365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
137# Dari hati ke hati


__ADS_3

"Apa impian mu setelah ini?" Tanya Raka, saat mereka sedang berbincang dengan santai di tepi pantai.


Queen yang dari tadi terus menatap cincin lamaran dari Raka, mengalihkan pandangan nya kearah kekasihnya itu. Lalu, ia tersenyum dengan sorot mata yang tampak bahagia.


"Impian? Hmmmm, apa ya..." Queen menundukkan wajahnya bahagianya.


"Iya, aku hanya ingin tahu," Ucap Raka.


"Aku ingin menikah denganmu. Memiliki anak, dan hidup bahagia. Itu saja," Ucap Queen.


Raka tersenyum dan membelai lembut pipi Queen.


"Selain itu?" Tanya nya lagi.


"Aku tidak muluk-muluk, aku hanya ingin itu," Sahut Queen.


"Kamu mau bulan madu kemana?" Tanya Raka dengan wajah yang memerah.


Queen mengulum senyum nya dan kembali menatap Raka.


"Kemana saja, asal denganmu,"


Raka tertawa kecil mendengar ucapan Queen. Ia pun menggandeng tangan Queen dan berjalan menyusuri pantai.


"Mau punya anak berapa?" Tanya Raka yang kembali tersenyum malu-malu.


"Hmmm, anak..? berapa saja, sedikasihnya."


"Kalau di kasih sepuluh?" Tanya Raka dengan wajah yang jahil.


Queen membulatkan matanya dan menatap Raka dengan tak percaya.


"Ya, bukan begitu juga," Queen tertawa geli.


"Kan sedikasihnya," Goda Raka.


Queen tersenyum dan mencubit pipi Raka.


"Aduh..." Raka mengusap pipinya dan tertawa geli.


"Kalau bisa sih, jangan sebanyak itu," Ucap Queen seraya membuang pandangannya ke arah kapal nelayan yang terlihat dari kejauhan.


"Aku ingin punya anak sebanyak-banyaknya. Karena aku anal satu-satunya, aku merasa sepi saat di rumah. Tidak ada adik yang di ganggu, tidak ada kakak yang menggangu ku. Hidup tanpa saudara kandung, sungguh tidak enak,"


Queen kembali menatap lelaki yang ia cintai itu. Lalu, ia tersenyum.


"Lima saja bagaimana? Soalnya umur ku...."


"Memang kenapa dengan umur?" Tanya Raka.

__ADS_1


"Ya... Aku sudah tiga puluh tahun. Aku tidak tahu akan langsung diberi kepercayaan untuk menjadi seorang Ibu atau tidak." Wajah Queen mulai terlihat murung.


Raka menghela nafas nya dan mengusap punggung tangan Queen..Ia menghentikan langkahnya dan berdiri dihadapan kekasihnya itu.


"Jangan pesimis, wanita berusia empat puluh tahun juga ada yang mengandung. Bahkan, berusia lebih dari empat puluh tahun pun ada," Raka berusaha membesarkan hati Queen.


Queen tersenyum dan menundukkan wajahnya.


"Aku ingin, kita tidak menunda-nunda untuk memiliki momongan." Ucap Queen dengan tatapan yang penuh harap.


"Tidak akan." Sahut Raka.


"Bila tidak hamil-hamil bagaimana?"


Raka menatap Queen dan menyelipkan rambut Queen yang menghalangi wajah cantiknya, ke balik telinga gadis itu


"Aku sudah bilang, jangan pesimis. Kita nisa berusaha mencari dokter terbaik untuk segera mendapatkan momongan."


Queen menundukkan wajahnya dan mencoba untuk tersenyum.


"Kamu janji, tidak akan meninggalkan aku?" Tanya Queen dengan sorot mata yang terlihat khawatir.


"Aku janji," Sahut Raka.


"Bila aku tidak bisa memberimu anak bagaimana?" Tanya nya lagi.


Raka tersenyum dan memeluk Queen dengan erat.


Queen mengulum senyumnya dan menatap Raka dengan sorot mata bahagia.


"Hmmm, maaf kalau bertanya, apa kamu pernah...."


"Apa?" Tanya Queen penasaran.


"Tidak jadi," Ucap Raka yang terlihat gelisah.


"Melakukan nya?" Terka Queen.


Raka pun terlihat salah tingkah.


"Keluarga dan Agama ku tidak membenarkan untuk melakukan nya diluar nikah," Ucap Queen.


Raka terdiam, ia merasa bersalah telah mencoba untuk bertanya hal sensitif seperti itu. Sementara dirinya sudah terbukti memiliki anak dari Lala. Raka tertunduk dan wajahnya memerah menahan malu.


"Kamu dulu kenapa seperti itu?" Tanya Queen.


Raka mengangkat wajahnya dan menatap Queen dengan seksama.


"Maaf ya, aku bertanya yang tidak-tidak. Sehingga hari bahagia kita terganggu dengan pertanyaan ku yang tidak pantas," Ucap Raka.

__ADS_1


"Tidak masalah. Kamu belum menjawab pertanyaan ku,"


Raka menghela nafas panjang dan kembali menundukkan wajahnya. Ia pun beranjak duduk di kursi yang terdapat di tepi pantai.


"Aku sudah pernah cerita tanpa ada yang aku sembunyikan darimu. Aku dulu memang tidak mendalami agama. Hidupku penuh dengan kebebasan dan tidak ada ajaran norma-norma yang semestinya dari kedua orangtuaku."


Queen beranjak duduk disamping Raka dan menatap lurus ke hamparan pantai di depannya.


"Denganmu, aku berusaha mengubah pandangan ku tentang kebebasan. Kamu adalah wanita pertama yang berusaha membuatku terbentengi dari hal-hal yang tidak baik. Aku pun mulai belajar untum bertahan, dari segala hasrat yang terpendam."


"Maaf, bila aku pernah mencium mu, maaf bila aku beberapa kali berusaha untuk memancing mu," Ucap Raka.


Queen tersenyum dan menatap Raka yang terlihat merasa bersalah.


"Tidak apa-apa," Ucap Queen.


"Apakah... selain dengan Lala..."


Raka kembali menundukkan wajahnya saat mendengar pertanyaan dari Queen.


"Sudah berapa kali?" Tanya Queen penasaran.


Raka tidak mampu menjawab pertanyaan dari Queen.


"Apa aku pantas untukmu?" Raka bertanya kembali seraya menatap Queen dengan sorot mata penuh penyesalan.


Queen menundukkan pandangan dan menatap cincin yang baru saja Raka berikan kepadanya.


Queen mengingat kembali nasihat dari Ayah Andra. Bila semua orang punya masa lalu. Tidak ada hak kita untuk menghakimi orang lain. Yang terpenting saat ini, perubahan orang tersebut, dan berapa seriusnya orang itu untuk berubah menjadi lebih baik.


Semua orang pernah berdosa dengan jalan cerita masing-masing. Bahkan, Queen pun memiliki dosa yang tidak seorangpun tahu. Bundanya, Ayah Gunawan, atau siapa saja.


Queen menoleh ke sampingnya. Dimana Raka duduk dan membisu.


Queen tersenyum dan menggenggam tangan Raka dengan erat.


"Ayo kita melangkah dengan Bismillah,"


Raka terdiam, ia menatap Queen dengan tatapan yang haru.


"Terima kasih Queen, terima kasih," Ucap Raka seraya mengecup buku-buku tangan Queen dengan lembut.


"Sudah, jangan pernah membahas masa lalu lagi. Aku takut, hal itu akan membuat kita meragu. Kalau memang mau melangkah dan berniat baik, kedepan nya, tidak usah ada pembahasan seperti ini," Ucap Queen.


Raka mengangguk setuju, ia pun meminta maaf sekali lagi kepada Queen.


Sebagai seorang lelaki yang pernah menjalani kehidupan bebas, terkadang ada pertanyaan yang tersimpan kepada pasangan yang akan ia ajak serius. Bagaimana masa lalunya, ia akan mempertanyakan juga tentang masa lalu pasangan nya. Bukan karena tidak mau menerima, hanya saja perasaan ingin tahu terus mendesak di sanubari. Bukan juga karena sudah tahu, namun ingin meninggalkan. Tidak sama sekali. Hanya penasaran dan ingin lebih mengenal tentang pasangan nya.


Tetapi, kesalahan dari banyak orang adalah, ingin tahu, namun berakhir sakit hati, setelah mengetahuinya. Beberapa lagi, tidak ingin tahu. Karena takut akan kecewa. Namun, kembali lagi, hubungan yang dewasa adalah.. hubungan yang terbuka dengan satu misi dan visi. Yaitu, masa depan yang lebih baik.

__ADS_1


.


"Maafkan masa lalu mu, terima dan maklumi masa lalu pendamping mu. Fokus dengan satu tujuan. Yaitu, hidup yang bahagia." :) -De'rini-


__ADS_2