
Deru nafas dua insan terdengar memenuhi salah satu kamar Presidential Suite milik Raka. Didalamnya, sang pemilik hotel, sedang menikmati malam pertamanya yang indah dengan wanita yang sudah sah menjadi istri nya, terhitung mulai hari ini.
Raka terus beraksi hingga Queen tidak lagi merasakan sakit yang menyiksa. Queen mulai merasakan nyaman dan mulai menikmati setiap detiknya. Queen membuka kedua matanya, dan menatap wajah Raka yang terlihat memerah. Raka bagaikan seekor kuda yang sedang mengamuk. Dirinya tampak gagah dan tak terkendali. Hingga di satu titik, Queen merasakan hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, yaitu kenikmatan yang sangat sulit ia lukis kan. Erangan mulai keluar dari bibir Queen, hingga raka mempercepat gerakan nya dan mulai membanjiri Queen dengan cairan cintanya.
Gerakan Raka terhenti, nafasnya tersengal dan peluh membasahi dahi dan tubuhnya. Lelaki itu menatap Queen dengan senyuman diwajahnya. Lalu, ia mengecup kening Queen dan menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Queen.
Kini, hanya nafas yang tersengal-sengal yang terdengar di ruangan itu. Raka berhasil membuktikan kehebatan nya sebagai seorang lelaki, sedangkan Queen berhasil melakukan pelayanan pertama nya untuk Raka.
Raka menjatuhkan tubuhnya kesamping Queen dan menghela nafas dalam-dalam. Ia mencoba mengatur kembali nafasnya dan menoleh kearah Queen yang masih terdiam dengan peluh di dahinya.
"Room service..!" Kembali terdengar panggilan di luar kamar mereka.
Queen menoleh dan menatap Raka yang sedang menatap dirinya. Lalu, mereka pun tertawa geli, mengingat petugas yang menunggu aktivitas mereka yang begitu panas, hingga selesai.
Raka beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar kecil. Setelah membersihkan dirinya beberapa saat, Raka pun keluar dengan memakai jubah handuk yang tersedia di hotel miliknya itu.
"Sebentar ya," Ucap nya sambil terus tersenyum.
Queen mengangguk dan membalas senyuman Raka. Lalu, ia menatap punggung suaminya yang gagah, yang sedang berjalan menuju ke pintu ruangan mereka.
Sebelum keluar, Raka menutup pintu kamar itu dan beranjak ke ruang tamu kamar Presidential Suite itu.
Raka menatap pegawainya yang masih berdiri menunggu dirinya, dengan wajah yang datar.
"Makanan nya Pak," Ucap pegawainya yang masih berusia 23 tahun itu.
"Ya," Sahut Raka seraya membukakan pintu selebar-lebarnya.
Lelaki itu melangkah masuk seraya mendorong troli pembawa makanan. Lalu, ia menghidangkan menu makanan yang ia bawa ke atas meja makan di ruangan itu.
"Saya permisi dulu Pak," Ucap pegawainya, sesaat setelah menghidangkan makanan itu diatas meja.
"Eh, tunggu sebentar," Ucap Raka.
"Iya Pak," Sahut pegawainya dengan wajah yang malu-malu.
"Berapa lama kamu menunggu?" Tanya Raka.
"Empat puluh menit Pak," Sahut pegawainya tanpa ragu.
"Wow, lama juga. Jangan cerita apa pun di luar. Siapa nama kamu?" Tanya Raka.
"A-Asep Pak," Ucap pemuda itu dengan ragu-ragu.
"Asep, gaji mu naik mulai bulan depan," Ucap Raka.
Pemuda itu mengangkat wajahnya dan menatap Raka dengan tak percaya.
__ADS_1
"Beneran Pak,"
"Iya, ya sudah sana," Ucap Raka.
"Te-terima kasih Pak," Ucap pemuda itu seraya mendekati Raka dan hendak meraih tangan Raka.
"Ya.. ya.. ya..., Jangan sentuh tangan saya. Tangan saya kotor," Ucap Raka seraya tersenyum malu.
"Ah, iya Pak," Pemuda itu pun kembali mundur dan beranjak keluar dari ruangan itu.
"Nanti saya kabarkan ke atasan kamu, kalau kamu naik gaji. Sekarang, cukup tutup mulut mu kalau mendengar teriakan istri saya," Ucap Raka yang kembali memasang wajah yang datar.
"Siap Pak," Ucap pemuda itu dengan wajah semringah.
Raka menutup pintu dan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Ia pun kembali ke kamar dan mendapati Queen yang sudah selesai membersihkan dirinya.
Raka berjalan menghampiri Queen dan tersenyum saat membelai rambut Queen dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih sayang," Bisik nya seraya memeluk Queen dengan erat.
Queen tidak mampu berkata-kata, ia hanya mengulum senyumnya dan terus menunduk kan pandangan nya.
"Mau makan atau mau lanjut nih," Bisik Raka dengan mesra.
Queen terperangah dan menatap Raka dengan tidak percaya.
"Hah?"
"Raka, masih sakit..!" Jerit Queen.
"Tadi sakit juga kan?" Tanya Raka.
Queen mengerutkan dagunya dan mengangguk dengan perlahan.
"Setelah itu enggak kan?" Tanya Raka dengan senyuman jahilnya.
Seketika pipi Queen kembali merona.
"Yuk, bisa yuk," Ucap Raka yang kembali tersenyum jahil, dan merebahkan tubuh Queen di atas ranjang.
"Aahhh.. Raka..."
"Bisaaaa ayooo.." Raka mulai kembali menjelajahi tubuh indah istrinya itu.
"Rakaaaaaa..." Queen melarang Raka sambil tertawa manja.
"Tidak ada cerita! Kemarin-kemarin tidak boleh menyentuh kamu. Sekarang, kamu tidak boleh menolak, Hiaaaaaattt....! Keluarlah kau pedang sakti mandra guna!" Teriak Raka.
__ADS_1
Queen terkekeh hingga tubuhnya terguncang di atas ranjang.
...
Tepat pukul sebelas malam, Raka membuka pintu balkon kamar itu, dan bersantai di kursi yang berada di balkon tersebut. Matanya memandangi bintang-bintang yang ada di langit. Sesekali ia tersenyum geli dan menggelengkan kepalanya.
Queen menyusul Raka dan beranjak duduk disamping suaminya itu. Raka pun menoleh dan merangkul Queen dengan hangat.
"Ngapain?" Tanya Queen yang menatap wajah Raka dari samping.
"Menghitung bintang di langit," Ucap Raka.
"Kok gitu? Ngapain coba?" Tanya Queen yang terlihat penasaran, hingga melepaskan pelukannya dari tubuh Raka.
"Aku tuh disuruh Ayah Andra untuk menghitung bintang di langit pada malam ini. Kalau besok benar-benar ditanya bagaimana?" Tanya Raka seraya tertawa geli.
"Ish! Ayah Andra di dengerin," Ucap Queen yang ikut tertawa mendengar penjelasan dari Raka.
"Aku menyukai Ayah Andra, definisi orangtua dan lelaki sesungguhnya itu benar-benar tercermin pada dirinya," Ucap Raka yang kembali merangkul Queen.
Queen terdiam dan tersenyum kecil. Mereka pun kembali memandangi bintang di langit malam itu.
"Aku akan seperti dia, kelak bila memiliki anak nanti, dan aku akan seperti dia saat menua bersama dengan mu kelak," Ucap Raka seraya menoleh dan memandang Queen.
Queen tersenyum dan membalas pandangan Raka.
"Semoga, pernikahan kita seperti orang-orang hebat diluar sana."
"Aamiin," Sahut Queen.
Raka tersenyum dan mengecup kening Queen.
"Lapar gak?" Tanya Raka.
Queen mengangguk dan mengerutkan dagunya.
"Ya sudah, makan dulu yuk. Itu sudah dingin," Ucap Raka.
"Ya sudah, aku panaskan dulu di microwave ya,"
"Oh gitu, ya sudah, biar aku saja ya," Ucap Raka.
"Tidak usah, kan cuma menghangatkan saja," Sahut Queen.
"Selagi aku ada, semua pekerjaan, biar aku lakukan. Kamu itu istri, bukan bawahan aku," Ucap Raka seraya beranjak dari duduknya.
"Ya Allah, aku meleleh," Ucap Queen.
__ADS_1
Raka melirik Queen dan merangkul istrinya itu. Mereka pun beranjak ke ruang makan dan melakukan segala pekerjaan bersama-sama.
..