365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
65# Sandiwara


__ADS_3

Dengan wajah penuh amarah, Raka berjalan di lorong rumah sakit dengan langkah yang terlihat tergesa-gesa. Ia membuka pintu ruangan Jonathan dengan kasar dan menghampiri Lala yang sedang mengupas buah Apel untuk Jonathan.


"Papi.."


Bocah kecil itu menyapa Raka, tetapi Raka tidak mendengar nya, saking emosi nya ia kepada Lala.


"Bisa kita bicara sebentar?"


Lala menatap wajah Raka dengan gelisah. Lalu, ia menaruh pisau dan buah Apel yang ia kupas baru setengah kulit nya ke atas piring di depan nya.


"Ada apa?" Tanya Lala dengan wajah yang terlihat polos.


"Ayo," Raka menarik tangan Lala dengan kasar dan membawa wanita itu ke luar ruangan itu.


"Apaan sih! Kasar banget!" Keluh Lala seraya berusaha melepaskan tangan nya dari cengkraman tangan Raka.


Raka mendorong Lala ke arah tembok ruangan itu. Lalu Raka mengangkat jari telunjuknya dan menunjukkan nya di depan wajah Lala.


"Ada apa? Mengapa kamu seperti ini?" Tanya Lala yang tetap bertahan dengan kepura-puraan nya.


"Kamu ngomong apa sama Ibu?" Tanya Raka dengan wajah yang memerah.


"Ngomong apa?" Aku gak ngomong apa-apa," Ucap Lala yang tampak mulai gelisah dengan ekspresi wajah Raka yang tak biasa.


Selama Lala mengenal Raka, lelaki itu tidak sekalipun pernah bersikap seperti itu kepada dirinya. Bisa dibilang, Raka tidak pernah marah kepada Lala. Bahkan, saat Raka memergokinya sedang bersama dengan Max pun, Raka tidak seperti saat ini. Wajah Raka terlihat benar-benar seperti orang yang sedang kesetanan.


"Segitu besarnya kah pengaruh Queen terhadap Raka? Hingga Raka berubah seperti ini?" Batin Lala.


"Jawab! Jangan pernah berpura-pura dengan ku Lala! Atau kamu akan menyesal!" Raka mendorong tubuh Lala hingga punggung wanita itu terbentur dinding.


Raka memang seperti seekor singa lapar. Emosi tidak terkontrol membuat dia kasar kepada wanita. Bukan sikap Raka seperti itu, hanya saja, posisi Raka saat ini sedang dalam keadaan yang putus asa.


Raka hanya ingin hidup bahagia saat ini. Ia sudah sangat ingin menikah dengan orang yang tepat menurut dirinya. Ia hanya ingin hidup normal seperti kebanyakan lelaki lain diluar sana. Mengapa ia tidak bisa mencapainya? Padahal dirinya punya segalanya.

__ADS_1


Raka juga sudah bosan dan putus asa melihat tingkah Ibunya yang selalu mengendalikan hidupnya. Hingga Raka tidak bisa bahagia dengan siapa saja yang telah mencuri hatinya selama ini.


"Jawab!" Bentak Raka lagi.


Tubuh Lala gemetar, ia memberanikan diri menatap Raka yang terus menatap dirinya dengan air muka yang tampak bringas.


"Ibu menyuruh kita menikah demi Jonathan. Aku sudah menolak nya, karena kamu sudah memiliki Queen. Jadi, nama Queen tersebut dari bibir ku. Setelah itu, aku tidak tahu apa-apa lagi. Ibumu lah yang mencari tahu dimana Queen dan aku tidak tahu rencana Ibumu terhadap Queen. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa Raka." Lala memasang wajah memelas dan juga berbohong kepada Raka.


Sebenarnya dirinyalah yang menghasut dan mengajukan syarat kepada nyonya Amara. Tetapi, begitulah manusia munafik yang sedang bingung bagaimana caranya menundukkan orang yang sangat ingin ia miliki. Maka, kebohongan dan sandiwara lah yang mampu mengendalikan keadaan.


Raka menghela nafas panjang, ia mengusap wajahnya dengan gusar. Lalu, kembali menatap Lala yang tampak pucat melihat amarah yang ia tampakkan kepada Lala.


"Ibu memang biang kerok!" Umpat Raka. Lalu, ia duduk di bangku tunggu, tepat di depan ruangan Jonathan.


Tiba-tiba saja, terdengar Jonathan menangis kencang. Tanpa membuang waktu, Lala berlari memasuki ruangan Jonathan dan di susul oleh Raka.


Terlihat darah segar menetes di hidung Jonathan, hingga membasahi selimut nya yang berwarna putih. Tampaknya Jonathan terkejut melihat sikap Raka yang kasar terhadap Mami nya. Hal itu menyebabkan kondisi Jonathan pun, mengalami penurunan.


Lala berinisiatif menekan tombol emergency berkali-kali, untuk memanggil tenaga medis yang sedang berjaga. Wajah nya terlihat khawatir terhadap kondisi anak semata wayangnya itu. Sedangkan Raka, tampak menyesal karena sikapnya yang datang dengan wajah yang tampak emosi dan bersikap kasar kepada Lala di hadapan Jonathan.


Beberapa tenaga medis berdatangan ke ruangan Jonathan. Beberapa diantaranya langsung menjadikan selimut putih itu untuk menadahkan darah segar yang terus menetes. Sedangkan sebagian lagi, berlari keluar ruangan untuk mengambil berbagai macam alat yang dibutuhkan.


Seorang dokter memasuki ruangan itu dan meminta orang tua Jonathan untuk meninggalkan ruangan itu, demi berjalan nya pemeriksaan darurat untuk putra mereka.


Raka dan Lala pun beranjak keluar ruangan, mereka berdua duduk di bangku tunggu yang berada di depan pintu ruangan itu.


Wajah masing-masing dari mereka tampak gelisah. Mereka begitu khawatir dengan keadaan Jonathan yang semakin hari, kian memprihatinkan.


"Ya Allah.. bodoh sekali aku ini," Gumam Raka yang hampir saja menangis melihat keadaan Jonathan.


...


Queen termenung di ruangan nya. Air mata sudah mengering di pipinya. Sudah tidak ada air mata lagi, walaupun ia sangat ingin menangis. Tetapi, entah mengapa air mata tak kunjung keluar lagi. Batin nya terasa lelah, hidupnya terasa begitu sial dan kosong.

__ADS_1


Queen menatap ponselnya, ia sangat merindukan Tika, sahabatnya. Sudah lama ia tidak berbicara lagi dengan Tika, karena kesibukan masing-masing diantara mereka setelah pulang dari liburan di Korea Selatan.


Queen meraih ponselnya dan mencari nomor Tika. Ia berniat akan menghubungi Tika, karena hanya Tika lah yang mengetahui kedekatan dirinya dengan Raka. Ia sangat membutuhkan seorang teman sebagai sesama wanita, saat ini.


Dreeettt...! Dreeee...!


Queen tersentak saat melihat Tika menghubungi dirinya. Padahal ia baru saja berniat untuk menghubungi Tika.


Tanpa menunggu waktu lama, Queen pun mengangkat panggilan dari Tika.


"Assalamualaikum....!"


"Waalaikumsalam..." Sahut Queen dengan suara yang terdengar tidak bersemangat.


"Queen, ketemuan yuk. Gue mau ngasih undangan nih."


"Dimana?" Tanya Queen dengan bersemangat.


"Ih, tumben lu bersemangat banget mau ketemu sama gue? Kangen lu sama gue?" Tanya Tika sambil terkekeh dari ujung sana.


"Iya, gue kangen..Lu dimana?"


"Gue ada di rumah, habis mengkoordinir para driver untuk mengantarkan undangan pernikahan gue. Lu dimana?"


"Di hotel, gue ke rumah lu ya sekarang,"


"Sekarang?" Tanya Tika tak percaya.


"Iya, gue otw nih sekarang," Ucap Queen, seraya beranjak dari duduknya dan menyambar tas dan kunci mobilnya.


"Gue belum mandiiiii... Lu semangat amat ketemu gue.. Tumben.."


"Berisik ah, gue otw... see you...!" Ucap Queen sambil mengakhiri panggilan tersebut.

__ADS_1


Queen melihat keadaan terlebih dahulu sebelum ia keluar ke arah lobby. Tidak ada Raka disana, ia pun merasa lega sekali. Lalu, dengan terburu-buru Queen berjalan menuju ke halaman parkir mobilnya dan dengan cepat ia meninggalkan hotel tersebut untuk mengunjungi Tika.


__ADS_2