
Saat berbalas pesan dengan Queen, Raka baru tersadar bila begitu banyak panggilan yang tak terjawab dari kedua orangtuanya. Raka mengerutkan dahi dan mencoba menghubungi kembali kedua orangtuanya. Namun, panggilan itu tak kunjung terjawab.
Raka masih merasa heran, tidak biasanya kedua orang tuanya menghubungi dirinya berkali-kali. Raka pun mulai menghubungi supir keluarganya. Beruntung, panggilan tersebut langsung di terima oleh supir keluarganya.
"Halo Pak," Sapa Raka.
"Ya, Pak Raka."
"Pak, ada dimana?" Tanya nya lagi.
"Kami sedang berada di kantor polisi Pak,"
"Kami?" Tanya Raka lagi.
"Iya, saya, tuan dan nyonya." Sahut supirnya.
"Memang ada apa?" Tanya Raka dengan wajah yang khawatir.
"Kami di serang oleh sekelompok orang bertubuh tegap, Pak. Beruntung ada pihak polisi yang sedang lewat, menggagalkan aksi mereka. Mereka membawa senjata api pak, ingin membunuh tuan dan nyonya!"
"Apa! Bapak ada di kantor polisi mana?" Tanya Raka.
"Tidak jauh dari rumah Pak, biar saya kirim lokasinya."
"Baik," Ucap Raka seraya mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Selang beberapa saat kemudian, ponsel Raka pun berbunyi. Satu pesan yang berisi lokasi dimana Bapak, Ibu dan supirnya berada pun ia terima. Tanpa membuang waktu, Raka meminta supir pribadinya untuk melajukan mobilnya ke kantor polisi itu.
....
"Loh, Ayah mau kemana?" Tanya Bunda yang terheran-heran saat melihat Ayah dijemput oleh mobil dinas nya dan beberapa orang ajudan setia Ayah Andra.
"Sebenarnya, Ayah ada urusan dari siang tadi. Hanya saja, Ayah menunggu sampai acara selesai. Jadi, Ayah tinggal dulu ya Bun."
"Acara apa Yah? Ayah belum ganti baju loh,"
"Tidak apa-apa, Ayah hanya sebentar saja. Ayah pulang kok," Ucap Ayah, mencoba untuk menenangkan Bunda.
"Queen, kamu pulang sama Bunda ya... jangan kemana-mana dahulu. Kalian pulang bersama dengan para ajudan."
"I-i-iya Ayah...."
Queen dapat menangkap ada sesuatu yang begitu serius, sedang terjadi. Tidak hanya sekali dua kali Ayah begitu. Tetapi, sudah sering kali Ayah seperti itu. Hanya saja, bedanya kali ini wajah Ayah terlihat sangat serius. Tidak santai seperti biasanya.
__ADS_1
"Ayah pergi dulu," Ucap Ayah, seraya memasuki mobil dinas nya.
Di dalam mobil, Ayah memperhatikan foto wajah pelaku penyerangan kepada nyonya Amara dan suaminya. Foto para pria yang ada di ponselnya itu, dikirimkan oleh salah satu anak buahnya yang mengawasi Lala. Karena pengemudi mobil yang hampir sama dengan yang tertangkap di CCTV jalan tol itu sempat menemui Lala, maka pengawasan pun di bagi menjadi dua. Satu mengawasi Lala, dan yang satunya mengawasi mobil yang di curigai telah mencelakakan Tika.
Benar saja, mobil itu adalah mobil milik salah satu anggota mafia yang disewa oleh Lala. Hanya saja, Ayah, pihak kepolisian dan anak buah Ayah Andra tidak gegabah. Mereka menunggu momen yang tepat untuk menangkap tangan para penjahat itu beraksi.
Kebetulan sekali, tugas anggota mafia itu hari ini adalah mencelakakan orangtua Raka. Beruntung, anggota Ayah Andra menggagalkan aksi mereka.
Sempat terjadi adu tembak antara mafia dengan anggota Ayah Andra. Bahkan, salah salah satu anggota Ayah Andra tertembak di lengan nya. Meskipun begitu, misi mereka lancar. Anak buah mafia itu pun dapat di bekuk dan dua orang diantaranya harus meregang nyawa dan terkapar di aspal.
Ayah Andra sudah tahu berita itu sejak siang tadi. Hanya saja, ia harus mengutamakan keluarganya. Maka, Ayah Andra meminta anak buahnya berkoordinasi terlebih dahulu kepada pihak kepolisian, untuk menahan para anggota mafia itu. Sedangkan keadaan orangtua Raka, baik-baik saja. Mereka hanya mengalami shock dan di bawa ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Maka dari itulah, orangtua Raka tidak bisa menghadiri acara pernikahan Athar dan Kimmy. Karena mereka harus menghadapi puluhan pertanyaan dari polisi, dan melaporkan kejadian itu, agar para pelaku dan dalangnya dapat di hukum seberat-beratnya.
..
Raka bergegas masuk ke kantor polisi, untuk menemui Ayah dan Ibunya. Setibanya Raka di salah satu ruangan, Raka melihat Ibunya sedang di peluk erat oleh Ayahnya. Ibunya terlihat sangat shock dengan apa yang telah ia alami.
"Ayah! Ibu!" Panggil Raka seraya mendekati orangtuanya itu.
"Raka!" Ayah dan Ibunya pun memeluk Raka dengan haru.
"Apa yang terjadi?" Tanya Raka penasaran, sekaligus merasa lega karena melihat kedua orangtuanya baik-baik saja.
"Kami diserang sama sekelompok orang itu," Nyonya Amara pun menunjuk beberapa orang yang sedang berjejer di ruangan itu.
"Mobil kita di hadang. Lalu, orang-orang itu meminta kami keluar dengan pistol di tangan mereka. Mereka mengetuk-ngetuk kaca jendela hingga retak. Beruntung ada Bapak-bapak itu." Nyonya Amara menunjuk beberapa orang lelaki berseragam militer.
Saat itu juga Raka paham, para lelaki berseragam militer adalah orang suruhan Ayah Andra. Maka dari itu, orang-orang yang akan mencelakakan orangtuanya adalah orang suruhan Lala. Tidak bisa dipungkiri, hanya Lala lah yang tidak menyukai dirinya berhubungan dengan Queen. Hanya saja, Raka tidak habis pikir, mengapa orangtuanya juga menjadi sasaran Lala.
Raka beranjak dari duduknya dan menghampiri para tersangka yang hendak membunuh orangtuanya.
"Bangsatttttt...!" Maki Raka seraya melayangkan kepalan tangan nya kepada salah satu anggota mafia tersebut.
Bugggg..!
"Bajiangannnnn kalian!" Hardik Raka lagi seraya menerjang beberapa anggota mafia yang lain nya dengan tendangan kakinya yang kokoh.
Darah segar mengalir dari bibir seorang anggota mafia yang masih berdiam diri tanpa sepatah katapun.
Sejak tadi, mereka tidak mengatakan apa-apa. Hal itu sudah menjadi kewajiban bagi setiap anggota mafia, untuk menutup mulutnya, agar tidak menyeret siapapun termasuk client mereka dan boss mereka.
"Siapa yang menyuruh kalian, bajingannn!" Raka menarik kerah baju seorang mafia.
Mafia itu tetap diam membisu. Raka pun menjadi khilaf, ia kembali melayangkan kepalan tangan nya di wajah anggota mafia itu.
__ADS_1
"Cukup Raka, biar Om yang menangani." Terdengar suara Ayah Andra yang baru saja tiba dan melihat Raka yang sedang emosi memukuli para anggota mafia tersebut.
Raka menoleh, dan menatap Ayah Andra yang berdiri di ambang pintu ruangan itu. Dengan seketika ia terdiam dan menahan emosinya yang sedang meluap-luap. Dugaan Raka benar, Ayah Andra memang hebat. Ia begitu melindungi semua yang berhubungan dengan kemungkinan yang terjadi. Bila tidak karena Ayah Andra, mungkin saja orangtuanya sudah tidak ada di dunia ini.
"Om," Sapa Raka seraya menghampiri Ayah Andra.
Ayah Andra hanya mengangguk dan tersenyum ramah kepada Raka.
"Bawa mereka ke ruangan khusus, saya mau bicara dengan mereka," Ucap Ayah Andra dengan tegas. Terdengar suara Ayah Andra begitu dingin dan mematikan. Siapa saja yang mendengar nya akan bergidik ngeri. Baru kali ini Raka melihat Ayah Andra yang sebenarnya. Calon mertuanya itu ternyata sangat mengerikan. Sikap dan suaranya yang berat dan dingin itu tidak pernah Raka lihat selama ia mengenal Ayah Andra.
Tetapi kali ini, Raka paham, bagaimana Ayah Andra bisa di titik pangkat tertinggi nya. Itu karena ketegasan dan kinerja Ayah Andra yang tidak main-main. Raka pikir, saat Ayah Andra menguji dirinya saat meminta restu, itu sudah paling mengerikan. Bahkan, hanya begitu saja Raka rasanya sudah ingin buang air di celana. Tetapi kali ini, Ia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri. Betapa dirinya tidak akan pernah hidup bila ia bermain-main dengan Queen.
Beberapa anggota polisi dan anak buah Ayah Andra membawa para tersangka keruangan khusus. Sedangkan Ayah Andra berjalan menghampiri Raka dan kedua orangtuanya.
"Bapak, Ibu, apakah tidak apa-apa?" Tanya Ayah Andra dengan ramah kepada kedua orangtua Raka.
"Tidak apa-apa Pak, beruntung Bapak-Bapak-Bapak itu datang tepat waktu." Nyonya Amara menunjuk anak buah Ayah Andra.
Ayah Andra tersenyum dan mengangguk dengan perlahan.
"Alhamdulillah kalau begitu. Ibu sudah melapor kan? Sudah di mintai keterangan juga kan?" Tanya nya lagi.
"Sudah Pak," Sahut nyonya Amara.
"Baik kalau begitu, silahkan beristirahat dirumah." Ucap Ayah Andra.
"Om, terima kasih Om," Ucap Raka seraya mengecup punggung tangan Ayah Andra.
"Sudah, bawalah pulang kedua orangtuamu. Mereka butuh beristirahat," Ucap Ayah Andra.
"Baik Om,"
"Saya keruangan sebelah dulu ya..."
"Iya Om, sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama," Sahut Ayah Andra seraya beranjak dari ruangan itu.
Raka dan kedua orangtuanya pun bersiap-siap untuk pulang. Sebelumnya, mereka sempat menandatangani beberapa berkas untuk kelancaran investigasi lanjutan.
Saat mereka keluar dari ruangan itu, terdengar teriakan histeris dan permintaan ampun dari ruangan dimana Ayah Andra dan para anggota mafia itu berada.
Raka menelan salivanya dan bergidik ngeri. Ia pun segera membawa kedua orangtuanya untuk kembali ke kediaman mereka.
__ADS_1