365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
80# 306HMH (Maldives)


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Queen mendarat dengan selamat di Bandar udara Internasional Velana, yang sebelumnya Bandar Udara itu bernama Bandar Udara Internasional Ibrahim Nasir. Bandar Udara itu merupakan Bandar Udara Internasional Malé, Maladewa. Yang terletak di Pulau Hulhulé di Atol Malé Utara, dekat pulau ibu kota Malé.


Queen pun bergegas ke luar dari gate kedatangan dan menemui seseorang yang menjadi guide perjalanan nya, yang akan mengantarkan dirinya ke Ibukota negara itu dengan menumpangi sebuah Boat.


Seperti yang kita tahu, Bandara dan Ibukota negara itu berada terpisah. Karena Maladewa adalah negara kepulauan yang kecil, Bandara mereka pun terletak di sebuah pulau dan untuk menuju ke Ibukota nya, kita harus menyewa sebuah kapal Boat.


Sepi membunuh jiwa, itulah yang dirasakan Queen sepanjang perjalanan menuju negara itu. Niat untuk self healing justru membuat dirinya semakin merasa sepi.


Queen mengikuti seorang guide menuju ke sebuah dermaga di mana boat yang sudah ia sewa terparkir menunggunya.


Setelah sampai di dermaga, Queen pun menaiki Boat tersebut, sedangkan guide yang wajahnya mirip sekali seperti orang India itu membawa koper Queen ke dalam Boat itu.


Tidak menunggu lama, Boat itu pun bergerak meninggalkan Bandar Udara Velana menuju pulau dimana Ibukota negara itu berada.


Sepanjang perjalanan menuju Ibukota, Queen berbincang dengan guide yang sudah berbaik hati untuk mengantarkan dirinya dan menemani dirinya berkeliling, memperkenalkan Budaya dan daerah yang baru pertama kali Queen jejaki itu.


Hanya beberapa menit saja, Boat yang di tumpangi Queen merapat di Ibukota Maladewa. Queen di tuntun turun dari Boat dan kopernya pun di angkat oleh guide tersebut.


Sebuah mobil sudah menunggu Queen untuk menemani dirinya dan guide itu, berkeliling di Ibukota Maladewa. Sembari menunggu pesawat amfibi yang akan Queen tumpangi bersama beberapa tamu resort lain nya tiba. Karena pesawat akan berangkat pukul sebelas siang waktu setempat, maka dari itu, kesempatan bagi Queen untuk berkeliling terlebih dahulu di Ibukota Maladewa. Untuk berbelanja atau sekedar melihat aktivitas para penduduk setempat.


Queen sudah menenteng kamera nya, ia memasuki sebuah mobil berwarna silver dan terus berbincang dengan guide yang bernama Rahmat. Ya, namanya terdengar sangat familiar. Karena negara yang terletak di sebelah selatan-barat daya India itu merupakan negara Muslim terkecil di Dunia.

__ADS_1


Mobil yang di tumpangi Queen mulai beranjak meninggalkan dermaga itu menuju ke pusat Ibukota tersebut. Queen menatap keluar jendela, ia melihat kehidupan para masyarakat disana dari dalam mobil itu. Keramaian, pasar tradisional serta lalulintas yang terlihat tidak begitu padat.


"Have you eaten breakfast yet?" (Kamu udah sarapan?) Tanya Rahmat yang duduk di samping supir yang mengendarai mobil itu.


"Not yet," (Belum) Sahut Queen seraya tersenyum tipis.


"You want to breakfast?" (Apa kamu mau sarapan?) Tanya Rahmat lagi.


"Yeah.." Sahut Queen seraya mengangguk.


Rahmat pun mengangguk dan berbicara dengan supir travel itu dengan bahasa Divehi, bahasa nasional di negara itu. Bahasa Divehi terdengar seperti bahasa India di telinga Queen, yang membuat dirinya tersenyum sendiri saat mendengar Rahmat berbincang dengan supir itu.


Beberapa menit kemudian, supir pun menghentikan laju mobil nya di sebuah warung makan tradisional, yang menjual berbagai macam makanan tradisional Maladewa. Tentunya semua halal, karena hampir seratus persen penduduk disana adalah Muslim. Maka, berkunjung ke negara ini sangat nyaman bagi yang beragama Muslim.


Queen pun memutuskan untuk memesan Bis Keemiyaa yang merupakan makanan khas Maldives yang berbahan dasar daging ikan tuna.


Hidangan ini menyerupai kue yang diisi dengan campuran telur rebus, tuna, kubis, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Sedangkan untuk minuman nya, Queen memilih untuk meminum air putih saja. Karena selama perjalanan ia merasa sangat kurang minum air putih.


Mereka berdua pun menyantap sarapan mereka sambil berbincang. Rahmat adalah guide yang sangat tepat untuk menemani Queen di negara itu. Dia sangat pengalaman walaupun dirinya baru berusia 28 tahun.


Selain berbincang masalah budaya dan apa saja yang menarik di negara itu, Queen juga bertanya tentang pribadi Rahmat. Lelaki itu mengatakan bila dirinya sudah menikah dan memiliki 2 orang putra. Sedangkan istrinya yang bernama Salihara baru berusia 26 tahun.

__ADS_1


Queen cukup takjub mendengar cerita dari Rahmat. Lelaki berkulit eksotis itu terus berbicara betapa lucunya putra-putra nya yang masih berusia balita itu.


Queen pun merasa betapa beruntungnya mereka yang dapat menikah di usia muda. Karena, dimasa tua mereka tidak perlu repot-repot lagi memikirkan bagaimana biaya sekolah anak-anak mereka. Mereka tinggal menikmati hidup bersama pasangan mereka yang setia. Yang sudah menemani mereka dikala susah dan senang.


Sarapan pun selesai, Queen mengeluarkan beberapa Rufiyaa untuk membayar makanan yang telah mereka berdua nikmati. Rufiyaa adalah mata uang negara itu. Selain Rufiyaa, negara itu pun menerima pembayaran dengan mata uang dolar Amerika. Karena hanya dua mata uang itu saja yang berlaku di negara tersebut.


Mereka pun melanjutkan perjalanan ke pasar tradisional dan pusat perbelanjaan tradisional yang menjual berbagai macam pernak pernik yang kerap diburu para wisatawan mancanegara.


Begitulah tugas para guide, selain mereka mencari nafkah dengan mendampingi para turis, mereka juga mengarahkan para turis untuk membeli di pasar tradisional. Untuk mendukung pengrajin dan para pedagang usaha kecil di negaranya. Agar ekonomi tetap terjaga dan seimbang.


Setelah puas berkeliling di Ibukota, mereka kembali ke dermaga untuk mengantar Queen yang akan berangkat ke pulau tujuan nya. Yaitu, dimana Cottage yang sudah Queen booking untuk dirinya yang akan stay selama 1 minggu di negara ini dan setelah itu Queen berencana untuk melanjutkan perjalanan nya ke India.


Setibanya di dermaga, pesawat amfibi yang akan membawa Queen ke Cottage nya sudah terparkir di tepi dermaga. Queen dibantu Rahmat pun memasuki badan pesawat amfibi itu.


Queen pun mengeluarkan beberapa lembar uang Rufiyaa untuk diberikan kepada Rahmat, sesuai dengan perjanjian yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Selain itu, Rahmat juga berjanji akan menemui Queen kembali 1 minggu setelah hari ini. Dimana Queen akan meninggalkan negara ini dan melanjutkan perjalanan nya ke India.


Rahmat melambaikan tangannya dan mengucapkan salam perpisahan. Setelah beberapa orang lain nya memasuki pesawat amfibi itu, pesawat itu pun mulai lepas landas menuju Pulau Vaadhoo yang merupakan sebuah pulau kecil di Maldives dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak sekitar 1000 orang penduduk lokal tinggal di sana.


Queen menjatuhkan pilihannya di Pulau Vaadhoo, karena Pulau tersebut mempunyai satu pesona yang tersendiri yang tidak ada di pulau-pulau lain di Maldives yakni adanya phytoplankton.


Phytoplankton adalah planton yang memancarkan cahaya cukup terang sehingga terlihat seperti sinar bintang yang ada di samudera.

__ADS_1


Queen sudah tidak sabar untuk melihat fenomena itu, walaupun sebenarnya fenomena itu tidak terjadi setiap hari, hanya wisatawan yang datang di waktu-waktu tertentu yang bisa menikmati fenomena indah ini.


"Apa salahnya berharap, mungkin saja keberuntungan itu menjadi milik ku," Gumam Queen seraya tersenyum dan mencoba mengabadikan momen dirinya yang sedang berada di atas laut dengan pesawat amfibi yang sedang ia tumpangi.


__ADS_2