
Parkoso sudah duduk di Sofa teras belakang rumah di susul oleh Wida dan Sofie.
Prakoso memandang tajam pada anak mantu dan pembantunya mang Ujang
Susana menjadi sedikit tegang, karena wajah Prakoso yang biasanya tersenyum kini nampak kaku
"Jadi apa yang bisa kamu jelaskan pada papa Ido? " ucap Prakoso membuka percakapan
"Ido ngaku salah pa, Ido sudah gagal hampir mencelakakan Sofie" Ido menunduk tak berani menatap Prakoso
"Pa semua salah Sofie, Sofie yang memaksa dan mengancam mas Ido, jika tidak dituruti Sofie pindah kerumah papa, tapi bener pa, gak ada maksud apa-apa, Sofie cuma mau ambil sendiri mangga nya.
mengenai mang Ujang, Sofie yang minta mas Ido yang sampaikan ke mang Ujang kalau mangganya gak jadi. Jadi mang Ujang gak tahu jika Sofie naik pohon pa. semua salah Sofie. papa marah ke Sofie aja"
Prakoso menggeleng, ia menghembuskan nafas berat melihat kelakuan putrinya
"Mang Ujang kembali kerja, Ido kamu harus renungin kesalahan kamu, walau kemauan Sofie tapi sebagai suami harus bijak dan tegas. Jika itu membahayakan istri mu maka kamu berkewajiban melarangnya sekeras apapun kemauannya dan kamu Sofie.
Kamu itu istri harus patuh pada suami, jangan melawan. jika suami bilang tidak boleh maka tidak, jangan pernah kamu tentang, sekalipun kamu ingin kerumah papa atau kerumah orangtuamu, jika suami mu melarang maka haram langkahmu. mengerti nak?
Sofie hanya mengangguk, sesekali ia menghapus air matanya yang merembes keluar.
"Papa dan mama sudah tua, jangan buat kami kawatir seperti tadi, apa kamu tahu jika terjadi sesuatu yang buruk padamu kami sudah tak memiliki harapan hidul lagi" ucap Wida dengan suara tercekat ingin nangis
Sofie menghambur ke arah Wida, ia memeluk mama nya
__ADS_1
"Maafin Sofie ya ma, Sofie janji gak akan buat mama sama papa kawatir lagi"
" maafkan papa ya sayang, kami marah karena semata-mata sayang kamu, kamu gak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu"
"Maafin Sofie juga pa, papa gak salah" ucap Sofie memeluk papanya
"Sekarang biar mang Ujang saja yang ambilkan buah-buahan yang ada di kebun, apa kamu masih mau mangga muda? "
" Sofie sudah dapat pa" ucap Sofie mengeluarkan mangga dari balik bajunya"
"Mama yakin, mangga itu lebih kecut dan masam dari yang seharusnya" ucap wida terkekeh
"Enak aja mama ih, Sofie wangi tahu" ucap Sofie memanyunkan bibirnya
sementara Prakoso hanya bisa tersenyum
"enggak ma"
"Lah terus mangga itu kamu makan gitu aja? "
"Enggak"
"Mama jadi bingung, terus kamu minta mangga muda segala pake gagang dan daunnya itu untuk apa? "
" Sofie kan gak bilang mau makan rujak, Sofie mau mangga muda, Sofie mau simpan di kamar. Baunya enak ma, terus kan lucu liatnya"
__ADS_1
"Astaga, ampunnn.... papa nyerah sama bumil" ucap papa menepuk jidatnya yang di balas tawa Wida
"Hahaha papamu pusing tuh"
"Emang ada yang salah ya ma? "
"Gak ada yang salah sayang, cuma sedikit aneh aja hahaha" Wida tak mampu menahan tawanya karen ulah putri kesayangannya
"Papa mau cari keringet dulu ya sayang, kamu sama mama dulu"
"Ok pa"
Tinggallah Sofie, Ido dan Wida di teras belakang.
"Mama mau buatkan papa minum dulu ya sayang, kamu mau mama bawakan apa?"
"Sofie mau juice mangga ma, tadi Sofie dapat yang matang pohon"
"Siap tuan putri, mangga nya bawa ke dalam ya" ucap Wida yang di balas anggukan Sofie
"Mas, mas Ido maafin Sofie ya, gara-gara Sofie mas kena semprot papa"
"Gak Apa-apa sayang, mas juga salah"
"Uhm mas, memangnya ngidam Sofie ada yang aneh ya? kenapa papa sampe pusing?"
__ADS_1
"Gak aneh sih yank, cuma super aneh ahahhaa. Mas antar mangga nya dulu ke dalam" Ucap Ido lalu beranjak menuju dapur
"Ish mas, orang nanya malah di ketawain, sebel"