365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
105# Restu


__ADS_3

Queen terlihat terus mengeluh dari balik kemudinya. Ia masih berputar dengan mobil yang ia kendarai, untuk mencari apotek.


"Dimana sih ya apotek?" Gumam Queen sambil menoleh ke kanan dan ke kiri jalan yang ia lalui.


"Lagian Ayah Andra ngapain sih ngundang Ayah Gunawan. Pakai acara menyuruh ku untuk membeli rokok dan madu, apa hubungan nya rokok dan madu coba? Malah harus nyari di dua tempat pula. Masa Ayah Gunawan tidak bisa menyuruh ajudan nya saja, ini malah menyuruhku." Keluh nya lagi.


Tiba-tiba saja, mata Queen tertuju ke pada plang yang terpampang 500 meter dari dirinya.


"Ah, itu apotek!" Gumam nya seraya tersenyum semringah.


Queen pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk mencapai apotek tersebut.


...


Suasana sudah mulai mencair karena hadirnya Bunda Farah. Raka sudah terlihat bisa tertawa meskipun belum begitu lepas. Ia masih menjaga sikap dan terus berhati-hati dengan jawaban-jawaban yang dilontarkan oleh orangtua kekasihnya itu.


"Oh iya, saya turut belasungkawa atas meninggalnya anak mu," Ucap Ayah Andra di sela obrolan mereka.


Raka terpaku sejenak, ia tidak menyangka bila Queen telah menceritakan kepada orangtuanya bila dirinya sudah memiliki seorang anak sebelumnya dengan orang lain.


"Terima kasih Om," Sahut Raka dengan wajah yang canggung.


"Jadi kamu sudah menikah sebelumnya?" Tanya Ayah Gunawan yang belum tahu tentang dari Raka.


"Hmmmm, maaf Om, sepertinya saya harus jujur. Saya memiliki anak dari mantan kekasih saya dulu. Tetapi, saya tidak tahu dia mengandung anak kandung saya. Namun, dia menikah dengan orang lain dan meninggalkan saya. Itu sudah enam tahun yang lalu." Terang Raka.


"Memiliki anak dari kekasih?" Tanya Ayah Gunawan.


Bunda Farah terlihat canggung, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Dipungkiri atau tidak, Queen pun anak dari kesalahan Bunda Farah dan Ayah Gunawan dimasa lalu mereka.


"Iya Om, saya minta maaf. Mungkin masa lalu saya begitu kelam. Sekarang, saya sudah bertaubat untuk segala yang terjadi, dan saya tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan mantan kekasih saya, meskipun dia sudah bercerai dengan suaminya. Saya benar-benar ingin memulai lembaran baru dalam hidup saya. Saya bertekad untuk tidak mengulangi semua kesalahan yang telah berlalu. Maka dari itu, saya ingin memuai hidup sebaik-baiknya dengan Queen," Terang Raka.


Ayah Gunawan menatap Ayah Andra dan Bunda Farah. Semua terdiam, hanya mampu saling bertatapan.


"Saya tahu, tidak mudah menerima orang dengan masa lalu yang kelam. Tetapi, saya mohon kepada Bunda dan Om semua, izinkan saya mendekati Queen, saya berjanji tidak akan melakukan hal yang sama terhadap Queen. Saya tidak akan menyentuhnya kecuali saya menghalalkan nya."


Orangtua Queen terdiam, mereka terus menatap Raka yang terlihat sangat bersungguh-sungguh.


"Bila tidak ada restu saat ini, dengan kerendahan hati dan atas nama cinta saya dengan Queen, saya mohon, berikan saya kesempatan untuk membuktikan bila saya telah berubah. Saya sedang mendekatkan diri dengan Tuhan. Saya tahu, kesalahan saya ini tidak termaafkan. Tetapi, saya memang sungguh-sungguh untuk menjadi orang yang jauh lebih baik lagi. Termasuk Queen juga orang yang telah menuntun saya kearah yang lebih baik."


"Raka, tidak ada manusia yang tidak pernah salah. Yang terpenting, dirinya mau berubah dan menyadari bila kesalahan sangat mahal harga untuk di tebus. Kalau kamu mau menjadi manusia yang lebih baik lagi, Bunda dukung. Harusnya seperti itu," Ucap Bunda.


Ayah Andra dan Ayah Gunawan masih terdiam. Terutama Ayah Gunawan, ia menyadari cerita dari Raka sama persis dengan dirinya. Bedanya, anak Raka telah berpulang, sedangkan dia masih beruntung dengan memiliki Queen hingga detik ini, tanpa di larang sedikitpun oleh Bunda Farah untuk bertemu dengan buah hatinya tersebut.


Ayah Gunawan menghela nafas panjang dan kembali menepuk pundak Raka. Kali ini ia menepuk pundak pemuda itu dengan lembut.

__ADS_1


"Nak, seberapa besar cintamu dengan anak ku?" Tanya Ayah Gunawan.


Raka menoleh ke sampingnya, dimana Ayah Gunawan duduk tepat di sisinya.


"Saya mencintai Queen, setelah saya mencintai Tuhan dan Ibu saya." Tegas Raka.


Ayah Gunawan terdiam mendengar jawaban dari Raka.


"Dengan saya mencintai Tuhan terlebih dahulu, maka saya tidak akan berbuat yang tidak pantas terhadap Queen. Dengan saya mencintai Ibu saya sebelum Queen, maka saya akan menghormati Queen sebagai seorang wanita." Tegas Raka.


Ayah Gunawan dan Ayah Andra pun mengangguk paham. Lalu, mereka berdua tersenyum semringah.


"Kamu laki-laki yang sesungguhnya." Ucap Ayah Gunawan.


Bunda Farah menatap Ayah Gunawan, lalu ia kembali menundukkan pandangan nya. Bagaimana pun, ia pernah merasakan menjadi wanita yang tercampak kan, mengemis untuk meminta kepastian dan hilang harga diri dengan sikap Ayah Gunawan dulu, saat ia mengandung Queen, hasil buah cinta dari mereka berdua. Tetapi, itu semua tidak perlu ia disesali, hanya saja ingatan itu kembali terputar di ingatan nya.


"Kamu boleh mendekati anak saya. Tetapi ingat, jangan berlama-lama. Kalau bisa, kalian segera memikirkan pernikahan dan masa depan. Ingat, anak ku usianya sudah usia yang sangat pantas untuk menikah." Tegas Ayah Gunawan.


Raka menatap Ayah Gunawan dengan tak percaya, awalnya, ia mengira bila kejujuran nya akan mempersulit dirinya untuk mendekati Queen. Ternyata, buah dari kejujuran itulah yang justru melunakkan hati orangtua Queen.


"Beneran Om? Bunda? Om?" Tanya Raka seraya menatap satu persatu orangtua Queen tersebut.


Bunda, Ayah Gunawan dan Ayah Andra tersenyum dan mengangguk secara serentak.


"Alhamdulillah... Alhamdulillah, terima kasih ya Allah... terima kasih Om dan Bunda.." Ucap Raka seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Siap Om!" Tegas Raka seraya memberikan hormat ala militer kepada Ayah Gunawan dan Ayah Andra.


Mereka semua tersenyum dengan tulus, akhirnya restu itu didapatkan oleh orangtua Queen. Ternyata kenyataan tidak sesulit bayangan Raka, semua dipermudah oleh Allah. Walaupun sempat ia merasa ingin buang air di celana karena telah di todong senjata api tepat di depan wajah nya. Tetapi, itu semua berbuah manis, karena malam sebelum hari ini, Raka shalat di seperti malam, lalu sebelum ia berangkat kerumah Queen ia kembali shalat dan berdoa kepada Allah, agar dilembutkan dan dibukakan hati orangtua Queen untuk dirinya, dan dipermudah segala urusannya pada hari ini. Tentu itu semua tidaklah sia-sia, Allah selalu mengabulkan segala permintaan hambanya, tentu saja permintaan yang memang berasal dari hati yang tulus.


"Assalamualaikum," Queen melangkah masuk ruang tamu dengan wajah yang khawatir.


"Waalaikumsalam," Sahut semua orang yang berada di dalam ruangan itu.


Queen menatap senjata api yang ada di atas meja, lalu ia menatap wajah Raka yang terlihat semringah.


"Raka, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Queen seraya meletakkan belanjaan nya di atas meja.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir," Sahut Raka seraya tersenyum manis kepada Queen.


Queen menghela nafas panjang dan menatap kedua Ayah nya dengan tatapan yang terlihat kesal.


"Apa lagi ini, kok ada senjata?" Tanya Queen seraya beranjak duduk disamping Bunda.


"Tidak ada apa-apa sayang," Sahut Bunda.

__ADS_1


"Bohong ah.." Queen menatap Ayah Andra dan Ayah Gunawan.


"Ayah pulang dulu ya, terima kasih loh Queen, sudah membelikan Ayah rokok dan madu," Ucap Ayah Gunawan.


Queen menatap Ayah Gunawan dengan tatapan tak percaya.


"Lah, kalau Ayah mau pulang cepat, kenapa tadi nyuruh Queen sih?" Keluh Queen.


Ayah Gunawan hanya tertawa geli melihat putrinya yang terlihat kesal kepadanya.


"Sini, antar Ayah kedepan. Oh iya, Farah, Andra, saya pamit dulu," Ucap Ayah Gunawan seraya menyalami Bunda Farah dan Ayah Andra.


"Baik Pak," Sahut Ayah Andra.


"Raka, ingat apa yang saya katakan kepadamu," Ucap Ayah Gunawan seraya tersenyum kepada Raka.


"Baik Om, hati-hati Om," Sahut Raka seraya menyalami Ayah Gunawan.


Ayah Gunawan hanya tersenyum dan menyambut tangan Raka.


"Assalamualaikum," Ucap nya sebelum melangkah keluar dari rumah itu.


"Waalaikumsalam," Sahut Bunda, Ayah Andra dan Raka.


Queen mengantar Ayah Gunawan seraya menggandeng lengan Ayah kandungnya itu.


"Ayah ngomong apa sih sama Raka?" Tanya Queen penasaran, saat Ayah Gunawan akan masuk kedalam mobilnya.


Ayah Gunawan tersenyum dan mengecup kening Queen dengan lembut.


"Ayah hanya mengatakan kepadanya, tolong jaga anak Ayah. Itu saja," Ucap Ayah Gunawan.


"Bohongggg..." Ucap Queen dengan nada suara yang terdengar manja.


"Enggak, Ayah tidak bohong. Ingat Queen, Ayah sangat menyayangi kamu, walaupun kamu tidak satu rumah dengan Ayah. Bagaimana pun, Ayah adalah Ayah kandungmu yang pasti khawatir bila ada lelaki asing mendekati kamu. Tetapi, Raka adalah lelaki yang baik. Sekarang, Ayah tidak ragu, bila kamu jalan dengan nya. Tetapi ingat, tetap pada hukum agama, jangan pernah melakukan hal yang tidak baik dengan Raka, sebelum dia menikah dengan kamu,"


Queen terpana dan menatap Ayah Gunawan dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak menyangka, bila Ayah Gunawan akan memberikan restu kepada Raka untuk mendekati dirinya.


"Iya Ayah," Sahut Queen.


"Ayah pulang dulu, kalau bisa, kamu mulai memikirkan pernikahan dan masa depan. Dia lelaki yang tepat untuk mu," Ucap Ayah Gunawan sebelum ia masuk dan menutup pintu mobilnya.


Queen hanya tersenyum, dan melambaikan tangannya seiring mobil milik Ayah Gunawan beranjak meninggalkan halaman rumah nya.


...

__ADS_1


"Hanya orang yang merasa pernah berdosa, yang mampu memaklumi kesalahan orang lain, tanpa menghakimi kesalahan orang tersebut." -De'rini-


__ADS_2