil merebahkan kepalanya di dada Antoni.
Antoni hanya terdiam, ada rasa bersalah kepada wanita yang ia nikahi 5 tahun yang lalu itu.
"Aku mau mandi ya," Antoni melepaskan pelukan Tasya dan beranjak ke kamar mandi.
"I love you Mas,"
Antoni menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Tasya. Tasya pun memberikan senyuman manis dan tulus nya kepada Antoni.
Antoni membalas senyuman Tasya dengan ragu, lalu ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi.
Setelah Antoni masuk dan menutup pintu kamar mandi, air mata mulai mengalir di sudut mata Tasya. Ia teringat kejadian di halaman parkir butik milik Queen. Jelas ia melihat, suami nya mengecup bibir mantan tunangan nya itu. Tetapi, ia tidak bisa menyalahkan Queen. Jelas ia melihat Queen memberontak dan menampar Antoni.
Rasanya Tasya ingin menjerit sekeras-kerasnya. Wanita mana yang rela bila suaminya mengecup wanita lain?
Tidak ada dan itu sangat menyakitkan.
Tasya beranjak ke arah lemari, lalu ia mempersiapkan pakaian tidur untuk Antoni.
"Tuhan, semoga sabar ku berbuah manis. Lembutkan lah hati suami ku, buka lah hatinya untuk ku Tuhan..." Gumam nya sambil menghapus air matanya yang tak dapat ia bendung.
...
Raka termenung di kamarnya, wajahnya tampak gelisah. Sejak dari Korea, Queen tak kunjung membalas pesan darinya. Raka mengerti mengapa Queen tidak membalas pesan darinya, mungkin karena ia terlalu lancang telah mencium bibir Queen dengan tiba-tiba. Ia pun merasa bersalah, ia merasa telah menjadi lelaki bajingan di mata Queen.
Sebenarnya, Raka tidak ingin melakukan itu kepada Queen. Tetapi, entah mengapa, malam itu ia menjadi lepas kontrol dan mulai merasa tidak sabar untuk mengungkapkan perasaan nya kepada Queen. Sayang nya, cara yang ia lakukan salah, untuk wanita yang sedang patah hati itu.
__ADS_1
Raka menatap wajah Queen yang menghiasi layar ponselnya. Ia tersenyum dan mengusap foto tersebut. Betapa rindunya Raka kepada Queen, namun ia tidak bisa menemui gadis pujaan nya itu.
Raka tidak tahu dimana alamat rumah Queen. Dirinya juga tidak tahu dimana butik Queen berada. Yang ia tahu, hanya alamat hotel milik Queen saja, yang baru akan diresmikan.
Raka juga mencari info, kapan hotel itu akan diresmikan. Ia berniat menemui Queen di sana. Tetapi, sebagian orang yang berjaga di gedung hotel Queen belum bisa memberikan informasi kepadanya.
Raka merasa putus asa, ia pun mencoba menghubungi Tika. Tetapi ia lupa, bila ia hanya memiliki nomor Tika saat di Korea. Raka semakin gelisah, ia pun mulai memberanikan diri untuk menghubungi Queen secara langsung.
Seperti biasa, gadis itu tak kunjung menerima panggilan dari dirinya. Raka benar-benar merasa bodoh. Ia pun meraih laptopnya dan berselancar di dunia maya.
Tetapi, wanita yang bernama Queen sangat banyak di Indonesia. Raka benar-benar merasa bodoh, mengapa ia terlalu terburu-buru melakukan apa yang harus nya belum pantas ia lakukan.
"Apa dia pikir gue lelaki mesum ya? Arghhhhhh..!" Gumam nya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Raka pun beranjak ke atas ranjangnya dan merebahkan diri di atas ranjang. Wajah Queen terus terbayang, hingga ia mulai merasa frustasi karenanya.
"Arghhhhh...! Bodohhhh bodohhh... kenapa gue main sosor aja sih... duh...!" Raka terlihat sangat menyesali perbuatannya terhadap Queen.
"Pokoknya, gue harus terus mencari. Di cuekin biarin deh.. Yang terpenting, gue harus meminta maaf kepada dia." Gumam nya.
...
Ayah memperhatikan Queen yang pulang dengan wajah yang kuyu. Seperti biasa, gadis itu menyapa dan mencium punggung tangan Ayah sebelum Queen masuk ke kamarnya.
"Belum tidur Yah? Bunda mana?"
"Bunda sudah tidur, kamu kenapa?" Tanya Ayah dengan tatapan yang menyelidiki.
"Apa ada yang menyakiti kamu?" Sambungnya lagi.
Queen terlihat salah tingkah, mata sembab nya tidak bisa ia sembunyikan. Lalu, ia duduk disamping Ayah sambung nya itu.
"Queen tidak apa-apa kok Yah," Ucap Queen, mencoba meyakinkan Ayah.
"Queen, bila Bunda bisa kamu bohongi, tetapi tidak dengan Ayah." Ucap Ayah dengan wajah yang serius.
Queen menundukkan pandangan dan terlihat mulai gelisah.
"Benar kok Yah, Queen tidak apa-apa." Queen tetap mencoba meyakinkan Ayah.
"Nak, dengar... walaupun tidak ada setetes pun darah Ayah di nadi mu. Tetapi, percayalah... cinta Ayah sama kamu, melebihi cinta Ayah pada diri Ayah sendiri."
Queen tertegun dan menatap kedua mata Ayah. Perlahan, air mata mulai tergenang di pelupuk matanya.
"Sekarang, cerita sama Ayah, ada apa?"
__ADS_1
Queen menundukkan wajahnya, ia tidak berani menunjukkan wajah sedihnya di depan Ayah. Air mata pun terjun bebas dari kedua matanya.
"Queen... kamu percaya sama Ayah, andaikan ini berat sekali, Ayah tidak akan mengatakan nya kepada Bunda,"
Queen mengangkat wajahnya dan menatap lelaki paruh baya yang ia kenal pertama kali saat usianya baru menginjak sembilan tahun.
"Yah, Queen bertemu lagi dengan Antoni," Ucap Queen dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Lalu?"
"Dia mengajak Queen untuk bersama kembali."
Ayah tersenyum getir, lalu ia menatap kedua mata Queen dengan seksama.
"Terus? Kamu mau?" Tanya nya penasaran.
Queen menghela nafasnya dan membalas tatapan Ayah.
"Yah, kalau boleh jujur, Queen belum bisa move on dari Antoni. Kalau saja Queen menuruti hati Queen, mungkin saja Queen kembali kepadanya. Tetapi, Antoni sudah berkeluarga, sudah memiliki anak. Itu semua tidak mungkin Queen lakukan. Hanya saja, kemunculan dia kembali membuat Queen sedikit frustasi. Tadi dia datang ke butik Queen dan mengemis meminta kembali bersama. Ayah tahu apa yang Queen rasa? Sakit Yah... sakit...." Ucap Queen sambil terisak.
Ayah menghela nafasnya dan mengusap punggung Queen dengan lembut.
"Kalau dia cinta, kenapa dia gak berjuang? Kenapa baru sekarang mau berjuang?" Keluh Queen.
"Kamu tahu nak, terkadang... Tuhan tidak menjodohkan kita dengan orang yang kita inginkan. Karena Tuhan tahu, bukan dialah yang terbaik. Tuhan sudah merencanakan dan mempersiapkan lelaki terbaik untuk mu. Asal kamu sabar, dia akan datang sebentar lagi."
Queen mengusap air matanya dan menatap Ayah dengan wajah yang putus asa.
"Sikap yang kamu pilih sudah benar, Ayah benar-benar merasa bangga dengan kamu. Kamu anak yang baik, wanita yang luar biasa. Masalah move on, itu hanya waktu. Ayah tidak menyalahkan kamu bila kamu belum bisa move on, setiap orang itu tidak sama. Ada yang seminggu sudah move on, ada yang sebulan, setahun, bahkan bertahun-tahun. Tidak ada yang salah, namanya hati manusia. Justru, Ayah percaya, wanita seperti kamu itu adalah wanita setia yang mempunyai prinsip hidup yang kuat. Itulah kenapa kamu sangat sulit untuk berpindah hati."
"Pelan-pelan, kamu pasti bisa. Asal kamu tetap teguh dengan iman mu, pikiran sehat mu dan tujuan mu, Insya Allah kamu bisa melewati semuanya dan mendapatkan yang terbaik dari yang baik,"
Ayah mengusap air mata di pipi Queen dan tersenyum kepada Queen dengan wajah yang tulus dan penuh kasih sayang.
Queen benar-benar terharu, ia memeluk Ayah dan mengucapkan terima kasih kepada Ayah sambungnya itu. Ia benar-benar merasa Ayah adalah orang yang sangat mengerti dirinya, bahkan melebihi dari Ayah kandungnya sendiri.
"Tenang nak, serahkan saja sama Tuhan. Mengikuti apa mau Tuhan adalah salah satu bentuk keimanan kita. Percaya, kalau Tuhan tidak pernah ingin hambanya menderita."
"Iya Ayah... Queen akan berusaha. Terima kasih Ayah..."
"Sama-sama anak ku.."
...
“It takes a strong man to accept somebody else’s children and step up to the plate another man left on the table.” — Ray Johnson
__ADS_1
(Dibutuhkan lelaki yang kuat untuk menerima anak-anak orang lain dan bertanggungjawab terhadap mereka.)