365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
22# Berkenalan dengan Tasya


__ADS_3

Dretttt...! Dreettt..!


Ponsel Queen terus berdering, saat ia menyetir mobilnya menuju boutique miliknya.


Queen melirik ponsel nya setiap ponsel itu baru saja berdering. Ricky selalu memanggil dirinya. Queen tahu, bila saat ini Ricky pasti sedang berada dirumahnya. Queen benar-benar hilang feeling dengan Ricky. Hingga ia tidak mau ada urusan atau apa pun lagi dengan Ricky.


Drettt..! Dreeett...!


Ponsel milik Queen kembali berdering. Ia melihat nama Tika saat ia melirik layar ponselnya. Queen pun menepikan mobilnya di sisi kiri jalan. Lalu, ia menerima panggilan dari sahabatnya itu.


"Ya Tik," Sapa Queen.


"Queen lu dimana? Gue mau main ke boutique elu nih. Barangkali ada baju yang bisa gue pakai saat di Korea," Ucap Tika dari ujung sana.


"Sebentar lagi gue sampai di boutique. Lu datang aja. Gue kasih alamatnya ya," Ucap Queen.


"Ok, see you,"


"Yaaaa..." Queen mengakhiri pembicaraan nya dengan Tika. Lalu, ia mengetik alamat boutique miliknya dan mengirimkan nya kepada Tika.


Queen pun kembali melajukan mobilnya ke arah boutique milik nya.


Beberapa menit kemudian, Queen tiba di boutique. Ia memarkirkan mobilnya di depan boutique miliknya dan beranjak turun. Queen melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam, yang juga terparkir di halaman boutique nya. Queen tersenyum puas, karena sepagi itu, boutique miliknya sudah ada pelanggan yang singgah.


Queen mendorong pintu kaca boutique nya dan melangkah masuk kedalam boutique itu.


Lantunan melodi Forever in love dari sexofon yang dimainkan oleh Kenny G, terdengar lembut dari speeker ruang boutique itu. Queen tersenyum kepada karyawan nya yang menyapa dirinya. Setelah itu, matanya melihat ke seluruh ruang boutique itu. Terlihat sepasang pelanggan yang berdiri memunggungi dirinya. Pelanggan itu tampak sedang berbincang dengan pegawai Queen yang lain nya.


Queen menaruh tas nya di dekat mesin kasir dan berjalan menghampiri sepasang pelanggan tersebut. Saat itu juga pasangan dari pelanggan nya menoleh dan menatap Queen dengan seksama.


"Queen,"


Langkah kaki Queen terhenti, ia melihat Antoni dan istrinya yang ikut menoleh kearah Queen.


"Mas, kamu kenal?" Tanya Tasya kepada Antoni. Antoni tidak menanggapi pertanyaan Tasya. Ia terus menatap Queen dengan tatapan penuh kerinduan.


"Ah, hai..." Queen menyapa mereka dan kembali berjalan menghampiri Antoni dan Tasya.


"Perkenalkan, saya Queen. Owner dari boutique ini. Terima kasih sudah mampir di boutique saya. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Queen.


"Ya, saya sedikit kesulitan memilih gaun untuk acara keluarga. Apa mbak bisa membantu saya?" Tanya Tasya.


Queen tersenyum kepada Tasya. Ia menatap istri dari mantan kekasihnya itu dengan seksama.


Tasya sangat manis, kulit nya kuning langsat dan rambutnya hitam pekat dan lurus panjang. Tasya mempunyai senyum yang menawan, serta tubuh yang ramping. Tasya benar-benar menggambarkan wanita Jawa yang cantik dan cerdas.


"Untuk acara keluarga, baik nya agak tertutup ya mbak," Ucap Queen sambil meraih sebuah gaun yang terbuat dari sutra dengan motif batik dan menunjukkan nya kepada Tasya.


"Ah, iya betul sekali." Tasya terlihat puas dengan pilihan Queen.


"Ini terbuat dari sutra dan motif batik ini terlihat lebih elegan untuk acara keluarga yang sangat mengusung budaya Jawa." Ucap Queen.


Tasya tertegun, ia menatap Queen dengan seksama.


"Mbak kok tahu kalau keluarga suami saya Jawa?" Tanya Tasya.


Queen terdiam sejenak, lalu ia terlihat salah tingkah.

__ADS_1


"Eh tadi suami saya memanggil mbak, apa kalian kenal?" Tanya Tasya lagi.


Queen tersenyum tipis, sedangkan Antoni terlihat salah tingkah.


"Ya tentu saja, kami dulu yang berteman."


"Hai, Antoni, apa kabar?" Sapa Queen sambil menyodorkan tangan nya kehadapan Antoni.


Antoni menatap tangan mantan kekasih terindah nya itu dan mencoba tersenyum. Lalu, ia menyambut tangan Queen dan menjabat nya dengan erat.


"Baik," Ucap Antoni sekenanya.


"Wah.. kalau begitu saya bisa menjadi pelanggan di boutique mbak.... siapa tadi? Queen ya?" Tanya Tasya.


"Iya mbak, mbak sendiri namanya siapa?"


"Saya Tasya, senang berkenalan dengan mbak Queen." Ucap Tasya dan menjabat tangan Queen.


"Istri mu cantik sekali Antoni," Ucap Queen.


Antoni hanya tersenyum, ia terus menatap Queen yang selalu menghindari tatapan matanya.


"Kenal nya dulu dimana? Teman kerja atau kuliah?" Tanya Tasya berbasa basi.


"Kami hanya kenal dari teman, kebetulan saya punya teman yang sepupunya berteman dengan Antoni. Jadi kita berkenalan disana. Sudah sangat lama mbak. Sudah sepuluh tahun yang lalu," Ucap Queen.


"Oh begitu... kamu kok gak cerita sih mas, kalau punya teman yang mempunyai boutique sebagus ini. Kalau tahu dari awal kan, aku bisa jadi langganan disini,"


Antoni hanya tersenyum menanggapi ucapan Tasya.


"Ya sudah mbak, saya ambil gaun ini. Terima kasih loh, pilihan nya sangat tepat," Ucap Tasya.


"Iya," Tasya mengangguk dan menggandeng tangan Antoni saat mengikuti Queen yang berjalan menuju ke kasir.


"Ani, kamu bungkus gaun ini ya," Ucap Queen dan menyerahkan gaun pilihan Tasya kepada pegawainya di meja kasir. Lalu, Queen kembali menatap Antoni dan Tasya. Lalu, matanya tertuju kepada tangan Tasya yang menggandeng lengan Antoni dengan erat.


"Bahagia sekali melihat kalian bahagia," Ucap Queen.


Tasya tersenyum semringah, ia melirik Antoni yang terlihat menghela nafas berat dan terus menatap Queen yang berdiri di depannya.


"Alhamdulillah mbak. Semoga mbak dan suami juga bahagia," Ucap Tasya.


"Ah, saya belum menikah," Queen terlihat sedikit tidak nyaman dengan ucapan Tasya.


"Oh... maaf.. maaf ya mbak," Tasya terlihat sangat menyesal dengan ucapannya.


"Tidak apa-apa mbak. Saya memang jauh lebih muda dari Antoni. Jadi, saya masih single dan belum terpikir untuk menikah."


"Oh begitu... saya boleh minta nomor ponsel mbak Queen. Biar kita bisa berteman akrab dan saya juga bisa konsultasi masalah fashion. Maklum lah, saya kurang pahan masalah fashion. Terkadang suami suka protes gitu," Tasya tersenyum sambil mencubit pipi Antoni.


"Bisa," Queen mengeluarkan kartu namanya dan menyerahkan nya kepada Tasya.


Sementara Antoni sedang membayar tagihan gaun yang di beli oleh Tasya.


"Terima kasih ya mbak, kapan-kapan saya pasti kesini lagi dan saya akan mempromosikan boutique mbak sama kenalan-kenalan saya," Janji Tasya.


"Terima kasih banyak mbak," Queen tersenyum semringah kepada Tasya.

__ADS_1


"Antoni, istrimu cantik dan juga sangat baik sekali. Jangan di sia-siakan ya," Ucap Queen sambil menatap kedua mata lelaki yang pernah mengisi hari-harinya dengan kenangan indah.


"Mbak Queen bisa saja," Celetuk Tasya sambil tersenyum malu-malu.


"Terima kasih," Ucap Antoni dengan suara yang terdengar bergetar.


"Kita pulang dulu ya.."


"Ah iya, hati-hati dijalan," Queen tersenyum dan melambaikan tangan kepada Tasya dan Antoni.


Setelah Tasya dan Antoni sudah masuk kedalam mobil mereka. Queen pun menghela nafas dengan berat dan memijat pelipisnya.


"Bu, Ibu kenapa? Pusing? Mau saya ambilkan air atau buatkan teh hangat?" Tanya Ani, gadis yang berdiri di balik meja kasir.


"Gak, gak apa-apa kok. Ya, boleh.. Teh nya." Ucap Queen sambil meraih tas tangan nya dan beranjak ke ruangan nya.


Di ruangan nya, Queen duduk termenung. Mengingat wajah Antoni dan Tasya.


"Bagaimana bisa ia mengatakan bila ia tidak mencintai istrinya. Sesempurna itu istrinya..." Gumam Queen.


"Woiii... bengong aja.." Queen menatap Tika yang beranjak masuk kedalam ruangan nya.


"Tik, lu lihat Antoni dan istrinya tadi gak di depan?" Tanya Queen.


"Gak tuh, kenapa? Mereka datang kesini? Ngelabrak elu? Lu di jambak gak sama istrinya?"


"Apaan sih, ngawur aja lu..." Queen terlihat kesal dengan ucapan Tika.


"Lah, terus ngapain kesini?"


"Istrinya belanja," Ucap Queen sambil beranjak dari duduk nya dan menemani Tika duduk di sofa ruangan itu.


"Wah.. terus?"


Queen pun menceritakan tentang pertemuan dirinya dengan Antoni Minggu kemarin dan lalu menceritakan pertemuan tidak sengaja di boutique milik nya itu.


"Wah, kayaknya hidup elu gak bisa jauh dari Antoni. Hati-hati lu... nanti CLBK."


"Apaan sih," Queen mengerutkan dagunya dan menatap Tika dengan seksama.


"Semua orang gak ada yang niat kembali dengan mantan pasangan nya Queen. Hanya saja, kenangan lah yang membuat perasaan mereka bercabang, antara pasangan saat ini dan mantan pasangan. Lalu, pertemuan kembali, membuat cabang ke arah pasangan sah menjadi buntu dan mereka hanya memikirkan cabang yang ke arah mantan pasangan saja. Nah, mantan pasangan yang awalnya gak niat kembali, jadi baper.. akhirnya CLBK deh," Ucap Tika panjang lebar.


"Gila ah..! Gak mau gue," Ucap Queen sambil mengerutkan keningnya.


"Ya makanya gue bilang hati-hati."


Queen terdiam, memang benar apa yang dikatakan Tika. Hatinya mulai goyah saat pertemuan kembali dengan Antoni di Mall minggu lalu. Tetapi, ia tidak ingin terhanyut dengan cinta yang usang.


"Gue harus buru-buru cari suami nih kayak nya," Ucap Queen sambil beranjak dari duduknya.


"Sama kang Dirman aja, mau lu?"


"Gila lu! Supir lu, lu jodohin sama gue.. edan!"


Tika tertawa dan memeluk Queen dengan erat.


"Sabar ya, lebih baik terlambat dari pada menikah dengan orang yang gak tepat. Gue juga terlambat kok. Tapi, akhirnya gue temui calon laki gue. Gue berharap, dalam waktu dekat elu bisa bertemu dengan orang yang tepat."

__ADS_1


Queen melepaskan pelukan Tika dan menatap Tika dengan seksama.


"Aamiin.. terima kasih ya Tik," Queen tersenyum dan menatap Tika dengan tatapan haru.


__ADS_2