365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
56# Test untuk pendonor


__ADS_3

Tidak terasa, air mata mengalir di pipi Queen. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia menangis. Hanya saja, Queen merasa saat ini ia sangat ingin menangis untuk melepaskan perasaan kecewa di hatinya.


"Mengapa elu kecewa Queen? Bukankah itu hanya masa lalu Raka? Dia hidup bersama di Boston, hingga ia pulang ke tanah air. Wajar, bila Lala mengandung anak Raka. Tetapi, mengapa elu marah? Mengapa elu tidak bisa memahami Raka yang juga baru tahu bila dia ternyata memiliki anak dari wanita itu?"


Batin Queen terus berperang. Sisi baik dan sisi egois nya mulai beradu argument.


Queen mengusap air matanya dan memijat pelipisnya yang terasa pusing. Entah mengapa, dirinya terus menerus merasakan kecewa dengan lawan jenisnya. Queen mulai merasa dirinya begitu tidak pantas untuk siapa pun. Ia merasa dirinya akan terus melajang selama-lamanya.


"Tuhaaaaannnn!" Keluh Queen sambil memukul tas yang ada di pangkuannya.


"Ada apa nona?" Tanya ajudan yang duduk di samping supir sambil menatap Queen yang sedang menyesali nasibnya.


"Tidak apa-apa," Sahut Queen sambil membuang pandangannya keluar jendela taksi.


Queen menghapus air matanya dan terdiam dengan wajah yang kecewa.


...


"Arghhhh! Bodoh!" Sesal Raka sambil memukul kepala nya sendiri berulang-ulang kali.


"Kenapa harus gue cerita tentang itu sih?" Keluh nya lagi.


Raka benar-benar merasa takut kehilangan Queen. Ia benar-benar telah jatuh cinta kepada gadis itu. Tetapi, cerita tentang masa lalunya membuat gadis itu merasa terkejut dan sedikit tidak terima.


Raka pun memutuskan untuk menghubungi Queen. Tetapi, berapa kali pun Raka menghubungi gadis itu, tetap saja Queen mengabaikan panggilan darinya.


Raka pun mengirimkan pesan kepada Queen.


Queen, aku minta maaf bila masa lalu ku tidak suci. Aku minta maaf bila aku memiliki anak dari wanita lain. Tetapi, demi Tuhan, aku baru tahu bila anak itu adalah anak kandungku. Aku tidak berniat membuat kamu kecewa. Tetapi, aku hanya berusaha jujur Queen.


Queen, kamu boleh membenci ku. Tetapi aku mohon, maafkan aku. Tidak ada niat ku menyakiti dirimu. Queen, aku mencintaimu, sangat-sangat mencintai kamu. Aku mohon, walaupun aku tidak bisa bersama dengan mu. Berikan lah aku maaf, agar aku bisa melanjutkan hidup dengan tenang.


Raka pun mengirimkan pesan itu kepada Queen. Lalu, ia beranjak dari mejanya dan bergegas kerumah sakit untuk menemui Jonathan.


Sejak tadi pagi, Lala menghubungi Raka. Lala menyampaikan bila Jonathan ingin bertemu dengan Raka. Sebagai seorang Ayah, Raka menyetujui untuk mengunjungi anak kandung nya itu.

__ADS_1


...


Di rumah sakit, Raka langsung menuju ke ruangan Jonathan. Bocah kecil itu menyambut dirinya dengan senyuman yang manis. Terlihat selang oksigen yang tersangkut di dua lubang hidung mungil nya.


Raka menghela nafas panjang dan membalas senyuman Jonathan. Ia beranjak mendekati bocah itu. Di sisi Jonathan terlihat Lala yang tersenyum menyambut kedatangan Raka. Ia beranjak dari duduknya dan membiarkan Raka berbicara dengan Jonathan.


"Hai Papi..." Sapa Jonathan dengan ramah. Bocah lelaki itu memang sangat ramah pada siapa saja. Itulah mengapa Jonathan sangat disukai dimana saja, termasuk di rumah sakit itu oleh para dokter dan perawat yang bertugas disana.


"Hai, apa kabarmu hari ini?" Tanya Raka sambil meraih tangan mungil Jonathan yang tampak membiru karena bekas jarum infus yang baru saja di pindahkan karena terjadi pembengkakan karena terlalu lama jarum tertancap disana.


"Baik Papi. Papi apa kabar?"


"Baik," Sahut Raka dengan ujung suara yang tercekat.


"Papi jangan sedih ya, wajah papi sedih sekali. Jonathan pasti akan sembuh."


Mendengar ucapan bocah itu, air mata Raka mengalir di pipinya tanpa mampu ia tahan.


Raka adalah tipe orang yang ekspresif. Ia selalu terbawa perasaan bila melihat hal-hal yang membuat dirinya terharu ataupun melihat hal yang menyedihkan.


"Gak, Papi tidak akan menangis. Ini mata Papi perih karena kurang tidur." Raka meraih tangan Jonathan yang sedang mengusap air mata di pipinya, lalu ia mencium punggung tangan bocah itu.


"Papi sayang sama Jonathan. Jadi, Jonathan harus sembuh ya."


Jonathan tersenyum memperlihatkan giginya yang tampak ompong di deretan gigi atas bagian depan nya. Lalu, ia memeluk Raka dengan erat.


"Jonathan janji, Jonathan akan sembuh untuk Papi dan Mami," Ucap Jonathan yang terlihat semakin pucat hari ini.


Raka meraih tubuh mungil itu dan memeluk nya dengan erat.


Lala yang melihat pemandangan itu, tidak kuasa menahan air mata. Ia pun beranjak keluar dari ruangan itu. Ia ingin menenangkan diri dan mengusir rasa haru, sedih dan penyesalan yang hinggap di hatinya saat melihat kedekatan Jonathan dan Raka.


Setelah itu, Jonathan dan Raka pun bermain bersama. Walaupun hati Raka sedang kalut memikirkan Queen, tetapi ia harus berusaha tampil riang di depan Jonathan yang sedang menanggung rasa sakit yang bocah itu derita.


Tak berapa lama kemudian, seorang dokter dan perawat datang untuk memeriksa Jonathan.

__ADS_1


Selama Jonathan di periksa, Raka kembali mengecek ponselnya dan berharap ia mendapatkan balasan dari Queen. Tetapi, ia tak kunjung mendapatkan balasan dari gadis itu.


Raka menghela nafas dan terduduk di sofa ruangan itu.


"Bapak Raka yang kemarin mau mendonorkan sum-sum tulang belakang untuk Jonathan ya?" Tanya dokter itu.


"Ah iya dok," Sahut Raka sambil mengantongi ponselnya dan bergegas berdiri untuk berbicara dengan dokter itu.


"Apa Bapak sudah siap untuk diperiksa?" Tanya dokter itu lagi.


"Siap dok,"


"Mengingat kondisi Jonathan yang semakin lemah, dia harus segera mendapatkan donor itu. Ayo kita ke ruangan saya." Ucap dokter itu.


Lala oun tiba dan melihat Raka berpamitan dengan Jonathan. Terlihat Raka mengecup kening bocah itu dan minta di doakan bila sum-sum mereka cocok. Karena mendapatkan sum-sum yang sama, sangat lah sulit. Walaupun itu termasuk keluarga sendiri atau darah daging sendiri.


Raka melangkah mengikuti dokter itu, Lala menatap Raka dengan mata yang sembab. Raka pun menghentikan langkahnya nya di depan Lala.


"Doain ya..." Ucap Raka.


Lala tak kuasa menahan tangis nya, ia mengangguk tanpa kata.


Raka tersenyum dan memeluk Ibu dari anak nya tersebut. Lala pun memeluk Raka dengan erat. Lala tahu, apa bila sum-sum tulang belakang Raka cocok dengan Jonathan, maka Raka dan Jonathan akan di operasi bersama. Hal itu tentu penuh resiko, baik untuk Raka ataupun Jonathan.


Rasa bersalah Lala akan bertambah berpuluh-puluh kali lipat apabila salah satu diantara mereka mengalami hal yang buruk.


"Maafkan aku, maaf untuk segala-galanya." Ucap Lala sambil menangis.


"Sudahlah, ini sudah takdir. Kita harus lewati ini. Kita harus yakin dan berani." Bisik Raka.


Raka pun melangkah keluar dari ruangan itu. Lala hanya bisa terpaku menatap lelaki yang sebenarnya masih sangat ia cintai itu.


Andai saja orang tua Raka tidak menghina dirinya dan ia tahu saat itu ia sedang mengandung anak Raka, mungkin, saat ini dia sudah bahagia dengan Raka.


Tetapi, apa daya... takdir begitu unik. Setiap langkahnya tidak bisa di tebak. Manusia hanya menjalani, rahasia-rahasia itu tampa bisa mengatur kehendak sang pencipta.

__ADS_1


__ADS_2