
Ting Tong Ting Tong
Bel Apartemen Sofie berbunyi, waktu masih menunjukan jam enam pagi.
Sofie sudah berada di dapurnya untuk membuat sarapan.
"hmm, Siapa pagi-pagi buta sudah bertandang ke apartemenku, ini weekend, gak mungkin Nia yang datang" gumam Sofie sambil berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu
"Assalamu alaikum anak mama" ucap wanita paruh baya bersama suaminya tersebut
"Wa alaikum salam,
mamaaaaa, papaaa, Sofie kangeeennn, ucap Sofie menyalami kedua orang tua tersebut yang tak lain adalah Prakoso dan istrinya. Sofie langsung memeluk bu Prakoso dan bergelayut manja di lengannya
"kami sengaja tidak memberi kabar karena ingin memberikan kejutan, sekarang kamu siap-siap, papa sama mama mau ajak kamu kesuatu tempat yang kamu pasti suka" ucap bu Prakoso mencubit hidung mancung Sofie
"kalau gitu mama, sama papa tunggu sebentar ya, Sofie mau siap-siap. oh ya sarapan ada di meja, mama sama papa sarapan dulu ya" ucap Sofie bergegas menuju kamar nya
Setengah jam kemudian Sofie sudah kembali dengan pakaian santainya dan tas mungil di tangannya, ia menghampiri kedua orang tua tersebut
mereka lalu menuju kendaraan membelah kemacetan Jakarta
Sofie memperhatikan jalanan yang dilalui, dahinya berkerut
"ma... kita mau kemana? sepertinya arah ke bandara?
"rahasia" ucap mama sambil mengedipkan matanya sebelah
__ADS_1
kendaraan yang mereka naiki memasuki bandara penerbangan luar negeri
mereka berjalan memasuki bandara
"ma kita mau ke thailand? jangan bilang kalau kita mau ke phuket? "
Bu Prakoso mengedipkan mata sambil tersenyum membelai rambut mantu kesayangannya
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, sampailah mereka di bandara, seperti biasa pak Dusit petugas yang menjaga villa telah menanti kedatangan kami, tak memerlukan waktu lama, akhirnya mereka sampai di villa milik keluarga Prakoso.
Sofie tersenyum bahagia, sudah dua tahun, terakhir kali mereka villa ini.
Nampak bu Dusit sudah menantikan kedatangan kami, beliau menyambut kami di pintu depan
"Welcome tuan dan nyonya Prakoso serta miss Sofie" ucapnya ramah
"Ayo masuk sayang" Bu Prakoso menggandeng tangan Sofie masuk kedalam villa
Sofie memgedarkan pandangannya, ia tersenyum. Suasana di Villa ini tidak berubah sedikitpun, walau dua tahun sudah berlalu, Sofie langsung berpamitan menuju ke kamarnya.
Semua masih sama, tak ada yang berubah foto-foto yang terpajang masih sama di tempatnya.
Sofie membuka jendela kamarnya, hembusan angin laut langsung menyapu wajahnya.
Sofie sengaja memejamkan matanya, merasakan setiap hembusan angin yang membelai wajahnya, membiarkan rambutnya melambai tertiup angin.
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Sayang ayo kita makan dulu, baru kamu istirahat" panggil Bu Prakoso dari balik pintu
"Ya ma, Sofie cuci muka dulu"
Sofie bergegas membersihkan mukanya, koper yang Dibawa Bu Prakoso sudah berada dinkamarnya, Sofie membukanya, ternyata bu Prakoso sudah menyiapkan segala keperluan Sofie selama mereka berlibur, termasuk pakaian dan sepatu yang di kenakan
"Ya Tuhan, terima kasih kau telah kirimkan papa dan mama dalam hidupku, terima kasih mas Agus telah memberikan aku keluarga kedua yang sangat menyayangiku" ucap Sofie memandang foto Agus yang terpajang di nakas
Sofie melangkahkan kaki menuju ruang makan, nampak Pak Prakoso dan istrinya sudah menanti kedatangannya, mereka lalu menikmati makan mereka diselingi canda tawa.
Sofie sedang duduk di pinggir pantai bertelanjang kaki, merasakan lembutnya pasir pantai. memandang lurus ke arah matahari yang terbenam.
"Sayang, bolehkan mama duduk disini? " tanya Bu Prakoso menyadarkan Sofie dari lamunannya
"Apa kamu bahagia? kami tak tahu apa yang kamu inginkan, jadi kami berinisiatif mengajakmu liburan kesini"
"Sofie senang ma, makasih ya ma, Sofie sayang mama" peluk sofie sambil mengecup pipi Bu Prakoso
"Sayang mama ingin mengatakan sesuatu padamu. Kami sangat berterima kasih sekali karena kamu mencintai anak kami setulus hati, namun kamu juga sudab terlalu lama berduka sayang, biarkan anak kami tenang di alam sana, bukalah hatimu untuk lelaki lain.
Mama yakin, Agus pasti menginginkan hal yang sama seperti kami.
Sudah tiga tahun lebih sejak kepergian Agus, kamu tak harus terus berduka, tata masa depanmu, menikahlah dengan lelaki pilihanmu, mama dan papa akan selalu mendukungmu. Tak akan ada yang berubah sayang. Kamu tetap mantu sekaligus anak kami yang paling kami sayang, kami ingin melihatmu bahagia dan terlebih kami ingin menimang cucu darimu" Bu Prakoso membelai rambut Sofie yang menangis dalam pelukannya
"tapi ma... " Bu Prakoso menghapus air mata Sofie dan menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya
" Percayalah, ini yang kami mau. kebahagianmu adalah kebahagiaan kami, jadi singkirkan semua rasa gelisahmu. Anggaplah ini Permintaan terakhir kami. Menikahlah dan berikan kami cucu yang banyak sebagai gantinya
__ADS_1
"mamaaaa" Sofie memeluk bu Prakoso erat. segala beban pikiran seakan lenyap