365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
132# Horor


__ADS_3

Lala terbangun dari tidurnya yang lelap. Perlahan, ia membuka kedua matanya dan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ia berusaha mengangkat kepalanya, dan ia baru menyadari bila dirinya sudah terduduk di salah satu kursi di dalam ruangan gelap.


"Haloooo..! Raka!" Panggilnya, tubuhnya gemetar dan ekspresi wajah nya terlihat sangat panik.


Tiba-tiba saja, lampu menyala diruangan itu. Terlihat Queen duduk dihadapannya dengan wajah yang datar.


Lala tersentak dan hampir saja terjatuh dari duduknya.


"Qu-Qu-Queen!" Ucapnya terbata.


Queen masih terdiam membisu.


"Bu-Bu-Bukan nya lu sudah mati?" Tanya nya lagi dengan bibir yang gemetar.


Perlahan Queen tersenyum, matanya terus menatap Lala yang mulai ketakutan.


"Jangan bilang lu hantunya Queen!" Ucap nya seraya beranjak dari duduknya. Saat itu juga ia merasa ada sesuatu yang menahan kedua tangan nya. Dengan cemas, Lala pun menatap kedua tangannya dan ia pun mulai menyadari, tangan nya sedang di borgol yang di tambat kan di atas meja.


"A-apa-apaan ini!" Jerit nya histeris. Mata nya terus mendelik menatap Queen yang masih duduk terdiam di bangku tepat di depan dirinya.


"Kenapa kamu membunuhku?" Tanya Queen dengan suara yang terdengar menyeramkan ditelinga Lala.


"Tidak! ini pasti mimpi!" Gumam Lala yang masih gemetar melihat wajah Queen yang terlihat pucat.


"Kenapa?" Suara Queen nyaris tidak terdengar. Karena saking lembutnya, suara Queen membuat bulu roma Lala meremang dan ia semakin merasa takut.


"Pergi! Pergi! Lu sudah mati! Mafia itu sendiri yang bilang mobil lu terbalik dan elu sudah mati!" Teriaknya sembari terus menarik kedua tangan nya yang tertambat oleh borgol.


"Kenapa kamu ingin aku mati?" Tanya Queen lagi.


"Karena lu gak berhak mendapatkan Raka! Raka hanya milik gue! Gak ada satupun wanita yang bisa memiliki Raka!"


Queen tertawa, lalu ia beranjak dari duduknya. Lala pun terbelalak saat melihat ceceran darah yang mengalir dari balik baju Queen yang putih. Lalu, ia mulai memberontak dan terus menarik tangan nya hingga pergelangan tangan nya terluka dan mengeluarkan darah.


"Pergiiiiiii...!" Jerit Lala seraya memejamkan kedua matanya.


Tiba-tiba saja lampu ruangan itu kembali padam. Dengan nafas terengah Lala menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Tetapi, apa yang ia lakukan itu percuma. Ruangan itu sangat gelap, bahkan untuk melihat telapak tangan nya saja ia tidak bisa.


Lala mencari bangku nya seperti orang buta, setelah ia berhasil menemukan bangku nya, Lala pun kembali duduk di bangku tersebut.


Tak berapa lama, ia mulai mendengar suara orang sedang berjalan mendekati dirinya. Lalu, terdengar suara kursi di hadapannya sedang di tarik oleh seseorang.


Sreeekkkkk...!


Lala terkejut, jantungnya terasa mau copot. Ia takut sekali bila Queen yang ia anggap hantu, kembali muncul dihadapan nya.

__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian, lampu ruangan itu kembali menyala. Lala pun memejamkan kedua matanya karena merasa silau dengan lampu tersebut. Dan perlahan, ia kembali membuka kedua matanya.


Tetapi, kali ini Lala benar-benar terkejut hingga terjungkal dari bangkunya. Ia tidak lagi melihat Queen, melainkan ia melihat Ayah dan Ibu Raka yang duduk dihadapannya.


"Aaaaaaaaaa...!" Jeritnya histeris.


"Ya Allah tolong! Ampun! Tolong ya Allah...!" Jerit nya seraya menangis tersedu-sedu karena menahan rasa takut.


"Mengapa kamu membunuh kami?" Tanya nyonya Amara dengan suara yang terdengar begitu menakutkan bagi Lala.


"Tidak! Tolong! Siapa saja tolong aku!" Jerit Lala seraya menutupi kedua daun telinga nya.


"Kenapa?" Tanya nyonya Amara dengan suara nya yang datar.


"Pergi! Pergi! Pergi! kalian sudah mati! Pergi! Aku yakin kalian sudah mati! Aku yang menyuruh mereka membunuh kalian! Aku yakin ini hanya ilusi! Kalian sudah mati!" Jerit nya histeris.


Nyonya Amara pun tertawa terbahak-bahak, hingga suaranya terdengar menggema di ruangan itu.


"Jadi kamu yang menyuruh mereka membunuh kami?" Tanya nyonya Amara lagi.


"Iya! Karena kalian pantas mati! Kalian yang mengganjal hubungan ku dengan Raka. Kalian biadab! Orangtua biadab! Kalau bukan karena kalian, aku pasti sudah lama menikah dengan Raka! Kalian pembawa sial! Kalian pantas mati!" Jerit Lala dengan tubuh yang bermandikan peluh dan gemetar.


"Kamu...."


Nyonya Amara beranjak dari duduknya dan mendekati Lala yang terikat di meja tersebut. Lala berusaha bangkit dari lantai dan berusaha untuk memukul nyonya Amara. Tetapi, usahanya sungguh sia-sia. Dia tidak bisa apa-apa karena tangan nya tidak bisa ia layangkan ke wajah nyonya Amara.


"Tidak! Ini semua mimpi! Tidak!" Jerit Lala yang sangat-sangat ketakutan hingga jantungnya terasa ingin copot.


Mendadak, dari belakang Lala, sebuah tangan memegangi pundaknya. Sentuhan tangan itu terasa nyata sekali. Lala pun mengangkat wajahnya dan menoleh kebelakang. Saat itu juga, ia melihat wajah Queen yang sangat pucat. Nafas Lala pun terasa sesak, matanya pun menjadi gelap, dan dia pun kembali pingsan.


Queen mengguncang tubuh Lala, dan mencoba membangunkan wanita itu.


"La...! Lala!" Panggil Queen.


Beberapa orang langsung bergegas memasuki ruangan itu dan memeriksa keadaan Lala.


"Dia hanya pingsan," Ucap seorang petugas.


Mendengar Lala hanya pingsan, Queen dan kedua orangtua Raka pun dapat bernafas lega. Mereka pun keluar dari ruangan itu dan bergegas keruangan sebelah yang hanya dilapisi kaca tebal yang tak tembus pandang dari ruangan Lala ke ruangan itu. Sedangkan dari ruangan itu, semua orang dapat menyaksikan apa yang terjadi di dalam ruangan dimana Lala berada.


"Humffff..! Untung dia tidak meninggal karena serangan jantung Yah!" Ucap Queen yang beranjak duduk di salah satu bangku yang ada di ruangan itu.


Ayah hanya tertawa geli saat melihat riasan Queen yang persis seperti hantu kuntilanak. Serta busana berwarna putih dengan ceceran darah yang sedang Queen lepaskan dari tubuhnya.


"Akting mu boleh juga," Ucap Ayah Andra.

__ADS_1


Sedangkan Raka yang berdiri di samping Ayah Andra juga tertawa geli. Ia tidak menyangka bila pikiran calon mertuanya itu sungguh out of the box .


"Ibu dan Bapak juga akting nya keren sekali," Puji Ayah Andra seraya terus tersenyum geli.


"Hahaha, Bung Andra ini... ada saja.." Sahut Ayahnya Raka.


"Kenapa harus pakai acara begini sih Yah? Freak tahu gak.." Keluh Queen seraya menghapus make-up pucat yang menghiasi wajahnya, dengan pembersih wajah yang sudah ia siapkan.


"Ayah hanya ingin bersenang-senang. Sama seperti ia bersenang-senang untuk mempermainkan nyawa orang lain. Apa salahnya?" Tanya Ayah dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


"Tapi freak tahu Yah. Malah, aku mau saja lagi.." Ucap Queen seraya menahan tawanya.


"Iya Om, kalau Lala meninggal bagaimana?" Tanya Raka.


"Tidak, dia tidak akan meninggal dunia hanya gara-gara bertemu dengan hantu. Menghilangkan nyawa orang lain saja dia mampu, masa ketemu hantu, ketakutan lalu meninggal? Sudah Om prediksi dia hanya pingsan saja," Sahut Ayah Andra.


"Sebenarnya alasan Ayah apa sih, kan tadi tinggal dicokok saja, dan di BAP. Sudah selesai."


"Queen, dia ular. Mau di BAP, dia akan terus berbohong. Bila dia sudah memilih diam, dan semua urusan di urus pengacaranya, pasti hukuman dia ringan. Walaupun ada bukti dia mentransfer sejumlah uang untuk menghilangkan nyawa kalian semua. Ayah yakin, dengan kedudukan orangtuanya, dan dia tidak mengeluarkan statement apa pun, akan mempersulit jalan nya proses hukum."


Queen mengerutkan keningnya, ia menatap Ayah dengan seksama.


"Sudah tenang saja, semua pengakuan nya sudah kami rekam. Ini akan menjerat dirinya di hotel prodeo yang dingin. Dengan tuntutan hukuman minimal seumur hidup nya. Kedepannya, tidak akan ada yang mengganggu kalian lagi. Ini semua Ayah lakukan demi kebahagiaan kalian berdua. Dan juga...." Ayah terdiam sejenak.


"Dan juga apa Ayah?" Tanya Queen penasaran.


"Mungkin hanya ini yang bisa Ayah lakukan untuk Tika," Ucap Ayah dengan ujung suara yang tercekat.


Queen terdiam, ia menatap wajah Ayah yang terlihat sedih. Queen paham, Ayah pun menganggap Tika adalah anak nya juga. Bagaimana pun, Tika dan Queen tidak terpisahkan saat duduk di bangku SMP dulu. Bahkan, Tika lebih sering menghabiskan waktu di rumah Queen, bahkan menginap disana.


Ayah dan Bunda tidak pernah mempermasalahkan ada teman anak-anak nya yang menginap dirumah mereka. Asal, jangan anak mereka yang menginap dirumah teman mereka. Dengan berkumpulnya teman-teman anak-anak mereka dirumah. Ayah dan Bunda, masih bisa mengontrol pergaulan anak-anak nya. Maka, banyak sekali teman-teman Queen dan Athar yang sangat dekat dengan Ayah dan Bunda.


"Terima kasih Ayah," Ucap Queen seraya bergegas menghampiri lelaki paruh baya itu dan memeluknya dengan erat.


"Sama-sama anak ku," Ucap nya seraya tersenyum dan membalas pelukan Queen.


"Tapi sumpah, Ayah jahil. Sampai kepikiran begini. Kalau Bunda tahu, dia pasti geleng-geleng kepala deh," Ucap Queen.


Ayah hanya terkekeh dan melepaskan pelukannya dari tubuh Queen.


"Sudah sana pulang, ceritakan sama Bunda mu. Masalah ini biar Ayah yang urus,"


"Baiklah," Sahut Queen seraya tersenyum lebar kepada Ayah Andra yang terkenal sangat jahil. Mungkin, yang bisa mengimbangi kejahilan Ayah Andra hanya Om Bobby saja. Pantas, sejak pertemuan pertama, mereka berdua begitu klop, dan bersahabat sampai detik ini. Walaupun, status Om Bobby adalah keponakan dari Bunda Farah.


..

__ADS_1


Hayo... readers, jangan senyum-senyum sendiri... :)


__ADS_2