365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
144# Bersahabat


__ADS_3

Entah apa maksud dari Tasya menemui Queen. Yang jelas, mereka berdua kini sedang dalam perjalanan mereka menuju ke sebuah cafe, untuk berbincang dan bersantai sejenak.


"Anak ganteng gak diajak?" Tanya Queen sambil melirik Tasya yang menumpang di mobilnya.


Tasya melirik Queen dan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Queen lagi.


"Dia sedang sekolah," Ucap Tasya.


"Oh..." Queen mengangguk dan tersenyum paham.


Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di sebuah cafe. Tasya dan Queen pun turun dari mobil dan beranjak memasuki cafe tersebut.


Queen dan Tasya memesan kopi Americano dan beberapa snack untuk mereka nikmati bersama. Dan kini, mereka berdua pun sudah duduk berhadapan, disalah satu meja yang terletak di tengah cafe itu.


"Bagaimana kamu?" Tanya Tasya, memulai pembicaraan nya dengan Queen.


"Ya... begini-begini saja, yang penting disyukuri." Sahut Queen.


"Sudah memiliki kekasih?" Tanya Tasya lagi.


Queen tersenyum dan mengangkat tangan nya.


Tasya terbelalak dan meraih tangan Queen.


"Cincin!" Serunya.


Queen pun tertawa lebar.


"Kamu sudah bertunangan?"


Queen mengangguk dengan bersemangat.


"Selamat ya...." Tasya beranjak dari duduknya dan memeluk Queen yang masih duduk di bangkunya.


Queen terdiam. Entah mengapa, mendadak hatinya merasa sedih. Tasya begitu bahagia mendengar dirinya sudah bertunangan. Bila Tika masih hidup, Tika juga pasti akan seperti Tasya. Memeluknya dan memberikan selamat untuk dirinya. Sayangnya, Tika sudah tiada dan belum sempat melihat Queen bertunangan dengan Raka.


"Terima kasih," Ucap Queen.


Tasya kembali duduk di bangkunya dan menatap Queen dengan mata yang berbinar.


"Siapa namanya? Orang mana?" Tanya Tasya yang terlihat sangat antusias.


"Dia orang Jakarta, namanya Raka," Ucap Queen sekenanya.


"Wah...! Kalau menikah, undang aku ya.."

__ADS_1


Queen menatap wajah Tasya. Terbayang wajah Tika disana. Seolah-olah, Tika lah yang sedang berbicara kepada dirinya.


Queen mengangguk dan tersenyum.


"Iya, pasti aku undang. Asal kamu memberikan alamat rumah mu sekarang," Ucap Queen.


"Pasti! Janji ya...."


Queen kembali mengangguk, mencoba meyakinkan Tasya.


Tiba-tiba saja, air mata Queen terjatuh tanpa bisa ia bendung. Ia sangat merindukan Tika.


"Kenapa menangis Queen?" Tanya Tasya yang tersadar Queen menangis.


"Tidak apa-apa," Sahut Queen seraya menghapus air matanya.


"Kenapa? Cerita saja sama aku," Ucap Tasya dengan lembut.


Queen kembali menatap Tasya dengan seksama. Air matanya kembali terjatuh.


"Maaf," Sahut Queen seraya kembali menghapus air matanya dan berusaha tersenyum kepada Tasya.


"Queen, ada apa?"


Queen menelan salivanya dan menatap Tasya dengan mata yang sendu.


Tasya menatap Queen dengan sorot mata yang iba. Ia turut merasakan duka yang sedang Queen rasakan.


"Turut berdukacita ya," Ucap Tasya seraya menggenggam tangan Queen.


Queen mengangguk dan mencoba tersenyum.


"Jadi, bagaimana ceritamu?" Tanya Queen yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ah, ceritaku.. ya... begini saja. Aku mengajukan permohonan cerai saat kejadian itu, dan baru putus satu bulan yang lalu. Sempat alot sih, masalah anak. Karena aku menghadapi Ibunya Antoni yang mau mengasuh anak ku."


"Terus?" Tanya Queen penasaran.


"Ya tentu tidak aku kasih dong. Bagaimanapun, anak lebih baik dengan Ibunya. Walaupun aku terpaksa harus bekerja, aku masih bisa tanggung jawab dengan statusku sebagai seorang Ibu." Ujar Tasya.


"Aku setuju," Ucap Queen.


Tasya tersenyum mendengar ucapan Queen.


"Kapan-kapan aku akan mengajak anak ku, untuk bertemu denganmu,"


"Good idea," Sahut Queen seraya tersenyum.

__ADS_1


Mereka pun meraih gelas kopi mereka dan menyeruput kopi pesanan mereka yang baru saja di hidangkan di meja itu.


"Sekarang kamu kerja dimana?" Tanya Queen, seraya menaruh gelas kopinya kembali ke atas meja.


"Aku bekerja disebuah yayasan. Yah, setidaknya pekerjaan nya santai dan bisa menghasilkan uang. Dan, aku juga mencoba membuka minimarket, yang rencananya akan ku buka juga di Kampung ku,"


"Sangat bagus sekali," Ucap Queen dengan wajah yang antusias.


"Terima kasih ya," Ucap Tasya seraya tertawa lebar. Ia merasa sangat cocok berbincang dengan Queen yang merupakan wanita pebisnis juga.


"Sepertinya kita akan cocok,"


Queen menatap Tasya dan mengulum senyumnya.


"Queen, aku tahu, tidak akan ada yang bisa menggantikan sahabat mu. Tetapi, aku siap untuk menjadi sahabat barumu. Aku tidak mempunyai maksud apa pun, aku hanya ingin dekat dengan teman yang berkualitas seperti dirimu. Bila kamu berkenan, bisakah kita menjadi sahabat?"


Queen terdiam, dan terus menatap kedua manik mata Tasya yang tampak hitam legam bagaikan mutiara hitam.


Tasya adalah wanita yang baik, berpikiran positif. Bahkan, saat dia menghadapi suaminya yang masih tergila-gila dengan Queen pun, pikiran nya masih bisa dikendalikan kearah yang positif.


Tasya juga orang yang sangat mudah tersenyum dan mengekspresikan rasa bahagianya, tampa berpura-pura. Tasya juga orang yang terlihat sederhana walaupun dirinya orang yang mampu, karena ia merupakan masih saudara dari Antoni. Hidup Tasya tidak ada drama sedikitpun. Wanita itu hidup dengan apa adanya, dan menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.


"Apakah aku tidak salah dengar?" ucap Queen.


Tasya terdiam, ia mulai merasa dirinya terlalu cepat mendekatkan diri dengan Queen.


"Maksudnya?" Tanya Tasya.


"Apakah aku tidak salah dengar, wanita sebaik kamu menawarkan untuk menjadi sahabatku? Apakah aku bermimpi?" Ucap Queen lagi.


Tasya menghela nafas lega dan menggenggam kedua tangan Queen.


"Kamu terlalu menyanjung aku, kita sama.. kita wanita-wanita yang membutuhkan teman yang berkualitas. Teman yang memiliki pikiran yang optimis dan positif. Aku mendapatkan nya di dirimu Queen. Aku sangat jarang bisa dekat dengan orang lain dengan instan. Tetapi, denganmu aku bisa merasa nyaman," Terang Tasya.


Queen tersenyum, hatinya tersentuh dan ia pun membalas genggaman tangan Tasya.


"Mari kita bersahabat," Ucap Queen seraya tersenyum lebar.


Sejak saat ini dan seterusnya, Tasya dan Queen mulai bersahabat. Mereka sering berbagi cerita, berbagi solusi dan segala yang bisa mereka pecahkan dengan bersama-sama. Bukan niat Queen menggantikan Tika. Hanya saja, hidup akan terus berjalan. Kita membutuhkan tempat untuk berbagi cerita, setelah bercerita dengan Tuhan. Memiliki teman yang bisa dipercaya, walaupun satu orang, namun lebih berharga dari pada memiliki teman yang banyak, namun sering menertawakan dan membicarakan tentang kita di belakang.


Bertemanlah dengan orang-orang positif. Maka, orang-orang yang selalu mengajak kita kedalam kebaikan. Yang tidak egois, yang hanya ingin didengar, namun tidak mau mendengar.


Sejak saat itu juga, Queen lebih sering bertemu dengan Tasya. Sering bermain dengan anak Tasya yang juga Anak dari mantan kekasihnya, Antoni.


..


Tidak ada yang perlu di benci dari mantan nya pasangan kita, ataupun yang sedang bersanding dengan mantan pasangan kita. Siapa pun berhak melanjutkan hidupnya. Karena, bila memang dia yang terbaik, dia tidak akan pernah menjadi mantan pasangan. -de'rini-

__ADS_1


__ADS_2