365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
112# 281HMH


__ADS_3

Siang ini, Queen yang baru saja selesai meeting di hotel milik nya, keluar dari ruangan meeting dengan beberapa staf hotel. Queen yang masih sibuk berbincang dengan asisten nya pun berjalan menuju ke ruang kantornya.


Tiba-tiba saja, asisten Queen menghentikan langkahnya dan memanggil Queen dengan setengah berbisik.


"Bu,"


"Ya?" Queen menoleh dan ikut menghentikan langkahnya.


"Ada Bapak Raka," Ucap asisten Queen seraya menunjuk Raka yang sedang duduk di sofa yang terdapat di lobby hotel tersebut.


Queen menatap kearah yang di tunjuk oleh asisten nya dan seketika jantung nya berdegup kencang. Pikiran tentang Raka yang sexy masih tersisa di ingatan Queen, sehingga dirinya merasa gugup saat bertemu pandang dengan Raka yang sedang tersenyum kepada dirinya.


"Ah, ya sudah, kita lanjut besok, saya ada urusan dengan Bapak Raka," Ucap Queen kepada asisten nya.


"Baik Bu, saya tinggal dulu." Asisten Queen pun bergegas menuju ke kantornya.


Queen masih berdiri terpaku menatap Raka yang berjalan mendekati dirinya. Di tangan lelaki itu terdapat sebuah buket bunga mawar yang indah. Entah mengapa, melihat Raka membuat Queen merasa gelisah. Persis seperti adegan di beberapa film, ketika pemeran wanita begitu terpesona saat melihat pemeran pria berjalan mendekati dirinya dengan sebuah buket bunga di tangan nya.


"Hai, ini untuk mu," Ucap Raka sesaat ia menghentikan langkah kaki nya tepat di depan Queen.


Queen tersenyum tipis dan menatap buket bunga yang berada di tangan Raka.


"Ah, terima kasih," Sahut Queen seraya meraih buket bunga tersebut.


"Suka?" Tanya Raka yang terus menatap Queen dengan mata indahnya.


"Su-su-suka," Sahut Queen terbata.


Raka mengerutkan keningnya dan merasa Queen masih saja bersikap aneh kepada dirinya.


"Hmmmm, kita jadi kan menemui Ibuku?"


Queen melirik arlojinya dan tersenyum kepada Raka.


"Ya tentu saja," Sahut Queen.


"Tetapi, tunggu dulu sebentar ya..., aku mau mengambil tas ku dan blazer ku di ruangan ku," Sambung Queen.


"Ok, aku tunggu di sana," Ucap Raka seraya menunjuk sofa yang berada di sudut lobby hotel itu.


Queen hanya mengangguk dan berlalu dari hadapan Raka.


Raka semakin bingung melihat gelagat Queen yang tidak biasa. Ia masih mengira bila Queen bersikap seperti itu karena Lala, maka dirinya terus mengumpat Lala di dalam hatinya.


"Gara-gara perempuan itu, pacar gue jadi begitu," Batin Raka.

__ADS_1


Queen yang baru saja masuk kedalam ruangan nya pun, bersandar di balik pintu ruangan itu. Ia beberapa kali menepuk-nepuk dadanya untuk menormalkan detak jantung nya yang berdetak tak seperti biasanya.


Entah mengapa, perasaan nya begitu bergelora kepada Raka. Padahal, ia bukan tipe orang yang begitu gampang mengagumi hingga berlebihan seperti itu.


"Ya ampun, gue ngebet nikah kali ya... ya Allah..." Gumam nya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Queen melangkah mendekati meja kerjanya dan meraih tas tangan nya. Lalu, ia menyambar blazer berwarna cokelat tua milik nya yang terletak di punggung kursi kerjanya.


"Bismillah, jangan sampai gue berpikir macam-macam dengan Raka," Batin nya sebelum ia beranjak keluar dari ruangan itu.


Dreettt...! Dreeettt..!


Tiba-tiba saja ponsel milik Queen berdering. Gadis itu pun menghentikan langkahnya dan meraih ponselnya dari dalam tas tangan miliknya. Lalu, ia menatap layar ponselnya.


"Tika?" Gumam nya.


Queen pun menerima panggilan dari Tika, dan ia pun kembali duduk di kursi kerjanya.


"Halo Tik.." Sapa Queen.


"Queen...."


"Ya?"


"Queen lu dimana?" Tanya Tika.


"Queen, gue mau minta maaf sama elu nih..."


"Masalah apa?"


"Putra!"


Deggg...!


Queen baru teringat bila ia ingin membahas Putra kepada Tika. Hanya saja, kesibukan nya membuat ia terus melupakan niatnya untuk membahas tentang adik ipar Tika tersebut.


"Ah iya, gue mau membahas si Putra sama elu. Kenapa sih elu kasih alamat gue?" Bahas Queen dengan nada suara yang terdengar kesal kepada Tika.


"Itu dia, gue minta maaf ya. Dia maksa Queen.... Gue harus gimana dong..."


Queen memutar bola matanya ke atas, lalu ia menghela nafas panjang.


"Jadi begini, dia itu bilang sama gue, kalau dia jatuh cinta sama elu pada pandangan pertama. Makanya dia niat untuk ta'aruf sama elu. Yah, walaupun gue tahu kalau dia bukan tipe elu. Hanya saja, gue pikir ya sudahlah ya, namanya jodoh itu kan gak terduga. Mana tahu dia jodoh elu dan elu khilaf sama dia. Kan seru tuh kalau kita memang jadi ipar."


"Iya, tapi setidaknya elu nanya gue dulu dong Tik,"

__ADS_1


"Iya.. maaf ya... habis dia maksa sih. Cuma kasihan dia loh Queen, dia kepikiran elu terus. Yah walaupun gue tahu elu suka sama si Raka. Tapi kan yah begini banget yak nasib si Putra."


"Aduuhhh.. gue tuh sudah ribet sama urusan ini itu, eh itu orang nong saat si Raka ada di rumah gue."


"Wait... Raka sudah main kerumah elu?" Tanya Tika penasaran.


"Eh..." Queen memukul pelan bibir nya yang keceplosan mengatakan bila Raka sudah main kerumahnya.


"Cieeee, sudah jadian ya?"


"Belum kok," Sahut Queen berbohong.


"Alah Queen, elu itu hanya membawa teman lelaki yang lu suka doang kerumah elu. Gak usah lu bohong sama gue. Jadian dimana lu? Maldives? India?" Tanya Tika dengan nada suara yang terdengar sedang menggoda Queen.


"Apaan sih, ah.. sudah ya, gue ada janji nih sama orang,"


"Sama si Raka?" Tanya Tika lagi.


"Bukan! Sama emak nya!" Sahut Queen.


"Hahahaha... udah jadian kan lu.. selamat ya..." Ucap Tika yang terdengar begitu bahagia mendengar Queen yang akan bertemu dengan Ibunya Raka.


"Thanks Tik," Sahut Queen malu-malu.


"Oh iya, undangan si Athar sudah gue terima. Kita ngobrol-ngobrol nanti ya di nikahan nya Athar. Sekarang gue lagi sibuk sama agenda akhir bulan di kantor gue."


"Okay.." Sahut Queen.


"Bye..."


"Bye..."


Queen tersenyum saat mengakhiri panggilan telepon tersebut. Lalu, ia kembali menaruh ponselnya kedalam tas tangan miliknya dan melangkah keluar dari kantor.


Ia berjalan mendekati Raka yang duduk di sofa lobby hotel itu dan menatap lelaki yang telah menyita pikiran nya setiap saat.


"Sudah?" Ucap Raka seraya beranjak dari duduknya.


Queen tersenyum dan mengangguk dengan perlahan.


"Ok, siap bertemu dengan Ibu?" Tanya Raka sambil meraih tangan Queen dan menggandeng tangan kekasihnya itu.


"Ya," Sahut Queen.


"Ok, ayo kita berangkat," Ucap Raka dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


Jantung Queen kembali berdegup kencang. Hingga ia merasa nafasnya mulai sesak, hanya karena Raka tersenyum kepada dirinya.


"Ya ampun! Lama-lama aku bisa jantungan kalau begini terus!" Batin Queen.


__ADS_2