365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
129# Jangan pergi!


__ADS_3

Ayah Andra menyeruput kopi yang baru saja diberikan oleh anak buahnya, dengan perlahan. Lalu, matanya yang seperti seekor elang kembali menatap para anggota mafia. Seolah-olah, mereka adalah mangsa dari elang tersebut.


Lalu, Ayah Andra mengeluarkan cerutunya dan membakarnya dengan perlahan. Dan, menghembuskan asapnya ke udara. Ayah Andra pun beranjak dari duduknya dan perlahan mendekati para anggota mafia yang terlihat meringis menahan sakit. Entah apa yang dilakukan Ayah Andra, hingga mereka mau mengakui siapa dalang dan siapa boss mereka.


Ayah Andra berjongkok tepat dihadapan mereka, dan menatap mereka satu persatu. Lalu, tangan nya menepuk pelan pipi seorang anggota mafia itu.


"Jadi, Bos kalian Kuncoro?" Tanya nya seraya kembali menghembuskan asap cerutu itu ke wajah seorang mafia.


"I-i-iya Pak,"


"Yang menyuruh kalian?"


"Kami hanya menjalankan tugas Pak. Yang mengerti siapa client kami, hanya Boss kami. Itu sudah menjadi rahasia Boss Pak," Ucap Salah satu anggota mafia yang terus meringis kesakitan.


Ayah Andra terlihat tersenyum kecil, lalu ia kembali duduk di kursinya, dan mengisyaratkan seorang anggotanya mendekat dengan hanya menjentikkan jarinya.


Seorang anggota Ayah Andra pun mendekat. Lalu, Ayah Andra berbisik beberapa saat kepada anggotanya. Anggotanya mengangguk paham, dan keluar dari ruangan itu. Setelah beberapa saat, beberapa polisi dan anggotanya pun datang ke ruangan tersebut dan menghadapi Ayah Andra.


"Cokok Boss mafia mereka. Apa pun yang terjadi, mereka harus membayar atas nyawa yang melayang. Atas kebebasan anak saya yang saat ini harus trauma dengan kecelakaan teman nya. Serta, calon besan saya yang hampir saja melayang nyawanya karena mereka!"


"Siap Pak!"


"Laksanakan!" Ucap Ayah Andra seraya Kembali menatap para anggota mafia yang tertangkap tangan tersebut.


"Kalian tahu, bermain-main dengan saya, berarti kalian mencari mati," Ucap Ayah Andra seraya tersenyum dan mendekati para mafia yang sudah pasrah dengan hidupnya.


....


"Yang tadi itu Ayah tirinya Queen Bu," Ucap Raka saat sedang dalam perjalanan menuju ke kediaman mereka, yang diiringi oleh pengawalan khusus oleh pihak kepolisian.


"Iya Ibu tahu," Sahut nyonya Amara.


"Kok Ibu tahu?" Tanya Raka penasaran.


"Iya, diam-diam Ibu sudah menyelidiki siapa Queen."


Raka terdiam, ia menatap Ibunya dengan tak percaya.


"Ibu setuju kamu dengan Queen, Raka. Ibu juga bersyukur, kalau bukan karena calon mertuamu, mungkin kami sudah tidak ada di dunia ini lagi," Ucap nyonya Amara seraya terisak, mengingat betapa mencekam nya kejadian tadi siang.


Raka memeluk Ibunya dan Ayah nya dengan erat. Lalu, ia mengecup kening Ibunya yang sudah jauh lebih baik saat ini.


"Alhamdulillah Bu, Allah ingin Raka lebih lama lagi berbakti kepada Ayah dan Ayah," Ucap Raka.


"Iya nak.... Alhamdulillah..."! Ibunya Raka mengangkat wajahnya dan mengecup pipi Raka dengan lembut.

__ADS_1


"Raka, Ibu mau kamu segera menikah, sebelum ajal menjemput Ibu dan Ayah."


Raka menatap Ayah dan Ibunya. Lalu, ia mengangguk dan tersenyum.


"Ayah dan Ibu Queen juga sudah meminta Raka untuk meminang anak nya. Sebenarnya, dari dulu Raka ingin segera menikahi Queen. Cuma, mungkin inilah saatnya, minggu depan Raka berjanji akan melamar Queen. Apakah Ibu dan Ayah tidak keberatan?" Tanya Raka.


"Alhamdulillah, Tidak nak... Kami merestui. Iya kan Hon?" Tanya nyonya Amara kepada suaminya.


Ayah Raka tersenyum dan mengangguk dengan pasti.


"Alhamdulillah..." Raka tampak sangat bahagia. Tetapi, tidak semerta ia melupakan dalang dari orang yang ingin mencelakakan kedua orangtuanya. Bagaimana pun, ia bersiap untuk bekerjasama dengan Ayah Andra, untuk membongkar semua nya.


...


Queen yang baru saja sampai dirumah segera merendam tubuhnya di bathtub dengan air hangat di campur oil aroma terapi yang ia teteskan kedalam air. Sembari berendam, Queen menikmati musik klasik favoritnya, lalu ia pun memejamkan kedua matanya dan bersantai di dalam bathtub itu. Saking lelahnya, Queen pun terlelap, tanpa mampu ia tahan. Karena beberapa hari ini ia cukup stress dan memiliki jam tidur yang terbatas.


Acara pernikahan Athar lah puncak nya. Ia kini sudah dapat tidur dengan tenang, karena satu beban pikiran nya terlepas dari otak nya.


"Queen.."


Queen tersentak dan membuka kedua matanya, saat mendengar suara yang memanggil namanya. Saat itu juga Queen merasa bingung, ia seperti berada di suatu ruangan gelap, dan hanya ada cahaya dua buah lilin, yang mendekati dirinya.


Perlahan, Queen melihat Tika lah orang yang sedang mendekati dirinya. Queen menatap Tika yang berdiri dihadapannya, dengan membawa tart lengkap dengan lilin angka tiga dan nol yang sedang menyala.


"Ti-Ti-Tika?"


"Tiup dong lilinnya," Ucap Tika seraya menyodorkan tart dengan lilin yang menyala itu kehadapan Queen.


Queen tampak ragu, lalu ia menuruti apa mau Tika.


"Tika, elu..."


"Nah, gitu dong.. Happy birthday..! Selamat ya.." Ucap Tika seraya memeluk dan mengecup pipi Queen. Lalu, Tika melepaskan pelukannya dan menatap Queen dengan seksama.


"Queen, maaf ya... gue gak bisa ngasih kado. Gue gak bisa ngasih kejutan." Ucap Tika dengan wajah yang terlihat sedih.


"Ti-tidak apa Tik. Ta-tapi elu...."


"Gue punya kabar bahagia untuk elu Queen!" Potong Tika.


"Apa?" Tanya Queen masih dengan wajah yang terlihat bingung dan juga tak percaya.


"Gue hamil Queen! Gue hamil!" Pekik nya dengan wajah yang girang.


Air mata menerobos keluar dari sudut mata Queen dan terjun bebas di pipinya, tanpa mampu ia tahan.

__ADS_1


"Loh, kok nangis?" Tanya Tika dengan wajah yang bingung, seraya mengusapkan air mata Queen yang membasahi pipinya.


"Tika!" Seru Queen seraya memeluk sahabatnya itu.


"Lu kenapa?" Tanya Tika.


"Tik... maafin gue ya.."


"Lu salah apa Queen? Lu gak salah apa-apa kok sama gue. Gue yang salah sama elu, mobil lu belum gue kembalikan. Maaf ya, mau gue cuci dulu. Kotor soal nya," Ucap Tika.


"Bukan, bukan itu.. " Ucap Queen.


"Terus?" Tanya Tika.


"Gue hanya mau minta maaf, selama ini gue buka teman yang bisa elu andalkan. Gue juga banyak salah sama elu," Ucap Queen seraya menangis tersedu-sedu.


"Oh, kalau itu sih gue juga. Gue apa lagi, sering ngerepotin elu, egois dan banyak yang lain nya. Maaf ya Queen,"


"Gak apa Tik, gue kangen banget dama elu Tik..." Queen mempererat pelukannya di tubuh Tika.


"Sama, gue juga kangen."


"Selamat ya Tik, atas kehamilan elu," Ucap Queen yang semakin menangis dengan pilu.


"Terima kasih Queen." Tika tersenyum dengan manis.


"Sudah jangan nangis lagi. Lu jangan lama-lama sendiri ya Queen. Jodoh lu akan datang sebentar lagi, dia akan datang pakai kemeja putih. Lu terima ya niat baiknya. Jangan ragu lagi, jangan lu banyak pikiran dan plin-plan lagi ya Queen. Cukup sudah, jangan sia-siakan waktu. Gue juga ingin lihat lu bahagia Queen, menikah dan mengandung."


"I-i-iya Tik,"


"Ya sudah, gue belum sempat bilang sama elu, gue mau berpamitan. Gue mau pindah Queen. Gue harap, ada yang segera menemani elu, menggantikan gue Queen. Bahagia ya Queen, jangan sedih lagi," Ucap Tika seraya beranjak dari hadapan Queen.


"Tik, lu mau kemana?"


"Bye Queen, Assalamualaikum.."


"Tik.. Jangan pergi..!" Seru Queen.


Tetapi, Tika terus pergi dan menghilang di kegelapan.


"Tika!!!!!!"


Queen tersentak dan terkejut mendapati dirinya yang tertidur di dalam bathtub.


"Astaghfirullah.." Gumamnya, diiringi oleh bulu roma nya yang meremang.

__ADS_1


"Tika.." Gumam Queen dengan lirih.


__ADS_2