365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
44# Cinta adalah tujuan


__ADS_3

Satu persatu tamu undangan pun membubarkan diri, setelah acara peresmian hotel milik Queen baru saja berakhir. Queen menyapukan pandangannya, mencoba mencari sosok Raka di multifunction hall tersebut. Ia pun menghela nafas lega saat tidak lagi melihat Raka disana.


Queen pun berpamitan dengan para karyawannya dan mulai melangkah meninggalkan ruangan tersebut.


"Bisa berbicara sebentar?"


Terdengar suara Raka di lorong itu, saat Queen baru saja keluar dari multifunction hall. Queen menoleh dan menatap lelaki tampan itu. Jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya saat ia melihat senyum Raka yang begitu menarik.


"Ku kira sudah pulang," Queen tampak salah tingkah dan mencoba mengalihkan pandangannya.


"Belum," Ucap Raka sambil berjalan menghampiri Queen.


"Teman mu?" Tanya Queen.


"Dia sudah pulang terlebih dahulu. Aku hanya menagih janjimu yang mengatakan "kita akan berbicara nanti".


Queen tersenyum simpul dan menundukkan pandangan nya.


"Apa mau mu Raka?" Tanya Queen tanpa berbasa basi.


"Aku hanya ingin berbicara dengan mu, ditemani secangkir kopi."


Queen menatap Raka dengan seksama, lalu ia tampak grogi.


"Queen, maukah kamu minum kopi dengan ku?"


"Hmmmm...."


"Please jangan tolak aku, beri aku sedikit saja celah untuk berbicara santai dengan kamu.. seperti saat kita di Ko...."


"Ok," Potong Queen.


Raka tersenyum semringah dan menatap Queen yang berjalan mendahului dirinya. Lalu, Raka menyusul Queen dan berjalan disamping gadis yang selalu mengusik malam-malam nya itu.


Raka membukakan pintu mobilnya saat mobil miliknya yang dikendarai oleh seorang supir berhenti dihadapan mereka. Lalu, dengan gaya yang anggun, Queen memasuki mobil mewah milik Raka.


Setelah Raka menyusul masuk, Raka pun berpesan kepada supir nya untuk mengantarkan mereka ke hotel milik nya.


Queen yang duduk disamping Raka terlihat santai dan menatap kedepan. Raka pun melirik Queen dan tersenyum puas.


"Kamu cantik malam ini,"


Queen menoleh dan menatap Raka, lalu ia tersenyum simpul.


"Terima kasih. By the way, kenapa kita minum kopi di hotel tempat mu bekerja?" Tanya Queen.


"Biar dapat diskon," Celetuk Raka.


Queen mengulum senyumnya dan menatap lelaki itu.


"Jangan bilang kalau hotel itu milik mu?"


"Bukan, aku hanya pegawai biasa."


"Mobil ini?" Tanya Queen lagi.


"Punya kantor," Sahut Raka.


"Awas kalau bohong,"


"Serius! Kalau aku tidak ada apa-apa, apakah kamu mau tetap berteman dengan ku?" Tanya Raka.


Queen menatap Raka dengan seksama.


"Kalaupun kamu punya apa-apa, apakah menjamin aku mau berteman dengan mu?"


Raka tertawa saat pertanyaan nya dibalas pertanyaan juga dari Queen.


"Wanita cerdas, sangat sulit untuk tahu apa isi kepalanya. Dasar gadis ini, dia terlalu perfeksionis..!" Batin Raka.


"Tadi, lelaki itu bukan nya Bapak Gunawan ya?" Tanya Raka.


Queen menatap Raka dan mengangguk pelan.


"Hebat, dia kan pejabat..."

__ADS_1


"Dia Ayah ku," Potong Queen.


"Oh ya...!"


Queen mengangguk dan mencoba tersenyum.


"Hotel itu hadiah darinya, karena sebentar lagi aku ulang tahun."


"Tanggal berapa? Usia?" Tanya Raka penasaran.


Queen tersenyum dan menatap Raka dengan seksama.


"Aku sudah tua, usiaku tiga puluh tahun pada tanggal dua puluh Maret nanti."


"Dua puluh Maret ya, hmmmm... tiga puluh tahun tua? Aku bagaimana?" Ucap Raka.


"Memang usiamu berapa?"


"Tiga puluh dua tahun, jalan tiga puluh tiga," Jawab Raka.


Senyum mengembang di bibir Queen. Lalu, ia menundukkan pandangan nya.


"Kok senyum?" Tanya Raka sambil ikut tersenyum melihat Queen yang tersenyum.


"Aku pikir kamu lebih muda dariku," Ucap Queen.


"Hah?"


"Iya, wajahmu awet muda,"


"Hahahahaha...!" Raka tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Justru aku berpikir, usia mu masih dua puluh lima tahun."


"Basa basi, basi tahu gak!" Ucap Queen sambil melotot kepada Raka.


"Gak, sumpah!" Raka mengangkat dua jari nya di depan Queen.


"Apa sih rahasia awet muda?"


"Jomblo," Sahut Queen sekenanya.


Queen tertawa lepas, suasana pun mulai mencair antara mereka berdua.


"Kenapa tidak mencari pendamping?" Tanya Queen, setelah mereka tertawa bersama.


"Ini lagi mau di dekati,"


"Siapa?"


"Kamu lah," Ucap Raka.


Queen pun tersipu malu, ia membuang pandangannya keluar jendela mobil itu.


"Sorry, apa kamu sudah punya pasangan sekarang?" Tanya Raka.


Queen menoleh dan menatap Raka, lalu ia tersenyum simpul.


"Belum," Queen menggelengkan kepalanya.


Mobil yang mereka tumpangi pun berhenti di lobby hotel milik Raka. Seorang petugas hotel membukakan pintu mobil itu dan membantu Queen untuk turun dari mobil tersebut, dan di susul oleh Raka.


Mereka berdua pun langsung menuju ke lift. Queen sempat menghentikan langkah nya saat melihat lift yang sama saat ia terjebak di lift itu bersama Raka.


"Kenapa? Takut terjebak lagi?" Tanya Raka sambil menahan tawanya.


Queen menghela nafasnya dan tersenyum tipis. Ia kembali mengingat kejadian di dalam lift itu, tepatnya saat Raka hendak mengecup bibirnya.


"Hmmm, ada lift lain?" Tanya Queen.


"Lift ini sudah diperbaiki, don't worry."


"Beneran?" Queen mencoba memastikan ucapan Raka.


Raka mengangguk dan menggandeng tangan Queen dan menuntun Queen masuk kedalam lift tersebut, sesaat setelah pintu lift itu terbuka.

__ADS_1


"Tenang, selama ada aku disamping mu," Bisik Raka.


Wajah Queen memerah. Entah mengapa, bersama Raka, dirinya selalu diperlakukan layaknya seorang Ratu.


Ting!


Pintu lift itu terbuka saat mereka berada di lantai paling atas dari gedung tersebut. Queen dan Raka melangkah keluar dari dalam lift. Terdengar lantunan lagu cinta yang dinyanyikan oleh band yang sedang beraksi di atas panggung kecil di tengah lokasi restoran.


Semua karyawan disana menyambut Raka dan Queen dengan hormat dan senyuman ramah. Salah satunya mengantarkan Queen dan Raka ke meja VVIP yang terletak di tengah-tengah taman kecil yang berada di restoran itu.


Setelah memesan minuman, mereka pun saling bertatapan. Lalu, senyuman mengembang di bibir kedua insan tersebut.


"Tika apa kabar?" Tanya Raka, mencoba memulai obrolan nya dengan Queen.


"Baik, dia sedang mempersiapkan pernikahan nya."


"Oh, kapan dia akan menikah?"


Queen menghela nafas berat, lalu ia mencoba tersenyum.


"Dua bulan lagi," Ucapnya dengan pelan.


"Ah, maaf, bila aku meninggalkan kamu saat berlibur," Sambung Queen, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mendengar alasan nya saja," Ucap Raka.


"Alasan? Apa harus?"


"Iya," Raka tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Queen tersenyum simpul dan membuang tatapannya ke hamparan lampu-lampu di bawah sana.


"Aku hanya bingung akan bersikap bagaimana dengan mu setelah kita...."


"Ya? Setelah kita apa?" Tanya Raka yang berpura-pura bodoh.


Queen menatap Raka dengan seksama, lalu ia mengigit bibir tipisnya.


"Kenapa kamu mencium bibir ku?" Tanya Queen.


Raka terdiam, ia terlihat salah tingkah.


"Aku minta maaf," Ucap Raka, beberapa saat kemudian.


"Maaf?"


"Ya, aku salah, itu tidak pantas. Hanya saja...."


"Hanya saja apa?" Desak Queen.


"Aku rasa aku jatuh cinta denganmu,"


Deggggg...!


Queen terdiam, ia tidak tahu akan berekspresi apa terhadap ucapan Raka yang baru saja ia dengar.


"Cinta? Apa mungkin secepat itu?"


"Ya, mungkin. Aku merasakan cinta padamu saat pandangan pertama kita di Mall. Apakah itu salah?"


Queen pun, kembali terdiam.


"Queen, aku tahu, kamu tidak akan percaya cinta untuk saat ini. Tetapi, izinkan aku mendekati kamu dan berjuang mendapatkan cinta untuk mu. Queen, aku mohon jangan hindari aku."


Queen menatap Raka, lalu ia menundukkan wajahnya.


"Raka..."


"Aku mohon, beri aku waktu untuk membuat mu jatuh cinta kepadaku. Aku sedang tidak bermain-main atau bercanda saja. Aku serius..."


Queen menghela nafasnya dan kembali menatap Raka.


"Apa arti cinta untuk mu?" Tanya Queen.


"Cinta adalah tujuan untuk menghabiskan sisa umur yang kita miliki dengan orang yang tepat."

__ADS_1


Queen terdiam, kata-kata Raka membuat dirinya terpesona. Hatinya yang dingin terasa hangat, jiwa nya yang beku pun mencair.


"Queen, elu meleleh hanya gara-gara dia ngomong begitu?" Ucap Queen kepada dirinya sendiri.


__ADS_2