
Sanak saudara, kerabat, sahabat, teman, serta para tetangga sudah berkumpul untuk menyaksikan pemakaman Tika di Kota Bandung. Matahari yang mengintip malu, serta awan yang mulai menghitam pada siang hari ini, seakan turut merasakan duka yang mendalam yang dirasakan orang-orang yang mengenal Tika dengan sangat baik.
Terlihat suami Tika, Ibu dan Bapak nya yang masih kurang sehat, duduk di tepi liang lahat, sembari memeluk keranda jenazah yang masih tertutup kain berwarna hijau. Terdengar tangisan serta ratapan yang terus keluar dari bibir Ibu Tika. Sedangkan suami Tika masih diam membisu. Hanya air mata saja yang mampu menjelaskan, betapa dalam duka dan kehilangan yang telah ia rasakan. Terlebih, saat ia tahu istrinya pergi membawa calon buah hati pertama mereka, yang sebelumnya ia tidak tahu bila dirinya dan Tika, sempat memiliki janin yang tumbuh di rahim sang istri.
Queen pun masih terdiam dengan mata yang basah, di sisinya terlihat Ibu Tika yang terus memeluk keranda jenazah dimana tubuh kaku anak nya masih terbaring disana, menunggu untuk segera dikebumikan.
Bunda, Ayah, Athar dan Raka pun ikut menyaksikan betapa kehilangannya semua orang yang berada disana. Sama hal nya dengan apa yang mereka rasakan. Di sisi kiri, terlihat Adik Tika membawa sebuah bingkai foto almarhumah Tika. Di foto tersebut, wanita berusia 30 tahun itu tersenyum dan tampak sangat cantik dengan riasan yang tampak sempurna diwajahnya. Foto itu adalah foto terakhir yang dimiliki Tika. Yaitu, foto saat dirinya menikah dengan lelaki pilihan nya.
Terlihat juga Putra disana, lelaki tampan itu terlihat memakai kaca mata berwarna hitam. Untuk menyembunyikan matanya yang sembab dan tatapan duka nya. Bagaimana pun, ia sudah mengenal Tika selama kakak kandungnya memiliki hubungan spesial dengan Tika. Hingga kakak kandungnya memutuskan untuk menikahi wanita yang sangat ramah dan periang tersebut.
Tika adalah anak, saudara, ipar, istri dan juga sahabat yang memiliki tempat tersendiri bagi orang yang menyayangi dirinya. Tetapi, Tuhan lebih menyayangi Tika. Ia di panggil terlebih dahulu, mendahului orang-orang yang sangat mencintai dirinya.
Pemakaman pun dimulai, jenazah Tika di turunkan ke liang lahat. Di iringi tangis dan jeritan Ibunya yang memanggil nama Tika dengan histeris. Pun, suami Tika tampak menangis tersedu-sedu saat menurunkan jenazah istrinya kedalam liang sedalam hampir 2 meter tersebut.
Setelah jenazah Tika di tidurkan dengan sempurna menghadap ke kiblat, tanah pun mulai menimbun tumbuh nya yang sudah tidak bernyawa itu.
Kini, pandangan semua orang yang berada disana berganti dengan gundukan tanah yang terlihat masih basah. Terdengar doa dan ucapan belasungkawa untuk jenazah dan keluarga dengan silih berganti.
Setelah beberapa saat, satu persatu orang yang mengantarkan Tika ke peristirahatan terakhirnya pun membubarkan diri. Kini, tinggal keluarga dan kerabat terdekat Tika, serta Queen dan keluarganya dan juga Raka saja yang masih bertahan disana.
Bunda mendekati Ibunya Tika dan memeluknya dengan erat. Bunda menyampaikan duka nya dan rasa kehilangan nya atas sosok Tika yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Sedangkan Ayah, mendekati Bapak nya Tika yang masih harus di bantu dengan kursi roda. Dan mengucapkan belasungkawa nya atas kehilangan keluarga tersebut.
__ADS_1
Begitupun dengan Queen, Queen memeluk Ibunya Tika dan menyampaikan kehilangan dan dukanya. Queen menangis sesenggukan di pelukan Ibunya Tika.
Melihat Queen, tangisan Ibunya Tika semakin meledak. Ia memeluk Queen dengan erat. Bagaimana tidak? Melihat Queen bagaikan ia sedang melihat Tika. Queen dan Tika bagaikan saudara kembar yang ia tahu, selalu bersama-sama sejak mereka bersahabat. Hubungan antara keluarga itu pun begitu harmonis, sama hal nya hubungan Queen dan Tika.
Suami Tika pun mendekati Queen, dengan wajah memelas, ia meminta Queen bersabar untuk dirinya mampu menggantikan mobil Queen yang hancur karena Tika. Tetapi, Queen menolak bila mobil itu di ganti. Queen sudah mengikhlaskan mobil itu pergi bersama Tika. Dia tidak memikirkan mobil itu lagi. Kehilangan Tika tidak sebanding dengan kehilangan mobil yang sudah menemani dirinya sejak dua tahun yang lalu. Sedangkan Tika, sahabat yang terbaik tidak bisa dihargai dengan apa pun Termasuk dengan sebuah mobil.
Dengan wajah yang lega, suami Tika kembali memastikan bila Queen sudah mengikhlaskan mobil tersebut. Queen pun mengangguk dan berusaha menyakinkan bila dirinya tidak butuh mobil itu. Sudah cukup duka yang dirasakan suami Tika dan keluarga Tika. Dirinya tidak mau menerima apa pun untuk menggantikan mobil itu.
Terlihat dua orang ajudan Ayah Andra berjalan mendekati Ayah Andra. Lalu, salah satu dari mereka berbisik di telinga Ayah Andra. Lalu, Ayah Andra tampak mengangguk paham dan memohon untuk undur diri dari pemakaman itu lebih dahulu, karena ada urusan yang harus ia laksanakan.
Lalu, Ayah Andra pun berpamitan kepada Bunda yang masih mau bertahan disana bersama Queen.
"Bun, Ayah ada urusan, Bunda sama Athar, Queen dan Raka pulang bersama-sama ya. Ayah duluan," Ucap Ayah Andra.
"Gampang, aku di jemput sama anak buah ku." Sahut Ayah.
"Ya sudah, nanti malam pulang gak?" Tanya Bunda lagi.
"Pulang, tunggu aku dirumah ya. Paling lama aku pulang pukul sepuluh malam."
"Ya sudah, hati-hati ya.." Ucap Bunda seraya mengecup punggung tangan Ayah.
__ADS_1
"Kamu juga," Ucap Ayah, lalu ia mengecup kening Bunda dengan lembut. Tak lupa, Ayah juga berpamitan dengan keluarga Tika dan semua orang yang berada disana. Lalu, dengan gagah ia meninggalkan komplek pemakaman tersebut.
"Ayah mau kemana Bun?" Tanya Queen.
"Bunda gak tahu," Sahut Bunda dengan setengah berbisik.
Lalu, mereka pun ikut pulang bersama dengan keluarga Tika. Melaksanakan pengajian bersama sebelum mereka kembali ke Jakarta nanti sore.
Terlihat sebuah mobil hitam mengiringi mobil Yang di tumpangi Bunda dan Athar.
Sedangkan satu mobil berwarna senada pun mengiringi mobil Raka, dimana ada Queen yang menumpangi mobil kekasihnya itu.
Mobil itu adalah mobil pengawalan khusus yang diberikan oleh Ayah Andra untuk anak dan istrinya. Queen sempat merasa bingung, karena tidak biasanya Ayah Andra memberikan pengawalan untuk dirinya dan Bunda. Pengawalan hanya di berikan Ayah, apa bila dalam keadaan darurat saja. Bahkan, Ayah sendiri pun tidak mau di kawal. Ayah lebih sering menyetir sendiri bersama Bunda yang duduk disampingnya. Tetapi, tidak dengan hari ini. Ayah begitu tampak tegang dan matanya terus mengawasi apa saja dan menatap siapa saja selama perjalanan mereka ke Bandung sampai di pemakaman tersebut.
Tampaknya, Ayah sedang mencurigai sesuatu. Setelah ia berbincang dengan petugas polisi dan medis yang menangani kasus kecelakaan Tika. Dan hari ini, ia berniat akan mampir ke kantor polisi yang berjanji akan merilis rekaman CCTV di sekitar jalur yang Tika lintasi saat terjadinya kecelakaan nahas tersebut.
Kecurigaan Ayah Andra semakin di dukung oleh keterangan para saksi yang di mintai keterangan oleh petugas kepolisian di tempat kejadian perkara. Rata-rata dari mereka, mengatakan bila mobil nahas itu di kejar oleh mobil berwarna hitam dengan kaca yang hitam gelap. Hanya saja, mereka tidak begitu memperhatikan nomor kendaraan mobil yang mengejar mobil Queen. Karena laju mobil itu terlalu cepat, begitupun dengan mobil yang dikendarai oleh Tika.
Ayah mulai merasa curiga, bila pengendara mobil tersebut salah sasaran. Sebenarnya target mereka adalah anak nya, Queen. Tetapi, nasib buruk bagi Tika yang kebetulan meminjam mobil sahabatnya itu. Maka, nyawa Tika lah yang melayang. Tidak terbayangkan bagi Ayah Andra, bila saat itu benar-benar Queen yang sedang mengendarai mobil nahas itu. Mungkin, hari ini dirinyalah yang akan menangis fi pusara Queen, anak yang sangat ia cintai.
Ayah tidak mau kehilangan siapa pun dari hidupnya kecuali memang ketentuan Allah. Tetapi, bila harus kehilangan karena dirinya lengah melindungi keluarganya, Ayah pasti akan sangat menyesal.
__ADS_1
"Aku akan mengusut ini dengan tuntas!" Tekat Ayah saat mobilnya melaju menuju ke Cikampek.