
Hari-hari berlalu, Queen dan Raka semakin dekat, walaupun hanya sebatas komunikasi lewat telepon seluler. Sudah satu minggu mereka tidak bertemu, dikarenakan kesibukan masing-masing dari mereka.
Seperti siang ini, Queen tersenyum sendiri saat mendapatkan pesan dari Raka. Lelaki itu mengirim foto dirinya saat baru saja terbangun dari tidur.
"Hai, aku kesiangan, pukul sebelas aku baru bangun. Karena semalaman merindukan kamu,"
Terlampir Foto Raka dengan rambut yang acak-acakan dan wajah yang sayu.
Queen terus tersenyum memandangi foto lelaki yang selalu membuat dirinya tersenyum setelah mereka berdansa bersama malam itu.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan dari luar ruangan Queen. Queen menaruh ponselnya dan mempersilahkan orang yang berdiri di balik pintu ruangan nya untuk masuk.
"Masuk," Ucap Queen sambil merapikan kerah Hem nya yang tertarik kebelakang.
Pintu pun terbuka, terlihat Antoni tersenyum kepada dirinya.
Queen mengerutkan keningnya dan menghela nafas panjang. Ia tidak tahu apa maksud Antoni datang ke butik nya siang ini.
"Hai," Sapa Antoni sambil beranjak mendekati meja Queen.
"Ada apa?" Tanya Queen yang masih duduk di kursinya.
"Aku rindu,"
Queen tersenyum masam, lalu ia beranjak dari duduknya dan berjalan hingga ke depan pintu ruangan nya.
"Antoni, keluar.. Kita sudah selesai bertahun-tahun yang lalu." Tegas Queen.
"Queen aku mohon, aku mau bicara sebentar saja."
"Tidak, kamu tidak pantas berada di sini. Bagaimana perasaan istri mu bila tahu kamu ada disini. Dia pelanggan butik ku loh..! Kalau dia kesini bagaimana?" Tanya Queen dengan suara yang bergetar.
"Queen.." Antoni mendekati Queen, namun Queen menghindari lelaki itu. Ia seperti malas untuk bersentuhan kulit dengan Antoni.
Antoni terpaku melihat reaksi Queen. Lalu, ia menutup pintu ruangan itu.
"Antoni!" Bentak Queen. Untuk pertama kalinya Queen membentak seseorang di dalam hidupnya. Selama ini gadis itu selalu bertutur kata yang santun dan lembut. Tetapi, tidak untuk kali ini. Queen merasa panik.
__ADS_1
Ada banyak hal yang ia pikirkan. Pertama, ia sangat takut di cap sebagai wanita penggoda. Trauma masa lalu, sebagai anak yang terlahir di luar pernikahan, hasil hubungan Bundanya dengan seorang pejabat beristri, membuat Queen sangat takut di cap sebagai wanita yang sama seperti Bundanya saat muda dahulu.
"Queen," Antoni memeluk Queen dengan erat. Gadis itu pun meronta dan mendorong Antoni sekuat tenaganya. Hingga Antoni terbentur meja yang berada di depan sofa.
Antoni terperangah melihat sikap Queen yang kasar.
"Kemana Queen ku yang dulu?" Ucapnya.
"Queen mu yang dulu?" Tanya Queen sambil menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya dengan kekacauan yang telah Antoni ciptakan siang ini.
"Queen, aku tahu kamu masih mencintai aku. Aku terpaksa menikah dengan Tasya Queen... Aku hanya ingin berbakti dengan Ibu dan Ayah ku saja. Tetapi, cinta ku padamu tidak pernah hilang dari hatiku. Aku tersiksa menikahi Tasya. Aku tidak mencintai dia Queen!"
"Queen mu yang dulu sudah lama mati, Antoni..! Cukup, akhiri drama mu ini," Ucap Queen dan ia pun beranjak membuka pintu ruangan nya.
Baru saja ia membuka pintu ruangan nya, Queen melihat Tasya berdiri di depan ruangan nya dengan mata yang basah.
"Ta-Tasya?" Mendadak Queen merasa tidak enak kepada wanita itu. Ia takut Tasya berpikir ia telah melakukan macam-macam kepada Antoni.
Tasya menatap Queen dan lalu menatap Antoni.
"Apa yang kamu lakukan disini Mas?" tanya Tasya sambil melangkah masuk.
Antoni menghela nafasnya dan membalas tatapan Tasya.
"Aku masih mencintai dia, aku ingin kembali dengan nya!" Tegas Antoni.
Queen terperangah, ia tidak menyangka Antoni segila itu mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu kepada Tasya.
"Tasya aku...." Queen mencoba menimpali ucapan Antoni.
Tasya mengangkat tangan nya dan menatap Queen dengan tatapan dingin. Tanda ia tidak ingin mendengar apa pun dari Queen.
"Aku hanya ingin mendengar apa mau suamiku ini," Ucap Tasya, lalu ia kembali menatap Antoni dengan seksama.
"Apa benar yang kamu katakan kepada Queen tadi?" Tanya Tasya dengan tenang.
"Ya, aku menikahi kamu hanya karena orang tuaku dan kamu tahu itu. Jadi, hati tidak bisa dipaksakan. Aku mencintai Queen dan tetap mencintai dia dari dulu hingga saat ini. Sekarang, apa yang diinginkan orang tuaku sudah tercapai. Sekarang bukankah aku bebas untuk mengejar kebahagiaan ku?" Tanya Antoni.
Air mata membanjiri pipi Tasya. Wanita itu terus menatap Antoni.
__ADS_1
Plakkkkk...!
Antoni terkejut saat Tasya menampar pipinya dengan keras. Selama ini, wanita lembut itu sangat-sangat penurut dan tidak pernah kasar sedikitpun. Tetapi, kali ini Tasya bagaikan wanita yang berbeda dimata Antoni.
"Kamu pikir Queen akan menerima kamu? Kamu pikir, setelah kamu menyingkirkan aku dan anak mu, terus Queen akan kembali denganmu? Sadarlah wahai lelaki tidak tahu di untung, aku yang merawat mu dalam suka dan duka. Aku yang mengandung dan melahirkan darah daging mu. Aku yang berdiri tegar hanya demi cinta darimu. Lalu, kamu berharap dengan gadis yang sudah ingin muntah melihat dirimu. Dimana otak mu?"
Antoni membulatkan matanya, ia tidak percaya dengan kata-kata yang terucap dari bibir wanita penurut itu.
Sedangkan Queen yang mendengar ucapan Tasya, merasa Tasya adalah orang baik yang tidak mau menyalahkan dirinya. Tampaknya selama ini Tasya tahu, bila Queen pun tidak akan mau kembali dengan Antoni. Maka, Queen pun merasa tidak harus membela diri di depan Tasya. Wanita itu adalah wanita terpelajar dan pintar, Queen pun merasa salut dan juga iba kepada Tasya.
"Tasya... kamu kasar sekali."
"Kasar? Lembut pun aku tidak ada harganya dimata kamu Antoni!!!!!!!!"
"Sudah lama rasanya aku akan menampar mu, memukuli kamu dan bahkan membunuh mu. Kamu laki-laki lemah yang tidak ada otak nya!"
"Kamu!" Antoni mengangkat tangan nya dan hendak menampar pipi Tasya.
"Antoni!" Queen menghampiri Antoni dan mendorong lelaki itu untuk menjauh dari Tasya.
Tasya menatap Queen dengan berurai air mata. Wanita itu pun memeluk Queen dengan erat dan menangis di pelukan Queen.
Tanpa sadar, air mata juga meleleh di pipi Queen. Mengingat betapa tersiksanya dirinya dan juga Tasya. Betapa beratnya menjadi wanita yang di tinggalkan dan yang tidak dianggap cintanya.
Antoni menghela nafas dengan berat, lalu ia melangkah mendekati Queen dan Tasya.
"Queen..."
"Pergi.."
"Queen, aku.."
"Pergi..!" Teriak Queen.
Semua karyawan Queen berkumpul di depan pintu ruangan Queen. Mereka mencoba mencari tahu ada keributan apa di ruangan Boss mereka itu.
Antoni menatap Queen dengan mata yang memerah. Ia pun beranjak keluar dari ruangan Queen dengan wajah yang lesu.
Saat Antoni membuka pintu, para karyawan Queen pun membubarkan diri. Dengan wajah yang menahan malu, Antoni pun pergi meninggalkan butik milik Queen.
__ADS_1
Kini, di ruangan itu tinggal Queen dan Tasya. Dua hati yang merasa tersakiti oleh lelaki yang sama. Dua hati yang terus merasa merindukan lelaki yang sama. Dua hati yang seakan tidak bertuan.