365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
20# Khayalan tengah malam


__ADS_3

"Queen..." Sapa Bunda saat melihat Queen pulang dalam keadaan yang terlihat lesu dan riasan wajah gadis itu pun terlihat berantakan.


"Queen ada apa nak?" Tanya Bunda yang segera menghampiri Queen yang melintas di ruang keluarga.


Queen menghentikan langkah kakinya dan menatap Bunda dengan seksama. Ayah yang sedang duduk di sofa keluarga juga terlihat penasaran saat melihat penampilan Queen yang terlihat berantakan.


"Kamu baik-baik saja kan Queen?" Tanya Bunda lagi.


Queen tersenyum kepada Bunda walaupun hatinya sedang menangis.


"Queen baik-baik saja kok Bun."


"Yakin? Penampilan mu kok......" Bunda menatap Queen dari atas kepala hingga ke kaki gadis itu.


"Kenapa Bun?" Tanya Queen sambil memperhatikan penampilan nya sendiri.


"Kok berantakan begini?" Tanya Bunda berterus terang.


"Oh, Queen tadi sempat terjebak di lift yang macet," Ucap Queen sambil tersenyum tipis.


"Hah? Kok bisa?" Tanya Bunda penasaran.


"Ya namanya lift Bun, pasti ada saja kendalanya."


"Kamu habis menangis?" Tanya Bunda lagi.


Queen tertunduk sesaat, lalu ia memasang wajah ceria dan kembali menatap Bundanya.


"Iya Bun, sempat panik tadi saat terkurung di lift."


"Lift mana?" Tanya Ayah penasaran.


"Hotel Yah, tapi hanya sekedar setengah jam saja," Terang Queen.


"Kamu terjebak dengan siapa?" Tanya Ayah lagi.


"Se-sendiri," Ucap Queen.


Ayah dan Bunda saling bertatapan.


"Hotel mana? Bunda akan komplain dengan manajemen nya.." Ucap Bunda sambil beranjak mencari ponselnya.


"Bun, tidak usah. Yang penting sekarang Queen ada disini dalam keadaan baik-baik saja kan?"


Bunda menghentikan langkahnya dan menatap Queen dengan tatapan yang sendu.


"Ya sudah, kamu istirahat ya.."

__ADS_1


"Iya Bun, Queen ke kamar dulu ya Bun, Yah..."


Ayah dan Bunda hanya mengangguk, sedangkan Queen langsung beranjak ke kamarnya.


"Oh iya Queen, kami semua dengan keluarga Kimmy akan pergi ke pulau seribu. Kamu mau ikut?" Tanya Bunda lagi.


Queen menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah Bunda. Lalu, ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Selamat bersenang-senang Bun, aku mau mempersiapkan keberangkatan ku ke Korea."


"Oh, begitu. Baiklah," Ucap Bunda.


Bunda hanya menatap Queen yang bergegas masuk kedalam kamarnya. Lalu, Bunda duduk di samping Ayah yang kembali membaca berita lewat ponselnya.


"Yank... kayak nya Queen sedang ada masalah. Apa harus kita ikut ke pulau dan meninggalkan Queen?"


Ayah melirik kearah pintu kamar Queen, lalu ia menatap Bunda dengan seksama.


"Masa-masa saat mencari pendamping, wajar bila banyak masalah. Biarkan saja, aku yakin dia bisa melewati semuanya dengan baik. Queen anak yang hebat, percaya saja dengan nya," Ucap Ayah.


Bunda terdiam, ia mengangguk paham.


Queen menaruh tas tangan nya di atas ranjang, lalu ia terduduk ditepi ranjangnya. Rasa sesak kembali menghampiri dadanya. Ia merasa lelah, karena kisah cinta yang ia bangun selalu hancur. Entah kapan ia bisa menemukan tambatan hati dan menikah. Queen mulai pasrah bila suatu saat dirinya menjadi perawan tua dan tidak menikah hingga akhir hayatnya.


Queen beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju ke meja riasnya. Ia menatap dirinya yang kini sudah berusia 29 tahun lebih, lewat pantulan cermin di depan nya.


Queen meraih cairan pembersih wajah dan menuangkan nya di selembar kapas. Lalu, ia membersihkan wajah nya dari make-up yang melapisi kulit nya. Queen kini dapat menatap wajahnya yang polos tanpa make-up.


Dreeettt...! Dreettt...!


Sejak tadi, ponselnya terus berdering, tetapi Queen mengacuhkan nya. Ia tahu, panggilan itu dari Ricky yang masih berusaha untuk mempertahankan hubungan mereka.


Angan Queen langsung membayangkan bila dirinya tidak tahu orientasi seksual Ricky dan ia sudah terlanjur menikahi lelaki itu.


"Loh, kamu kok memakai daster ku?" Tanya Queen yang terkejut melihat Ricky memakai daster milik nya.


"Aku kan lagi hamil sayang... nih lihat perut ku gendut, masa iya pake celana, gak muat ayankkk..." Ucap Ricky dengan gaya manjanya.


"Tapi aku istri mu Rick, harusnya aku yang mengandung!" Ucap Queen sambil menarik daster yang sedang di pakai oleh Ricky.


"Ish, kike istrinya ! Kamu itu suami ku, sana kerja.. Jangan ganggu daster ku!" Jerit Ricky dengan suara yang nyaring, yang di buat-buat seperti seorang wanita.


"Kamu yang suami! Sana kerja!" Jerit Queen tak kalah nyaring nya.


"Aku yang istri ! Kamu suami ! Hey... minta di jambak-jambak kamu ya!"


Akhirnya mereka jambak-jambak kan karena berebut daster dan berdebat tentang yang mana suami dan yang mana istri.

__ADS_1


"Aaaaaaaaaaa! Tidakkkkkkk...!" Jerit Queen dengan sekuat tenaga.


Tok! Tok! Tok!


"Queen!" Panggil Bunda dari balik pintu kamarnya.


Queen tersentak dan tersadar dari lamunan nya.


"Queen, ada apa nak?" Tanya Bunda lagi.


Queen beranjak dari depan meja riasnya dan membuka pintu kamar.


"Gak ada apa-apa Bun, hanya ada kecoak tadi. Tapi sudah pergi," Sahut Queen dengan gugup.


"Seriusan?" Tanya Bunda sambil melongok ke dalam kamar Queen.


"I-iya Bun, serius," Ucap Queen.


"Mau Bunda ambilkan semprotan?"


"Gak usah Bun, Queen punya kok," Ucap Queen sambil tersenyum kikuk.


"Oh ya sudah, Bunda kira ada apa tadi. Ya sudah, kamu istirahat ya..."


"Iya Bun," Ucap Queen sambil tersenyum dan menutup pintu kamarnya.


Queen menghela nafasnya dengan berat, lalu ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


"Horor banget sumpahhhh..." Gumam nya sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.


Tiba-tiba saja, wajah Raka terlintas dibenaknya. Senyum tipis mulai terbingkai di bibirnya.


"Itu cowok, kenapa ya? Apa dia naksir sama gue? Atau.... hanya terbawa suasana saat di lift tadi?" Gumam Queen.


Queen kembali mengingat kejadian di lift, saat Raka hendak mencium bibirnya.


Queen pun merasa jantungnya berdetak kencang saat mengingat potongan kejadian Raka yang menghampiri dirinya secara perlahan dan hendak mencium bibirnya.


"Tidak-tidak...! Gue baru saja kenal sama dia. Kita hanya terbawa suasana, tidak lebih! Eh, kok kita? Dia yang terbawa suasana, bukan gue. Gue biasa aja tuh," Queen terlihat gelisah dan kembali duduk diatas ranjang nya.


"Ah, gue mikir apa sih, gak jelas." Keluh Queen. Lalu, ia merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang.


Queen berusaha untuk memejamkan matanya, tetapi bayangan Raka dan bayangan tentang Ricky terus mengusik pikiran nya. Ia kembali duduk di atas ranjangnya.


"Ih... si Ricky rasanya mau gue cekek deh! Mampir terus di otak gue!" Keluh Queen sambil bergidik ngeri.


"Kalau aku?" Queen tersentak dan melihat ke sekeliling kamarnya. Ia merasa baru saja mendengar suara Raka.

__ADS_1


"Ya Tuhan..... Aku sudah sakit jiwa kayak nya... Gara-gara gak nikah-nikah dan selalu di kecewakan laki-laki," Queen mengacak-acak rambutnya sendiri. Lalu, ia beranjak menuju ke lemari nya.


"Dari pada gue gila, mending gue siap-siap buat pergi ke Korea." Gumam nya sambil memasukkan baju tambahan untuk selama berada di Korea ke dalam koper nya yang sudah hampir terisi penuh.


__ADS_2