
Antoni yang baru saja bersiap-siap ke kantor, termenung di samping meja makan. Tidak seperti biasanya, Tasya selalu menyapa dirinya setiap pagi, menyiapkan segala kebutuhan nya dan sarapan pagi untuk dirinya. Tetapi, sejak semalam wanita itu tidak terlihat di rumah.
Sejak beberapa hari yang lalu, mereka berpisah ranjang. Tasya tidur di kamar anak mereka, sedangkan Antoni tidur di kamar utama.
Antoni juga tidak mendengar celotehan putranya, rumah terasa sepi. Ia melangkah menuju kamar putra nya dan membuka pintu kamar itu. Untuk melihat keberadaan anak dan istrinya.
Antoni termenung saat melihat kamar putranya kosong. Ia pun melangkah ke arah lemari dan melihat baju-baju milik putra nya.
Semua masih tertata rapi, Antoni pun dapat bernafas lega. Tetapi, kemana Tasya dan putranya? Sepagi ini mereka sudah tidak ada dirumah. Antoni mulai gelisah, ia pun memutuskan untuk menghubungi Tasya.
Beberapa kali panggilan nya untuk Tasya tidak di respon oleh wanita yang telah ia nikahi 5 tahun silam itu. Antoni pun bergegas menuju ke kamarnya. Ia melihat koper dan pakaian Tasya. Lagi-lagi ia dapat bernafas lega, karena pakaian Tasya masih utuh di dalam lemari.
Antoni pun memutuskan untuk membuang perasaan khawatir nya. Lalu, ia beranjak menuju meja makan dan membuat roti selai untuk dirinya sendiri. Antoni pun sarapan sendirian dan termenung mengingat Tasya yang mempermalukan dirinya di hadapan Queen.
Tetapi, ada yang aneh baginya. Mengapa Tasya tidak ikut memarahi Queen. Bukankah Tasya sedang cemburu dengan Queen. Tetapi, mengapa hanya dia yang dimarahi oleh Tasya.
Antoni mengingat lagi kebelakang, bahwasanya istrinya itu, Tasya, tidak pernah kasar apalagi hingga menampar dirinya. Wajah Tasya selama 5 tahun bersama dengan dirinya, selalu dihiasi senyum tulus dan Antoni merasa selama ini ia tidak pernah bertemu wanita yang selalu tersenyum kepada dirinya, walaupun ia menunjukan sikap tidak suka kepada Tasya. Bahkan, Queen sendiri tidak mampu seperti Tasya yang selalu tersenyum kepada dirinya, walaupun sedang marah.
Antoni menghela nafas nya dan menghabiskan roti yang sedang ia pegang. Lalu, ia menuangkan segelas susu dan meminumnya sampai habis dan lalu menaruh piring dan gelas kotor bekas ia sarapan di dalam wastafel. Saat ia akan meninggalkan piring dan gelas kotor itu begitu saja, ia pun kembali teringat Tasya yang selalu membereskan gelas dan piring bekas nya dan langsung mencucinya hingga bersih dan menyimpan nya di lemari piring.
Antoni menghentikan langkahnya dan kembali kedepan wastafel. Lalu, ia meraih gelas dan piring tersebut dan mencucinya, serta menyimpan nya kedalam lemari.
"Kemana dia?" Gumam nya. Tanpa ia sadari, ia merasa kehilangan sosok yang selalu ramah dan tersenyum kepada dirinya itu, walaupun sikapnya yang dingin kepada Tasya.
"Ah, biarin deh.." Gumam nya lagi, lalu ia pun memutuskan untuk berangkat ke kantor.
...
__ADS_1
Dengan mata yang sembab, Tasya berdiri di balkon sebuah apartemen. Ditangan nya terdapat segelas teh manis hangat yang sengaja ia buat untuk menyambut paginya yang tidak begitu indah.
Di dalam terdengar suara televisi yang sedang menayangkan acara kartun. Terlihat putra semata wayangnya begitu serius mengikuti acara televisi tersebut.
"Kayaknya aku harus tegas kali ini, bila harus berpisah, berpisah lah," Gumam Tasya yang mengungsi di apartemen seorang kerabat dekatnya.
Semalam, saat dirinya pulang kerumah, ia langsung mengemasi beberapa helai pakaian milik nya dan putranya semata wayangnya itu. Lalu, ia bergegas menjemput putranya di rumah kerabat nya. Setiap Tasya pergi, ia selalu menitipkan putranya ke rumah kerabatnya.
Sesampainya ia dirumah kerabatnya untuk menjemput putranya, Tasya pun berbincang dengan wanita yang ia panggil dengan sebutan mbakyu tersebut.
"Bagaimana dik, apa kamu sudah melabrak wanita itu?" Tanya Mbakyu.
Tasya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku menampar Antoni Mbak, aku tidak mungkin melakukan hal yang kasar kepada wanita itu. Wanita itu orang baik. Yang salah adalah Antoni." Tegas Tasya.
"Ya Allah dik, kamu itu ayu, sabar, terpelajar, sopan, baik. Apa yang kurang darimu hingga Antoni tidak sama sekali melirik kamu." Ucap wanita yang memang sudah mengetahui semua tentang rumah tangga Tasya dan Antoni.
Tasya menghela nafasnya dan menatap Mbakyu. Lalu, ia tersenyum kecut.
"Ya, namanya perasaan Mbak. Biarlah... aku juga menikah dengan Antoni, karena orang tua. Padahal, saat itu aku sudah memiliki kekasih. Kekasih ku sangat mencintai aku. Dia orang yang baik dan hangat. Tetapi, aku lebih memilih menurut sama Simbok. Jadi, ya sudahlah.... toh aku pernah mengagumi Antoni. Aku pikir, aku bisa mencintai dia lagi setelah menikahi dia, begitupun sebaliknya. Ternyata.... ah.. sudahlah.." Tasya kembali tersenyum kecut.
"Tapi dik, lebih baik kamu membicarakan hal ini kepada orang tua Antoni. Biar mereka bisa menasihati putra mereka. Masa kamu lebih memilih menderita sendiri. Lah, sekarang kamu mau pulang atau piye?" Tanya Mbakyu.
"Aku mau menginap di hotel mbak. Masalah bicara dengan orang tuanya, yah... aku sudah tahu jawabannya. Pasti orang tuanya menyalahkan aku yang tidak becus melayani suami, hingga Antoni tidak kunjung jatuh cinta kepadaku. Bagi orang tuanya kan, Anak mereka segalanya. Tidak ada yang kurang dari anak mereka. Yang kurang hanya orang lain," Ucap Tasya dengan ujung suara yang tercekat.
Mbakyu menghela nafas, lalu ia beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Sik ya."
Tasya menatap Mbakyu yang berjalan menuju ruang keluarga. Lalu, wanita berusia 40 tahun itu kembali membawa sebuah kunci apartemen.
"Dari pada kamu menginap di hotel, lebih baik kamu menginap di apartemen nya Mbak. Tetapi, mohon maaf, belum dibersihkan. Kalau kamu bersedia, tolong kamu bersihkan. Sapu dan pel nya ada di dalam gudang yang disamping kamar mandi itu loh," Ucap Mbakyu.
"Aku jadi merepotkan mbak,"
"Enggak kok, dari pada kamu ke hotel. Ayo, ini kuncinya.." Ucap Mbakyu sambil menyodorkan kunci apartemen miliknya.
Tasya tersenyum dan meraih kunci apartemen itu. Lalu, ia pun berpamitan dengan Mbakyu.
"Mungkin aku akan menginap beberapa hari di apartemen Mbak," Ucap Tasya saat ia hendak masuk kedalam mobilnya.
"Monggo, gak apa-apa. Untuk sementara kamu tinggal disana gak apa. Selama yang kamu mau saja," Ucap Mbakyu.
Tasya tersenyum dan beranjak masuk kedalam mobilnya.
"Terima kasih ya Mbak,"
"Sama-sama," Sahut Mbakyu.
..
Tasya menatap gedung-gedung tinggi yang berada di sekitar apartemen milik Mbakyu, lalu ia menghela nafas panjang.
"Sudah saatnya aku menuntut cerai. Cerai adalah hak seorang istri, bila dirinya tidak di inginkan oleh suami. Dari pada tersiksa lahir dan batin, keputusan ini sudah paling benar. Pelajaran juga bagi Antoni, bila tidak ada wanita yang mencintai dirinya setulus istrinya sendiri," Batin Tasya, ia menoleh dan menatap wajah putra nya dari Antoni. Lalu, air mata mengembang di pelupuk matanya.
__ADS_1
"Nak, maafkan Mama ya... Mama sudah tidak kuat, Mama tidak sekuat itu nak..." Batin nya lagi.