365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
93# Makanan yang menggugah selera


__ADS_3

Ucapan salam, menggema di seluruh sudut Mesjid Jama. Suara Imam shalat yang terdengar syahdu membuat para jemaat lebih khusyuk dalam mengikuti setiap rakaat yang Imam itu pimpin.


Queen berdoa tafakur setelah salam terakhir mengucapkan segala puja dan puji kepada Allah setelah sholatnya. Begitu pun dengan Raka, yang tidak langsung beranjak dari shaf nya. Lelaki itu memejamkan mata mengucap syukur dan segala puji bagi Allah sang pencipta.


Setelah itu, mereka sama-sama berdoa. Tanpa mereka sadari, doa yang mereka panjatkan itu sama. Mereka sama-sama memohon petunjuk NYA, bila orang yang sedang dekat dengan mereka adalah jodoh mereka. Mereka sama-sama memohon kemurahan hati sang pencipta untuk meneguhkan hati mereka, bila memang mereka memiliki tujuan yang sama. Doa yang mereka panjatkan dari hati itu terlihat penuh harapan. Di waktu dan tempat yang sama, doa itu menjadi satu walau berasal dari dua hati.


Setelah berdoa, Queen beranjak dari duduknya. Ia memandang ke arah shaf laki-laki, terlihat Raka yang masih betah duduk dan berdoa di sana. Maka dari itu, Queen memutuskan untuk berjalan menikmati bangunan Mesjid tersebut.


Queen berjalan menuju menara, beberapa wisatawan yang juga baru selesai menunaikan shalat berjamaah pun berjalan kearah menara. Beberapa dari mereka ada yang mencoba mengabadikan momen saat mereka berada didalam Mesjid yang sangat cantik ini.


Queen memutar dan berjalan menyusuri tangga, menuju ke atas menara. Dimana menara yang memiliki ketinggian 41 meter dan terdiri dari 130 anak tangga itu, dihiasi oleh pualam hitam dan batu bata. Queen terpesona dengan kecantikan setiap sudut yang ia jumpai.


Dengan nafas terengah, akhirnya Queen sampai di puncak menara dan memandang ke luar menara. Mata Queen tertuju pada sebelah timur Mesjid itu. Tepat di pintu timur, terlihat para pedagang ternak Ayam dan burung mulai mengadakan bazar yang akan berlangsung mulai petang hingga malam hari.


Sedangkan di sekitar tangga-tangga Mesjid, para pedagang sudah mulai kembali membuka dagangan mereka, setelah shalat Dzuhur berakhir.


Para penghibur jalanan pun mulai menghibur para pejalan kaki dan wisatawan. Hanya demi beberapa Rupee yang diberikan para pejalan kaki, maupun para wisatawan.


Terdengar beberapa wanita berbincang dengan menggunakan bahasa asal negara mereka. Mereka berdiri tepat di samping Queen dan terlihat sangat kagum dengan arsitektur bangunan itu. Queen yang merasa sudah puas dengan mengambil beberapa gambar dari atas menara itu pun berniat meninggalkan ruangan itu. Ia mulai menuruni anak tangga dan berniat mencari Raka.


Setelah ia berada di lantai dasar mesjid itu, Queen tidak melihat Raka. Ia pun mulai panik. Bukan karena takut tersesat, Queen takut Raka mencarinya kesana kemari, karena dirinya tidak mengatakan kepada Raka bila ia mampir ke atas menara Mesjid itu.


Queen berlari kecil keluar dari mesjid itu dan memakai sandal nya yang ia titipkan pada pengurus Mesjid. Lalu, Queen berlari keluar. Seluas mata memandang, ia tidak melihat Raka. Queen pun memutuskan berjalan menyusuri pelataran yang sangat luas itu.


Di keramaian pelataran mesjid, terdengar beberapa bahasa yang samar di telinga Queen. Serta berbagai rupa orang-orang yang membanjiri pelataran tersebut, membuat Queen harus ekstra teliti dalam mencari Raka.


Setelah beberapa menit Queen mencari, akhirnya Queen pun memutuskan untuk beristirahat di dekat gerbang timur Mesjid itu. Peluh pun membanjiri dahi Queen. Ia terduduk lelah di sebuah batu yang tersusun di pinggir gerbang.


Tiba-tiba saja, dahi nya di usap oleh seseorang, dengan sebuah tisu. Queen pun menoleh dan menatap orang tersebut.


"Rakaaaa... kamu kemana saja?" Tanya Queen dengan wajah yang cemas.


"Aku juga mencari mu. Beruntung kita bertemu disini. Mau minuman dingin?" Tanya Raka seraya memberikan Queen minuman kemasan yang masih berembun karena dingin.


Queen menghela nafasnya dan meraih minuman itu dari tangan Raka.


"Kamu itu bikin aku khawatir saja!" Ucap Queen.


Raka tersenyum dan beranjak duduk di samping Queen.


"Aku lebih khawatir lagi, hanya saja aku mencoba tenang. Kita masuk dari gerbang ini, sudah pasti kamu akan keluar dari gerbang ini. Jadi, setelah lelah mencari, aku memutuskan menunggumu disini."


Queen menatap kedua mata Raka. Tidak terbantahkan bila lelaki itu cukup cerdas untuk menghadapi situasi yang membuat panik bagi sebagian orang, termasuk Queen.


"Maaf, aku tidak bilang sama kamu kalau aku keatas menara itu," Queen menunjuk menara yang tadi ia singgahi.


"Oh.. gak apa." Sahut Raka seraya meneguk minuman kemasan yang berada di tangan nya. Setelah itu, ia kembali melirik Queen dan tersenyum.

__ADS_1


"Capek ya?"


"Enggak,"


"Mau makan siang?"


"Boleh," Sahut Queen seraya tersenyum manis kepada Raka.


"Ya sudah ayo..., di sekitar sini ada pedagang kaki lima." Ucap Raka seraya menggandeng tangan Queen.


"Hmmm Raka.."


"Ya?"


Queen menatap tangan Raka yang menggandeng tangan nya.


"Ah iya, maaf... Hmmm tapi, disini kadang ada penculikan para wisatawan. Lalu mereka..."


"Ayo jalan," Ucap Queen seraya bergidik ngeri dan menggenggam tangan Raka erat-erat.


Banyaknya berita tentang wisatawan yang di culik, membuat sebagian wisatawan yang berkunjung harus benar-benar menjaga diri mereka. Apa lagi, wisatawan yang sendirian atau hanya berdua saja tanpa grup wisata.


Sebenarnya, tidak hanya di negara ini saja, di semua negara pun, bila kita tidak benar-benar bisa menjaga diri, maka akan menjadi sasaran empuk para orang yang berniat jahat.


Queen dan Raka menyusuri ramainya para pedagang kaki lima. Disana terdapat penjual aksesori, makanan, tasbih dan keperluan shalat, pedagang minuman dan lain sebagainya, yang cukup memanjakan mata para wisatawan.


"Raka benar-benar terbukti dalam kedewasaan, ketenangan, kesabaran, kecerdasan dan cara menghadapi masalah. Raka juga sangat mapan dalam segi finansial, walaupun ia masih bekerja di hotel. Dia juga tampan dan mulai mau beribadah dengan baik. Apakah ini sudah cukup untuk menerimanya? Apakah ini jawaban yang Allah berikan kepadaku?" Gumam Queen.


Raka menghentikan langkahnya di depan pedagang kaki lima yang menjual makanan.


"Mau ini?" Tanya Raka.


Queen mengamati makanan yang tertata disana. Makanan itu terlihat sangat menggugah selera. Lalu, ia mengangguk dengan cepat.


"Mau," Sahut Queen.


"Ok," Raka pun memesan dua porsi jajanan yang di jaja oleh sang pedagang.


Setelah itu, pedagang itu pun membuat pesanan Raka. Sambil menunggu sang pedagang membuat pesanan mereka, Queen dan Raka pun duduk di kursi plastik yang di berikan oleh pedagang tersebut.


Mereka menatap ke arah keramaian. Terlihat bocah kecil berlarian kesana kemari dengan sebuah balon tiup di tangan nya. Raka tersenyum memandang bocah-bocah tersebut.


"Aku rindu Jonathan," Ucapnya seraya terus memandangi bocah-bocah itu.


Queen menatap Raka dengan wajah yang prihatin.


"Aku juga," Sahut Queen.

__ADS_1


Raka menoleh dan tersenyum tipis kepada Queen.


"Semoga Allah memberikan Jonathan tempat yang terindah disisi NYA." Ucap Queen lagi.


"Aamiin," Sahut Raka seraya tersenyum manis kepada Queen.


Queen membalas senyuman Raka, lalu, tiba-tiba saja matanya terfokus kepada pedagang kaki lima yang sedang membuat makanan untuk nya.


"Raka..." Ucap nya seraya menepuk pundak Raka.


"Ya..?"


"Lihat..!" Queen menunjuk pedang tersebut.


Pedang itu membuka bajunya yang berpeluh dan menggaruk ketiak nya beberapa kali. Lalu, ia meraup daun bawang yang sudah ia cincang dari dalam kaleng bekas biscuit, dengan tangan bekas pedagang itu menggaruk ketiak nya. Lalu, ia memasukan daun bawang itu kedalam adonan milik Queen dan Raka.


Raka mengangkat kedua alisnya, mulutnya ternganga lebar. Begitupun dengan Queen.


"Oh.. shittttt...!" Gumam Raka.


Tak hanya sampai disitu, pedagang itu pun merendamkan tangan nya dan mencuci tangan nya kedalam kuah yang akan ia siram kedalam jajanan pesanan mereka. Queen dan Raka kembali terbelalak dan saling berpandangan.


"Whatt?" Ucap Queen dengan tak percaya.


Setelah pedagang itu selesai membuat pesanan mereka, pedagang itu pun memberikan pesanan mereka kepada Raka. Jajanan yang disajikan di atas styrofoam tersebut pun hanya di pandangi oleh Queen dan Raka.


"Thirty Rupee." Ucap pedagang itu, untuk dua buah pesanan mereka.


Dengan ragu, Raka mengeluarkan uang nya sebanyak 30 Rupee dan memberikan nya kepada pedagang itu.


"Thank you!" Ucap pedagang itu seraya tersenyum semringah.


Raka menerima dua bungkus styrofoam tersebut dan menatap Queen dengan seksama. Lalu, pelan-pelan mereka meninggalkan lapak pedagang itu.


Tanpa kata, setelah mereka menjauh dari pedagang itu, masing-masing dari mereka pun mulai berekspresi seakan mau muntah.


"Hoekkk!" Diawali oleh Raka dan di susul oleh Queen. Lalu, mereka berdua pun berlari ke arah yang berbeda dan menumpahkan isi perut mereka di antara semak-semak yang tumbuh di tepi jalan.


"Haizzzz...!" Ucap Raka seraya mengusap bibirnya. Lalu, ia bergegas menghampiri Queen yang terduduk lemas setelah ia memuntahkan isi perutnya.


"Ya Allah..!" Keluh Queen seraya kembali akan muntah.


Raka pun mencoba memijat tengkuk Queen yang kembali memuntahkan isi perutnya.


Beberapa pasang mata menatap mereka dengan wajah yang bingung. Raka berusaha tersenyum dan mengusap perutnya seraya berbicara kepada orang-orang yang sedang melintas dan menatap mereka.


"My wife is pregnant.." Ucap nya berkali-kali kepada para pejalan yang terus menatap mereka, seraya tersenyum kikuk.

__ADS_1


__ADS_2