365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
84# 304HMH


__ADS_3

"Nyonya, ini data yang nyonya butuhkan," Ucap seorang lelaki muda bertubuh tegap. Ia menaruh sebuah map di atas meja kerja nyonya Amara.


Nyonya Amara yang sedang fokus dengan laptopnya pun melirik map tersebut dan tersenyum puas kepada lelaki itu.


"Terima kasih ya," Ucapnya seraya meraih map tersebut.


Nyonya Amara melihat isi map itu dan membaca profil seorang wanita. Ya, wanita itu adalah Queen. Putri dari seorang pengusaha bernama Farah yang memiliki darah campuran Jerman. Sedangkan Ayah kandung dari Queen adalah seorang mantan pejabat, bernama Gunawan. Queen juga memiliki Ayah sambung bernama Andra yaitu seorang petinggi di militer.


Hal itu cukup membuat nyonya Amara tercengang. Ia cukup mengenal mantan pejabat yang sekarang menjadi seorang pengusaha sukses bernama Gunawan. Ia sama sekali tidak menyangka bila Queen adalah anak Gunawan dari wanita lain.


Nyonya Amara menghela nafasnya dan membuka lembaran kedua dari beberapa lembar kertas yang berada di dalam map itu. Ia melihat foto Queen yang terlihat sangat cantik. Senyum yang menawan serta mata hitam nya yang begitu bersinar seperti mutiara hitam.


Lalu, ia menyingkirkan foto itu dan meletakkan nya di atas meja, agar ia bisa membaca riwayat Queen yang berada di lembar kedua dalam map tersebut.


Nyonya Amara terpesona dengan prestasi yang diraih oleh gadis yang dicintai putranya itu. Queen menjadi lulusan terbaik di universitas ternama di negeri ini pada angkatan nya. Queen juga memiliki karir yang cemerlang saat dirinya bekerja di beberapa perusahaan sebelum Queen memutuskan untuk berwirausaha.


Nyonya Amara mengangguk paham. Kini, ia mengerti mengapa Raka sangat tergila-gila kepada gadis bernama lengkap Queen Kruger itu. Tetapi, ada yang menjadi ganjalan bagi nyonya Amara. Yaitu, Queen ternyata anak dari selingkuhan Gunawan, yang merupakan kenalan nya yang sempat menjadi partner dalam berbisnis.


Tetapi, nyonya Amara buru-buru menepis perasaan tidak suka itu. Ia mencoba menerima masa lalu Queen yang ternyata tidak seindah wajah gadis itu.


"Dia hanya korban dari keegoisan orang tuanya. Dia tidak salah apa-apa, yang terpenting, dia adalah gadis baik-baik. Aku rasa, aku harus mengadakan pendekatan kepada orang tuanya. Aku belum mengenal Farah Kruger. Aku akan mencari informasi tentang nya terlebih dahulu, untuk mengenal siapa dia dan bagaimana sifat dan sikap nya. Apakah dia wanita baik atau tidak." Gumam nyonya Amara, seraya membaca banyak informasi lain nya tentang Queen yang berada di dalam map yang sedang ia pegang tersebut.


..


"Queen ada yang melamar, bagaimana!" Tanya Bunda saat dirinya sedang sarapan bersama dengan Ayah dan Athar.


Ayah dan Athar terperangah dan menatap Bunda dengan tatapan tak percaya.


"Siapa?" Tanya Ayah penasaran. Sedangkan Athar kembali melanjutkan sarapan nya.


"Ayah ingat Putra kan? Yang kenalan sama kita di pernikahan nya si Tika?" Tanya Bunda.


Ayah memutar bola matanya dan terlihat seperti sedang berpikir.


"Itu loh Ayah, lelaki tampan itu. Pak dosen,"


"Ah... iya..." Ucap Ayah, seraya melanjutkan kembali menyantap sarapan nya.

__ADS_1


"Kok dia tahu rumah kita?" Tanya Ayah sembari mengunyah nasi goreng buatan Bunda.


"Itulah... dari Tika mungkin. Nekat banget gak sih anak itu Yah?" Tanya Bunda.


Ayah hanya diam dan terus menyantap makanan nya.


"Emang dia bilang apa?" Tanya Ayah lagi.


"Katanya dia mau ta'aruf dengan Queen."


"Uhukk!!!" Athar tersedak karena ia tertawa saat mendengar kata 'Ta'aruf' yang di sebut Bunda.


"hati-hati dong... nih minum," Bunda menyodorkan segelas air putih kepada Athar.


Athar menepuk dadanya dan meraih gelas itu dari tangan Bunda, lalu ia meminum air itu sampai habis.


"Buset... nekat bener ngajakin ta'aruf. Apa dia pikir kak Queen mau sama dia?"


"Hust..! Jangan begitu," Ucap Bunda seraya mengibaskan tangannya di depan wajah Athar.


"Ganteng gak sih Bun?" Tanya Athar seraya membuka kancing bagian atas kemejanya.


"Ya... dari situ kan kita sudah tahu, dia bukan tipe kakak Queen," Celetuk Athar.


"Jangan begitu, kita tidak tahu jodoh kakak mu itu siapa."


Athar menelan salivanya saat mendengar ucapan Ayah.


"Kalau dia memang serius, jumpai Ayah atau Pak Gunawan. Kita lihat seberapa besar mental nya sebagai lelaki menghadapi calon mertuanya," Ucap Ayah seraya memamerkan otot lengan nya yang masih membulat, walaupun dirinya sudah tidak muda lagi.


"Memangnya mau kamu apakan?" Tanya Bunda penasaran.


"Mau aku plonco ala militer." Celetuk Ayah seraya meraih gelas di hadapan nya.


"Kasihan lah Yah... Masa begitu, bisa-bisa Queen tidak akan menikah Yah..!"


"Siapa bilang? Seorang lelaki, akan menghadapi apa saja bila dirinya berminat mempersunting pujaan hatinya. Bila sudah jodoh, tantangan apa saja pasti terlewati. Betul tidak Thar?"

__ADS_1


Athar mengangguk dengan mulut yang dipenuhi oleh nasi goreng.


"Tidak hanya Ayah dan Bapak Gunawan, ada Athar, Bobby, dan lain-lain." Sambung Ayah Andra.


"Hedeeehhh... susah kalau ngomong sama laki-laki!" Ucap Bunda seraya mengerutkan dagunya.


"Anak ku itu bukan wanita biasa. Hanya laki-laki bernyawa sembilan yang bisa mendekati dirinya," Ucap Ayah. Athar kembali mengangguk setuju, dengan ucapan Ayah.


"Ngomong-ngomong, Queen itu sedang dekat dengan seorang lelaki. Tetapi, kayak nya complicated banget hubungan mereka."


"Oh, yang lelaki yang sudah punya anak itu? Dia yang berada di kantor polisi kan?"


Bunda mengerutkan keningnya.


"Punya anak?" Tanya Bunda.


"Iya, Ayah gak tahu lagi ceritanya bagaimana. Yang jelas, melihat dia di kantor polisi dan cara cerdik dia untuk menyelamatkan anak kita, terlihat bila dia orang yang baik. Serta, saat Queen bercerita dia bertanggung jawab kepada anak dari hubungan sebelumnya pun, Ayah merasa salut. Dia mau mengakui dan merawat anak itu. Sayangnya anak itu sedang sakit," Cerita Ayah.


"Queen kok gak cerita ya sama Bunda?" Ucap Bunda dengan wajah yang kecewa.


"Mungkin karena Bunda cerewet, jadi kakak Queen gak mau cerita," Celetuk Athar.


"Athar! Ini anak minta di jitak kali ya!" Bunda mengepalkan tangan nya ke arah Athar.


Athar terkekeh dan beranjak dari duduknya.


"Sudah ah, Athar mau ke rumah Kimmy dulu." Ucap Athar seraya membawa piring bekas sarapan nya dan mencucinya sebelum ia meninggalkan ruang makan itu.


"Salam ya sama Kimmy dan Mamanya."


"Siap Bun," Sahut Athar.


...


Raka menatap awan tebal yang terlihat dari jendela pesawat. Ia mengigit bibirnya dengan wajah yang terlihat cemas. Raka berharap Queen masih berada di pulau Vaadhoo. Karena, bila Queen sudah meninggalkan pulau tersebut, kemungkinan Raka untuk bertemu dengan pujaan hatinya itu sangat tipis.


Ia menatap gedung-gedung yang terlihat jelas dari atas pesawat. Gedung-gedung itu adalah gedung yang berada di negara Singapura. Ya, Raka transit di Singapura. Sama seperti perjalanan Queen saat menuju ke Maldives.

__ADS_1


Pesawat itu pun akan landing beberapa saat lagi di Singapura. Lampu cabin pesawat pun sudah meredup. Raka kembali memeriksa sabuk pengaman nya, untuk memastikan dirinya akan aman saat pesawat mendarat.


"Bismillah, untuk segalanya. Niatku, perjalanan ku dan Queen," Gumam nya seraya menatap mentari yang mengintip malu dari balik awan putih.


__ADS_2