
Suara tangisan Jonathan, membuat Raka tersentak dari tidurnya. Lelaki itu hampir saja melompat dari sofa dan menatap ke sekeliling nya.
Tampak Jonathan yang sedang diberikan suntikan oleh seorang perawat. Raka pun bergegas melirik arlojinya. Jarum jam menunjukan pukul delapan pagi. Raka mengusap kedua matanya yang masih mengantuk. Lalu, ia beranjak mendekati Jonathan.
Saat ia mendekat, Jonathan terlihat takut kepada dirinya. Tampaknya bocah itu merasa trauma melihat sikap Raka tadi malam kepada Maminya.
Lala yang duduk disamping Jonatan, memeluk erat bocah itu untuk menenangkan Jonathan agar berhenti menangis. Raka mengurungkan niatnya untuk menghampiri Jonathan. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Raka membuka kancing kemejanya hingga sebatas dada. Ia pun membasuh wajah nya yang terlihat lusuh karena baru saja bangun tidur.
Jonathan sudah berhenti menangis, saat Raka kembali menemui bocah itu. Melihat Raka yang baru saja muncul, tangan Jonathan terlihat gemetar. Saat itu juga Raka merasa bersalah dengan bocah itu.
Raka mendekati Jonathan dan meraih tangan mungil anak kandungnya dari wanita masa lalunya itu. Dengan cepat, Jonathan menarik tangan nya dan menyembunyikan wajah nya di dada Lala.
Lala menghela nafas panjang dan membelai rambut Jonathan dengan lembut. Lalu, ia menatap Raka yang tampak merasa bersalah.
"Jo, Mami dengan Papi tidak bertengkar kok semalam. Iya kan Papi?"
Raka terlihat canggung saat Lala memanggil dirinya dengan sebutan Papi di depan anak mereka.
"Papi itu, sayang sekali dengan Mami dan Jonathan. Jadi, semalam, kami hanya salah paham saja. Kami tidak bertengkar kok. Papi itu orang baik,"
Mendengar ucapan Lala, Jonathan mengangkat wajahnya dan menatap Lala dengan seksama. Ia mencoba mencari kejujuran dimata Maminya itu.
Lala tersenyum dan mengecup kening Jonathan. Lalu, Jonathan pun melirik Raka yang diam mematung karena penolakan dari dirinya.
"Terus, kenapa Papi menarik tangan Mami dengan kasar semalam?" Tanya Jonathan dengan wajah yang polos.
Raka menghela nafas panjang dan duduk di tepi ranjang Jonathan.
"Semalam, Papi terburu-buru untuk memberitahukan sama Mami, bila Papi akan membantu Jonathan untuk sembuh," Ucap Raka seraya tersenyum manis kepada Jonathan.
Jonathan melepaskan pelukannya dari tubuh Lala dan menundukkan pandangan.
"Papi, Jonathan gak usah di sembuhkan. Jonathan rasa, Jonathan mau ke surga saja menyusul Opa."
Opa yang dimaksud oleh Jonathan adalah, Ayah dari Lala.
Jonathan dan Opa nya sangat dekat sekali. Sayangnya beberapa bulan yang lalu, Opa Jonathan sudah berpulang ke Rahmatullah. Karena penyakit jantung.
Raka melirik Lala yang ikut tertunduk sedih. Air mata menggenang di pelupuk mata Raka.
"Nak, jangan menyerah. Ada Papi dan Mami disini," Ucap Raka dengan ujung suara yang tercekat.
"Selamat pagi, Bapak Raka."
__ADS_1
Raka menoleh dan menatap seorang suster yang berdiri di ambang pintu ruangan itu.
"Ya sus," Raka beranjak dan menghampiri suster yang terlihat ramah itu.
"Bisa ikut sebentar? Hasil test Bapak, sudah keluar. Dokter ingin berbicara dengan Bapak Raka."
Raka terlihat antusias, ia pun mengangguk dengan cepat.
"Sebentar ya sus," Ucap Raka yang beranjak kembali menemui Jonathan.
"Jo, ini kesempatan Papi untuk menebus segala waktu yang terbuang diantara kita. Doakan ya, semoga hasil test Papi cocok dengan Jonathan."
"Test apa Pi?" Tanya Jonathan dengan wajah yang polos, ia tidak mengerti apa maksud dari perkataan Raka.
"Pokoknya doakan Papi, agar bisa menjadi superhero nya Jonathan."
Raka tersenyum dan mengecup puncak kepala Jonathan. Lalu, ia bergegas untuk menemui dokter yang menangani Jonathan. Sedangkan Lala terlihat cemas dan menatap Raka dengan penuh harapan. Ia sangat berharap hasil test kesehatan dan sumsum tulang belakang Raka, cocok dengan Jonathan. Dengan begitu, Jonathan akan selamat dan dirinya pun bisa bersama lagi dengan Raka.
Lala cukup percaya diri, dengan adanya Jonathan, ia bisa kembali dengan Raka. Terlebih, saat ia tahu nyonya Amara sudah meminta Queen untuk menjauh dari Raka.
Lala tahu betul, Raka adalah anak yang penurut. Ia tahu betul, Raka akan meninggalkan Queen dan menikahi dirinya. Maka dengan begitu, ia akan merasakan kebahagiaan dan impian masa lalunya akan terwujud dengan kesempatan ini.
Impian Lala dahulu adalah, dapat menikah dan hidup bersama dengan Raka secara resmi. Ia sudah berandai-andai akan memiliki anak yang banyak dengan Raka.
Raka yang sedang terkantuk-kantuk karena baru saja melakukan nya dengan Lala pun menatap Lala dengan seksama. Lalu, ia memeluk tubuh Lala dengan erat.
"Aku mau punya anak enam orang." Sahut nya dengan wajah yang berpeluh dan letih.
"Banyak sekali!" Seru Lala sambil tertawa geli.
"Ya, karena aku anak satu-satunya. Menjadi anak satu-satunya itu tidak enak. Maka, aku mau kita punya enam orang anak,"
Lala tersenyum dan membalas pelukan Raka. Kulit mereka pun melekat dalam kehangatan dari balik selimut berwarna putih pada malam itu.
"Hmmm, baiklah. Aku akan memberikan kamu enam orang anak," Ucap Lala.
Terlihat senyum bahagia dari wajah Raka. Lalu, ia mengecup puncak kepala Lala yang terbenam di dada bidang nya.
"Aku cinta banget sama kamu. Tetaplah bersama dengan ku ya," Bisik Raka.
..
Raka melangkah masuk keruangan dokter. Terlihat yang sudah menunggu Raka, beranjak dari duduk nya dan mempersilahkan Raka untuk duduk kursi yang berada tepat di depan mejanya.
Raka pun melangkah dan tersenyum, lalu ia duduk di bangku itu.
__ADS_1
"Bagaimana dok," Tanya Raka dengan wajah yang tampak antusias.
Dokter itu tersenyum dan mengeluarkan amplop yang tampak masih disegel oleh pihak yang memeriksa kesehatan Raka secara keseluruhan dan kecocokan sumsum tulang belakang milik Raka.
"Ini hasilnya Pak. Laporan ini masih di segel ya, Bapak bisa lihat." Dokter itu menunjukkan segel dari amplop tersebut.
Raka sudah tidak mempedulikan nya, ia langsung mengangguk dan berharap untuk segera di bacakan saja.
"Baik Pak, mari kita lihat hasilnya."
Dengan dada yang berdebar, Raka menanti hasil dari test yang telah ia lakukan beberapa hari yang lalu. Ia benar-benar tidak sabar dan ingin Jonathan segera sembuh.
Dokter itu merobek amplop laporan itu dan mulai mengamatinya.
Terlihat wajah serius dari dokter itu. Lalu dokter itu menatap Raka dengan wajah yang bisa di tebak dengan Raka.
"Apakah hasilnya tidak sesuai dok?" Tanya Raka tanpa berbasa basi lagi.
"Menurut laporan, sumsum tulang belakang Bapak, tidak cocok dengan anak Bapak. Tetapi, kami masih berusaha mencarikan pendonor untuk Jonathan."
Deggggg...!
Harapan Raka hancur berkeping-keping dengan seketika. Kemungkinan terburuk pun langsung terlintas. Mengingat keadaan Jonathan yang semakin melemah.
"Apa kesempatan itu masih ada?" Tanya Raka dengan air mata yang menetes di pipinya.
Dokter itu menghela nafas panjang. Ia menatap Raka dengan seksama.
"Ada kalau dalam waktu tiga hari ini mendapatkan pendonor Pak."
Raka terdiam membisu. Ia terisak menahan perihnya bayangan akan berpisah dengan buah hatinya yang baru saja bertemu dengan dirinya.
"Saya mohon Pak, temukan secepatnya. Apa pun saya lakukan demi anak saya dok. Saya baru saja merasakan memiliki anak. Saya baru saja bertemu dengan anak saya. Selama ini saya tidak tahu keberadaan nya. Benar-benar saya ini orang tua yang tidak berguna. Saya punya anak kandung dan saya tidak menyadarinya. Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan Jonathan. Tolong lah, lakukan yang terbaik dok. Apa pun itu dok!" Raka terlihat panik dan histeris.
Dokter pun berusaha untuk menenangkan lelaki itu.
"Pak, saat ini yang hanya bisa kita lakukan adalah, memohon kemurahan hati Yang Maha Kuasa. Karena Tuhan adalah kunci dari semuanya. Tuhan Maha mengabulkan dan juga Maha tahu apa yang terbaik untuk umatnya."
Ucapan dokter itu membuat Raka terdiam. Ia sadar, sudah lama ia begitu jauh dari Tuhan. Sudah lama ia bertindak sesuka hatinya, seakan ia tidak ingat bila hidup ini milik sang pencipta.
Sudah lama, Raka tidak menginjak rumah ibadah dan memohon segala urusan nya dilancarkan. Sudah lama... saat ia lepas kendali di Boston, saat ia ikut menjalani kehidupan seperti tidak bertuhan.
"Ya Allah... astaghfirullah.."
"Hanya kepada-Mu (Allah) kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan" (Q. S. Al-fatihah : 5)
__ADS_1