
Sofie melangkah menuju dapur, perutnya telah meminta di isi karena berbunyi terus menerus, namun langkahnya terhenti ketika melihat kedua mertuanya sedang duduk menikmati teh hangat, mereka terlihat sedang serius berbincang-bincang lalu tiba-tiba berhenti ketika mereka melihat kedatangan Sofie
Haryo tersenyum canggung menatap kedatangan mantunya, sedang Tania tanpa ekspresi, ia telihat tegang
Sofie berusaha menutupi keterkejutannya dan tersenyum menyapa
"papa, mama kapam sampai? apa kabarnya?" Sofie menyalami kedua mertuanya sambil mencium punggung tangan mereka
"Tadi malam kami sampai, kamu sudab tidur, jadi kami tidak membangunkanmu"
"Bagaimana keadaan kamu? Apa kamu pusing? mau makan apa, bilang sama mama? " ucap Tania memegang tangan sofie
"Sofie baik-baik aja ma, apa mama sama papa sudah tahu? maksud Sofie, apa Risya memberitahu mama dan papa kalau Sofie hamil? "
"Iya sayang, mama seneng sekali kamu sedang mengandung cucu mama, kalau ada yang mau kamu makan, kasih tahu mama ya"
Sofie tersenyum canggung, untuk pertama kalinya Tania bersikap baik dan lemah lembut layaknya mama mertua.
Sofie melihat sekeliling, ia tak mendapati orang yang di carinya, ada rasa kecewa sekaligus lega
"Kak Sofie apa sudah lapar? Hilda sudah masak soup ayam kampung, biar ngurangi mual muntah kak Sofie"
"Makasih Hilda" ucap Sofie, jika saja kedua mertuanya tidak ada disini, Sofie bisa langsung makan tanpa menunggu mereka, namun kini ia harus menahan sedikit laparnya
"Sabar ya nak, mama tahu kamu lapar, tapi kita tunggu kakek dan nenekmu" gumam Sofie dalam hati menelan saliva nya
"Sebaiknya kita makan sekarang pa, ibu hamil akan kelaperan di pagi hari karena biasanya hingga malam ia akan mual muntah di trisemester pertama kehamilan" ucap Tania yang seakan tahu jika mantunya kini sedang kelaperan
Mereka lalu menuju meja makan, lalunmulai sarapan pagi, semua nampak canggung, tak ada seorang pun yang berbicara, semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Pagi pa, ma, kak Sofie, bebeb " sapa Risya ketika sampai di ruang makan lalu segera duduk dan langsung menikmati sarapan paginya
__ADS_1
Kedatangan Risya langsung mencairkan suasana
"Kak Sofie gimana keadaannya? apa masih mual? kebetulan di bawah ada buah mangga yang lagi berbuah, apa kakak mau Risya petikkan beberapa?
"Mau, makasih ya Risy" ucap Sofie yang langsung membayangkan buah mangga asam di mulutnya, ia menelan air liurnya.
"Ok nanti Risya ambilkan kak"
"Pagi... "sapa seseorang
Sofie sintak langsung menghentikan makannya
"Ah mungkin hanya halusinasinku saja karena rindu sekaligus benci dengan mas Ido" Sofie melanjutkan makannya, namun ia melihat semua mata memandang ke arah sumber suara dibelakang Sofie, papa dengan wajah datarnya, mama dengan wajah cemberut serta Risya dan Hilda.
Sofie perlahan menengok kebelakang kursinya dan mendapati Ido sedang berdiri canggung di belakangnya.
Sofie terkejut hingga sendok yang dipegangnya jatuh, ia tak menyangka jika suara tersebut nyata adanya, Ido ada di sini, di dekatnya.
"Papa dan mama akan menunggu kalian berdua selesai makan di ruang keluarga" ucap Haryo langsung berjalan menuju ruang keluarga di ikuti Tania yang melotot sebal ke arah anak kesayangannya
"Aku duluan kak, mau petik mangga dulu, ayo Hilda" Risya dan Hilda
Sofie hanya bisa mengangguk pasrah menatap kepergian dua sejoli itu
"Sayang, maafkan aku" ucap Ido yang tahu-tahu sudah berada di samping Sofie
Sofie hanya diam membisu, tak bergeming dari tempat duduknya, Ido menyentuh tangan Sofie, namun Sofie buru-buru mengibaskan tangan suaminya itu.
Sofie masing mengingat jelas perselingkuhan Ido dengan mata kepalanya sendiri, Ia juga melihat tangan yang menyentuhnya itu menyentuh bagian dada wanita itu.
Sofie merasakan sakit hati yang teramat sakit, hingga tak terasa air matanyapun meluncur dengan deras, tubuhnya terguncang-guncang
__ADS_1
Ido mendekatinya lalu memeluk Sofie, namun Sofie berusaha memberontak melepaskan pelukan Ido
"Maafkan aku sayang, please, jangan siksa aku lagi.
aku tahu aku salah, baru aku kesempatan untuk memperbaiki diri" ucap Ido makin mengeratkan pelukannya
"lepasin mas, aku gak mau kamu sentuh dengan tangan kotormu itu" teriak Sofie
"Aku gak akan lepasin kamu sampai kamu memaafkan aku"
"Aku akan lebih membencimu mas jika kamu tetap melakukan itu"
Akhirnya Ido melepaskan pelukanya menatap wajah Sofie, namun Sofie membuang muka enggan menatap Ido
"Apa kamu tidak mau menatapku lagi? apa sebenci itu kamu sama aku"
"Kamu pikir sendiri aja mas, kurang apa aku sama kamu? apa selama ini aku menuntut banyak sama kamu? gak kan? pernikahan kita baru seumur jagung mas, tapi kamu sudah selingkuh, rumah tangga macam apa yang kamu berikan padaku nanti jika aku memaafkan kamu??? neraka? "
"Maafkan aku, aku bisa menjelaskan, kejadian yang kamu lihat itu hanyankecelakaan saja, aku berani sumpah jika memang Amara yang merayuku, ia menarikku hingga ia jatuh duduk dalam pelukanku"
"Tapi kamu menikmatinya kan? aku lihat tanganmu yang kotor itu berada di payudara wanita itu
"sayang, itu salad buah ketidak sengajaan, aku bermaksud mendorong Amara , namun malah.. ah sudah lah, aku sudah memecat wanita itu, jadi kamu mau maafin aku kan? "
"Apa kamu kira dengan memecat wanita itu aku bisa percaya lagi sama kamu? gak mas, kepercayaanku sama kamu sudab luntur, aku sudah tidak bisa lagi melihat sosok pria yang aku kagumi dulu. Itu tidak ada pada dirimu yang sekarang, waktu sudah merubah kamu mas"
"Aku mohon, maafkan aku, aku rela menunggu berapa lama pun asal kamu memberi aku kesempatan. demi anak kita" ucap Ido bersimpuh memohon di kaki istrinya.
Sofie yang hendak melangkah pergi, membeku di tempatnya
"Please maafkan aku demi anak kita"
__ADS_1