Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Menginap


__ADS_3

Andre dan Bim menuju kebun belakang dimana di sana terdapat beberapa kolam besar yang berisikan macam-macam ikan air tawar.


Bim sengaja membuat itu karena jarak antara pasar dan rumah mereka lumayan jauh.


Bim dan Sri hanya akan kepasar jika ada hasil panen buah atau membeli keperluan dapur


"Nah nak Andre, gimana kamu bisa tidak mancing di kolam seperti ini? bapak yakin kamu biasa mancing di laut atau tempat yang bagus"


"Bisa pak, waktu kecil rumah oma saya dekat sungai, sering di ajak kakek ke sungai"


Bim hanya manggut-manggut, ia sengaja memahan kepulangan pemuda ini karena melihat putri nya juga menyukai nya.


Di samping itu, siapapun jodoh anak nya kelak, baik pemuda ini ataupun pilihan Prakoso Bim akan setuju saja, selama pria itu bisa membahagiakan Sofie


Bim mulai menyukai pemuda ini, walau baru beberapa jam lalu mengenalnya, Bim bisa menilai kesungguhan dan keteguhan hati pemuda ini yang setia menanti Sofie sejak lama. Karena itu Bim memgacungi jempol pada Andre dan menjadi nilai plus dimana Bim


"Bapaaaaaakkk" teriak Dani begitu mendekat buat umpan yang sedang di sambar ikan gagal, ikan langsung terkejut dan kabur


"Danii, liat ikan bapak lepas kan" dengus Bim menggulung roll pancingnya lalu menempelkan umpan pada mata kail


"Kalau disini simple nak, umpan gak harus mahal, tempe pun jadi, lihat ikan bapak langsung makan kan umpannya? "


Andre mengangguk-angguk mengerti, sambil menggaruk kepalanya tak gatal, pasalnya ia mengira empan tersebut tidak akan dimakan ikan nila dalam kolam.


Andre bingung mengapa Bim membawa tempe dalam wadah, ia mengira awalnya tempe tersebut untuk cemilan mereka menunggu umpan di makan


Dan melihat tidak ada umpan yang di bawa Bim, Andre menebak mereka akan mencari cacing di sekitaran kolam, tapi ketika Bim menjadikan panganan itu umpan, Andre sangsi ikan akan memakannya


"Kak Andre, kakak nanti tidur di kamar Dani aja ya? kita main playstation dulu" bisiknya lirih pada Andre dengan senyum lebar


"Jangan macem-macem de, Andre tidur si kamar kakak dan kamu tidur sama kakak" ucap Herman merangkul punggung adenya sambil tersenyum licik


"Gak mau ah, Dani mau sama kak Andre aja"


"Kamar kamu kan sempit, biar tidur di kamar kakak mu aja" ucap bapak menengahi Herman dan Dani


"Gak apa-apa pak, saya tidur dengan Dani saja" ucap Andre membuat Dani meloncat kegirangan


"Dasar bocah" ucap Herman mencibir adik bungsu nya

__ADS_1


"Kak Herman juga masih bocah, cuma bedanya Dani bocah unyu-unyu, kak Herman bocah tua nakal" ucap nya cekikikan langsung mengambil langkah seribu


Herman hanya mendelik kesal, pasalnya ia melihat Dani sudah berlari jauh dab tertawa terpingkal-pingkal


"Makan nya adikmu jangan kamu godain terus, jadi gitu kan ngeledek kamu terus" ucap Bim menahan tawa begitu juga Andre, Andre memilih pura- pura batuk untuk menutupinya


Setelah Dua jam, ember mereka penuh, tujuh puluh persen adalah hasil pancing Bim, sementara Andre dua puluh persen dan sisanya Herman yang hanya menangkap satu ikan nila


"Kamu Her, nda bakat mancing.


nanti kalau tinggal di desa kaya bapak piye karo mau lauk ikan kudu ke pasar toh? " geleng Bim


Herman hanya bisa nyengir mendengar ucapan bapak nya


"Cepat bawa, bapak mau ke kebun petik buah yang masak sama ambil jeruk buat limao dan nipis buat ikan bakar kita"


"Siap bos"ucap Herman langsung menenteng ember yang berisi ikan tangkapan mereka


"Nak Andre bantu bapak ya kita kekebun"


"Baik om"


Sofie dan Sri sedang membuat bumbu untuk ikan bakar mereka, dan membersihkan ikan yang di bawa Herman


"Bapakmu mana toh le? "


"Dikebun bu, ambil jeruk nipis sama limau" ucap Herman santai sambil memakan kerupuk di meja makan hingga tinggal setengahnya


Mereka lalu sholat berjamaah, setelah itu mereka makan malam diteras belakang dengan menu ikan bakar.


Tak terasa waktu merambat cepat, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Bapak dan ibu sudah pamit istirahat, diikuti Herman.


Tinggallah Dani, Sofie dan Andre


"Kak di dalam aja yo, disini kita jadi donor darah, nyamuknya satu nya banyak, keroyokan" ucap Dani menepuk pipi nya yang di gigit nyamuk


"Ayo mas di dalam, tangan kamu bentol semua di gigit nyamuk"

__ADS_1


"Ya elah kak, cuma nyamuk doang, laki-laki mah ga takut nyamuk kak, cuma takut sama calon mertua yang galak, beneran dah kak, sumpah.


Kalau gak percaya tanya aja sama kak Andre" ucap Dani dengan wajah polos dan serius


bikin Sofie gemas ingin mencubitnya


Sementara Andre hanya bisa nyengir, karena perkataan Dani sudah menyentil dirinya.


Andre pantang menyerah bahkan ia tak pernah gugup bertemu klien besar sekalipun, namun di depan Bim dan Prakoso, ia merasa gugup dan ada sedikit rasa takut.


"Noh kan, kak Andre setuju sama ucapan Dani" ucap Dani menunjuk Andre yang lagi-lagi hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum canggung


"Udah sana bawain ini semua ke dalam, kakak sama kak Andre duluan masuk"


"Kak bantuin kenapa sih? kejam Dani bawa semua" protesnya memasang wajah puppies nya


"Yuk sayang, biar Dani yang bereskan" ucap Sofie menahan tawa


"Tapi yank? "


Sofie langsung menarik tangan Andre, kapan lagi memberi pelajaran pada adenya yang super usil dan rese ini


"Kakak, kejam nya dirimu" teriak Dani sok dramatis


"Bentar ya mas, Sofie ambilkan minyak kayu putih dulu"


"Gak usah, nanti juga hilang, cuma nyamuk kok. Benar kata ucapan Dani, itu anak belajar dari mana? masih kecil dah pinter"


"Jangan salah, Dani itu super tengil, walau gitu dia murid berprestasi dan primadona di SMA nya, cewe nya banyak termasuk anak bu Markonah yang warungnya di ujung jalan sana"


"Tapi aku suka Dani, blak-blakan orangnya


Dari dia aku jadi tahu kamu bagaimana di rumah"ucap Andre tersenyum simpul


brussshhh


Wajah Sofie langsung memerah, ia mengerti kemana arah pembicaraan Andre, ini semua ulah Dani yang memfitnah nya, dan yang lebih parahnya Andre percaya ucpan adek tengilnya itu


"Daniiiiiii, awas aja ya udah buat kakak malu di depan Andre" gerutu Sofie dalam hati

__ADS_1


__ADS_2