
Pagi ini, Raka sudah tiba di rumah Queen. Ia sengaja menjemput Queen untuk bersama-sama berziarah ke makam Tika. Queen yang sedang sarapan, tersenyum kepada Raka yang sudah tidak canggung lagi di rumah Queen. Raka datang dan langsung menyusul ke ruang makan, dimana keluarga Queen sedang sarapan bersama. Tidak hanya Itu, Raka pun ikut sarapan bersama mereka. Setelah ditawarkan untuk sarapan bersama.
Setelah berbincang dan sarapan bersama, Raka dan Queen pun meminta izin untuk berangkat ke makam Tika. Bunda pun melepas mereka berangkat pada pagi itu di teras rumahnya.
Queen tersenyum saat melirik Raka yang memakai kemeja hitam. Raka yang sedang menyetir pun sadar, bila Queen sedang menertawai dirinya yang baru kali ini mengganti warna kemeja, sejak dirinya bertunangan dengan Queen. Tanpa kata, mereka berdua tertawa di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang tersebut.
"Sayang, ini mau langsung ke makam?" Tanya Raka seraya melirik ke arah spion mobilnya dan memberikan sen kiri kepada mobil di belakangnya.
"Jangan, kita mau menjemput Tasya dulu ya," Ucap Queen.
"Loh, memang dia menunggu dimana?" Tanya Raka lagi.
"Di depan komplek perumahan dia. Aku sudah bilang, aku akan menjemput dia. Jadi dia tidak membawa mobil."
"Oh..." Raka mengangguk paham.
Setelah Queen memberikan petunjuk arah menuju ke komplek perumahan Tasya, akhirnya mereka pun sampai di depan komplek perumahan Tasya.
Terlihat Tasya sedang menunggu sambil menikmati kopi yang ia beli di supermarket di depan komplek perumahan nya.
"Itu Tasya," Queen menunjuk seorang wanita yang berdiri tepat di gerbang komplek.
"Oh itu yang namanya Tasya..." Ucap Raka.
Walaupun Raka sudah banyak mendengar tentang Tasya, tetapi inilah kali keduanya ia bertemu dengan Tasya. Pertama, Raka bertemu dengan Tasya saat di kantor polisi, saat Antoni menyerang Queen. Dan yang kedua, yaitu pada pagi ini.
Tasya yang tidak mengenali mobil Raka, tampak tidak memperhatikan mobil itu mendekat. Ia masih asik dengan kopi nya.
"Tasya!" Panggil Queen, saat ia baru saja membuka jendela mobil milik Raka.
"Queen!" Ucapnya dengan wajah yang tampak terkejut.
"Ayo masuk,"
"I-i-iya.."
Tasya beranjak masuk ke mobil tersebut dan menatap Raka yang menoleh kepada dirinya.
"Eh.."
"Hai," Sapa Raka dengan Ramah.
"Ha-hai,"
"Kenalkan, ini Tasya, dan Tasya, ini Raka."
"Halo, Tasya.."
__ADS_1
"Raka," Sahut Raka.
"Tunangan kamu itu ya?" Tanya Tasya dengan berbisik kepada Queen yang duduk di bangku depan nya.
"Iya," Sahut Queen seraya tersenyum kepada Tasya.
"Ya sudah, ayo kita berangkat.." Ucap Queen.
Mereka bertiga pun berangkat ke komplek pemakaman, dimana tempat Tika beristirahat untuk selama-lamanya.
Di perjalanan, Tasya terus menatap Raka. Dalam hatinya mengatakan, betapa Queen sangat beruntung mendapatkan lelaki yang benar-benar mencintai Queen. Sedangkan dirinya, ia tidak pernah mendapatkan lelaki yang benar-benar mencintai dirinya. Bahkan, kini ia sudah memiliki anak dari lelaki yang tidak sama sekali mencintai dirinya.
Tasya merapatkan bibirnya, hingga membentuk kerutan di dagunya. Ia benar-benar merasa iri kepada Queen. Queen memang sangat-sangat jauh lebih beruntung. Terlahir dari keluarga kaya raya, memiliki banyak usaha, dan walaupun Queen telat menikah, tetapi setidaknya Queen bisa mendapatkan orang yang tepat, sebelum memutuskan menikah dengan orang yang salah, seperti dirinya.
"Queen, semoga aku bisa seperti kamu ya..." Batin Tasya.
Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di komplek pemakaman. Raka memarkirkan mobilnya di luar gerbang komplek pemakaman tersebut. Lalu, mereka berjalan menuju blok pemakaman, dimana makam Tika berada.
Dari kejauhan, Queen melihat dua orang lelaki yang berada di makam Tika. Queen berusaha menegaskan pandangan nya. Benar saja, ternyata itu adalah suami Tika dan juga Putra, adik ipar Tika. Sangat kebetulan sekali, tetapi Queen merasa senang bisa bertemu dengan suami Tika.
"Assalamualaikum," Sapa Queen, saat dirinya, Raka dan Tasya tiba di makam Tika.
"Waalaikumsalam," Sahut Putra dan Suaminya Tika.
Raut wajah Putra terlihat bahagia saat melihat Queen, tetapi sejurus kemudian, senyum di wajahnya pun sirna, saat menyadari ada Raka disamping Queen.
"Mas, apa kabar?" Tanya Queen seraya menjabat tangan lelaki bernama Banyu itu.
"Baik, kamu apa kabar?"
"Baik, Alhamdulillah," Sahut Queen.
"Oh ya Mas, kenalkan ini tunangan saya," Ucap Queen.
"Halo,"
"Halo," Sahut Raka.
"Dan ini Tasya," Queen meraih tangan Tasya yang berdiri dibelakang nya untuk mendekat dan berkenalan dengan Banyu.
"Hai, saya Banyu," Ucap Banyu.
"Tasya," Sahut Tasya seraya tersenyum ramah.
"Saya Putra," Ucap Putra.
"Tasya,"
__ADS_1
Queen memutar bola matanya, saat Putra memperkenalkan dirinya kepada Tasya.
"Tidak menyangka kita bertemu disini ya Mas," Ucap Queen berbasa basi.
"Hehehe, iya. Alhamdulillah bertemu." Sahut Banyu.
Banyu, lelaki berusia 37 tahun. Dengan postur tubuh yang tinggi dan atletis. Pembawaan nya sangat tenang dan tidak banyak bicara sejak kepergian Tika. Kepergian orang yang sangat ia cintai mengubah segalanya. Hatinya beku dan hidupnya terasa akan berakhir. Terlebih saat ia tahu, Tika membawa calo. buah hatinya, yang ia sebut dengan nama "Lil Angel".
"Mas, aku kesini dalam rangka, ingin memberitahukan bila aku akan menikah dua bulan lagi kepada Tika. Kebetulan, kita bertemu disini. Aku mau mengundang Mas ke acara pernikahan aku dan Raka, calon suamiku. Untuk undangan fisik nya, aku boleh minta nomor telepon Mas? Soalnya, aku tidak tahu alamat Mas yang sekarang. Jadi, mana tahu saat menyebar undangan, aku bisa menghubungi Mas untuk bertanya alamatnya Mas Banyu."
"Ah, boleh-boleh. Catat ya.." Ucap Banyu, seraya menyebutkan nomor ponsel nya.
Queen pun bergegas meraih ponselnya dari dalam tasnya dan langsung mencatat nomor telepon Banyu.
"Terima kasih Mas,"
"Sama-sama," Ucap Banyu, seraya tersenyum manis kepada Queen.
"Ah, silahkan," Ucap Banyu saat menyadari maksud kedatangan Queen ke makam tersebut.
"Saking asik berbicara, jadi aku lupa maksud kedatangan kalian. Maaf ya," Ucap Banyu lagi. Lalu, ia beranjak ke pinggir, agar Queen, Tasya dan Raka bisa berjongkok di makam Tika.
"Terima kasih Mas," Ucap Queen.
Queen berjongkok di dekat nisan yang bertuliskan nama sahabat nya itu. Lalu, ia mengusap lembut nisan itu.
"Tik, maaf ya, gue jarang melihat makam elu. Akhir-akhir ini, gue cukup stress dengan pekerjaan dan juga persiapan pernikahan gue yang tinggal dua bulan lagi."
"Iya Tik, gue mau menikah dengan Raka. Kalau bukan karena elu, gue mungkin tidak akan bisa sebahagia ini dengan Raka saat ini. Terima kasih ya Tik." Mata Queen memerah dan lalu ia memeluk nisan Tika.
"Tau gak sih lu.... gue rindu banget sama elu Tikaaaaa..." Air mata Queen terjatuh tanpa mampu ia tahan lagi.
Terlihat Raka mengusap punggung Queen untuk menabahkan hati kekasihnya itu.
"Tik, ini Tasya. Dia sangat ingin kenal sama elu. Gue yakin, saat ini elu melihat Tasya kan? Dan gue yakin, hadirnya Tasya, karena permohonan elu sama Allah, untuk menghadirkan seorang sahabat lagi untuk menemani rasa sepi gue. Makasih ya Tik..."
"Hai, aku Tasya. Semoga kamu tenang disisi Allah ya Tik. Walaupun kita tidak pernah bertemu. Aku tahu, kamu adalah orang yang baik hati. Itu semua terlihat dari betapa banyak orang-orang yang mencintai kamu Tik," Ucap Tasya.
"Aamiin," Sahut Raka dan Queen.
Mereka bertiga pun berdoa untuk Tika. Sedangkan Banyu dan Putra pun juga turut berdoa sekali lagi demi kedamaian Tika.
Setelah berdoa, Queen, Raka dan Tasya bun beranjak berdiri dan menatap Banyu dan Putra. Terlihat sorot mata yang canggung dari Putra saat bertatapan dengan Queen. Memang, saat ini ia masih menyukai Queen. Tetapi, saat tadi ia mendengar bila Queen sudah resmi akan menikahi Raka. Maka, ia pun berusaha untuk tidak lagi mengejar Queen.
TETAPI... sorot mata Putra berkali-kali jatuh kepada Tasya. Apakah Tasya akan menjadi pasangan Putra?
Apakah ada yang setuju cerita tentang Tasya?
__ADS_1
Vote ya.. :)