
"Lagian Dani gak salah kan pak, kak Herman sudah tua tapi belum juga cari pacar, apa perlu Dani yang carikan? " ucap Dani menaik turunkan alisnya, membuat Herman kian geram
"Aaaaaawwwww sakit pak, sakit" teriak Dani tiba-tiba sambil memegang kupingnya yang di jewer Bim dengan gemas
"hahahaha rasakan" tawa Herman puas melihat bapaknya menjewer Dani
"Cepat minta maaf kakakmu atau kuping mu bapak jewer sampai warung bu markonah, biar pacarmu liat kalau kamu di hukum bapak
"Iya, iya ampun pak, Dani gak akan usil lagi, Jangan jewer Dani pak apalagi bawa ke sana, malu di liat vika" ucap Dani mengatupkan kedua tangannya ke depan, memohon
Sementara Herman tertawa terbahak-bahak, ia tak menyangka bapaknya seorang intel yang bisa tahu jika Dani sudah punya pacar anak toko kelontong bernama Vika.
Bim melepas jewer an tangannya di kuping Dani
Sementara Dani mengelus- ngelus kupingnya yang terasa panas dan merah
"Bapak tahu dari mana sih kalau aku pacaran?
"Rahasia" ucap Bim
"Pasti dari ibu deh, ibu suka ngadu sama bapak pasti" gerutu Dani
"Cepat minta maaf sama kakakmu"
Dengan terpaksa Dani bangkit dan mendekati Herman, Herman yang hilang kesalnya hanya tersenyum ketika adiknya mencium tangannya dan meminta maaf
"Kakak, maafin adik ya"
"Jangan di ulang" ucap Herman menahan tawa melihat wajah terpaksa Dani
"Nah gitu yang akur, ibu seneng liat anak-anak ibu akur" ucap Sri begitu mendekat
"Ibu, tadi bapak jewer kuping Dani" ucap Dani mengadu pada Sri berharap dapat dukungan dari ibu nya
"Aduh anak ibu kasian, mana yang sakit sayang? " tanya Sri
Dani menunjukkan telinganya yang memerah, tapi Sri malah memegang kuping sebelah Dani
"Ibu yang sakit ini, bapak tadi jewer keras banget" Dani menunjuk kupingnya yang memerah, ia merajuk sambil bergelayut manja pada ibunya
"Aduh kasian anak ibu, bapak sih kalau jewer anak jangan sebelah" ucap Sri yang di anggukin Dani dan pandangan bingung Bim
"Kok jangan sebelah bu?
"iya tanggung" ucap Sri menahan tawa lalu menjewer kuping Dani
__ADS_1
"Awwww ibu sakit, KDRT ini mah namanya " protes Dani
"Siapa suruh kamu nuduh ibu ngadu sama bapakmu, kecil-kecil sudah provokasi"
Bim dan Herman saling memandang terkejut lalu kemudian kedua nya tertawa
"Rasakan ini hukuman buat anak nakal kaya kamu"
"Ibu ampun bu, sakit"
Bapak dan Herman makin terbahak melihat ekspresi kesakitan Dani
"Makannya jadi anak jangan nakal, masih untuk kena jewer, gimana kalau ibu kutuk kamu jadi monyet, uuuu waaaaaauuu" ucap Herman menirukan suara dan gerakan monyet
Dani semakin sewot dan melotot kearah kakaknya
Sementara di halaman belakang
"Mas masih ada yang mengganjal pikiranku? "
"Katakanlah biar semua keraguan mu sirnah"
"Tentang sisil, dan kedua orangtuamu"ucap Sofie ragu
Tapi belakang ini papa kembali membujuk ku untuk kembali pada Sisil"
"Dan kau? "
"Tentu saja aku tidak akan menerima wanita itu kembali. Awal perjodohan juga bukan karena cinta, itu hanya karena papa memaksaku.Waktu itu aku yang kecewa karena kamu sudah akan menikah dengan almarhum setuju saja usulan papa"
"Beneran? gak ada perasaan apa-apa lagi? "
"Beneran sayang, buat apa aku jadi jomblo abadi lama-lama kalau bisa move on? "
"Awas kalau bohong, aku akan pergi tanpa kata"
"Jangaaaannnn" ucap Andre manja memeluk Sofie
"Ih lepasin, demen banget nempel-nempel sih?" gerutu Sofie yang di balas tawa renyah Andre
"Mengenai papa dan mama mu bagaimana? "
"Beri aku waktu, aku pasti akan membuat mereka menerima mu" ucap Andre menarik tangan Sofie
"Mas perlu tahu satu hal, aku tak mau menikah dengan mu tanpa restu semua orang tua kita, maksudku orangtua kandung dan orangtua angkat ku serta kedua orangtuamu, bagiku restu mereka doa buat kita menapaki mahligai pernikahan"
__ADS_1
"Iya sayang aku" Andre mencubit gemas hidung bangir kekasihnya
Kian hari ia kian tak bisa jauh dari wanita nya ini. ingin segera menghalalkan nya.
"Kemana bapak sama kak Herman? ngajak mancing tapi lama bener, mas ayo ganti pakaian dulu, sudah disiapkan ibu "
Mereka lalu masuk ke dalam rumah dan terkejut mendapati semua orang sedang berada di ruang keluarga, dan Dani seperti sedang kena marah ibu
"Ibu kenapa? kok Dani meringis kesakitan gitu? " tanya Sofie mengelus kepala adik bungsunya yang langsung berlari kearahnya meminta perlindungan
"makannya jangan nakal, kena marah ibu kan. Ayo ikut kakak aja ke kamar"
"Asik" teriaknya girang mengikuti Sofie dan Andre
Sofie menyerahkan satu paper bag kepada Dani, Dani dengan riang langsung membawa paper bag tersebut ke kamar nya.
Sementara Andre berganti pakaian, Sofie membawa paper bag yang di persiapkan untuk kedua orangtua
"Bu, pak, ini untuk kalian, semoga bapak sama ibu suka" ucap Sofie tersenyum lebar
"Makasih nak, kami tak perlu kamu berinoleh-oleh, kamu sudah pulanh kerumah saja kami sangat senang ya kan pak"
"Iya nak"
"Gak apa-apa kok pa, bu, Sofie yang minta maaf karena terlalu sibuk jadi jarang menengok ibu dan bapak"
"Kami maklum kok, yang penting jaga kesehatan "
"Siap"
"Eh ada apa nih bagi-bagi bingkisan? l tanya Herman begitu sampai
"Tenang punya kakak juga ada kok" ucap Sofie menyodorkan paperbag kearah kakak nya
"Makasih Sof, kakak bawa ke kamar dulu ya"
Sofie mengangguk sambil tersenyum
Senang rasanya bisa berbagi dengan keluarganya, melihat mereka tersenyum dan bahagia.
Andre datang sudab dengan pakaian santai, ia memakai baju Herman, tubuhnya yang besar dan tinggi membuat pakaian yang dipakai nya justru terlihat kekecilan di badan nya
"Pria ini memakai apapun, dari sudut manapun aku memandang nya tetap terlihat tampam"gumam Sofie melihat Andre tek berkedip
"Ayo nak Andre kita langsung menuju kolam, biar Dani dan Herman menyusul kita" ajak Bapak bangkit, lalu mereka berjalan ke kebun belakang, kebetulan di sana juga terdapat kolam ikam yang sengaja di buat oleh bapak untuk memelihara ikan.
__ADS_1