
Suasana di rumah Queen begitu ramai. Semua orang sedang sibuk mempersiapkan segala yang akan dibawa ke rumah Kimmy. Ya, hari ini Athar, adik nya Queen akan bertunangan. Mereka sekeluarga akan berangkat kerumah Kimmy.
Queen masih saja termenung di tepi ranjangnya. Wajahnya yang cantik, sudah terpoles make-up. Tubuh indah nya pun, sudah terbalut kebaya berwarna capuchino yang seragam dengan Bunda dan keluarga yang lain nya.
Kini, Athar sudah mendapatkan cinta Kimmy. Maka mereka berdua berniat untuk segera meresmikan hubungan mereka. Sedangkan Queen? Dia masih sendiri.
Queen menghela nafasnya, mengingat ucapan salah satu keluarga nya yang bertanya mengapa ia masih betah sendiri, sedangkan adiknya akan bertunangan dan segera menikah beberapa bulan lagi.
Sebenarnya pertanyaan itu begitu menyakitkan bagi Queen. Hanya saja ia berusaha untuk menanggapinya dengan senyuman.
Sebentar lagi usia Queen 30 tahun. Usia itu sudah termasuk usia yang tidak muda lagi bagi wanita. Sebenarnya pengertian disebut tidak muda lagi, karena wanita akan mengandung anak. Dan menikah di usia 30-an membuat semua orang berasumsi bila masa subur seorang wanita sudah mulai berakhir. Padahal, faktanya masih banyak wanita yang mengandung di usia 40-an.
Tetapi, asumsi masyarakat begitu digadang gadangkan. Agar para wanita bersedia menikah diusia 25 tahun kebawah.
"Ck...! Mereka terlalu berisik! Tante Nia saja, mengandung Kimmy di usia 33 tahun dan melahirkan di usia 34 tahun. Salah nya dimana? Justru Tante Nia tidak lama kemudian mengandung Abian. Itu juga sudah di usia 37 tahun. Ah... kalian terlalu julid sama gue," Keluh nya.
Tok! Tok! Tok!
"Queen.." Panggil Bunda dari balik pintu kamar Queen.
"Ya Bun.." Queen pun beranjak dari duduknya dan bergegas membukakan pintu kamarnya untuk Bunda.
Bunda menatap wajah Queen saat melihat Queen yang baru saja membuka pintu kamarnya.
"Kamu sudah siap?"
"Sudah Bun."
"Ayo kita berangkat, sebentar lagi acara akan segera dimulai. Bunda takut jalanan macet saja. Gak enak sama keluarga Kimmy."
Queen mengangguk pelan, ia pun beranjak mengambil tas tangan nya yang berada di atas meja riasnya dan bergegas akan keluar kamarnya.
"Queen.." Panggil Bunda sambil menatap Queen dengan seksama.
"Ya Bun?" Queen menghentikan langkahnya dan membalas tatapan Bunda.
Bunda menghela nafasnya dan beranjak mendekati Queen. Lalu, Bunda mengusap pipi Queen dengan lembut dan memeluk putri sulungnya itu.
Queen terdiam, lalu ia membalas pelukan Bunda dengan ragu.
"Ke-kenapa Bun?"
"Queen, kamu percaya kan dengan rencana Allah?"
"I-iya Bun, kenapa Bun?"
"Gak apa," Bunda melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Queen dengan seksama.
"Bunda bangga dengan kamu, karena Bunda sudah melahirkan wanita yang hebat."
Queen menelan salivanya. Ia tahu kata yang terkandung dari ucapan Bundanya.
"Terima kasih Bun.."
Bunda mengangguk dan tersenyum kepada Queen.
"Ayo kita berangkat.." Ucap Bunda sambil menuntun Queen ke luar dari kamarnya.
...
__ADS_1
Acara pertunangan Athar dan Kimmy berjalan dengan lancar, walaupun mereka sempat terjebak oleh padatnya jalan Ibukota.
Suasana ramai dan hiruk pikuk kegembiraan membuat Queen merasa pusing. Termasuk dengan pertanyaan banyak saudara yang terus mempertanyakan kapan dirinya akan menikah. Saudara Kimmy juga termasuk saudara bagi Queen. Karena sebenarnya mereka masih memiliki hubungan darah.
Queen duduk di bangku taman di belakang rumah Kimmy, sambil menikmati segelas es teh di siang yang udaranya terasa begitu panas. Ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat hati Queen tidak nyaman, udara pun semakin terasa panas.
Queen menatap ikan-ikan hias yang di pelihara di kolam kecil yang berada di taman itu. Ikan yang memiliki sisik orange, hitam dan putih itu berenang kesana kemari. Seakan ikan itu merasakan kegelisahan Queen.
"Hei ikan, kapan aku akan menikah?" Tanya nya dengan sorot mata yang terus mengawasi ikan-ikan itu.
"Tenang Queen, kamu akan menikah tahun depan," Queen menjawab pertanyaan nya sendiri dan bersuara seperti layaknya ikan yang bisa berbicara pada cerita dongeng yang pernah ia tonton saat dirinya masih kecil.
"Beneran ikan?" Tanya Queen lagi.
"Iya," Dan ia kembali menjawab pertanyaan nya sendiri.
"Sama siapa?" Tanya Queen yang berekspresi seakan-akan ia sedang berkomunikasi dengan ikan dan terlihat penasaran.
"Sama orang baik tentunya," Sahut suara yang berasal dari belakang Queen.
Queen pun menoleh dan tersipu malu. Ia benar-benar merasa malu karena Athar tahu bila dirinya sedang berbicara sendiri dengan ikan-ikan yang sedang berenang di dalam kolam itu.
"Athar..." Ucap Queen dengan rona merah di pipinya.
Athar beranjak duduk di samping Queen dan menatap kakaknya itu dengan seksama.
"Untung Athar yang lihat, kalau orang lain, nanti takutnya pada salah paham," Ucap Athar sambil tersenyum.
Queen mengulum senyumnya, lalu ia menundukkan wajahnya.
"Kak, jadi orang yang bahagia ya.." Ucap Athar dengan raut wajah yang terlihat serius.
"Kak, jangan dengarkan mereka. Lebih baik memilih yang tepat dari pada terburu-buru menikah. Tetapi, mendapatkan orang yang salah. Bila saat ini kakak masih sendiri, itu tandanya Tuhan sedang mempersiapkan orang yang tepat untuk kakak."
Queen tersenyum haru, ia mengusap pipi Athar dengan lembut.
"Adik kakak sudah dewasa sekarang ya. Kakak bangga dengan Athar," Ucap Queen.
"Athar juga bangga dengan kakak. Athar sangat bersyukur memiliki kakak didalam hidup Athar." Ucap Athar dengan ujung suara yang tercekat.
Air mata mengembang di pelupuk mata Athar dan Queen. Mereka pun saling berpelukan. Ada rasa berat, rasa haru, senang, dan lain sebagainya saat Queen memeluk adik satu-satunya itu.
"Kakak sayangggg sekali dengan Athar."
"Sama, Athar juga sangat mencintai kakak," Bisik Athar.
...
Dretttt... Dreeettt..!
Raka yang hampir saja tertidur di meja kerjanya pun terkejut saat mendengar dering suara ponselnya miliknya. Ia memijat dahinya beberapa saat, lalu ia meraih ponselnya.
Raka menatap layar ponselnya, wajahnya pun berubah terlihat antusias dengan seketika. Lalu, ia pun mengangkat panggilan tersebut dengan segera.
"Ya halo..!" Sapa nya dengan bersemangat.
"Halo boss, Queen hotel akan segera diresmikan esok lusa. Menurut informasi, pemilik hotel nya dan beberapa pejabat akan menghadiri acara tersebut dan kita pun mendapatkan undangan dari Queen hotel." Ucap suara dari ujung sana.
"Oh ya?"
__ADS_1
"Iya Boss, undangan nya sudah berada di tangan sekretaris Boss. Apakah Boss sudah menerimanya?" Tanya orang suruhan Raka tersebut.
"Belum, saya belum tahu. Mungkin sekretaris saya langsung menyusun jadwal tanpa memberitahukan saya sebelumnya. Soalnya beberapa hari ini saya sibuk sekali," Ucap Raka.
"Oh baik Boss, saya sudah konfirmasi sekali lagi, bila Boss memang termasuk dalam daftar undangan dari pihak Queen hotel."
"Ok, baik, terima kasih," Ucap Raka sambil mengakhiri sambungan telepon dari orang suruhan nya.
Lalu, ia beranjak keluar dari ruangannya dan bergegas menemui sekretaris nya.
"Mirna," Panggil Raka saat berada di depan meja sekretaris nya yang sedang bersolek dengan lipstik nya yang merah merona.
"Astaga..!" Mirna terkejut dan hampir saja menjatuhkan lipstik bermerk miliknya itu.
"Ah.. iya pak..." Sahut nya sambil tersenyum kikuk.
"Katanya kita memiliki undangan dari Queen hotel. Kenapa kamu tidak memberitahukan saya?"
"Oh, itu... hanya hotel bintang tiga kan Pak? Jadi saya memutuskan untuk mengirim karangan bunga saja. Soalnya jadwal acaranya bentrokan dengan acara penting yang lain Pak," Jelas Mirna.
Wajah Raka mulai memerah, ia merasa kesal dengan Mirna yang tidak bertanya terlebih dahulu kepada dirinya. Sedangkan ia sudah susah payah untuk dapat bertemu dengan Queen, dan ternyata dia mendapat undangan dari Queen. Kesempatan itu tidak akan bisa terulang kembali.
"Sini undangan nya..!" Ucap Raka.
Mirna pun terlihat gugup, ia mencoba mencari undangan yang dikirimkan oleh management hotel milik Queen.
"Duh, dimana ya saya taruh.." Mirna pun kelihatan panik.
"Kamu bisa kerja gak sih? Masa undangan saja kamu gak tahu di taruh dimana?" Ucap Raka yang terlihat panik.
"Iya Pak saya lupa."
"Cari! Saya tidak mau tahu! Kalau gak ketemu, kamu saya pecat!" Ucap Raka yang terlihat sangat kesal.
"I-iya Pak..." Ucap Mirna dengan gugup.
Lalu, Mirna melirik tempat sampah dan melihat sebuah undangan dengan sampul berwarna merah muda. Lalu, Mirna pun meraih undangan tersebut dan tersenyum.
"Pak...!" Panggil Mirna sambil beranjak dari duduknya dan menyusul Raka yang hendak masuk kembali ke ruangannya.
"Ini Pak, saya ketemu undangan nya di tempat sampah," Ucap Mirna sambil tersenyum semringah.
Raka menghela nafasnya dan menatap Mirna dengan geram.
"Mir, lain kali, jangan main buang saja. Tanyakan ke saya terlebih dahulu. Kamu paham?" Tanya Raka.
"Iya Pak," Sahut Mirna sambil tersenyum manis.
"Mir, kalau saya mau.. saya pecat kamu sekarang. Tapi, karena kamu mendapatkan undangan ini, walaupun dari tempat sampah, saya maafkan kamu. Next, kalau kamu gegabah, kamu bereskan barang-barang mu ya.."
"I-i-iya Pak..." Ucap Mirna dengan wajah yang merasa bersalah.
Raka menghela nafasnya dan kembali ke ruangan nya.
Dengan senyum mengembang, ia membuka sampul undangan berwarna merah muda itu dan membaca isi undangan tersebut.
Lalu, pandangan nya pun, terjatuh pada nama lengkap Queen beserta gelar yang pernah di capai oleh gadis tersebut. Raka pun mengusap dengan lembut nama Queen di atas kertas undangan itu.
"Aku tidak akan melepaskan kamu, aku berjanji. Lusa, kita bertemu.. Aku pastikan bila kamu akan jatuh cinta denganku." Gumam nya sambil tersenyum penuh harapan.
__ADS_1