
Ido mengejar Sofie yang setengah berlari keluar dari kantornya, namun ia kehilangan jejak sofie.
Ido menyusul mencari Sofie ke kantornya, namun Sofie tidak kembali ke kantornya.
Berkali-kali Ido menghubungi ponselnya, namun Sofie mematikan ponselnya satu jam setelah ia tidak bisa menemukan keberadaan Sofie.
Ido ragu-ragu ingin bertanya pada orang tua kandung Sofie, ia tak mau orang tua Sofie berfikir yang tidak-tidak tentangnya
Ido kembali ke kantornya, ia mengacak-acak rambutnya kasar
Sudah dua jam sejak kepergian Sofie, namun Sofie belum bisa dihubungi juga.
Ido lalu memanggil Hilda keruangannya
Hilda masuk dengan wajah yang takut
"aa. apaa yang bi.. bisa saya bantu pak? "
"kamu tahu kesalahan kamu? mengapa kamu tidak memberitahukan saya jika istri saya berkunjung? mengapa kamu sebodoh itu Hildaaaa? " teriak Ido sambil melempar dokumen dimejanya kearah Hilda
Hilda gemetar ketakutan, bibirnya bergetar
__ADS_1
"Apa sekarang kamu bisu tidak bisa menjawab? " teriak Ido lagi
"Sa.. saya sudah berusaha memberitahu bapak, tapi bapak langsung memarahi saya sebelum saya bicara, saya mengetuk pintu ruangan bapak, tapi bapak tidak menyahut" ucap Hilda menundukkan kepalanya
"Aaaarrrrgghhh ****, keluaarrr" teriak Ido
Hilda lalu bergegas keluar ruangan Ido
ia terduduk lemas di kursinya seperti habis melihat setan, baginya bukan cuma melihat setan, tapi raja neraka.
"Salah sendiri mojok di kantor, istri datang ketahuan kan. coba di beritahu malah mau cut omongan orang, sekarang kena batunya nyalahin sekretaris" gerutu Hilda
Tiba-tiba ponsel Hilda berbunyi
Hilda buru-buru berjalan ke pantry lalh mengangkat panggilan Sofie
"Hallo Hilda, saya mau tahu apa yang sekarang di kerjakan suami saya? "
"bu Sofie, pak Ido frustasi seperti orang kebakaran jenggot, bapak marah-marah karena tidak bisa menemukan ibu, dia melempar apa saja yang ada di depannya setelah pulang dari kantor ibu dan ponsel ibu tidak bisa di hubungi"
"baiklah Hilda, terima kasih infonya. Saya akan matikan lagi ponselnya" ucap Sofie lalu mengakhiri panggilan teleponnya
__ADS_1
"Sepertinya bu Sofie marah besar sama pak Ido, semoga pak Ido segera sadar karena bu Sofie memberikan dia pelajaran" gumam Hilda tersenyum
Selama ini Hilda memang tidak menyukai tingkah laku atasannya, ia bersimpati kepada Sofie. Sebagai wanita ia merasa jiwa nya meronta membela kaumnya.
"Hilda, astaga kamu sekretaris gak berguna, saat di butuhkan malah hilang, gak taunya malah mojok teleponan disini. Apa saya harus membuat kopi sendiri? apa kamu sudah bosan bekerja di perusahaan saya hah?" Semprot Ido
"ma.. maafkan saya pak, tadi orang tua saya menelpon" ucap Hilda berbohong
mendengar Hilda mengatakan orang tuanya, Ido melunak
"Sudah buatkan saya kopi segera bawa keruangan saya" ucap Ido lalu meninggalkan Hilda masuk kembali keruangannya
"Huh dasar playboy cap ikan teri, baru beberapa jam di tinggal istri dah kusyut gitu. apa kopinya perlu gue kasih sianida ya xixixi"
"Amara tinggalkan ruangan saya sekarang. saya sedang pusing, jangan banyak tingkah atau kamu mau saya pecat" teriak Ido menghempas tangan Amara
Hilda memasuki ruangan Ido dan berpapasan dengan Amara yang menangis karena kema marah Ido.
"Huh dasar ulat bulu, gatel banget deketin si boss terus, baru rasa kan kena damprat. lagi maunya nempel aja gak liat sikon. mamam loe" ucap Hilda tertawa dalam hati
"Pak Kopinya"
__ADS_1
"letakkan di meja saja, oh ya kalau ibu menghubungi kamu tolong kasih tahu saya " ucap Ido
"baik pak, permisi" ucap Hilda setelah meletakkan cangkir kopi di meja kerja Ido