365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
55# 326HMH


__ADS_3

Queen tampak sangat cantik pada hari ini, ia menggunakan dress ungu dan sepatu hak tinggi, serta kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya. Ia melangkah keluar dari rumah sakit, setelah selesai menjalani serangkaian visum dan menemui psikolog. Disamping Queen, tampak Bunda yang setia menemani dirinya sejak pagi-pagi sekali di rumah sakit. Tampak juga seorang polisi dan seorang ajudan yang di tugaskan oleh Ayah Andra untuk mendampingi Ibu dan anak itu.


Setelah kejadian kemarin, mau tidak mau segala aktivitas Queen akan selalu dalam pantauan seorang ajudan yang di tugaskan untuk mengikuti kemanapun Queen pergi.


Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam tampak memasuki area rumah sakit itu dan berhenti tepat di depan Queen dan Bunda yang berdiri di depan lobby rumah sakit.


Raka keluar dari mobilnya dan memberikan salam kepada Bunda. Bunda pun tersenyum menyambut kedatangan Raka yang tampak sangat tampan pada siang hari ini.


Raka yang memakai kemeja berwarna putih serta celana jeans dan kaca mata hitam nya pun, semakin terlihat perfect di mata Bunda.


"Ganteng banget ya Queen," Bisik Bunda.


Queen hanya tersenyum dan menatap Bunda dengan malu-malu.


"Bun, saya izin ingin mengajak Queen makan siang bersama ya," Ucap Raka kepada Bunda yang terus memperhatikan dirinya.


"Makan siang dimana?" Tanya Bunda yang masih merasa khawatir dengan Queen.


"Makan siang di sekitar hotel Queen saja Bun. Kalau Bunda bersedia sih, sama Bunda juga," Ucap Raka berbasa basi.


Bunda tersenyum geli, ia sudah paham itu hanya basa basi anak muda. Lalu, ia mengangguk tanda memperbolehkan Queen pergi bersama dengan Raka.


"Tetapi, ajudan tetap ikut ya Queen," Ucap Bunda.


Queen mengangguk dengan cepat. Sedangkan Raka terlihat salah tingkah. Sebenarnya, ia hanya ingin berduaan saja dengan Queen.


Tetapi, Queen yang baru saja mengalami hal buruk, tidak mungkin merasa nyaman bila berduaan saja dengan seorang pria. Ia butuh seorang ajudan untuk mengawasi dirinya dan Raka. Bukan karena ia tidak percaya dengan Raka. Hanya saja, ia merasa hanya ingin ada yang melindungi dirinya dari segala macam kemungkinan yang terjadi.


"Baik Bun, kami pamit dulu," Ucap Raka.


Sebenarnya mereka sudah janjian bertemu di salah satu restoran. Tetapi, Bunda tidak akan mengizinkan Queen pergi, bila tidak di jemput oleh Raka. Maka, Raka pun setuju untuk menjemput gadis impian nya itu.


"Iya, hati-hati ya..." Ucap Bunda sambil mengecup pipi Queen dengan lembut.


"Iya Bun." Ucap Queen setelah berpamitan dengan Bunda.


Queen masuk kedalam mobil Raka dan duduk di kursi penumpang di belakang bersama dengan Raka. Sedangkan di depan mereka seorang supir dan ajudan dari Ayah Andra siap untuk mengawasi Queen dan Raka.


Mobil mulai beranjak pelan, Queen membuka kaca mobil Raka dan melambaikan tangan nya kepada Bunda. Bunda membalas lambaian tangan Queen dan memberikan senyuman terbaik nya kepada Queen..


Setelah mobil Raka menghilang dari pandangan nya, Bunda yang tampak bahagia melihat Queen sudah dekat dengan seorang lelaki pun melangkah masuk kedalam mobil milik nya.


Beberapa bulan lagi, Athar, adik nya Queen akan menikah. Bunda berharap sekali Queen bisa menyusul atau mendahului Athar. Karena menurut Bunda, Raka sangat pantas untuk Queen.


Queen cantik, Raka tampan dan mapan. Queen terpelajar, Raka pun juga. Queen anak yang baik, Raka pun anak yang baik menurut Bunda.


Bunda menghela nafasnya seiring laju mobilnya yang meninggalkan halaman rumah sakit itu.


"Semoga saja, ini memang jodoh Queen. Kasihan anak ku itu, selalu gagal dan gagal. Di tambah sekarang Antoni si brengsek itu menambah luka di hati Queen. Entah apa salah anak itu, sehingga hidup nya begitu berliku." Batin Bunda yang tampak sedih.


....


Queen dan Raka duduk disalah satu restoran yang Raka janjikan. Restoran western itu menghidangkan aneka steak dan menu western lain nya.


Queen duduk di depan Raka yang terus menatap dirinya.


"Kenapa sih?" Tanya Queen sambil tersenyum malu.


"Aku tidak terbayang bila teman ku terlambat datang ke rumah itu," Ucap Raka yang masih emosi dengan kejadian semalam.


Queen menghela nafasnya dan tersenyum hambar.


"Terima kasih ya Raka," Ucap Queen sambil tersenyum tulus.

__ADS_1


"Tidak perlu berterima kasih, sudah seharusnya aku menebus kesalahan ku yang terlambat datang ke acara makan malam kita."


Queen mengangkat kedua alisnya dan menatap Raka dengan seksama.


"Itu yang mau aku tanyakan. Mengapa kok tumben kamu terlambat? Apa ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan?" Tanya Queen.


Raka terdiam, ia bingung akan mengatakan dan menjelaskan apa kepada Queen.


"Raka? Kok bengong?" Tanya Queen sambil melambaikan tangan nya di hadapan Raka.


Raka mengerjapkan matanya dan tersenyum dengan salah tingkah.


"Apa kamu.. ada kekasih sekarang?" Tanya Queen lagi dan ia mencoba tersenyum untuk mengusir perasaan tak menentu dihatinya.


Raka menghela nafas panjang dan menatap Queen dengan seksama.


"Queen,"


"Ya?" Sahut Queen sambil hendak memasukan sepotong daging steak kedalam mulutnya.


"Hmmmm.."


"Ada apa?" Tanya Queen yang tidak jadi memakan daging tersebut. Ia menaruh daging itu di atas piringnya kembali.


"Kamu ingat Lala, yang pernah aku ceritakan kepadamu?" Tanya Raka dengan wajah yang serius.


Queen memutar bola matanya dan tampak berpikir sejenak.


"Ah.. iya, mantan kamu itu ya?" Tanya Queen yang berusaha terlihat biasa saja.


Raka mengangguk dan tampak salah tingkah.


"Kenapa? Dia datang lagi dan meminta balikan? Bukan nya dia sudah punya suami dan anak?" Tanya Queen lagi.


Queen membulatkan matanya dan menatap Raka dengan tatapan tak percaya.


"Bercerai? Kenapa?"


"Hmmmm.... Queen, aku ingin jujur kepada kamu. Aku ingin kamu mengenal aku dari diriku sendiri, bukan dari orang lain. Jadi, aku mohon, dengarkan aku dulu dan aku mohon jangan menjauhi aku," Ucap Raka dengan mimik wajah yang serius.


Queen mengerutkan keningnya dan merasa sesuatu yang serius terjadi kepada Raka atau Lala mantan kekasih Raka.


"Janji?" Tanya Raka lagi.


Queen merapatkan bibirnya dan menatap Raka dengan seksama. Lalu, ia mengangguk dan mencoba tersenyum.


Kini, Raka dapat bernafas lega. Ia membalas tatapan Queen dengan seksama, sambil menghela nafas panjang.


"Ada apa?" Tanya Queen yang terlihat tidak sabar menanti apa yang akan Raka ceritakan kepada dirinya.


"Kemarin Lala datang ke kantor ku dengan wajah yang kuyu," Ucap Raka memulai ceritanya.


"Lalu?"


"Dia mengatakan Jonathan sakit leukimia."


"Maaf, Jonathan siapa? Suaminya atau.. "


"Anak." Potong Raka.


"Ah.. ya..." Queen mengangguk paham.


"Dia diceraikan suaminya karena..... hmmmm... karena...."

__ADS_1


"Karena?"


"Karena anak itu bukan anak kandung suaminya," Ucap Raka.


Queen mengerutkan keningnya dan terlihat sedikit terkejut. Tetapi, dia belum berpikir bila Raka lah Ayah kandung dari Jonathan, anak dari Lala, mantan kekasih Raka.


"Loh? Terus? Lala selingkuh gitu? Hingga dia diceraikan suaminya?" Tanya Queen dengan wajah yang polos.


Raka menundukkan wajahnya dan memijat pelipisnya.


Melihat gelagat Raka, Queen mulai mencurigai Raka lah Ayah kandung dari anak Lala.


"Raka, jangan bilang kamu..."


"Ya Queen, akulah Ayah kandung dari Jonathan."


Degggggg...!


Entah mengapa hati Queen terasa terpukul.


Queen terdiam, ia menelan salivanya dan meraih gelas yang berisi air mineral di depan nya. Queen meminum air tersebut untuk menenangkan hatinya.


"Umur Jonathan tidak lama lagi Queen. Aku berniat untuk mendonorkan sum-sum tulang belakang ku. Semua aku lakukan untuk keselamatan Jonathan."


Queen menatap Raka Dengan seksama. Lalu, ia menghela nafas panjang.


"Aku tidak mau ikut campur masalah kamu. Bila kamu mau melakukan donor, silahkan saja," Ucap Queen sambil meletakkan kembali gelas yang berada di tangan nya ke atas meja.


"Queen, aku baru tahu Jonathan itu anak ku, kemarin sore. Lalu, aku terburu-buru kerumah sakit untuk melihat keadaan Jonathan. Itulah mengapa aku terlambat datang," Ucap Raka dengan ujung suara yang tercekat.


"Tuhan, mengapa rasanya sakit sekali?" Batin Queen.


"Jangankan aku, Lala pun baru tahu bila aku Ayah kandung Jonathan, beberapa bulan yang lalu. Tapi, dia baru memberanikan diri menemui ku untuk bertemu dengan Jonathan. Ia takut, dirinya merasa bersalah kepadaku karena tidak jujur bila itu adalah anak kandung ku." Terang Raka.


Queen berusaha tersenyum dan mengangguk paham. Ia menatap Raka dengan mata yang mulai memerah.


"Jangan nangis Queen.. elu gak ada hubungan apa-apa dengan lelaki yang duduk di depan lu ini. Dia bukan siapa-siapa elu Queen," Hati Queen berbisik, mencoba menguatkan dirinya.


"Lalu?" Tanya Queen.


"Aku hanya ingin jujur. Bukankah memulai suatu hubungan harus di awali dengan keterbukaan?" Tanya Raka.


"Maaf Raka, memulai hubungan? Siapa? Kamu dan aku? Kita hanya teman biasa. Tidak lebih.." Ucap Queen dengan tegas.


Raka terdiam, ia terlihat merasa bersalah dengan Queen dan juga merasa menyesal telah bercerita tentang Jonathan dan masa lalunya. Tetapi, Raka tidak ingin membohongi Queen. Ia tahu, gadis itu sangat membenci kebohongan. Ia ingin Queen benar-benar mengenali dirinya, agar ia bisa memulai hubungan dengan Queen tanpa harus terganggu dengan rahasia masa lalu.


"Hmmm, aku rasa, aku harus kembali pulang. Maaf, aku duluan ya," Ucap Queen.


Gadis itu pun beranjak dari duduknya dan meraih tas tangan nya yang terletak di atas meja.


"Tidak usah di bayar, aku yang mentraktir kamu. Anggap saja, sebagai ucapan terima kasih ku, atas pertolongan kamu tadi malam." Ucap Queen sambil beranjak dari hadapan Raka.


"Queen!" Raka berusaha mengejar Queen.


Tiba-tiba saja seorang ajudan menghalangi Raka dan menahan lelaki itu.


"Queen!" Panggil Raka lagi.


Namun, Queen terus berjalan, meninggalkan restoran itu. Lalu, ia masuk kedalam sebuah taksi yang akan mengantarkan dirinya pulang, disusul oleh ajudan nya.


"Queen..!" Raka berteriak memanggil Queen.


Namun, taksi itu sudah berlalu, meninggalkan Raka bersama hatinya yang risau.

__ADS_1


__ADS_2