365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
72# 309HMH (Pemakaman)


__ADS_3

Langit terlihat menghitam pada pagi ini. Gerimis kecil membasahi bumi pada pukul 9 pagi ini. Terlihat kerumunan orang berpakaian serba hitam di sebuah komplek pemakaman, mengelilingi sebuah liang yang memiliki kedalaman hampir 2 meter itu. Seorang yang membantu dalam pemakaman Jonathan turun ke liang tersebut, disusul oleh Raka yang tampak pilu. Raka ikut mengantarkan Jonathan hingga ke peristirahatan terakhirnya.


Raka menyambut jasad Jonathan yang baru saja di keluarkan dari dalam keranda dan di letakkan menghadap kiblat di atas tanah yang basah dalam liang tersebut. Air mata terus meleleh di pipi Raka. Terutama saat ia meletakkan jasad kaku putranya itu di atas tanah.


Setelah melakukan beberapa prosesi tata cara memakamkan jenazah, Raka pun beranjak keluar dari liang tersebut dan menatap jenazah Jonathan yang tergeletak miring di bawah sana. Tanah pun mulai menimbun jenazah putranya di iringi isak tangis para sanak dan keluarga yang menghadiri pemakaman tersebut.


Max yang diam-diam ikut hadir dalam pemakaman itu hanya bisa berdiri di bawah pohon rindang dan menyaksikan nya dari kejauhan. Max menatap Lala yang menangis saat jenazah Jonathan mulai dikubur. Max mengusap air matanya. Bagaimana pun, ia sangat mencintai Jonathan. Kekecewaan nya lah yang membuat lelaki itu pergi meninggalkan Lala dan Jonathan. Kini, hanya ada penyesalan yang mendalam dihatinya. Ia meninggalkan Jonathan saat bocah itu dan Lala, benar-benar sangat membutuhkan dirinya. Tetapi, penyesalan tinggal lah penyesalan. Rasa cinta yang begitu besar terhadap Jonathan membuat dirinya tidak menerima bila bocah itu bukanlah darah dagingnya.


Max sudah merasa curiga saat ia melihat Jonathan tumbuh dengan mata yang sedikit terlihat oriental. Tetapi, ia berusaha menepis itu semua. Ia sangat menyayangi Jonathan, hingga Jonathan di vonis menderita kangker darah, atau disebut juga leukemia.


Max mengajukan dirinya untuk berkorban demi keselamatan bocah yang ia anggap putra tunggalnya itu. Setelah melakukan serangkaian test, ia baru menyadari bila golongan darah nya berbeda dengan Jonathan. Beruntung, kecurigaan nya itu tidak beralasan, karena golongan darah Jonathan sama dengan golongan darah Lala.


Saat dokter mengatakan sumsum tulang belakangnya tidak cocok, Max juga masih mengerti. Karena tidak semua sumsum tulang belakang bisa cocok, walaupun itu darah daging sendiri.


Suatu malam, Max mengingat kembali seorang lelaki yang memergoki dirinya dan Lala yang sedang makan malam di sebuah restoran beberapa tahun yang lalu. Ia merasa wajah lelaki itu sangat mirip dengan Jonathan. Rasa penasaran itulah yang mendorong dirinya untuk diam-diam melakukan test DNA terhadap Jonathan.


Benar saja, hasil dari test tersebut tidak cocok. Artinya, dirinya bukanlah Ayah kandung dari Jonathan. Pilu membiru, bisa dibilang seperti itu. Max dengan marahnya pulang dan menemui Lala. Saat itu Jonathan masih dirawat dirumah saja dan rutin mengkonsumsi obat-obatan yang diresepkan oleh dokter yang menangani penyakitnya.


Dengan emosi yang tak terkendali, Max membuka tabir itu di depan Jonathan. Jonathan yang sudah di usia 6 tahun sudah cukup mengerti dengan bahasa-bahasa yang di ucapkan oleh Max yang memarahi Lala didepannya. Saat itu juga kondisi Jonathan memburuk. Sejak saat itu juga lah, Jonathan mulai menerima perawatan intensif di rumah sakit.


Diam-diam, Max melayangkan gugatan cerai dan mereka resmi bercerai satu bulan setelah tabir itu terkuak. Jonathan yang sangat dekat dengan Max merasa terguncang. Dimalam Max memarahi Lala, hingga ia terbaring berbulan-bulan dirumah sakit, tidak sekali pun Max datang menjenguk dirinya. Oleh karena itu, kehadiran Raka menjadi obat pelipur lara bagi Jonathan yang kehilangan sosok seorang Ayah.


Sayangnya Jonathan harus kembali ke pelukan sang pencipta. Tanpa bisa di cegah oleh manusia manapun. Kepergian bocah laki-laki itu menyisakan penyesalan yang mendalam dari banyak hati. Terutama nyonya Amara yang sempat melarang Lala untuk berhubungan dengan Raka. Bila saja saat itu ia tidak melarangnya, mungkin ia sempat menghabiskan 6 tahun kebersamaan dirinya dengan Jonathan.


Begitupun dengan Raka yang tidak mengikuti kata hatinya saat mencurigai Jonathan adalah anak kandungnya. Ia menyesal karena tidak segera mengambil tindakan atas rasa penasaran nya itu.


Dan Lala, ia merasa menyesal karena baru mengatakan kebenaran itu kepada Raka di detik-detik terakhir hidup Jonathan. Selama beberapa bulan, ia ragu untuk mengatakan nya kepada Raka. Karena ia takut, Raka akan menyangkalnya. Ternyata tidak, Raka langsung mengakuinya dan meyakini bila Jonathan adalah anak kandungnya.


Jonatan memang darah daging Lala dan Raka. Bagaimana pun, Lala hanya memiliki satu pasangan sebelum bersama dengan Max. Saat ia mendapatkan dirinya mengandung, Lala sempat ragu, bila Max adalah Ayah dari anak yang ia kandung. Pasalnya dirinya adalah seorang wanita yang mengerti kapan terakhir kali ia haid dan kapan masa suburnya. Ia juga merasa hanya dengan Raka lah, ia menghabiskan malam saat masa suburnya.

__ADS_1


Karena mulut tajam nyonya Amara yang begitu menyakitkan, maka Lala tega mengkhianati Raka pada malam terkutuk itu. Ia yang sedang frustasi, memilih menghabiskan malam dengan Max.


Seperti terjerat dengan Max yang juga menginginkan tahta di perusahaan Papinya Lala, Max pun mengakui bila dirinya sudah menghabiskan malam dengan Lala pada malam itu kepada Papinya Lala.


Mau tidak mau, Max diminta untuk bertanggung jawab dengan Lala. Walaupun saat itu Lala belum mengandung. Rencana pernikahan pun sudah dibahas dan mau tidak mau, hati yang sedang frustasi dan patah hati karena hinaan dari nyonya Amara itu menerima lamaran Max.


Pernikahan pun terjadi begitu singkat. Hanya dua bulan pasca terjadinya cinta satu malam nya dengan max. Hanya satu minggu setelah pernikahan di gelar, Lala menyadari dirinya tidak kunjung haid. Ia curiga bila dirinya sedang mengandung, rasa curiga itu pun di dukung dengan perubahan fisik dan kesehatan yang dialaminya.


Lala pun memutuskan untuk membeli alat untuk menguji kehamilan dan mencari tahunya sendiri. Benar saja, Lala mendapati dirinya sedang mengandung. Tetapi, siapa ayah dari bayi yang sedang ia kandung? Raka? Max?


Karena ia sudah menikah dengan Max, maka Lala memutuskan tidak mengambil pusing prihal siapa Ayah kandung dari janin tersebut.


9 bulan telah berlalu, Lala pun melahirkan seorang bayi lelaki yang sehat dengan berat 4 kilo gram dan panjang 50 sentimeter. Wajah bahagia Max membuat Lala merasa bahagia. Walaupun wajah bayi tersebut tidak mirip dengan max yang berdarah Manado.


Seiring berjalannya waktu, Lala pun semakin curiga dan yakin bila Jonathan adalah darah dagingnya dengan Raka. Bagaimana tidak, wajah Raka terlihat jelas di wajah Jonathan. Tetapi, demi keutuhan rumah tangga, Lala terus mengenyampingkan perasaan itu. Namun setelah semua itu terbukti, Lala pun mengungkapkan kejujuran nya kepada Max bila ia sudah tahu, kalau Jonathan adalah anak dari Raka.


Itulah yang membuat Max merasa tertipu dan tega meninggalkan Lala dan Jonathan begitu saja. Kini, penyesalan itu ikut terkubur dengan jenazah bocah yang begitu menyenangkan itu.


Satu persatu orang yang mengantarkan Jonathan ke peristirahatan terakhirnya pun, membubarkan diri. Hanya tinggal Raka, Lala dan keluarga inti saja yang masih berada di depan gundukan tanah basah itu.


Raka mengusap nisan Jonathan dengan rasa sedih yang tak terkira. Dalam hatinya terus berdoa untuk Jonathan, darah dagingnya.


Lala melirik ke arah dimana Max sedang berdiri dibawah pohon rindang. Menyadari ada Max disana, Lala pun menghampiri lelaki itu. Max sempat ingin pergi dan tidak mau bertemu dengan Lala. Tetapi, ia sudah terlanjur ketahuan oleh Lala yang memanggil namanya.


"Max!"


Langkah kaki Max terhenti, ia menoleh dan menatap Lala dari balik kaca mata hitamnya yang basah karena rintik hujan.


Lala menghentikan langkahnya 5 meter dari dimana Max sedang berdiri mematung.

__ADS_1


"Ada pesan terakhir dari Jonathan untuk mu," Ucap Lala.


Max membuka kaca mata hitamnya dan menatap Lala dengan seksama.


"Jonathan bilang, dia sangat mencintai kamu,"


Air mata tumpah di pipi Max tanpa bisa ia tahan lagi. Lelaki itu hanya memalingkan wajahnya dan bergegas pergi dari komplek pemakaman itu.


Hancur, itulah yang dirasakan Max. Lelaki yang tulus mencintai buah hati yang ternyata bukanlah darah dagingnya.


Max mempercepat langkahnya dan memasuki mobil milik nya yang terparkir di luar komplek pemakaman itu. Ia menangis sejadi-jadinya. Menyesali, mengapa ia begitu bodoh mengemukakan egonya dari pada menghabiskan saat-saat terakhir bersama Jonathan.


Bukankah itu juga anaknya? Dalam hukum negara Jonathan adalah anak kandungnya, karena Jonathan hadir saat dirinya berstatus suami dari Lala. Mengapa ia meninggalkan bocah itu, padahal ia tahu, leukimia sangat sulit untuk sembuh. Max benar-benar merasa bodoh dan menyesali semua yang telah terjadi.


Raka beranjak dari peristirahatan terakhir Jonathan. Ia di gandeng oleh nyonya Amara yang merasa berdosa dengan apa yang terjadi oleh Raka dan juga Jonathan. Nyonya Amara mulai merasa ada yang salah dengan dirinya. Bila ia sangat menyayangi Raka, tidak seharusnya ia membuat anak nya menjadi seperti boneka, atau seperti apa maunya. Raka sudah dewasa, harusnya orang tua mendukung setiap hal yang positif atau apa yang menjadi pilihan anak nya.


Mencintai jangan membuat diri kita lantas egois. Mencintai yang sesungguhnya adalah memahami, menerima perbedaan pendapat dan masalah selera. Serta mendukung apa yang terbaik untuk masing-masing individu.


Nyonya Amara menatap wajahnya lesu Raka dengan seksama saat mereka sudah berada di dalam mobil. Lalu, ia meraih tangan Raka dan menggenggam nya dengan erat.


"Maafkan Ibu.."


Untuk pertama kalinya, nyonya Amara yang egois, meminta maaf dengan Raka. Saking terkejutnya, Raka membalas tatapan nyonya Amara dengan tak percaya.


"Ibu egois, Ibu sudah cukup belajar dari pengalaman ini. Sudah saat nya Ibu berubah. Kamu benar, kamu bukan boneka. Maafkan Ibu yang sangat keterlaluan mencintai kamu, hingga Ibu ingin segala yang terbaik untuk mu. Nyatanya, Ibu salah. Hanya kamu yang tahu yang mana yang terbaik untukmu," Ucap nyonya Amara dengan hati yang tulus serta air mata penyesalan yang berderai di pipinya.


"Maafkan Raka juga Bu..." Ucap Raka seraya memeluk nyonya Amara dengan erat.


Hari ini, semua hati dilembutkan, semua hati mulai menyadari kesalahan nya masing-masing. Semua hati dibukakan oleh yang maha kuasa, untuk kembali ke jalan nya. Bukankah manusia itu harus ada contoh, agar bisa mengambil hikmah dari setiap apa yang terjadi?

__ADS_1


...


Tidak semua yang buruk akan berakhir buruk, bila Anda mau menyadari ada kasih sayang Tuhan di balik apa yang terjadi. -De'rini-


__ADS_2