
"Aku orang yang kurang pergaulan. Sejak kecil, aku hanya berkutat dengan pelajaran dan pelajaran yang di suguhkan oleh sekolah dan les privat." Ucap Raka mengawali cerita tentang dirinya.
"Lalu?" Queen terlihat antusias mendengarkan cerita tentang Raka.
"Ibuku dan Ayahku adalah orang yang tergila-gila kesuksesan. So, mereka selalu sibuk untuk membangun usaha mereka. Aku adalah anak tunggal di keluarga kecil kami. Tidak ada yang spesial dengan keluarga ku. Kami hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Suatu ketika, aku berkenalan dengan gadis bernama Audy. Dia adalah cinta pertama ku. Saat itu aku duduk di bangku kelas dua SMA,"
"Saat itu Audy orang yang sangat mengerti aku, disaat aku kehilangan arah." Tambah nya.
"Dan?" Queen meletakkan gelas kopi nya, setelah ia meneguk kopi keduanya itu.
"Kisah asmara kami berjalan biasa saja, layaknya kisah para remaja pada masa itu. Suatu ketika, Audy yang keturunan Australia dan Selandia baru, kembali ke negaranya."
"Oh begitu..." Queen mengangguk paham.
"Dan cinta kedua?" Sambung Queen.
"Aku boleh minum dulu gak?" Tanya Raka sambil tertawa dan menatap Queen yang terlihat sangat antusias dengan ceritanya.
"Ah, sorry, silahkan.." Ucap Queen yang ikut tertawa sambil menepuk dahinya.
"Thanks," Ucap Raka, lalu lelaki itu meraih gelas nya dan meneguk minuman penghangat yang sudah mulai dingin.
"Cinta kedua," Ucap Raka sambil menaruh gelasnya kembali di atas meja.
Queen menatap Raka dengan seksama, menunggu kisah yang entah mengapa sangat ingin ia ketahui.
"Cinta kedua ku, namanya Lala. Dia adalah gadis yang aku temui di kampus ku saat di Boston. Yah, kami sempat hidup bersama di Boston." Suara Raka tercekat saat mengatakan ia pernah hidup bersama dengan gadis bernama Lala.
Saat itu juga, raut wajah Queen sedikit berubah. Lalu, ia buru-buru meraih gelas kopinya dan menyeruput sisa kopi didalam gelasnya.
"Sorry, aku hanya ingin jujur,"
"No problem, itu masa lalu kamu. Aku tidak ada urusan dengan itu. Tidak perlu meminta maaf dengan ku," Tegas Queen.
Raka pun terlihat salah tingkah, ia menundukkan wajahnya dan mengigit bibirnya. Ia mulai merasa menyesal menceritakan tentang Lala kepada Queen.
"Lalu?" Tanya Queen.
Raka menatap Queen dengan seksama, lalu ia tersenyum tipis.
"Lala adalah orang Indonesia. Tetapi, kini dia sudah menikah. Aku bertemu di Boston, kami satu kampus. Kami berpisah, karena...."
"Apa?" Tanya Queen.
"Orang tua ku tidak setuju dengan Lala."
Deggg...!
Queen merasakan apa yang Raka rasakan. Dulu, orang tua Antoni juga tidak setuju dengan dirinya. Hanya saja, Antoni berjuang untuk dirinya hingga kedua orang tua Antoni setuju Queen menikah dengan Antoni. Hanya saja, karena musibah Athar saja, membuat semua menjadi berakhir.
"Kamu tidak berjuang untuk dia?" Tanya Queen dengan wajah yang sinis.
"Berjuang, hanya saja...."
"Kenapa?" Tanya Queen penasaran.
"Mungkin Lala tersinggung dengan ucapan orangtuaku. So, dia menghilang dariku dan kami bertemu kembali setelah dia sudah memiliki anak. Ya sudahlah, mungkin kami tidak jodoh," Ucap Raka.
__ADS_1
Queen tercengang, ia merasa cerita Raka hampir mirip dengan cerita dirinya dan Antoni, cinta keduanya.
"Yang ketiga...." Raka menghentikan ucapan nya. Ia mengusap wajah nya dengan kedua telapak tangan nya. Lalu, meneguk minuman penghangat nya hingga tetes terakhir.
"Yang ketiga?" Queen menunggu cerita Raka yang terlihat mulai gelisah.
"Naysilla," Raka tertawa hambar.
Queen terdiam, ia sudah tahu tentang Naysilla dari Tika.
"Turut berdukacita ya," Ucap Queen.
Raka membulatkan matanya dan menatap Queen dengan tak percaya.
"Aku belum cerita loh," Ucap Raka.
"Tidak perlu, aku tahu siapa Naysilla."
Raka menghela nafasnya dan menatap Queen yang tersenyum canggung.
"Sudah itu saja, aku hanya mengenal tiga wanita yang pernah singgah di hati aku. Mungkin benar, aku tidak benar-benar berjuang. Mungkin, aku akan berjuang dengan cinta keempat, aku akan memperjuangkan dia sampai kapanpun."
Queen membalas tatapan Raka, lalu ia membuang pandangannya.
"Bagaimana kisah mu?" Tanya Raka.
Queen tersenyum kecut, ia kembali menatap lelaki yang sudah bersedia membuka masa lalu nya kepada dirinya.
"Apa harus aku menceritakan? Sedangkan kamu pasti sudah tahu dari Tika," Ucap Queen dengan diplomatis.
"Belum ah..."
"You lie, aku tidak mempercayai kamu dan Tika, kalau kalian tidak bergosip tentang ku sama sekali,"
Raka terkekeh dan mencubit puncak hidung Queen.
"Ih..." Queen mengerutkan dagunya dan mengusap puncak hidungnya yang memerah karena di cubit oleh Raka.
"Mau kembali ke hotel?"
Queen mengangguk dengan cepat, lalu ia bersiap-siap untuk kembali ke hotel dengan memasukan ponselnya serta mengeluarkan dompetnya dari dalam tas.
"Biar aku yang bayar," Ucap Raka sambil beranjak menuju ke kasir.
Queen terdiam menatap punggung lelaki yang begitu pengertian itu.
"So sweet gak sih? Peka banget gak sih jadi laki-laki? Tampan gak sih? Perhatian gak sih? Liat perjuangan dia mencari elu Queen..." Sebagian sisi hati nya mendadak berisik dengan ucapan-ucapan itu.
"Jawaban dari semuanya, memang benar.. dia memiliki semuanya. Tapi.." Gumam Queen.
"Tapi apa?" Sisi hatinya kembali bertanya kepada dirinya.
"Ah... gak tahu. !" Ucap Queen sambil menggelengkan kepalanya dan menghentakkan kakinya di lantai.
Raka yang sedang berada di kasir menoleh dan menatap Queen, saat ia mendengar suara hentakan kaki Queen. Begitupun dengan semua orang yang berada di cafe tersebut.
Queen pun tersadar, dirinya menjadi pusat perhatian semua orang. Ia pun tersenyum kikuk dan membungkuk untuk meminta maaf kepada semua orang yang berada di cafe itu.
__ADS_1
Raka menahan tawanya, lalu ia beranjak mendekati Queen, setelah ia selesai membayar tagihan di kasir.
"Yuk," Raka mengulurkan tangannya ke hadapan Queen.
Queen menatap tangan lelaki itu. Satu sisi, ada dorongan untuk menyambut nya. Satu sisi lagi, melarang dirinya untuk tidak terhanyut suasana romantis di negara itu dengan Raka.
"Ya.." Queen berjalan mendahului Raka.
Raka hanya bisa menggenggam tangan nya dengan hampa. Lalu, ia tersenyum menatap punggung Queen yang menunggu dirinya di luar cafe tersebut.
"Semakin kamu acuh, aku semakin kukuh untuk memiliki kamu." Batin Raka.
Raka bergegas menyusul Queen dan mereka pun, berjalan berdampingan untuk kembali ke hotel.
...
"Terima kasih," Ucap Queen saat dirinya dan Raka berada di dalam lift hotel mereka.
"Sama-sama," Sahut Raka sambil tersenyum kaku.
Queen mengerutkan keningnya, ia merasa ada yang tidak beres dengan Raka.
Matanya Queen terpaku saat melihat bibir Raka yang mulai membiru.
"Kamu kedinginan?"
"Sedikit," Sahut Raka. Suaranya kali ini benar-benar terdengar bergetar.
Queen menatap tangan Raka yang tidak memakai sarung tangan. Terlihat tangan itu membiru dan tubuh Raka terlihat gemetar.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Queen dengan wajah yang khawatir dan meraih tangan Raka.
"I-iya..." Raka mengangguk cepat.
"Tidak, kamu tidak baik-baik saja. Ayo aku antar ke kamar kamu," Ucap Queen sambil menarik tangan Raka, saat pintu lift terbuka tepat di lantai kamar lelaki itu.
Raka terlihat benar-benar kedinginan, suhu tubuhnya terus menurun, walaupun sudah berada di dalam gedung hotel yang memiliki pemanas sentral untuk membuat suhu udara di dalam hotel tersebut terasa lebih hangat dari pada udara di luar sana.
"Maaf, tadi aku tidak menggandeng tangan kamu," Ucap Queen dengan wajah yang penuh dengan penyesalan.
Queen meminta card access milik Raka, Raka pun menyerahkan card access itu kepada Queen dengan tangan yang gemetar. Dengan cepat, Queen menyambar card access itu dan membuka pintu kamar Raka.
Dengan cepat, ia berjalan menuju ke ranjang Raka dan mengambil selimut serta mencari sarung tangan milik lelaki itu.
Matanya tertuju kepada sarung tangan yang tergeletak di atas meja nakas, lalu ia meraih sarung tangan itu dan setengah berlari ia menghampiri Raka yang duduk di atas sofa.
Queen pun langsung menyelimuti Raka dan memasangkan sarung tangan ke kedua tangan Raka. Sementara Raka terus memperhatikan Queen yang terlihat sangat melayani dirinya.
"Sudah agak mendingan kan? Aku masakin air ya.. untuk membuat.."
"Queen.."
Queen terdiam dan menatap Raka saat lelaki itu memotong kata-katanya.
"Ya.."
Tanpa basa basi, Raka mengecup bibir Queen dengan lembut. Queen pun terdiam terpaku.
__ADS_1