
Langkah kaki Queen terhenti, saat ia melihat Ibunya Antoni duduk bersama dengan Bunda di ruang tamu. Ia menatap Bunda dengan tatapan yang bingung. Ia tidak tahu tujuan Ibunya Antoni datang sepagi ini ke rumah mereka.
"Queen..." Sapa Ibunya Antoni dengan wajah yang memelas.
Queen menghela nafas panjang dan beranjak mendekati Ibunya Antoni.
Pelajaran sopan santun yang ia dapati dari Bunda, adalah... Menyalami orang yang bertamu kerumah nya, tanda menyambut kedatangan dan menghormati tamu tersebut.
Ibunya Antoni sempat ragu menyambut jabatan tangan Queen. Walaupun akhirnya ia menyambut dan memeluk gadis yang pernah ia tolak hanya karena meminta toleransi beberapa bulan saja untuk menunda pernikahan dengan putranya. Sayangnya, keegoisan nya sebagai orang tua, membuat wanita sebaik Queen terlepas begitu saja, serta anak kebanggaan nya pun mengalami gangguan jiwa karena putus cinta.
"Maafkan Ibu Queen....." Ibunya Antoni meminta maaf dan menangis pilu di pelukan Queen. Queen melirik Bunda yang terlihat prihatin dengan Ibunya Antoni.
Queen terdiam, di dalam pelukan mantan calon mertuanya itu. Ia pun membalas pelukan Ibunya Antoni yang kini harus duduk di kursi roda, karena mengalami stroke setelah kejadian saat Antoni ingin mencelakakan Queen. Sedangkan Bapak nya Antoni hanya berdiri dibelakang kursi roda itu dengan wajah yang muram.
"Sudahlah Bu, Queen sudah memaafkan dan melupakan semua yang terjadi."
Ibunya Antoni melepaskan pelukannya dan menatap Queen dengan wajah yang penuh penyesalan.
"Mengapa saya bodoh sekali, melepaskan berlian seperti kamu nak. Saya mengorbankan anak saya sendiri hanya demi keegoisan saya yang ingin segera memiliki cucu. Padahal hanya enam bulan kamu meminta toleransi. Maafkan saya nak..." Ucap Ibunya Antoni dengan penuh penyesalan di sela isak tangis nya.
Queen berjongkok dihadapan mantan calon Ibu mertuanya itu. Lalu , ia menggenggam tangan Ibunya Antoni dengan erat.
"Ya Allah betapa berdosa nya saya dengan kamu nak.."
"Bu, saya dan Antoni tidak berjodoh. Selalu saja ada jalan nya bila tidak dan akan berjodoh. Tidak perlu di sesali Bu.."
__ADS_1
"Yang Ibu sesali, Antoni jadi seperti itu Queen. Ibu juga minta maaf atas perbuatan Antoni kepadamu. Ibu tahu, kaku wanita baik-baik."
"Saya juga minta maaf sama Jeng Farah. Maafkan segala sikap saya dan perbuatan anak saya yang tidak terpuji. Maafkan saya yang egois dan angkuh ini Jeng..."
Bunda Farah mengangguk dengan wajah yang ikhlas. Benar apa kata Queen, bila tidak berjodoh, mau bagaimana lagi? Ada saja halangan yang membuat semuanya gagal berantakan. Ikhlas dan memaafkan, hanya itu yang bisa Bunda Farah dan keluarga harus lakukan. Menerima permintaan maaf sudah cukup untuk hidup damai tanpa dendam dan ganjalan di hati.
"Saya sudah lama memaafkan Jeng. Saya juga sudah memaafkan perbuatan Antoni. Untungnya hal itu tidak terjadi terhadap anak saya. Itu saja sudah cukup dan saya sudah sangat bersyukur," Ucap Bunda.
Ibunya Antoni tertunduk malu. Betapa rugi dirinya melepaskan hubungan dengan keluarga Queen yang memiliki hati yang luas. Sedangkan dia lebih memilih menekan anak nya hingga anak nya sendiri mengalami gangguan jiwa karena tidak kuat menahan tekanan dan patah hati nya yang mendalam.
Ibunya Antoni merasa dirinyalah satu-satunya orang yang patut disalahkan. Ia benar-benar merasa berdosa dengan semua yang telah terjadi.
Apa daya, mau menyesal pun, sudah terlambat. Anak nya sudah gila. Mau kembali kebelakang, sudah pasti tidak bisa. Karena hidup terus beranjak ke depan. Bila saja kesalahan bisa di hapuskan, mungkin semua orang akan hidup perfect seperti apa maunya. Tanpa bisa mengambil pelajaran yang berarti di kehidupan ini.
"Saya kesini hanya ingin meminta maaf. Saya pamit dulu ya Jeng, Queen.." Ucap nya dengan wajah yang lesu dan juga terlihat lega karena sudah mendapatkan maaf dari Queen dan keluarganya.
Bunda menghela nafas panjang. Ia menatap Queen dan menyelipkan anak rambut Queen ke balik telinga gadis itu. Lalu, ia tersenyum kepada anak gadisnya itu.
"Sekarang kamu tahu kan, Buah dari kesabaran?" Ucap Bunda dengan wajah yang terlihat menyejukkan hati Queen.
Queen tersenyum manis, ia mengangguk dengan perlahan.
"Queen, bersyukurlah kita, diberikan Tuhan sifat dan sikap yang baik. Serta hati yang tahan banting, serta sabar. Banyak contoh di kehidupan nyata, orang-orang yang selalu mengeluh tanpa mau mencoba berusaha sabar dan menerima cobaan Allah. Beruntunglah kita, orang-orang yang termasuk diperhatikan dengan di berikan cobaan. Hadiahnya... ya ini... kita bisa lihat sendiri. Hidup kita bebas dari dendam, kita mendapatkan kebaikan dan kata maaf dari orang yang pernah merendahkan, menghina, tidak menyukai dan lain sebagainya."
"Disaat cobaan dan himpitan itu datang. Jangan dilawan. Di terima, di nikmati himpitan cobaan itu. Tuhan tidak tidur, Tuhan selalu ingin kita mengingat nya dengan memberikan kita cobaan. Sekarang.... kamu harus lebih kuat lagi, menerima segala cobaan untuk hidup yang lebih baik ya..."
__ADS_1
Queen tersenyum dan mengangguk paham. Ia sangat bersyukur memiliki orang tua yang bijak dan tidak pendendam. Dari Ayah dan Bundanya lah, Queen dapat tumbuh menjadi orang yang begitu kuat dan hebat.
"Terima kasih Bunda, atas wejangan nya. Queen akan berusaha sehebat Bunda."
Bunda tersenyum dan mengecup kening Queen dengan lembut.
"Mau ke butik ya?"
"Iya Bun,"
"Ya sudah, sana berangkat dan hati-hati ya nak."
"Terima kasih Bun... Queen pamit dulu ya." Queen pun mengecup punggung tangan Bunda dan pergi dengan mengendarai mobilnya menuju ke butik milik nya.
...
Raka kembali ke ruangan Jonathan dengan wajah yang muram. Di tangan nya terselip hasil test kesehatan miliknya yang diberikan oleh dokter yang menangani Jonathan.
Lala menyambut Raka dengan wajah yang semringah. Mendadak, wajah semringah itu pun menghilang dari wajah Lala. Ia tahu apa yang terjadi, hanya dengan melihat wajah muram Raka.
Begitu sulitnya mencari pendonor untuk sumsum tulang belakang. Bahkan, sedarah pun, belum tentu dapat cocok. Semua sudah terbaca di wajah Raka.
Lala melangkah pelan menghampiri Raka yang mulai kembali menangis. Ia memeluk tubuh Raka yang terguncang karena menahan tangisan hebatnya.
Tidak ada satupun orang tua yang mampu menahan tangisnya bila tahu, buah hatinya akan pergi selama-lamanya bila tidak segera mendapatkan bantuan yang sangat sulit di dapatkan. Ibarat harapan yang pupus, Raka dan Lala pun berpelukan, mencoba saling memberikan kekuatan.
__ADS_1
Memang mereka tidak ada hubungan lagi, tetapi mereka berdua memiliki darah daging yang sama. Sudah seharusnya mereka saling menguatkan dengan sebuah pelukan. Bila rasa sakit itu dapat di bagi, maka bagilah dengan orang terdekat mu.
Semua orang butuh kekuatan dengan sebuah pelukan yang mungkin sederhana, tetapi sangat besar maknanya - De'rini.