
Mobil Raka memasuki halaman rumah Queen yang tampak ramai dengan para tamu undangan untuk ikut serta dalam acara pengajian pada hari menjelang pernikahan Athar dan Kimmy.
Terlihat Raka turun dari mobil itu dengan menggunakan baju koko berwarna putih dan kopiah di kepalanya. Lelaki tampan itu terlihat semakin tampan karena busana yang sedang ia pakai. Beberapa orang yang masih berada di halaman rumah Queen melirik Raka dan berbisik-bisik. Seolah mereka sedang mengagumi ketampanan lelaki yang baru saja tiba di rumah Queen itu.
Raka masuk kedalam rumah Queen dan bersalaman dengan Ayah dan Bunda. Serta menyapa Queen yang duduk di belakang Ayah hanya dengan senyuman nya. Di keramaian, Queen hanya membalas senyuman Raka. Saat itu juga, Raka duduk di samping Athar yang akan segera menikah tiga hari lagi dengan Kimmy.
Acara pengajian ini bertujuan untuk mendoakan kelancaran proses pernikahan Athar dan Kimmy, serta mendoakan kedua calon mempelai untuk dapat memulai hidup yang lebih baik lagi dalam ikatan pernikahan. Acara pun di mulai setelah beberapa saat, para tamu undangan dan keluarga pun mengikuti serangkaian acara pengajian itu dengan khidmat.
Setelah acara pengajian di gelar, keluarga Queen serta para tamu undangan pun mengadakan makan malam bersama. Mereka pun berbincang dan memberikan restu dan doa-doa untuk Athar sang calon mempelai. Sedangkan Raka dan Queen sengaja menghindari keramaian dan duduk berdua di beranda belakang rumah tersebut.
Queen tampak lebih baik pada malam ini, setelah ia berbincang dengan Bunda kemarin malam. Merelakan dan mendoakan Tika adalah jalan satu-satunya untuk Queen. Nyatanya mau disesali seperti apa pun, Tika tidak akan pernah bisa kembali lagi di dunia ini.
Queen duduk dengan dua gelas teh di tangan nya, dan memberikan salah satunya kepada Raka. Raka menyambut gelas tersebut dan tersenyum kepada Queen.
"Terima kasih," Ucap nya.
Queen membalas senyuman Raka dengan senyum manisnya dan mereka pun kembali terdiam.
"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Raka yang sudah beberapa hari tidak bertemu dengan pujaan hatinya itu. Raka mengerti, bila saat ini Queen sedang shock dan berduka atas kehilangan sahabat baiknya. Maka, tidak bertemu tidak menjadi masalah bagi Raka. Ia hanya ingin memberikan ruang dan waktu untuk Queen atas duka yang gadis itu rasakan.
"Lebih baik," Sahut Queen seraya menatap bintang yang bersinar terang di langit pada malam itu.
"Syukurlah," Ucap Raka seraya menyentuh tangan Queen dengan lembut.
"Kenapa pada disini?" Tanya Ayah yang tiba-tiba saja muncul dari dalam rumah dan menatap Queen dan juga Raka.
Raka menoleh dan tersenyum kepada Ayah yang beranjak duduk bersama mereka.
"Queen yang ngajak Raka kesini Yah, kami hanya ingin berbincang, karena di dalam begitu ramai. Ayah gak makan?" Tanya Queen dengan lembut.
"Ayah kenyang, para tamu sedang makan dan Ayah mencari kalian berdua. Ayah kira kalian sedang ngapain," Ucap Ayah berterus-terang.
Queen menatap Ayah dengan tatapan tak percaya.
"Emang mau ngapain?" Tanya Queen seraya memajukan bibirnya, hingga seperti moncong bebek yang imut.
"Ya, bisa saja kalian berusaha untuk keluar berdua, atau sedang membersihkan kolam di sebelah sana," Ucap Ayah seraya menunjuk kolam ikan di sudut beranda itu.
"Ayah bisa saja," Ucap Queen dengan pipi yang memerah. Sedangkan Raka hanay mengulum senyum nya dan menundukkan pandangan nya.
__ADS_1
"Sebenarnya bukan itu. Tetapi, Ayah mau bicara sama kalian berdua," Ucap Ayah dengan memasang wajah yang serius.
"Bicara?" Tanya Queen penasaran.
Ayah mengangguk dan menghela nafas panjang. Lalu, ia menatap Queen dan Raka yang siap untuk menyimak ucapan nya dengan wajah yang tak sabar.
"Begini... Ayah mau berbicara masalah kecelakaan Tika yang memakai mobil Queen," Ucap Ayah.
Queen dan Raka saling bertatapan dan kembali memandangi Ayah. Wajah mereka terlihat lebih serius dari sebelumnya.
"Ada apa Ayah?" Tanya Queen.
"Ayah dan petugas polisi, sudah menyelidiki kasus kecelakaan itu. Tampaknya, kecelakaan itu memang disengaja dan target sebenarnya bukan Tika, tetapi kamu," Ucap Ayah seraya menunjuk Queen.
Wajah Queen mendadak pucat, ia menatap Ayah dengan tatapan tak percaya.
"Ayah serius?" Tanya Queen lagi.
Ayah mengangguk dan menatap Queen dan Raka dengan seksama.
"Queen, apakah kamu memiliki musuh dalam bisnis?" Tanya Ayah penasaran.
"Jangan risau, Ayah akan selalu melindungi kamu. Itulah mengapa Ayah memberikan ajudan untuk kalian, setelah pemakaman Tika di laksanakan. Sekarang, apakah benar kamu tidak memiliki musuh dalam bisnis?" Tanya Ayah lagi dengan wajah yang serius.
"Tidak Ayah, aku kan hanya memiliki hotel dan butik, tidak ada saingan seperti di perusahaan atau tender." Jelas Queen.
"Kalau begitu kamu," Ucap Ayah seraya menatap Raka yang mendadak gugup saat melihat tatapan Ayah yang tajam kepadanya.
"Sa-saya?" Tanya Raka dengan wajah yang bingung.
"Apakah kamu punya saingan bisnis? Hingga mereka mengetahui hubungan kamu dengan Queen, dan berniat memberikan kamu pelajaran dengan mencelakakan anak saya?"
Raka terdiam, ia memiliki banyak sekali rekan bisnis atau saingan dalam berbisnis. Usaha Raka selain hotel dan restoran rooftop, ada banyak lagi perusahaan dan saham yang ia tanam di berbagai perusahaan. Hingga ia bingung yang mana yang harus ia pikirkan dan ia curigai.
"Sa-saya tidak tahu Om," Ucap Raka.
"Atau.... ada yang tahu hubungan kalian berdua? Apakah ada yang tidak suka?"
Queen dan Raka terdiam, pikiran mereka pun tertuju kepada Lala. Mantan kekasih dan juga wanita yang pernah memberikan Raka seorang anak.
__ADS_1
Queen menatap Raka dengan wajah yang serius, dan Raka pun paham dengan maksud tatapan Queen kepada dirinya.
"Kalau yang tidak suka pasti ada saja Om," sahut Raka.
"Salah satunya?" Tanya Ayah yang ingin jawaban yang spesifik dari Raka.
"Mantan Ibu dari anak saya yang sudaha meninggal dunia," Ucap Raka dengan suara yang tercekat.
Ayah menghela nafas panjang dan mengangguk paham.
"Tetapi, saya tidak yakin bila dia akan mengambil jalan yang begitu melenceng jauh." Terang Raka.
"Tidak ada yang tidak mungkin Raka, siapa nama mantan kekasih mu itu?" Tanya Ayah dengan tatapan yang menyelidik.
"La-lala, nama panjangnya Priscilla Alana."
"Hmmmm, rumah nya dimana dan apa pekerjaan nya?" Tanya Ayah lagi.
"Rumahnya di perumahan elite di selatan, pekerjaan nya... hmmmm.." Raka terdiam sejenak.
"Dimana dia bekerja? Siapa nama orang tuanya?"
"Orang tuanya memiliki perusahaan Emerald grup. Dia sepertinya mengambil alih perusahaan Ayah nya. Karena Bapak nya saat ini tidak mampu lagi melanjutkan perusahaan itu." Terang Raka.
Ayah mengangguk paham, satu informasi ia dapatkan tentang orang yang tidak menyukai Queen dan hubungan Queen dengan Raka.
"Satu target terkunci," Batin Ayah Andra.
...
"Bu, kematian Queen terkonfirmasi. Di rumahnya sedang diadakan pengajian untuk almarhumah Queen," Ucap seorang pria bertubuh tegap yang sedang memantau rumah Queen dari dalam mobil berwarna hitam.
"Bagus, kalian kerja sangat bagus. Saya akan melunasi sisa biaya untuk menghilangkan nyawa gadis kurang ajar itu. Sekarang, laksanakan tugas kedua kalian," Ucap Lala dari seberang sana.
"Baik Bu," Sahut pria itu dan bergegas menjalankan mobilnya setelah dua orang ajudan Ayah Andra terlihat memperhatikan mobil miliknya.
Pria itu dengan tenang mengendarai mobilnya dan melintas di depan rumah Queen. Sedangkan dua ajudan Ayah Andra terus memperhatikan mobil tersebut dengan tatapan yang curiga.
Tetapi, karena mobil itu berjalan dengan santai, maka mereka pun mulai tidak mempedulikan nya lagi.
__ADS_1