
Setelah si rusuh Dani menghilang, mereka lalu duduk berbincang-bincang sambil menikmati udara sore di pedesaan ditemani suara kicauan burung.
Sofie menghindari tatapan Andre, karena ia masih merasa malu dengan ucapan adiknya beberapa waktu lalu
"pa, bu Herman ke kamar dulu ya ganti baju"
"Andre gue tinggal dulu ke dalam ya" ucap Herman dibalas Anggukan semua orang
"Nah ibu mau liat si bontot dulu, itu anak walau sudah besar, pulang sekolah gak akan ganti baju kalau gak di suruh, ibu tinggal dulu ya nak" Sri berjalan masuk kedalam rumah
"cuaca lagi bagus, bagaimana jika bapak ajak kamu mancing di kolam. bagaimana nak Andre? " tanya bapak tiba-tiba
"Boleh om, tapi Andre gak bawa alat memancing"
"Owh itu gampang, bapak punya di dalam. biar kita bertiga mancing lumayan buat makan malam, kamu menginap aja tidur di kamar Herman" ucap Bapak tiba-tiba membuat Sofie memandang Bapaknya lalu memandang Andre bertanya
"Ah Andre harus pulang pak, dia ada keperluan" potong Sofie
"Enggak kok, saya akan menginap jika tidak merepotkan, lagi pula saya belum pernah merasakan susana malam hari di pedesaan" sangkal nya cepat membuat Sofie melotot kearahnya meminta penjelasan
"Bagus itu, kita mancing bertiga, malam kita bakar ikan di sini. Kamu pasti akan ketagihan tinggal di pedesaan, kamu wajib merasakan susana malam di sini" ucap Bapak bersemangat
"Bapak ambil joran dulu, kamu sebaiknya ganti pakaian mu, Sofie antar nak Andre dan bawakan pakaian untuk dia berganti" ucap Bapak antusias lalu berjalan meninggalkan mereka
Sofie yang sejak tadi menahan diri langsung menarik tangan Andre
"Maaaasss, kok kamu gak nolak sih ajakan bapak? "
"Gak boleh membantah orangtua"
"Ih gak ada hubungan nya tau" ucap Sofie cemberut
"Aku belum sanggup meninggalkan wanitaku disini, aku masih rindu dia" ucap Andre tiba-tiba, menarik tangan Sofie hingga ia berada di dekapan Andre
"Mas, bagaimana jika ada yang liat? "
"Biarkan saja malah bagus kita kan ditangkap kawin segera" senyum Andre jahil
"Mas ih, nyebelin" ucap Sofie merajuk
Andre menengadahkan wajah wanita yang dicintai nya ini lalu ******* bibir ranum Sofie, mereka hanyut terus saling *******
__ADS_1
Andre melepas ciumannya, memandang Sofie penuh cinta, mengecup kening Sofie lembut, lalu ********** kembali kini lebih dalam.
Andre menyudahi ciumannya, ia tersenyum lebar menatap Sofie yang kini wajahnya merona merah
"sayang, aku ingin segera menikahi mu, menjadikanmu milikku selamanya, melahirkan anak-anak ku" ucap andre membelai wajah Sofie
"Apa kamu sungguh mencintaiku mas? "
"Mengapa kamu masih saja sangsi sayang? jika sekarang aku sudah mengantongi izin semua orangtua kita, aku akan menikahi mu sekarang"
"Mas,... apa kamu gak akan menyesal nanti? kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dan cantik di luaran sana, yang tentunya masih berstatus singel" Sofie menundukkan kepala, ia sudah lega mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini mengganjal hatinya, kini ia harus pasrah mendengar perkataan Andre, apapun yang akan Andre sampaikan ia siap
"Memang banyak di luar sana yang cantik, tapi tidak secantik kamu, kamu cantik luar dalam, memang banyak di luar sana yang baik, tapi bagiku kamu yang terbaik untuk ku dan masa depanku .
Banyak wanita lajang disana, namun sedikit yang lajang dan menjaga kehormatannya.
Bagi mas, status bukan masalah kini atau nanti, yang mas cintai orangnya, bukan statusnya sayang. yang mas cintai hanya kamu seorang, makmum mas dunia akhirat Insha Allah mas yakin itu kamu"
"Mas, makasih mas mencintai ku sebesar ini, Aku mungkin bukan wanita sempurna, namun aku mau belajar menjadi wanita yang layak bagimu"
"Kamu sempurna buat mas" ucap Andre mendekap Sofie sambil menciumi kening nya
Bim yang sudah berada di ambang pintu belakang, memilih kembali masuk kedalam, ia berpapasan dengan Herman yang sudah siap dengan jorannya
"Loh, bapak gimana sih? katanya ngajak mancing? kok malah bawa Herman kesini? " protes Herman setelah mereka duduk di ruang keluarga
"Oh bapak ada sedikit yang ingin bapak diskusikan sama kamu mengenai nak Andre, bagaimana pendapatmu? " ucap Bim mengalihkan pembicaraan, karena tak mungkin ia mengatakan jika ia memergoki putrinya sedang berpelukan dengan Andre
"Hmmm menurut Herman, Andre baik, sopan, bertanggung jawab, dan yang Herman tau dia sudah suka Sofie sejak lama sebelum Sofie menikah pak"
"Apaaa? maksud bapak bagaimana kamu tahu? kok gak bilang sama bapak?"
"Loh wong bapak ndak tanya saya, masa iya tahu-tahi saya bilang gitu? "
"Ah iya juga ya" ucap Bim manggut-manggut
"Kamu tahu dari mana kalau nak Andre sudah suka adikmu sejak lama? mengapa mereka gak jadian waktu itu"
"Kalau masalah Sofie dan Andre gak jadian dulu, Herman gak tahu pasti pak, cuma dari Nia Herman baru tahu kalau dulu Andre itu pengawas di tempat almarhum Agus.
Menurut Andre ia sudah suka sejak saat itu, tapi kan Sofie sudah sama Agus, terus setelah itu, bapak ingat waktu Sofie jatuh dan di bawa kerumah sakit?
__ADS_1
Andre juga yang membawanya, malah menurut cerita Nia, Andre terlihat sangat panik dan langsung membopong tubuh Sofie, dia malah marah saat asistennya menyentuh Sofie, Dia pasti sudah cinta sama Sofie pak, makannya dia gak mau orang lain dekat dengan Sofie, namun karena yang kita tahu pak Prakoso malah meminta Sofie bekerja dan sampai bertemu Ido dan kita tahu kelanjutannya... "
Bim menghela nafas panjang, awalnya ia ragu putrinya di dekati Andre, namun melihat cerita yang di sampaikan Herman, hatinya tergerak.
Ia bisa merasakan besarnya cinta Andre pada putrinya, terlebih Andre sendiri yang mengatakan belum memikirkan menikah sampai bertemu dengan Sofie kembali.
Pemuda itu tidak bisa move on dari anaknya
"Bapak mau minta pendapatmu sebagai anak sulung bapak dan kakak nya Sofie, bagaimana nak Andre? apa kamu setuju Sofie dekat dengannya? "
"Dani setuju pak" ucap sebuah suara tahu-tahu nimbrung dalam pembicaraan mereka, Entah sejak kapan Dani berada disana, kini ia menyangga dagunya di Sofa tepat di sebelah Herman
Herman yang mendengar ucapan Dani sontak mendongak dan bersiap mendaratkan jitakkan di kepala bocah tengil itu
Dengan Sigap Dani berlari ke sofa Bim dan duduk di samping Bim dengan wajah mengejek pada Herman
"Kalau orangtua ngomong, gak boleh main nyamber " bentak Herman kesal
"Iya, iya udah tua, gak usah di kasih tau Dani juga udah tahu" ucapnya menahan tawa
Herman melotot mendengar jawaban adiknya membuat ia bangkit hendak men jitak Dani
"Sudah-sudah, kalian kalau bertemu selalu aja berantem, bapak pusing"
"Kak Herman duluan pak, seneng banget benjol kepala Dani, nanti Danu **** gimana gara-gara sering di jitak kak Herman? " adu Dani memasang wajah teraniaya
"Kamu juga kak, masa adik kamu di marahi terus, jadinya kan gini"
"Kok bapak nyalahin Herman?" gerutu Herman tak terima
"Bukan nyalahin, ini anak kan memang beda usia jauh sama kamu, jadi kamu harus bisa mengayomi adik-adikmu"
"Iya pak" ucap Herman akhirnya walau gondok, ia mengirim tatapan membunuh pada Dani
"Lagian Dani gak salah kan pak, kak Herman sudah tua tapi belum juga cari pacar, apa perlu Dani yang carikan? " ucap Dani menaik turunkan alisnya, membuat Herman kian geram
"Aaaaaawwwww sakit pak, sakit" teriak Dani tiba-tiba sambil memegang kupingnya yang di jewer Bim dengan gemas
"hahahahaa rasakan" tawa Herman puas melihat bapaknya menjewer Dani
"Cepat minta maaf kakakmu atau kuping mu bapak jewer sampai warung bu markonah, biar pacarmu liat kalau kamu di hukum bapak
__ADS_1
"Iya, iya ampun pak, Dani gak akan usil lagi, Jangan jewer Dani pak apalagi bawa ke sana, malu di liat vika" ucap Dani mengatupkan kedua tangannya ke depan, memohon
Sementara Herman tertawa terbahak-bahak, ia tak menyangka bapaknya seorang intel yang bisa tahu jika Dani sudah punya pacar anak toko kelontong bernama Vika.