Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Andre


__ADS_3

Prakoso sedang termenung di ruang kerja nya.


Apa yang di katakan sahabatnya tempo hari ada benar nya, namun ia masih saja resah memikirkan masa depan Sofie


Ratih menghampiri suaminya diruang kerja, ia membawa secangkir teh hangat untuk Prakoso


"Pa, papa, ayo di minum dulu teh nya mumpung masih hangat" ajak Ratih.


mereka lalu duduk menikmati teh hangat.


"Papa apa. ada masalah? seperti nya mama lihat papa seperti orang yang tertekan, cerita dong sama mama, siapa tahu mama bisa bantu.


Apa ini tentang putri kita? "


"Ma, apa salah jika papa menginginkan putri kita mendapatkan pasangan yang sesuai? "


"Apa salah papa mencarikan dia calon suami.


papa ingin Sofie bahagia"


"Papa gak salah hanya cara nya yang salah"


"Kok mama bilang begitu? "


"pa kita memang menginginkan anak kita bahagia, tapi dengan memaksakan ia menikah dengan seseorang yang dia tidak cintai itu salah.


Bagaimana jika nanti rumah tangga nya berantakan, kita juga yang di salahkan oleh Sofie karena kita yang memaksa dia menikah denhan pilihan kita"


"Satu lagi, mama tidak suka dengan Ronald, beruntung Suryo juga tidak mau memaksakan berbesan hanya karena persahabatan.


Mengenai Suryo yang menitipkan anaknnya untuk belajar bisnis, menurut hemat mama kenapa kita tak membiarkan Rinald belajar pada nak Andre?"


"maksud mama? "


"Mama lebih tahu kinerja nak Andre seperti apa, alih-alih menempatkan di perusahaan kita, lebih baik di tempat nak Andre.


Papa sudah tidak mengelola perusahaan, dan Sofie terlalu lembut, anak itu berhati lembut pasti tidak akan tegaan menempatkan ronald di posisi bawag untuk belajar.


Jika kamu mengandalkan Hendra yang membimbing, kasian beliau sudah mengikutimu hampir selama karir mu, sudah sepatutnya ia juga pensiun dari hal yang memusingkan, sekarang kamu masih mempekerjaan beliau membantu Sofie di perusahaan ditambah lagi Ronald. ckckck


Mama memang tidak tahu menahu masalah pekerjaan papa. tapi menurut hemat mama itu solusi terbaik"


Prakoso diam mencerna kalimat istrinya, ia juga menyetujui usulan Ratih


"Makasih ma, mama. kamu memang wanita ku yang hebat" ucap Prakosk mencium kening Ratih


"Tapi ma, papa masih ingin mengenalkan Sofie dengan salah satu teman semasa kecil papa"


"Maksud mu Gunawan? , apa dia sedang dikota ini? "


"Iya tadi pagi ia menelpon papa mengabarkan jika ia dan keluarga nya akan bertandang ke rumah kita, ia juga membawa anak nya serta"


"Papa apa kamu belum menyerah? mengapa tak membiarkan Sofie menentukan sendiri pilihannya? "


"Ini yang terakhir, papa janji"


"Terserah papa, mama gak. ikutan.


Tapi jika ada sesuatu nanti papa tanggung sendiri.


Mama kok malah merasa klop dengan nak Andre, udah ganteng, pinter, penyayang lagi"


"Mama gak tahu siapa Andre, tunangannya pernah menyakiti anak kita"

__ADS_1


"Papa itu tunangannya, mama dengar mereka sudah putus"


"terserah mama, papa yang lebih tahu"


"Papa, mata seorang ibu tidak akan salah menilai yang baik dan yang buruk bagi putrinya"


"Ya, ya terserah mama"


"Jadi kalao papa gagal sama calon papa ini, ingay menyerah. mama akan menjodohkan Sofie dengan nak Andre hehehe"


"apa bedannya mama sama papa sama-sama mau menjodohkan"


"Beda dong, kalo mama kan sudah melihat benih-benih cinta, mama hanya membantu memupuknya" ucap Ratih tersenyum lebar


"Terserah mama deh, papa no coment." ucap Prakoso mengangkat kedua tangannya membuat Ratih tertawa senang


Perusahaan Prams and co


Sofie sedang mempelajari dokumen ditangannua, ia membolak balik dokumen tersebut.


sebuah surat penawaran kerjasama dari sebuah perusahaan lokal.


Sofie menghubungi Nia untuk membuat janji temu dengan perusahaan tersebut.


"Proposalnya menarik, seperti nya aku harus menjalin kerjasama dengan perusahaan itu. "


Terdengar pintu di ketuk dan tak lama kemudian Nia masuk


"Gimana nia? "


"Gue udah telepon, mereka siap kapan saja, tadi gue cocokin schedule loe besok gak ada acara, jadi gimana apa gue tentujn besok aja pas jam makan siang, jadi sekalian makan siang and bahas bisnis? "


"Uhm bentar gue cek dulu"


"Ok besok boleh, tempat nya loe yang atur dimana"


"Gue cuma mau tanya kapan loe cuti? "


"loe ngusir gue? "


"Hahaha gak lah, mana mungkin, loe sahabat terbaik gue.


Gue hanya merasa bersalah loe lagi sibuk mempersiapkan acara weding loe tapi loe masih kerja"


"Sofie, itu masih empat bulan lagi"


"Iya kata loe masih lama, tapi gue pikir itu terlalu cepat"


"Apa loe mau gue jadi perawan tua nemenin loe aja?"


"Amit-amit gam lah"


"Hahhaa lagi ucapan loe seakan-akan loe gak rela gue nikah"


"Gue pasti kesepian gak ada loe"


Nia menghampiri Sofie lalu memeluknya


"Gak ada yang akan berubah lecuali status gue"


"Tapi kan si bule gelo itu gak bolehin loe kerja lagi"


"iya, gue baru inget, minggu depan kita akan interview beberapa kandidat buat gantiin gue"

__ADS_1


"Syedih"


"Loe bukan seneng gue nikah, gue doain loe segera nyusul"


"Aminnn, gue ikut seneng akhirnya loe sama Hans nikah, hanya gue pasti kehilangan asisten yang bawelnya gam ketolongan"


"Sue loe, ya udah gue balik ke meja gue dulu"


"Sip. Nia, I love u" ucap Sofie mencium jauh Nia"


"Najong, Hans help temen gue dah doyan cewe" ucap Nia berlari dari ruangan Sofie


Terdengar Sofie yang tertawa terpingkal-pingkal.


Sofie berjalan membuka tirai gedung, terlihat pemandangan di luar kantornya hingar bingar keramaian kota besar.


"Semua pada akhirnya akan berubah, orang-orang di sekeliling gue juga akan berubah.


Hanya gue yang masih seperti ini.


Nia sahabat gue yang nemenin gue dari awal karier gue sebentar lagi akan memiliki hidup baru. Betapa membosankan hidup gue" ucap Sofie lirih meminum kopi di meja nya


Ia mengangkat sebuah bingkai foto disana ada fotonya dengan Almarhum Agus


"Sudah hampir tujuh tahun lebih sejak kepergianmi mas dan selama itu aku masih tetap mencintaimu.


Tak ada cinta yang lebih besar dari cintamu


Tak ada pria yang lebih baik darimu"


Sofie mendekap bingkai Foto itu erat.


Sofie merapihkan laptopnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas, sudah waktunya pulang.


Sofie keluar kantor dan dua sekertarisnya menunduk hormat


"Eva, Karin, besok saya akan datang agak siang, jika ada yang mencari saya kalian limpahkan pada Nia. Oh ya saya juga ada janji temu besok apa Nia sudah memberitahu kalian?"


"Sudah Bu Sofie"


"baiklah, saya meeting saat makan siang jadi tidak kembali ke kantor. untuk urusan urgent kalian bisa hubungi ponsel saya"


"Baik bu" ucap mereka serentak


"Saya pulang dulu"


Sofie berjalan menuju ruangan Nia, belum sempat ia mengetuk pintu, ponselnya berbunyi


Andre calling......


Hai reader semua apa kabar nya...


semoha sehat selalu ya


Author mau memberitahu jika novel ini akan segera end dalam beberapa chapter lagi dan author mengucapkan terima kasih pada semua reader yang sudah mendukung dan setia mengikuti karya author yang perdana ini.


Semoga karya ini bisa menginspirasi kita semua.


mampir juga yuk ke karya author lain nya



__ADS_1




__ADS_2