
Terlihat wajah cemas Lala di depan ruangan Jonathan. Ia mondar-mandir di depan ruangan itu seraya mengigit ujung kuku nya. Air mata tampak membasahi pipi wanita berusia 32 tahun itu.
Raka dan Queen yang melihat dari kejauhan bergegas menghampiri Lala dengan segera. Saat itu juga Lala melihat Raka yang sedang menggandeng tangan Queen dengan erat. Ia sempat tertegun melihat Queen yang masih bersama dengan Raka.
"Ada apa?" Tanya Raka dengan wajah yang tampak ikut khawatir.
Lala masih tertegun dan menatap Queen dengan tatapan yang cemburu.
"Lala!"
"Ah...." Lala mengerjapkan matanya dan mengalihkan pandangan nya kepada Raka.
"Raka, anak kita....!" Ucap Lala sambil memeluk Raka dan menangis di pelukan Raka.
"Kenapa?" Raka melepaskan tangan nya dari tangan Queen dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Lala. Namun, Lala menahan tubuh Raka yang hendak masuk kedalam ruangan Jonathan.
"Jonathan drop lagi, dia sedang ditangani dokter. Kita diminta tunggu diluar."
Queen menatap Lala yang memeluk Raka dengan erat. Namun, ia tidak berhak cemburu. Karena dia bukanlah kekasih Raka. Dirinya dan Raka belum sepakat untuk menjalin hubungan. Lagi pula, Lala adalah Ibu dari anak Raka. Maka Queen berusaha menyingkirkan rasa cemburunya jauh-jauh.
"Ya Allah...!" Raka mengusap wajah nya dan terus menatap ke pintu ruangan Jonathan. Sedangkan Lala terus memeluk Raka dengan erat.
"Permisi," Raka melepaskan pelukan Lala dan beranjak mendekati Queen yang menyingkir dengan duduk di bangku tunggu di ruangan itu. Raka pun duduk di sebelah Queen.
Queen yang melihat Raka duduk disebelah nya pun langsung tersenyum dan mencoba menghibur Raka.
"Sabar ya... kita tunggu dokter keluar. Semoga Jonathan baik-baik saja." Ucap Queen dengan lembut.
Raka mengangguk dengan wajah gelisah, lalu ia kembali menggenggam tangan Queen dengan erat.
Lala tertegun melihat Raka dan Queen yang begitu terlihat sangat dekat. Lalu, ia memutuskan untuk duduk di samping Raka. Kini, Raka di apit oleh dua orang wanita. Satu wanita masa depan nya dan satunya lagi wanita dari masa lalunya. Tetapi, Raka sedikit risih saat Lala duduk disamping dirinya.
Lala melirik tangan Raka yang menggenggam erat tangan Queen. Ia merasa kesal dengan Raka yang memperlakukan Queen layaknya seorang kekasih. Padahal saat ini, dirinyalah yang sedang membutuhkan dukungan moril, bukan Queen. Karena dirinyalah Ibu kandung dari Jonathan, anak nya Raka.
Kini, kekhawatiran tentang Jonathan tidak ada lagi di benak Lala. Rasa khawatir itu berganti dengan rasa khawatir bila Raka tetap bersama dengan Queen. Lala benar-benar terbakar api cemburu.
"Bagaimana menyingkirkan gadis ini dari Raka. Benar-benar ganjalan bagi hubungan aku dengan Raka!" Batin Lala.
Seorang perawat mendorong dengan kasar pintu ruangan Jonathan. Terlihat bocah itu sedang tergeletak tak berdaya di atas ranjang yang di dorong keluar dari ruangan itu.
"Ada apa!" Raka terlihat terkejut dan beranjak menghampiri dokter yang tergesa-gesa keluar dari ruangan itu seraya mengikuti Jonathan yang di dorong menuju ruang ICU.
"Maaf Pak, nanti akan saya jelaskan," Ucap dokter itu dan berlalu dari hadapan Raka. Raka, Lala dan Queen segera mengikuti Jonathan yang di bawa ke ruang ICU. Mereka melihat Jonathan di pasangkan alat bantu untuk bernafas serta Elektrokardiogram, untuk mendeteksi detak jantung Jonathan.
Raka melihat dari balik jendela kaca, darah dagingnya itu terlihat pucat dan tak berdaya. Air matanya pun menetes di pipinya yang mulai cekung karena kurang beristirahat. Raka terus mengusap kaca seakan ia sedang menyentuh Jonathan yang sedang dalam penanganan intensif.
Setelah Jonathan selesai di tangani, dokter pun keluar dengan wajah cemas. Raka dan Lala bergegas menghadang dokter yang terlihat terburu-buru untuk pergi.
"Anak saya kenapa dok?" Tanya Lala dengan wajah khawatir.
"Jonathan mengalami komplikasi yang menyebabkan pendarahan di paru-parunya. Saya akan segera mendiskusikan ini dengan team dokter lain nya. Saya permisi dulu." Dokter itu pun bergegas pergi untuk menghubungi team medis yang menangani Jonathan.
Raka terlihat hancur. Ia pun bergegas masuk kedalam ruang ICU itu tanpa bisa di cegah oleh suster yang berada di dalam ruangan itu. Raka memeluk Jonathan yang tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Bangun nak, bangun!" Seru Raka yang terlihat panik.
"Sabar Pak, biarkan Jonathan beristirahat. Bapak tunggu diluar saja," Ucap suster itu.
"Tidak, saya mau disini saja!" Raka bersikeras untuk tetap disamping Jonathan.
Queen bergegas menyusul Raka dan menenangkan Raka yang terus menangis melihat keadaan anaknya itu.
Lala hanya terdiam di pojok ruangan dengan raut wajah yang tak kalah khawatir.
"Raka, demi Jonathan, kita keluar dulu yuk," Pinta Queen dengan lembut.
Raka menggenggam tangan Queen yang memegang kedua pundaknya. Raka terlihat shock dengan keadaan Jonathan yang tiba-tiba saja memburuk.
"Raka, ayo..." Pinta Queen lagi.
Raka menuruti permintaan Queen. Ia pun bergegas keluar dari ruangan itu bersama Queen dan disusul oleh Lala.
Terlihat beberapa dokter berjalan dengan tergesa-gesa kearah ruangan Jonathan. Raka, Queen dan Lala hanya bisa menatap para dokter itu masuk keruangan Jonathan.
"Raka, kita hanya bisa berdoa untuk kesehatan dan keselamatan Jonathan. Kita hanya mampu meminta yang terbaik dari Allah," Ucap Queen seraya mengusap pundak Raka.
"Maksud mu? Kamu mendoakan anak saya meninggal? Yang terbaik kamu bilang?"
Queen terlihat terkejut saat Lala menuduh dirinya mendoakan Jonathan meninggal dunia.
"Saya tidak bilang begitu," Ucap Queen dengan wajah yang bingung.
"Rumah tangga?" Queen tersentak dan menatap Raka dengan seksama.
Raka mengangkat wajahnya dan menatap Queen dengan lekat.
"Tidak... Aku tidak menikah dengan dia."
"Maksud mu apa Lala?" Tanya Raka dengan wajah yang kesal, karena Lala mengatakan sudah berumah tangga dengan Raka.
"Kita akan menikah kan, Ibumu juga sudah bilang. Ingat Raka! Kamu harus bertanggung jawab! Karena kita memiliki Jonathan! Dan gadis ini, dia siapa? Dia bukan siapa-siapa kan!"
Raka beranjak dari duduknya dan menghampiri Lala.
"Jangan berkhayal lagi Lala, urusan kita hanya sebatas Jonatan saja. Selebihnya tidak ada lagi. Dan Queen... Queen adalah gadis yang aku cintai. Ingat itu!" Ucap Raka seraya mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Lala.
Lala terdiam, dadanya naik turun menahan sesak di dadanya. Ia menatap Queen dengan mata yang memerah. Seakan, Queen lah yang bersalah dengan perubahan Raka. Tanpa dirinya sadari bila Raka sudah berhenti mencintai dirinya sejak dia menikahi Max.
Lala tidak bisa menerima keadaan, ia menghentakkan kakinya dan berjalan menghampiri Queen.
"Lala!"
Raka mencoba mencegah Lala yang berusaha menarik rambut Queen. Tetapi, terlambat, Lala sudah menarik rambut Queen hingga Queen meringis kesakitan.
"Lala! Lepaskan!" Raka menahan rambut Queen dan mendorong Lala hingga terbentur di dinding ruang ICU itu.
"Kamu!" Lala menatap Raka dengan tak percaya, serta amarah yang memuncak.
__ADS_1
"Gila kamu!" Bentak Raka seraya membantu Queen membetulkan rambut Queen yang berantakan.
Queen beranjak dari duduknya dan tersenyum kecil. Wajahnya menahan geram kepada Lala.
"Sebenarnya, kamu hanya memanfaatkan Jonathan untuk menjerat Raka. Apa kamu pikir cara mu yang kampungan itu berhasil? Bahkan aku tidak melihat kekhawatiran kamu atas keadaan Jonathan. Yang ada di benak mu hanya Raka."
Lala terdiam, ia menatap Queen dengan mata yang memerah penuh amarah.
"Kamu mau memiliki Raka? Ambil saja. Tetapi, apa kamu pikir Raka akan tertarik denganmu setelah melihat cara mu melampiaskan emosi dan rasa cemburu mu?"
Lala terbelalak dan menelan salivanya. Ia merasa tersakiti tanpa Queen harus membalas apa yang telah ia lakukan kepada gadis itu.
"Poor you." Queen tersenyum sinis dan berjalan meninggalkan koridor ruang ICU itu.
"Queen!" Raka berlari menghampiri Queen.
Melihat Raka yang mengejar Queen, Lala tahu, dirinya sudah kalah telak oleh kehadiran Queen yang sudah memiliki hati Raka.
Dadanya terasa terbakar karena api cemburu. Ia terduduk lemas di depan ruang ICU itu.
"Queen!" Raka menahan Queen saat akan menekan tombol lift di lantai tiga rumah sakit itu.
Queen menghela nafasnya dan menatap Raka dengan tatapan yang datar.
"Queen maaf..."
"Untuk?" Tanya Queen masih dengan tatapan yang datar.
"Untuk semuanya dan Lala...."
"Mengapa kamu meminta maaf atas apa yang tidak kamu lakukan?"
Pertanyaan Queen membuat Raka terdiam. Ia bingung akan menjawab apa dengan pertanyaan yang ia tidak tahu jawabannya itu.
"Raka, kalau memang kita berjodoh, semua akan dipermudah. Untuk saat ini, lebih baik kamu fokus dengan Jonathan."
"Tapi Queen... aku..."
"Raka, aku lelah." Ucap Queen seraya menekan tombol lift tersebut.
Raka hanya terdiam membisu. Sampai pintu lift itu terbuka pun, lelaki itu tetap terdiam.
Queen melangkah masuk kedalam lift dan menatap Raka yang memandang dirinya dengan tatapan yang kosong.
Pintu lift pun tertutup. Wajah Raka pun menghilang dari pandangan Queen. Ia mulai menahan tangisan yang hampir saja meledak. Entah apa kesalahannya hingga semua cerita asmara nya selalu terhalang dan berakhir tragis.
Queen benar-benar merasa lelah dengan semuanya. Disaat ia sudah mulai meyakinkan diri dengan Raka, seperti cerita cinta sebelumnya, selalu ada saja penghalang dirinya untuk bahagia.
Queen melangkah keluar dari lift saat pintu lift itu baru saja terbuka. Ia langsung bergegas menuju ke parkiran mobil.
Setelah menemukan mobilnya, Queen pun beranjak masuk dan menangis di dalam mobilnya.
"Tuhan, bila memang ini hukuman dari segala dosa-dosa ku, aku terima. Bila memang ini adalah karma dari apa yang dilakukan kedua orang tuaku, aku mohon, akhiri lah Tuhan... Aku benar-benar lelah. Aku menginginkan seseorang yang benar-benar bisa aku cintai, aku percaya dan menjadi pendamping ku seumur hidup. Tuhan... aku lelah, bolehkan aku mengeluh lagi? Aku lelah..." Gumam Queen seraya membenamkan wajahnya di atas setir mobilnya.
__ADS_1