
Queen mengambil tumpukan pakaian yang sudah ia pilih untuk dimasukkan kedalam koper berwarna merah muda miliknya.
Wajahnya terlihat dingin, ia menyusun baju-baju itu kedalam kopernya dan memasukkan beberapa barang lain nya yang akan ia bawa untuk berlibur ke Maldives.
Queen sengaja memilih untuk berlibur, ia ingin membuang semua penat dan masalah yang datang menghampiri dirinya. Termasuk ia ingin melupakan Raka untuk selama-lamanya. Ia tidak ingin lagi mempunyai hubungan dengan lelaki yang terikat dengan masa lalu yang rumit. Hidup Queen sudah sangat rumit saat ini. Bahkan di usianya yang akan segera menginjak kepala tiga, membuat ia semakin muak dengan segala macam pertanyaan dari orang-orang terdekat nya yang mempertanyakan kapan ia akan menikah dan mengapa ia masih sendiri.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan dari luar pintu kamar Queen. Queen yang sedang menutup kopernya pun, segera beranjak untuk membuka pintu kamarnya.
Terlihat Bunda tersenyum kepada Queen dengan membawakan sepiring pisang goreng dan segelas cokelat panas.
"Bun," Sapa Queen seraya membalas senyuman Bunda.
"Bunda bawakan pisang goreng dan cokelat panas untuk kamu. Boleh Bunda masuk?"
Queen meraih baki berisi pisang goreng dan cokelat panas itu dan mempersilahkan Bunda untuk masuk kedalam kamarnya.
Bunda melihat-lihat ke sekeliling kamar Queen dan lalu menatap Queen yang meletakkan baki keatas meja di kamarnya.
"Terima kasih ya Bun," Ucap Queen seraya tersenyum kepada Bunda.
"Sama-sama," Sahut Bunda yang beranjak duduk di tepi ranjang Queen. Lalu, Bunda menatap koper yang tergeletak di lantai kamar Queen.
"Kamu jadi pergi?"
"Jadi Bun," Sahut Queen sambil meraih pisang goreng yang masih hangat tersebut dan memakan nya dengan lahap.
"Sama siapa?"
"Sendiri Bun," Sahut Queen sambil terus mengunyah.
"Kamu kenapa Queen, kamu ada masalah dengan pacar kamu?"
Queen berhenti mengunyah. Ia menelan sisa pisang goreng yang ada di mulut nya dan meraih cokelat panas untuk membasahi mulutnya yang terasa kering.
"Queen gak punya pacar kok Bun," Sahut Queen setelah menyeruput cokelat panas miliknya.
"Itu yang laki-laki itu.. Siapa namanya? Raka ya?" Tanya Bunda dengan wajah yang menyelidik.
"Oh, dia... Dia bukan pacar Queen kok," Sahut Queen seraya meletakkan gelas nya kembali ke atas meja.
"Tapi kalian..."
"Bun.. dia bukan pacar Queen kok." Tegas Queen.
__ADS_1
Bunda menghela nafas dan tersenyum kepada Queen.
"Maaf ya... Bunda pikir dia pacar kamu. Oh iya, kenapa kamu mendadak mau liburan ke Maldives? Bukannya kamu yang akan merancang gaun pernikahan Kimmy? Pernikahan mereka akhir bulan depan loh."
Queen tersenyum dan menatap Bunda dengan seksama.
"Queen kan cuma merancang. Bukan membuatnya. Yang membuat nya kan, penjahit yang kerja sama Queen,"
"Iya sih.. ya sudah, Bunda bertanya karena merasa aneh saja, kenapa kamu pergi tiba-tiba dan agak lama." Ucap Bunda sambil beranjak dari duduknya.
"Bun,"
"Ya?" Bunda mengurungkan niat nya untuk meninggalkan kamar Queen.
"Terima kasih sudah bertanya dan khawatir kepada Queen."
Bunda tersenyum dan menghampiri Queen. Ia menyentuh kedua pipi Queen dengan kedua telapak tangan nya.
"Karena kamu anak Bunda," Ucap Bunda seraya mengecup puncak kepala Queen dan bergegas meninggalkan kamar Queen.
Queen hanya tersenyum dan menatap punggung Bundanya. Lalu, ia menghela nafas panjang dan beranjak untuk mengunci pintu kamarnya.
Setelah ia mengunci pintu kamar nya, Queen bersender di daun pintu itu dan menatap kopernya yang sudah terisi penuh dengan barang bawaan nya yang akan ia pakai selama dua minggu berlibur di Maldives.
Queen sengaja memilih Maldives untuk menenangkan dirinya. Karena suasana yang sepi disana serta pemandangan yang indah, mungkin dapat menawarkan rasa kecewanya terhadap keadaan yang membelit dirinya.
"Yah.... jalani aja apa yang harus dijalani, lupakan apa yang harus dilupakan. Hidup hanya sekali dan aku harus bahagia," Gumam nya seraya merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Queen berusaha memejamkan kedua matanya. Namun, bayangan Raka kembali hadir mengusik malam nya. Walaupun Queen sudah bersikeras untuk melupakan Raka, tetapi bayangan lelaki itu terus menempel di pelupuk matanya.
"Arghhh...! Pergi gak!" Queen beranjak duduk di ranjangnya dan mengusap-usap wajahnya dengan gusar.
Queen sudah memutuskan komunikasi dengan Raka dengan memblokir semua akses Raka untuk menghubungi dirinya. Sudah satu minggu ini juga ia tidak tahu kabar Raka dan Juga Jonathan.
Queen meraih ponselnya dan membuka galeri foto di ponselnya. Ia memandangi foto Raka dan mengusapnya dengan perlahan.
"Apa kabar kamu?" Ucap Queen dengan raut wajah yang sedih.
"Seberapa keras pun, aku berusaha melupakan kamu, tetapi entah mengapa hatiku seperti tertuntun kepadamu. Aku bingung Raka, mungkin aku ke kanak-kanakan karena sudah memblokir semua akses untuk kita berkomunikasi. Tetapi, aku harap kamu mengerti, aku hanya lelah. Terlebih tentang kamu dan Lala. Jujur, aku belum bisa menerimanya. Aku hanya takut sakit hati. Aku takut sudah berjuang dan gagal lagi."
"Kali ini, aku sudah lelah berjuang. Aku hanya ingin di perjuangkan lelaki yang memang berniat untuk memiliki aku. Lelah Raka... aku lelah. Aku takut terlanjur mencintai dan pupus kembali.."
Air mata menetes di pipi Queen. Ia merengkuh ponselnya kedalam pelukannya. Dimana terpampang foto Raka di layar ponsel itu.
"Jujur, aku sangat merindukanmu...." Bisik nya dengan lirih.
__ADS_1
Nyonya Amara berjalan dengan cepat ke arah ruang ICU. Terlihat air mata mengalir di pipinya tanpa mampu ia tahan. Kabar buruk dari Lala melalui sebuah pesan, ia dapatkan pada sore ini. Bahwasanya, keadaan Jonathan sudah kritis.
Seakan tidak mau kehilangan kesempatan untuk menemui cucunya, nyonya Amara pun berlari di lorong rumah sakit itu dan menarik pintu ruangan Jonathan dengan tergesa-gesa.
Terlihat Jonatan terbaring dengan lemah di samping Raka dan Lala. Nyonya Amara pun menghampiri cucunya itu dengan perlahan.
Di sudut ruangan terlihat Ibu dari Lala yang sedang menangis, menatap kehadiran nyonya Amara dengan tatapan tidak suka.
Nyonya Amara melihat tangan Raka terus memegangi tangan mungil Jonathan. Raka juga melantunkan dua kalimat syahadat dengan terus menerus di telinga Jonathan, yang mungkin akan pergi dalam waktu dekat ini.
Air mata Raka terus mengalir. Begitupun dengan Lala yang terus mengusap rambut anak satu-satunya itu.
"Raka..."
Sekilas, Raka menatap nyonya Amara dengan mata yang sembab. Lalu, ia kembali menatap buah hatinya dan terus membisikkan dua kalimat syahadat di telinga Jonathan.
"Papi, Mami, Oma..." Terdengar suara lemah Jonathan memanggil orang-orang yang ia cintai.
"Jo...." Sahut semua orang yang berada diruangan itu. Semua mendekat kepada Jonathan yang tergeletak tak berdaya di atas ranjang.
"Jonathan sayang sama kalian semua. Sama Mami, Papi, Papi Max dan Oma-Oma semua," Ucap Jonathan dengan nafas tersengal.
"Kami juga sayang dengan Jonathan." Ucap Lala seraya terisak.
"Maaf ya... Jonathan harus pergi. Kita jumpa lagi di surga ya Mami, Papi, Oma."
"Jonathan pasti sembuh kok nak... jangan ngomong begitu..." Ucap Lala sambil memeluk Jonathan.
Walaupun ia tahu, buah hatinya itu tidak akan ada harapan lagi, Lala hanya berusaha membesarkan hatinya dan juga hati putranya itu.
Jonathan menggelengkan kepalanya. Terlihat air mata mengalir di sudut mata bocah itu.
"Papi, terima kasih. Mami, terima kasih.." Ucap Jonathan dengan suara yang semakin melemah.
"Jo....!" Raka memanggil Jonathan dengan panik.
Terlihat Jonathan mulai menarik nafas dengan susah payah.
Dengan berurai air mata, Raka kembali mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melepaskan kepergian buah hatinya, yang sudah di ambang maut. Hingga nafas Jonathan tidak lagi berhembus.
Tangisan pun mewarnai ruangan itu. Ruang dimana Jonathan sudah dirawat selama berbulan-bulan. Akhirnya, bocah laki-laki itu menyerah dengan penyakit yang sudah menyiksa nya selama ini. Jonathan pun tertidur untuk selama-lamanya. Di saksikan oleh orang-orang yang ia cintai, kecuali Max, orang yang selama ini ia anggap Ayah kandungnya. Yang sudah pergi entah kemana meninggalkan dirinya dan Lala.
Malam ini, malam yang begitu menyakitkan bagi orang-orang yang mencintai Jonathan. Mereka harus merelakan Jonathan yang kembali ke pangkuan Ilahi.
Kenangan tentang Jonathan begitu membekas di hati Raka. Walaupun ia hanya sebentar saja merasa memiliki Jonathan. Namun, ia merasa bersyukur bisa mengenal buah hatinya itu sebelum Jonathan pergi untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Kematian, tidak ada satu orang pun yang mampu menghindarinya. Cepat atau lambat, orang-orang disekitar kita akan pergi untuk selamanya. Atau bahkan kita sendiri yang akan berpulang dalam waktu dekat ini. Siapa yang tahu rahasia NYA?
....