
Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan kediaman Queen. Terlihat seorang pemuda menurunkan kaca mobilnya dan memperhatikan rumah tersebut.
"Besar sekali rumah nya," Gumam pemuda itu. Lalu, ia pun bergegas turun dan menghampiri gerbang rumah yang berwarna emas bercampur dengan hitam tersebut.
"Pak!" Panggilnya kepada seorang satpam penjaga rumah.
Satpam yang berusia 38 tahun itu pun mengalihkan pandangannya dari sebuah televisi tabung yang berada di pos nya. Ia memperhatikan pemuda yang memanggil dirinya dari celah pagar. Ia mengernyitkan dahinya dan mempertegas tatapan nya kepada pemuda yang baru kali ini ia lihat.
Satpam itu pun beranjak dari duduknya dan bergegas menghampiri pemuda tersebut.
"Mau cari siapa Mas?" Tanya Satpam bernama Rosidi itu.
"Yang punya rumah ada?" Tanya nya dengan wajah yang terlihat bersemangat.
"Ada, tapi Mas nya mau cari siapa? Ada beberapa orang yang tinggal disini," Tegas satpam itu.
"Saya mau bertemu dengan nona Queen,"
"Non Queen?" Satpam itu mempertegas nama orang yang mau ditemui oleh pemuda itu.
"Iya.."
"Non Queen sedang tidak berada di rumah. Sedang ke luar negeri."
"Ternyata benar, Queen lagi ke luar negeri. Aku kira, Tika berbohong." Gumam nya.
"Kalau begitu, saya mau bertemu dengan orang tua Queen."
Rosidi mengerutkan keningnya dan menatap pemuda itu dengan seksama.
"Nama Mas nya siapa? Biar saya laporkan ke dalam."
"Putra. Bilang saya adik iparnya Tika, mau bertemu."
Rosidi mengangguk paham dan bergegas memberitahukan tuan rumah, prihal tamu tersebut melalui sambungan telepon.
Bunda yang sedang bersantai, dihampiri oleh asisten barunya, yang merupakan keponakan dari asisten sebelumnya. Bibik memilih untuk pensiun karena dirinya sudah cukup tua untuk terus bekerja. Maka dari itu, ia merekomendasikan keponakannya untuk di pekerjakan di rumah Bunda.
Beruntung, keponakan Bibi sangat baik dan jujur. Maka, ia langsung bisa bekerja di rumah itu sehari setelah dirinya datang dari kampung halaman nya.
"Bu, kata Mas Rosidi, ada yang mencari Ibu. Namanya Putra, apakah boleh dia masuk?" Tanya si Mbak dengan sopan.
Bunda menoleh dan mengerutkan keningnya.
"Putra? Putra mana?" Tanya Bunda penasaran.
"Putra..... hmmmm... kalau tidak salah, tadi mas Rosidi bilang, Putra adik ipar nya Tika, gitu Bu..."
Bunda tampak terkejut, bagaimana bisa Putra tahu alamat rumahnya dan Bunda pun langsung paham maksud kedatangan Putra ke rumahnya. Itu semua karena pemuda itu ingin bertemu dengan Queen.
__ADS_1
"Ya sudah suruh masuk," Perintah Bunda.
Bunda pun bergegas menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian yang lebih layak saat dirinya menyambut kedatangan seorang tamu di rumah nya.
Rosidi menerima telepon dari si Mbak yang mengatakan bila tamu itu di izinkan masuk oleh Bunda. Lalu, ia pun bergegas untuk membukakan gerbang tersebut.
Putra tampak semringah, ia kembali ke mobilnya dan menyalakan mesin mobil itu untuk ia parkir di dalam pekarangan rumah yang terlihat bergaya kolonial namun, sudah mendapatkan beberapa renovasi yang memperlihatkan rumah itu sedikit lebih modern dari pada gaya di jaman nya.
Mobil itu pun terparkir di halaman rumah dengan arahan Rosidi. Lalu, pemuda itu pun keluar dari mobilnya dan mengucapkan terima kasih kepada Rosidi. Setelah itu, Putra melangkah memasuki beranda rumah itu dan sesekali mengagumi uniknya rumah peninggalan Ibunya Ayah Andra itu.
Tok! Tok! Tok!
Putra mulai mengetuk pintu rumah itu dan menunggu seseorang untuk membukakan pintu yang tertutup rapat itu.
Terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa menghampiri dari dalam rumah itu dan pintu itu pun terbuka. Terlihat seorang gadis manis dengan rambut di kepang dua menatap Putra.
"Assalamualaikum, Bunda nya ada?" Tanya Putra kepada gadis itu.
Si Mbak mengangguk dan mempersilahkan Putra untuk duduk menunggu Bunda di ruang tamu.
"Tunggu sebentar ya Mas, Bunda sedang bersiap-siap. Mas nya mau minum apa?"
"Apa saja Mbak,"
"Baik, saya kedalam dulu." Ucap Si Mbak seraya bergegas meninggalkan Putra.
Putra tersenyum dan memperhatikan Si Mbak yang berjalan ke arah dapur. Lalu, ia memperhatikan ke sekeliling nya. Terlihat lukisan pemandangan antik yang bernilai seni tinggi yang terpampang di dinding ruang tamu itu, serta beberapa koleksi barang antik peninggalan Oma, Ibu dari Ayah Andra.
"Maaf menunggu lama," Sapa Bunda yang baru saja muncul dari arah ruang keluarga.
Putra menatap Bunda yang menggunakan atasan berwarna salem dengan corak abstrak yang terlihat sangat pas di kulit Bunda.
"Assalamualaikum Bunda," Sapa Putra dengan sopan.
"Waalaikumsalam, apa kabar nak Putra. Kok bisa sampai sini? Siapa yang kasih alamat Bunda?" Tanya Bunda tanpa banyak basa-basi.
Putra terlihat salah tingkah, ia tersenyum dan menundukkan wajahnya.
"Kabar saya baik Bun, maaf bila saya lancang mendatangi rumah Bunda. Saya mendapatkan alamat Bunda dari Tika, Bun,"
"Tidak apa nak Putra. Ada apa yang membawa nak Putra datang ke rumah Bunda?"
"Awalnya saya ingin bertemu Queen, Bun. Tetapi, katanya Queen sedang keluar negeri ya Bun?"
"Iya betul," Sahut Bunda.
"Jadi, saya putuskan untuk bertemu dengan Bunda dan Bapak." Sambung Putra.
"Hmmm, Ayah sedang tidak ada di rumah. Ayah sedang berdinas."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Bun, saya kesini ingin berbicara saja kepada Bunda selaku orang tua dari Queen."
"Apa itu?" Tanya Bunda penasaran.
"Saya berniat ingin mempersunting anak Bunda, Queen. Sekiranya apa saja syarat yang harus saya penuhi Bun?"
Bunda terdiam mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Putra.
"Maksud nya?" Tanya Bunda setelah beberapa saat kemudian.
"Saya berniat untuk ta'aruf Bun," Jelas Putra.
Bunda kembali terdiam, ia bingung akan mengatakan apa kepada Putra. Lelaki muda yang belum begitu ia kenal itu. Lama terdiam, akhirnya Bunda pun buka suara.
"Hmmm, begini nak Putra. Saya selaku Ibunda dari Queen. Sebenarnya senang-senang saja bila ada yang melamar anak gadis saya. Hanya saja, masalah perkawinan itu kan menyangkut dua keluarga dan dua hati. Apa tidak sebaiknya Bunda bertanya dulu dengan Queen dan keluarga besar kami?"
Putra menatap Bunda dan tersenyum simpul.
"Ya Bunda, tidak apa-apa. Saya berharap, bila memang saya di izinkan untuk menikahi Queen. Saya ingin pernikahan itu di laksanakan secepatnya Bun. Mungkin setelah satu bulan kita saling mengenal. Saya kesini ingin restu dan support dari Bunda dan keluarga."
Bunda menghela nafas panjang. Selama ini ia takut sekali Queen tidak akan menikah dengan siapa pun. Tetapi, saat ada yang serius dan langsung melamar, Bunda sendiri menjadi bingung dengan apa yang akan ia ucapkan.
"Saya serius dengan Queen Bun, saya juga akan segera membawa keluarga saya, bila memang saya di izinkan untuk datang membawa keluarga saya."
"Nak Putra, begini saja, bagaimana bila kita menunggu Queen pulang dan kita bahas sama-sama terlebih dahulu. Apa pun hasilnya, Bunda akan kabarkan nak Putra secepatnya. Bagaimana?"
Putra tersenyum manis dan mengangguk dengan cepat.
"Baiklah Bun, semoga semua niat baik ini direstui dan di lancarkan ya Bun.." Ucap Putra dengan bersemangat.
"A-aamiin," Sahut Bunda ragu-ragu.
Si Mbak pun datang dengan membawa dua gelas teh hangat dan beberapa makanan kecil dan menyuguhkan nya di atas meja tamu.
"Silahkan di minum nak Putra.."
"Terima kasih Bun," Sahut Putra seraya tersenyum dan meraih gelas teh tersebut.
Lalu, mereka pun berbincang masalah pekerjaan, masa kecil dan asal usul Putra.
Putra pun dengan bersemangat bercerita, agar dirinya menjadi salah satu kandidat yang dapat di terima menjadi calon menantu di keluarga itu.
Siapa yang tidak ingin menjadi calon menantu keluarga Bapak Andra Kusuma Admaja? Seorang yang berpangkat dan memiliki seorang istri yang seorang pengusaha.
Keluarga Queen adalah keluarga terpandang dan termasuk kaya raya. Tetapi, jiwa membumi keluarga Queen juga sangat terkenal di kalangan masyarakat sekitar, keluarga serta rekan bisnis mereka.
Selama ini, bukan tidak ada yang ingin menikahi Queen. Hanya saja, masing-masing dari lelaki yang mendekati Queen, sudah merasa kecil hati duluan. Ditambah dengan Queen yang seperti tidak akan tergapai oleh mereka. Hanya laki-laki yang nekat lah yang bisa mendekati Queen.
Queen bagaikan mahkota yang sangat sulit di dapatkan. Bila ingin mahkota itu, para lelaki harus berjuang untuk mencuri perhatian Queen, serta berjuang memantaskan diri mereka di mata Queen, juga keluarganya.
__ADS_1
"Semoga, semoga ada jalan untuk kita berjodoh ya Queen..." Gumam Putra disela pembicaraan nya yang mulai terlihat akrab dengan Bunda Farah.