
Sebuah mobil mewah berhenti di depan lobby hotel milik Queen. Seorang petugas hotel membukakan pintu mobil mewah tersebut dan mempersilahkan pemilik mobil itu untuk turun.
Sepasang sepatu pantofel berwarna hitam mengkilat terlihat menjejaki halaman hotel itu. Raka yang menggunakan setelan Jas berwarna hitam, serta potongan rambut yang rapi pun tampak beranjak memasuki hotel milik Queen yang baru saja akan diresmikan.
Lelaki itu pun berjalan ke arah multifunction hall hotel berbintang 3 itu bersama Mirna sekretaris nya.
Saat berada di depan pintu masuk multifunction hall, Mirna memberikan undangan itu kepada seorang petugas untuk di scan barcode nya, menandakan mereka adalah benar tamu undangan di acara tersebut. Setelah itu, barulah mereka di izinkan masuk kedalam multifunction hall.
Raka, menyapukan pandangannya ke segala arah. Ia ingin melihat sosok wanita yang selama ini ia cari, yaitu Queen.
Terlihat di sebelah panggung, seorang wanita dengan dress berwarna hitam dengan aksen V neck, sedang berbicara dengan para kolega nya. Senyum terus mengembang di bibir wanita itu.
"Itu dia," Batin Raka dengan mata yang berbinar melihat kearah Queen.
Raka berjalan menghampiri Queen yang tampak sangat cantik dan elegan malam ini.
"Nona Queen," Sapa Raka, mencoba untuk formal di depan banyak orang.
Queen menoleh dan menatap Raka dengan seksama.
"Raka?" Queen terperangah saat melihat Raka menghadiri acara peresmian hotel miliknya.
"Apa kabar nona Queen?" Tanya Raka.
"Ba-ba-baik, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Queen. Lalu, ia menatap seorang gadis sexy yang berdiri di samping Raka.
"Aku? Hmmm.. selamat atas peresmian hotel nya," Ucap Raka sambil menyerahkan handbouket kepada Queen.
Queen menatap bunga-bunga indah yang tersusun rapi di tangan Raka, lalu dengan ragu ia menerima handbouket tersebut.
"Terima kasih, kamu...."
"Ah, aku hanya mewakili salah satu pemilik hotel yang tidak bisa datang." Potong Raka.
"Hotel apa?" Tanya Queen penasaran.
"Hmmmm, hotel yang waktu itu kita makan malam," Jelas Raka.
"Ah... jadi kamu bekerja disana? Berarti... waktu itu..."
"Iya, aku memiliki akses kesana. Jadi kita bisa makan dengan diskon yang besar di rooftop," Ucap Raka sambil tersenyum malu-malu.
Queen tersenyum dan mengigit bibirnya. Ia merasa Raka yang hanya karyawan swasta biasa itu, benar-benar konyol saat mengatakan makan dengan diskon yang besar.
"Dan.... ini, pacar kamu?" Tanya Queen sambil menatap Mirna.
"Ah.. ini rekan kerja ku. Mir, kenalkan ini Ibu Queen, pemilik hotel ini," Ucap Raka.
Mirna terlihat bingung saat Raka mengatakan bila dirinya adalah rekan kerjanya.
"Pak," Mirna menatap Raka.
__ADS_1
"Sudah, akui saja kalau kamu rekan kerja ku." Bisik Raka.
Mirna mengangguk dan mengulurkan tangannya kehadapan Queen.
"Halo Bu, apa kabar? Selamat atas peresmian hotelnya." Ucap Mirna dengan sedikit gugup.
"Hai, terima kasih," Ucap Queen sambil menjabat tangan Mirna.
Mereka pun sama-sama tersenyum dengan ramah.
"Ayo makan silahkan," Ucap Queen kepada Mirna.
"Kamu duluan saja, saya mau berbicara dengan Ibu Queen."
"Iya Pak," Sahut Mirna yang langsung beranjak memisahkan diri dari Queen dan Raka.
"Sexy," Ucap Queen sambil memandang Mirna yang sedang berjalan menuju meja khusus untuk management hotel dimana ia bekerja.
"Biasa saja. Justru yang seperti bintang bersinar itu kamu, pada malam ini," Ucap Raka dengan menatap Queen.
"Hmmmm, kenapa Boss mu tidak bisa datang?" Tanya Queen sambil berjalan bersama Raka menuju ke meja minuman yang terletak beberapa meter dari mereka.
"Boss ku sedang sibuk. Tapi, aku beruntung disuruh menggantikan beliau. Jadi, aku bisa menghadiri peresmian hotel mu dan...."
Queen menatap Raka dan menyerahkan segelas minuman bersoda kepada Raka.
"Dan apa?" Tanya Queen yang riasan wajahnya sangat cantik pada malam ini.
Queen tersenyum simpul, lalu ia menundukkan pandangan nya.
"Queen, kenapa pesan ku tidak pernah kamu balas?"
Queen menatap Raka dan tersenyum simpul.
"Maaf, setelah pulang dari Korea, aku sibuk," Ucap Queen, sekenanya.
"Oh begitu," Raka mengangguk paham. Lalu, ia menatap kedua mata Queen yang tampak semakin cantik karena riasan ala smokey eyeshadow di kelopak mata gadis idamannya itu.
"Dan.. kenapa kamu meninggalkan aku?" Ucap Raka.
Queen membuang pandangannya kearah para tamu undangan.
"Queen, aku minta maaf dengan segala yang terjadi waktu kita...."
Terdengar seorang MC yang berada di atas panggung, mulai menyapa para tamu undangan.
"Raka, waktu peresmian sudah dimulai. Kita bicarakan nanti ya. Aku kesana dulu," Potong Queen. Lalu, gadis itu pun beranjak dari hadapan Raka, tanpa sempat Raka menjawab ucapan Queen.
Raka menatap Queen yang berjalan kearah panggung. Entah mengapa ia merasakan gelora asmara yang semakin membara kepada Queen.
Queen gadis yang tidak biasa baginya. Gadis itu sedikit sulit didekati. Sedikit sulit untuk di ajak bicara dan akrab. Sikap Queen yang acuh namun elegan itu membuat Raka semakin bertekad untuk terus maju dan menaklukkan gadis impian nya itu.
__ADS_1
"Gila, gue yang selalu di kejar wanita, kini gue harus mengemis hanya untuk berbicara dengan wanita ini. Ck..!" Gumam Raka sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap Queen dari kejauhan.
...
Tasya memandangi Antoni yang tampak lesu, keluar dari butik milik Queen. Sudah beberapa hari ini, ia selalu mengawasi Suaminya itu. Melihat raut wajah Antoni yang risau, Tasya mengerti bila Antoni tidak bertemu dengan Queen. Lalu, ia menyalakan mesin mobilnya dan beranjak pulang, sebelum Antoni lebih dulu sampai di rumah.
Tiga puluh menit kemudian, ia pun sampai di rumah sebelum Antoni. Tasya pun memasukan mobilnya kedalam garasi dan beranjak turun.
Ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang tampak minim. Ia berharap bila Antoni melihat dirinya memakai pakaian itu, Antoni akan tertarik kepada dirinya.
Tasya juga menambahkan lipstik berwarna merah di bibirnya yang berisi. Serta minyak wangi di leher dan di bagian tubuh lainnya.
Deru mesin mobil milik Antoni terdengar di halaman rumah. Tasya pun bersiap untuk menyambut suaminya itu dengan memasang wajah yang terlihat sexy.
Pintu rumah terbuka, Antoni pun melangkah masuk dan berjalan menuju ke kamar.
Saat ia baru saja membuka pintu kamarnya, Antoni terpana saat menatap Tasya yang sedang berdiri di depan nya dengan pakaian yang sangat menggugah selera bagi lelaki.
Saat itu juga Antoni menundukkan pandangan nya dan beranjak duduk di tepi ranjang.
"Bagaimana lingerie ku Mas?" Tanya Tasya dengan wajah yang terlihat menggoda.
Antoni melirik sesaat dan kembali fokus membuka kaos kaki dan sepatunya.
"Mas?" Tegur Tasya.
"Biasa saja," Ucap Antoni sambil beranjak ke kamar mandi.
Tasya merasa kecil hati dan menatap punggung suaminya tersebut.
"Apa yang sexy dimata mu hanya Queen?" Tanya Tasya dengan air mata yang mengembang di pelupuk matanya.
Antoni menoleh dan menatap Tasya yang tampak sangat kecewa.
"Aku tidak mau membahas dia,"
"Tidak mau membahas? Apa suasana hatimu sedang tidak baik-baik saja malam ini. Karena kamu tidak bertemu dengan dia?" Tanya Tasya dengan intonasi suara yang mulai meninggi.
Antoni mengerutkan keningnya dan menatap Tasya dengan tatapan tak percaya.
"Kamu ngomong apa sih?"
"Jangan kamu pikir aku tidak tahu, kemana saja kamu saat kamu beralasan lembur!" Ucap Tasya sambil membungkus tubuhnya dengan piyama.
"Aku gak ngerti kamu ngomong apa," Antoni berusaha berkilah.
"Mas, mungkin aku terlihat tidak menarik dimata mu. Aku juga terlihat bodoh bagimu. Lima tahun aku bersabar dengan sikap dingin mu. Apa kamu pikir aku ini malaikat yang tidak punya amarah!"
Antoni membuang pandangannya dan beranjak masuk kedalam kamar mandi.
Tasya mencoba mengatur nafas nya dan beranjak keluar dari kamar itu. Ia berjalan menuju ke kamar anak hasil pernikahan dirinya dan Antoni. Lalu, ia merebahkan tubuhnya di samping tubuh putra semata wayangnya itu. Lalu, ia menangis tanpa suara. Ia menyelimuti putranya dan memeluk erat bocah yang baru berusia tiga tahun itu.
__ADS_1
"Entah apa yang harus Mama lakukan nak... Bertahan pun sakit sekali, melepaskan semuanya, kau yang akan sakit. Lalu, Mama harus apa?" Batin nya.