365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
69# 316HMH (Permohonan yang dikabulkan)


__ADS_3

Queen yang sedang di kantornya termenung saat menerima pesan dari Raka. Ia mencoba mengabaikan nya tanpa membacanya terlebih dahulu. Queen menaruh ponselnya di atas meja kerjanya dan kembali fokus dengan laptopnya.


Satu menit kemudian, Queen mulai gelisah. Entah mengapa, ia merasa penasaran dengan pesan-pesan raka yang selama beberapa hari ini tidak ia baca.


Akhirnya Queen memutuskan untuk membuka dan membaca pesan dari Raka.


Queen, aku mohon maaf atas kelakuan Ibuku. Queen aku mohon keluarlah, aku ingin berbicara.


Bunyi pesan dari Raka beberapa hari yang lalu. Saat nyonya Amara datang ke hotel milik Queen.


Queen, aku tidur di rumah sakit ya. Kalau ada apa-apa, kamu telepon aku ya. Atau kamu berubah pikiran dan menerima tawaran ku untuk membicarakan masalah kita.


Bunyi pesan dari Raka saat Raka menginap dirumah sakit, untuk menemani Jonathan.


Queen, apa kabar? Sudah sarapan? Aku mencintai kamu. Jaga kesehatan ya...


Bunyi pesan dari Raka saat lelaki itu baru saja bangun tidur dan mengirim pesan itu saat ia beranjak ke kamar mandi.


Queen, aku akan menerima hasil test kecocokan pendonor. Doakan cocok dengan Jonathan ya. Oh iya, kamu jangan lupa kalau aku sayang sama kamu.


Bunyi pesan dari Raka, saat lelaki itu hendak menuju ke ruangan dokter.


Queen, kabar buruk. Hasil nya tidak cocok. Walaupun keluarga kandung, bisa saja tidak cocok. Aku sedih sekali. Aku takut kehilangan Jonathan.


Terlihat pesan putus asa dari Raka. Queen mengerutkan keningnya dan terlihat khawatir dengan Jonathan dan Raka.


Queen menghela nafas panjang. Memang, untuk mendapatkan pendonor sumsum tulang belakang tidak segampang pendonor darah. Semua harus serba hati-hati dan benar-benar cocok. Karena menyangkut kesehatan dan nyawa seseorang.


Queen aku butuh kamu... Kondisi Jonathan benar-benar buruk. Aku sangat sedih dan putus asa melihat keadaan nya. Queen aku butuh kamu. Aku butuh pelukan mu.


Raut wajah Queen terlihat semakin khawatir. Bagaimana pun, ia juga turut prihatin dengan keadaan Jonathan. Bukan karena Jonathan adalah anak dari Raka, lelaki yang sedang dekat dengan dirinya. Melainkan sisi kemanusiaan nya lah yang berbicara. Bagaimana pun, pasti akan sangat berat bagi seorang bocah yang sedang memikul penyakit yang tidak biasa dan tinggi resiko kematian nya.

__ADS_1


Queen memijat pelipisnya, sisi wanita nya yang gampang iba pun, memerintahkan dirinya untuk segera menyusul ke rumah sakit.


...


Raka terduduk di atas lantai sambil meremas rambutnya yang terlihat berantakan. Dia benar-benar merasa bingung dengan keadaan dan juga merasa sedih memikirkan nasib Jonathan.


Raka tidak mempedulikan lagi tatapan setiap orang yang lewat didepan nya. Tatapan aneh, selalu singgah kepada-nya yang saat ini merasa benar-benar hancur. Raka merasa takut, bila dalam waktu dekat ini, ia akan kehilangan darah daging nya, Jonathan.


Sedangkan ia baru saja merasakan menjadi seorang Ayah dalam beberapa hari ini dan kini, harapan hidup buah hatinya itu di prediksi oleh dokter hanya tinggal beberapa hari lagi.


Raka mengusap air matanya dan menenggelamkan kepalanya di antara dua lututnya. Pikiran nya semakin kacau karena Queen menjauhi nya. Sejak Ibunya meminta Queen menjauhi dirinya, Queen selalu mengabaikan pesan dan panggilan darinya. Dunia Raka benar-benar merasa hancur berkeping-keping.


Raka beranjak dari duduknya. Lalu, ia berjalan menuju Musholla yang berada di rumah sakit itu. Raka berniat, ia ingin mengenal Tuhan lagi. Setelah sekian lama ia kehilangan arah dan hidup sesuka hatinya.


Raka menyingsingkan lengan kemejanya dan mulai menyalakan keran air. Gemericik air dari keran terdengar menenangkan di telinga Raka. Lalu, ia mulai berniat untuk berwudhu dan membilas kedua telapak tangan nya.


Raka tidak dapat menahan tangisnya saat berwudhu. Ia merasa malu dan nista saat itu. Setelah berwudhu, Raka beranjak masuk kedalam Musholla dan mulai berniat untuk melakukan Sholat Dzuhur. Lalu, Raka mengangkat kedua tangan nya dan mengucapkan takbir pada rakaat pertamanya.


Raka bersujud dengan khusyuk. Ia menangis dalam sujud nya. Ia merasa sangat kecil di kaki tuhan. Raka terus menangis sepanjang 4 rakaat yang sedang ia kerjakan dengan penuh keyakinan.


Dua salam telah terucap dari bibir tipis Raka. Ia mengangkat kedua tangan nya, dan memohon segala ampunan. Ia benar-benar memohon ampun dengan segala yang ia perbuat selama ini. Sampai ia kehilangan arah dan memiliki anak diluar nikah. Juga masalah dirinya yang menjadi anak pembangkang, hingga berbicara kasar kepada orang tuanya.


Saking merasa berdosa nya, Raka menangis tersedu-sedu hingga suara tangisannya terdengar menggema di ruang Mushola yang besarnya hanya 6 x 15 meter itu.


Setelah puas ia memohon ampun dan memohon keikhlasan dan ketegaran hati, Raka pun beranjak dari tempat ia bersimpuh. Raka mengusap air matanya dan merapikan rambutnya yang menutupi dahinya.


Matanya sembab dan wajahnya terlihat sedikit tenang. Ya... tenang, ketenangan hati hanya bisa didapatkan saat mengadu kepada Tuhan. Itulah yang Raka rasakan saat ini.


Langkah Raka terhenti, saat melihat seorang wanita yang berdiri di ambang pintu Musholla. Wanita itu tersenyum kepada dirinya. Ya, wanita itu adalah Queen. Yang sedari tadi mendengarkan doa-doa Raka. Mendengarkan isak tangis Raka yang menggema. Mendengarkan permohonan ampun serta keikhlasan hati kepada Yang Maha Esa.


"Queen!" Raka terlihat kembali bersemangat. Ia berlari menghampiri Queen dan memeluk tubuh Queen dengan erat.

__ADS_1


"Alhamdulillah... Alhamdulillah.. Terima kasih kamu mau datang dan tersenyum kepadaku." Ucap Raka, seakan Queen adalah seorang bidadari penglipur lara.


..


Queen yang baru saja keluar dari lift, melihat Raka yang berjalan dengan gontai ke ujung lorong. Queen mengerutkan keningnya dan mengikuti Raka dari belakang. Awalnya, Queen menyangka Raka akan kembali ke ruangan Jonathan, ternyata tidak. Lelaki itu terus berjalan menuju ke sudut lantai itu.


Dengan perlahan, Queen terus mengikuti Raka. Langkah kaki Queen terhenti, ia terperangah saat melihat Raka memasuki Musholla yang ada di lantai tersebut.


"Raka ke Musholla?" Gumam Queen.


Selama ini, Queen tidak pernah melihat Raka ke Musholla atau mampir ke rumah ibadah manapun. Queen sempat ingin bertanya apa Agama Raka. Tetapi, di suatu kesempatan, lelaki itu pernah menyebutkan pujian umat Islam untuk Tuhan nya. Queen pun merasa lega karena ternyata mereka satu keyakinan. Hanya saja, Queen tidak melihat Raka sebagai muslim yang taat.


Tetapi, kali ini ia merasa tersentuh. Saat melihat lelaki itu melaksanakan ibadah dan berdoa dengan khusyuk. Queen lebih merasa tersentuh lagi, saat mendengar namanya di sebut dalam doa lelaki itu.


"Ya Allah, bila memang Queen jodohku. Lembutkan lah hati Ibu ku. Buka lah hati Queen untuk ku. Hanya engkau yang mampu melakukan nya Ya.. Allah.." Begitulah doa yang dipanjatkan Raka, yang membuat Queen memberikan lelaki itu senyuman manis nya saat ini.


"Raka, aku tidak bisa bernafas," Ucap Queen.


Raka tersadar bila dirinya memeluk Queen dengan sangat erat. Karena rasa bahagia yang tak terkira, yang sedang ia rasakan saat ini.


"Ah, maaf," Ucap Raka seraya melepaskan pelukannya.


Raka menatap wajah Queen dengan mata yang sendu. Lalu, ia meraih kedua tangan Queen dengan lembut.


"Apa yang membuat mu sudi mendatangi aku?"


"Karena Allah menuntun ku," Jawab Queen sambil tersenyum manis.


Raka hampir saja menangis, ia merasa Tuhan begitu Maha mendengar. Baru saja ia berdoa dan Tuhan langsung mengabulkan doa nya. Queen tidak lagi marah, tidak lagi meminta Raka untuk menjauhi dirinya. Justru Queen datang dengan senyuman bak bidadari yang turun dari surga. Senyuman itu membuat Raka merasa semakin tenang dan bersemangat menjalani harinya yang terasa begitu membuat dirinya tertekan.


"Alhamdulillah Ya Allah. Kuasa mu tidak terkira.." Batin Raka. Ia menggandeng tangan Queen dan mengajak nya untuk menemui Jonathan di ruangan bocah itu.

__ADS_1


__ADS_2