365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
94# Kunjungan kedua Putra


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Ayah Andra tiba di rumah. Mobil sedan itu, memasuki halaman rumah dan berhenti di parkiran mobil disamping rumah. Bunda turun dengan tergesa-gesa, karena ia hendak pergi ke kamar kecil. Bunda menjinjing kain yang menutupi tubuh bagian bawah hingga selutut. Ayah melihat tingkah laku istrinya itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan gerbang rumah mereka. Ayah yang hendak beranjak masuk kedalam rumah, menghentikan langkahnya dan menatap mobil tersebut. Terlihat seorang pemuda yang seperti tidak asing lagi baginya keluar dari mobil itu dan mendekati pos satpam. Terlihat pemuda itu berbincang dengan Rosidi, satpam rumah Ayah Andra.


Tak lama kemudian, Rosidi berlari mendekati Ayah Andra dan mengatakan bila pemuda itu ingin bertemu dengan Queen.


Ayah Andra menghela nafas panjang dan memperhatikan pemuda yang tersenyum dari kejauhan kepada dirinya.


"Ya sudah, suruh dia masuk," Pinta Ayah kepada Rosidi.


Rosidi pun kembali ke pos nya dan mengizinkan pemuda itu untuk masuk menemui Ayah Andra.


Mobil sedan berwarna hitam itu pun masuk ke halaman rumah tersebut dan berhenti tepat di belakang mobil sedan milik Ayah. Pemuda itu pun keluar dan tersenyum menghampiri Ayah.


"Assalamualaikum, apa kabar Pak," Tanya nya seraya menjabat tangan Ayah Andra.


"Alhamdulillah, baik."


"Bapak masih ingat dengan saya kan Pak? Saya Putra, adik ipar nya Tika. Kita bertemu di pesta pernikahan Tika dan A'a saya." Terang lelaki itu.


Ayah Andra mengangguk-angguk dan mempersilahkan lelaki itu untuk duduk di bangku teras rumahnya.


Putra sempat merasa bingung, mengapa ia tidak dipersilahkan untuk masuk, melainkan hanya di sambut di teras saja.


"Ya, saya ingat. Ada keperluan apa nak Putra datang kesini? Dan, tahu dari mana alamat rumah saya?"Tanya Ayah Andra dengan ekspresi yang datar.


"Hmmm, saya mau bersilaturahmi dengan Bapak, Bunda dan Queen. Dan... saya tahu alamat rumah Bapak, dari ipar saya Tika." Terang Putra.


"Terima kasih sudah bersilaturahmi ke sini. Tetapi, Queen nya tidak ada. Dia masih di luar negeri." Tegas Ayah Andra.


"Pulang nya kapan ya Pak?"


"Saya tidak tahu.." Sahut Ayah Andra.


"Oh begitu... oh iya Pak, saya sudah membicarakan kepada Bunda bila saya bermaksud....."


"Bundaaaaa.... tolong ambilkan pistol Ayah yang ada di tali pinggang saku celana yang kemarin Ayah pakai..!" Seru Ayah Andra seraya menoleh kedalam rumah nya.


Mendadak, dengkul Putra gemetar dan wajahnya terlihat pucat.


"Iya Ayah..." Bunda yang baru saja berganti pakaiannya beranjak keluar dari kamarnya dan menemui Ayah yang duduk di teras.


Saat itu juga Bunda terkejut saat melihat Putra yang kembali datang kerumahnya.


"Putra.." Sapa Bunda seraya tersenyum ramah.


"Mana pistol Ayah Bun? Tadi kan Ayah minta. Ayah mau berangkat lagi," Ucap Ayah seraya mengedipkan matanya kepada Bunda.


Bunda mengerutkan keningnya dan menatap Ayah dengan wajah yang bingung.


"Hmmm, sepertinya saya akan kembali dilain waktu saja. Bapak mau berangkat kerja kan Pak?"


"Iya, saya sudah di tunggu oleh pasukan saya di markas," Ucap Ayah Andra.


"Sa-sa-saya permisi dulu kalau begitu Pak, Bun," Ucap Putra seraya mencium tangan Ayah dan Bunda.

__ADS_1


"Loh, kok buru-buru Put?" Tanya Bunda masih dengan ekspresi wajah yang bingung.


"Tidak apa-apa Bun, saya ingat hari ini saya ada janji dengan A'a saya di Kemang."


"Oh, begitu... hati-hati ya.." Ucap Bunda seraya tersenyum.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam," Sahut Ayah dan Bunda.


Tanpa menunggu lama, Putra langsung beranjak masuk kedalam mobilnya dan tancap gas meninggalkan kediaman Ayah Andra.


"Kamu ini ya.. Kasihan anak orang masa di kerjain begitu?" Ucap Bunda seraya mengerutkan keningnya.


"Iseng Bun," Sahut Ayah seraya terkekeh geli.


"Dia ketakutan loh, tangan nya berkeringat dan gemetar. Kamu mah orang nya jahil banget!"


"Hahahah... dari situ kita bisa tahu, seberapa besar tekadnya untuk mendapatkan anak kita Bun." Terang Ayah.


"Ya mau tekat nya besar atau tidak, kan bila mendengar pistol ya gemetar lah yah!"


"Hahaha, tapi jadi komedi kan lihat nya?" Ucap Ayah yang terus tertawa mengingat ekspresi wajah Putra.


"Dasar! Ya sudah sana berangkat, nanti telat loh," Bunda merapikan dan mengecup pipi Ayah yang siap untuk berangkat lagi.


"Iya... baik-baik dirumah ya istriku sayang. Bidadari ku, cinta ku.. soleha ku," Ucap Ayah dan mengecup lembut kening Bunda dengan lembut dan sepenuh hatinya.


Bunda memejamkan matanya, merasakan nikmat cinta kasih yang sedang suaminya berikan itu.


"Iya sayang, Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.." Sahut bunda.


Bunda hanya menggelengkan kepalanya saat mobil Ayah beranjak meninggalkan rumah. Ia pun menutup pintu dan tersenyum geli.


"Ampunnnn dah kerjaan laki gue. Galak banget kalau ada yang mendekati Queen. Mana ada orang yang tidak gemetar kalau di gituin! Ck!" Gumam Bunda seraya melangkah ke ruang keluarga.


...


Queen terduduk lemas, di tepi ranjang nya. Di depan nya, Raka sedang membuatkan secangkir teh untuk Queen. Queen kembali akan muntah, namun dengan sigap Raka berjongkok di sisinya dan menampung dengan pelastik bekas belanjaan mereka di minimarket saat dalam perjalanan kembali ke hotel.


Queen tidak jadi muntah, rasa mual nya hilang begitu saja. Ia menatap lelaki yang berjongkok di sisinya dengan seksama.


"Tidak jadi?" Tanya Raka seraya mendongak dan membalas tatapan Queen.


Queen menggeleng lemah dan terus menatap Raka.


"Maaf ya, aku tidak sengaja membelikan makanan yang seperti itu. Lain kali aku akan melihat-lihat terlebih dahulu. Apakah dia pakai sarung tangan atau tidak. Atau, lebih baik kita makan di restoran yang bagus saja," Ucap Raka seraya tertunduk lesu.


"Tidak apa-apa." Ucap Queen dan tersenyum kepada Raka.


Tutttttttttt....!


Bunyi teko pemanas membuat Raka beranjak dari sisi Queen. Lelaki itu mematikan saklar teko tersebut dan memasukan teh beserta gulanya kedalam sebuah mug berwarna putih. Lalu, Raka menuangkan air mendidih itu kedalam mug dan mengaduk nya hingga gula yang berada di dalam mug itu larut.

__ADS_1


Queen terus memandangi Raka, hatinya terus mengatakan bila Raka memanglah lelaki yang terbaik yang pernah ia jumpai. Sedikit demi sedikit perasaan Queen mencair. Kini matanya hanya ingin terus menerus menatap Raka.


"Ini dia teh nya sudah jadi..." Ucap Raka dan menyodorkan mug ditangan nya kepada Queen.


"Minumnya pelan-pelan ya... Panas banget soalnya," Ucap Raka seraya tersenyum.


"Terima kasih," Ucap Queen seraya meraih mug itu dari tangan Raka.


"Sama-sama," Sahut Raka dan meraih kunciran Queen yang tergeletak diatas ranjang.


"Kamu mau apa?" Tanya Queen sembari menatap kunciran nya yang baru saja di ambil Raka.


"Nguncirin kamu, biar gak acak-acakan rambut nya." Raka tersenyum dan meraih sisir milik Queen dari atas meja dan ia beranjak duduk di atas ranjang tepat dibelakang Queen. Lalu, ia menyisir rambut Queen dan mengikatnya hingga rapi.


Queen terdiam saat mendapatkan perlakuan yang luar biasa dari Raka. Beberapa kali dia memiliki hubungan dengan lawan jenisnya, Queen belum pernah mendapatkan perlakuan yang begitu memanjakan seperti ini. Melayani, peduli dan membuat diri kita merasa istimewa, itulah yang dilakukan seorang lelaki bila dirinya mencintai sepenuh hati.


Karena pada dasarnya, lelaki itu bila menjadi suami, maka ialah yang menggantikan Bapak kita, yang membuat kita menjadi seorang ratu, menyayangi sepenuh hati dan memberikan apa yang oita butuhkan. Dilain sisi, menjadi suami juga berarti dia menggantikan sosok seorang saudara laki-laki kita yang melindungi. Menjadi suami juga harus bisa menjadi teman dalam segala hal, menjadi sahabat saat membahas segala macam masalah yang sedang dihadapi.


Menjadi suami itu berat, bukan hanya sekedar menikahi dan membuahi. Tetapi, apa yang menjadi tanggung jawab orang tua dan saudara lelaki sang istri. Harus mau di pikul oleh sang suami.


Jadi suami itu berat, harus bisa menyenangkan, menuntun kearah yang lebih baik dan membuat istri tidak merasa kurang dan tersakiti.


Bila seorang lelaki sudah memenuhi kriteria seperti itu, maka tidak ada istri yang kurang, durhaka, tidak cantik, dan lain sebagainya.


"Raka.."


"Ya..."


Raka beranjak dari atas ranjang dan berjongkok di hadapan Queen.


"Raka, aku mengagumi kamu," Batin Queen menjerit dan memintanya untuk mengatakan itu kepada Raka.


"Ya? kenapa Queen?"


"Ah..., anu... hmmm... itu.. hmmmm.. besok kita jadi kan ke Taj Mahal?"


"Oh... itu.. iya jadi," Ucap Raka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tadinya ia berharap bila Queen mengatakan "Raka aku sudah mencintai kamu," Tetapi, itu semua hanya khayalan bagi Raka. Gadis yang duduk di depan nya itu masih belum mau mengatakan perasaannya.


Raka beranjak dan mengusap lembut rambut Queen.


"Minum lagi teh nya, nanti dingin. Aku mau mandi dulu ya.. panas... Nanti, setelah ini, kalau kamu sudah merasa segar, nanti malam kamu aku ajak keliling kota, sambil mencari restoran yang terbaik. Ok?"


Queen mendongak dan menatap lelaki yang memiliki senyuman manis luar biasa itu.


"Iya," Sahut Queen.


"Ya sudah, aku kembali ke kamar ku dulu ya. Kunci pintu nya, jangan izinkan siapa saja masuk. Nanti takut nya kenapa-kenapa."


Queen hanya mengangguk mendengarkan pesan dari Raka.


..


Queen menutup pintu kamarnya saat Raka sudah keluar dari kamar nya. Lalu, ia kembali duduk di tepi ranjang dan termenung mengingat segala kebaikan Raka.


"Apa bedanya mengagumi dengan mencintai? Apa saat ini gue sedang merasakan dua-duanya?"

__ADS_1


Queen benar-benar berpikir tentang perasaan nya kepada Raka.


__ADS_2