365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
31# Tentang apa yang ada di hati


__ADS_3

The Dongdaemun Design Plaza, merupakan landmark utama di Kota Seoul. Queen yang kini membuka boutique, sangat antusias untuk menyambangi bangunan dengan desain futuristik khas neo itu. Karena The Dongdaemun Design Plaza adalah pusat jaringan fashion Korea Selatan dan tujuan wisata populer yang tidak akan dilewatkan oleh para wisatawan.


Queen dan Raka yang tidak berbicara apa pun selama perjalanan ke The Dongdaemun Design Plaza, pun turun dari taksi yang mereka tumpangi bersama dengan Tika.


Queen terperangah saat melihat desain unik dari gedung yang dirancang oleh arsitek muslim ternama dunia keturunan Irak, yang bernama Zaha Hadid serta Samoo Architect & Engineers. Bangunan unik yang menyerupai UFO ini terlihat sangat menonjol di tengah-tengah kawasan perbelanjaan Dongdaemun. Itulah mengapa, saat gedung itu diresmikan, langsung menjadi perhatian para wisatawan dunia serta wisatawan lokal.


Mengabadikan momen, tidak akan pernah dilewatkan oleh mereka bertiga. Baru saja sampai di pelataran gedung itu, mereka langsung bergegas wefie dengan kamera ponsel milik Tika dan Raka.


Setelah puas menikmati uniknya gedung tersebut, mereka pun masuk ke dalam gedung itu. Mereka pun disambut dengan pemandangan yang luar biasa, serta hal-hal yang tidak akan mereka bisa temukan di tanah air.


Queen terlihat antusias saat melihat pameran fashion dan berbagai macam produk yang di tawarkan di Plaza tersebut. Ia mencoba menyerap ilmu baru yang akan ia kembangkan pada design usaha boutique nya.


Sementara Queen yang sibuk sendiri, Raka dan Tika berjalan bersama, sambil sesekali mengabaikan apa yang menurut mereka unik, mereka pun kerap berbincang tentang apa saja. Termasuk masalah Queen yang memang sangat mengusik hati Raka.


"Jadi, kenapa elu masih single?" Tanya Tika saat Raka baru saja memotret sebuah patung di gedung tersebut.


Raka pun menatap Tika dan tersenyum kecil.


"Tuhan belum mengizinkan gue nikah atau punya pasangan. Mau gimana lagi?"


"Bukan mengizinkan tidak punya pasangan kali, gue rasa banyak cewek yang mau sama elu. Mungkin elu yang terlalu memilih-milih."


Raka mengulum senyumnya dan bersandar di dinding gedung itu.


"Tik, sebenarnya aku dan Queen sama-sama mengalami cinta yang tidak beruntung, hingga sangat sulit membuka hati. Tetapi, gak tahu mengapa, hati ku mulai terbuka saat aku pertama kali bertemu dengan Queen." Terang Raka.


"Memang lu kenapa? Emang nya masih ada cewek yang menyia-nyiakan laki-laki ganteng kayak elu gini? Buta kali itu cewek," Ucap Tika.


Raka tertunduk dan menoleh ke arah Queen yang sedang asik dengan dunia nya sendiri. Lalu, ia kembali menatap Tika dengan seksama.


"Kamu suka dunia olahraga?" Tanya Raka.


Tika mengangguk dengan ragu dan membalas tatapan Raka dengan seksama.


"Kalau begitu, kamu tahu Naysilla? Seorang atlet selancar?" Tanya Raka lagi.

__ADS_1


Tika berpikir sejenak, ia seperti mengingat-ingat siapa Naysilla.


"Kayak nya gue pernah dengar, eh... dia atlet yang bunuh diri bukan sih? Yang frustasi gara-gara kakinya di amputasi?" Tanya Tika dengan wajah yang polos.


Raka tersenyum kecut dan mengangguk dengan perlahan.


"Nah kan benar, kenapa dengan dia? Bukan nya dia sudah dua tahun meninggal dunia? Atau jangan-jangan....."


Tika menghentikan ucapan nya dan membulatkan matanya.


"Ya.." Sahut Raka.


"Oh no..." Tika menutup mulutnya, ia menyadari bila kisah cinta tragis Raka adalah Naysilla, seorang atlet wanita yang bunuh diri. Berita tentang Naysilla menjadi highlight di berbagai media elektronik dan cetak, saat gadis itu di temukan oleh orang tuanya sendiri di kamarnya dengan keadaan meninggal dunia dengan mengiris nadi di pergelangan tangannya menggunakan sebuah silet.


Kisah Naysilla yang gempar dua tahun lalu, karena kisah nya yang tidak beruntung dan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Sempat di ikuti oleh Tika yang memang suka mengikuti berita di media elektronik. Lagi pula siapa yang tidak mengenal Naysilla? Gadis berprestasi itu sempat beberapakali kali menyabet mendali emas di beberapa pertandingan yang ia ikuti. Tidak hanya masalah prestasi, Naysilla juga memiliki paras yang begitu menarik, hingga membuat dirinya bak bintang di dunia olahraga yang ia geluti.


"Dunia ku hancur saat kehilangan dia. Aku dan dia berencana menikah, walaupun...." Raka tercekat, matanya mulai berkaca-kaca.


"Walaupun?" Tanya Tika yang terlihat penasaran.


"Walaupun dia tidak lagi sempurna,"


"Berapa tahun lu dengan dia?" Tanya Tika.


"Empat tahun dan berakhir setelah dia tiada," Ucap Raka.


"Turut berdukacita ya," Tika terlihat hanyut dalam cerita Raka.


Raka mengangguk dan tersenyum tipis, mereka pun berjalan menyusuri bagian gedung yang belum mereka jelajahi.


"Terus? Kalau memang lu menerima dia apa adanya, mengapa dia mengakhiri hidupnya?" Tanya Tika lagi.


"Hmmm," Raka menghentikan langkah kakinya dan menatap Tika dengan seksama.


"Kisah ku dan Queen tidak berbeda, orang tua lah yang menjadi penyebab perpisahan kami,"

__ADS_1


Tika menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia tidak menyangka banyak sekali kisah cinta yang gagal karena campur tangan orang tua.


"Kalian ngobrolin apa?" Tanya Queen yang merasa sudah puas dengan eksplor nya di gedung itu.


Raka dan Tika menatap Queen yang baru saja menghampiri mereka berdua.


"Ah, enggak, hanya membicarakan tentang unik nya gedung ini," Ucap Raka dengan salah tingkah.


Queen menatap Tika yang juga tampak salah tingkah.


"Yakin hanya membicarakan gedung?" Tanya Queen.


"Iya," Sahut Tika sekenanya, lalu ia berjalan meninggalkan Queen dan Raka.


"Belanja apa?" Tanya Raka sambil melirik beberapa paper bag yang sedang Queen tenteng.


"Ah, hanya beberapa pakaian saja," Ucap Queen.


"Sudah?" Tanya Raka lagi.


"Sudah, kembali ke hotel yuk..."


"Ayo.." Ucap Raka sambil meraih tangan Queen.


"Ah, Raka.." Queen menarik kembali tangan nya dan menatap Raka dengan tatapan yang terlihat serius.


"Ya?"


"Kita bisa jalan masing-masing kan? Tidak perlu bergandengan tangan." Tegas Queen.


Raka terlihat salah tingkah dan mengangguk dengan pelan.


"Terima kasih Raka," Ucap Queen. Lalu, gadis itu berjalan mendahului Raka dan menyusul Tika yang sudah terlebih dahulu berjalan ke arah pintu keluar gedung itu.


Dengan tatapan hampa, Raka menatap punggung Queen yang berjalan di depannya. Ia mengusap dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


"Queen, aku paham rasa sakit yang kamu rasakan. Aku pun pernah di posisi kamu yang merasa kehilangan orang yang dicintai, begitu saja. Tetapi, aku rasa sudah saatnya kita melangkah kedepan. Bukan melupakan masa lalu, tetapi lebih menyimpan masa lalu di hati masing-masing. Life must goon... kita harus melangkah maju, waktu terus berjalan tanpa bisa bertoleransi. Hati pun mulai merasa butuh untuk di isi oleh cinta yang baru. Queen... open you heart... lihat aku... aku disini untuk mu..." Batin Raka.


Lelaki itu terus berjalan di belakang Queen. Hatinya terus bergumam tentang apa yang saat ini sangat ingin ia ungkapkan kepada Queen. Tetapi, ia tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan apa yang ada di benak nya saat ini. Semua terasa begitu terbatas, karena Queen tidak sama sekali memberikan dirinya kesempatan apa pun itu. Terutama berbicara tentang hati.


__ADS_2