
Sofie sengaja menghabiskan weekend nya di kediaman nya sendiri, ia membuka jendela kamarnya dan berdiri di balkon kamar yang menghadap ke taman belakang rumah nya.
Sofie melihat Erna sedang menyuapi kedua anak nya, terlihat kedua anak itu tertawa senang berlari kesana kemari membuat Erna kewalahan di buat nya.
Namun ada senyum bahagia tersungging di bibir nya melihat buat hati nya hidup ceria dan penuh tawa.
Erna menghapus air mata yang menetes di pipi nya, ia merasa sangat bersyukur karena Sofie membantu nya keluar dari dunia hitam.
Kini ia bisa merasakan kehidupan normal layaknya keluarga-keluarga kecil di luar sana.
Erna belajar memasak, mencuci, mengurus dua buah hati nya sendiri dan bermain bersama mereka.
Erna tidak tahu jika seseorang memperhatikan nya dari balkon kamar nya.
Sofie tersenyum melihat pemandangan di bawahnya, ia membayangkan jika kini ia yang sibuk menyuapi buah hati nya, tanpa sadar ia mengelus perut rata nya
"Andai kamu masih di perut mama pasti mama akan merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu, sayang nya, Allah lebih sayang kamu dan mengambilmu dari mama" gumam Sofie lirih hanyut dalam lamunan nya, hingga suara cadel anak kecil memanggilnya
"Mama Sofie, cini main cama Dian, kakak nakal jadi Dian gak mau main sama kakak" teriak Dian, putri bungsu Erna memanggil Sofie dengan suara lucu nya
Sofie memang meminta Dian dan Sasha mrmanggilnya mama, karena ia sangat menginginkan menjadi seorang ibu.
"Sebentar mama Sofie kesitu" ucap Sofie berteriak yang di jawab anggukan kecil Dian
Tak lama kemudian Sofie sudah berada di taman lalu mereka bermain kejar-kejaran, Erna hanya melihat dari kejauhan sesekali Dian dan Sasha menghampiri nya untuk disuapi Erna.
Sofie menghampiri Erna, nafas nya tersengal-sengal.
"Aku tak sanggup mengikuti permainan anakmu Er, nafasku mau putus rasanya.
Mereka anak yang aktif serta cerdas. "
"Ini semua berkat kamu Sof, aku bisa merasakan kebahagiaan sebuah keluarga kecil yang Normal"
"Ini berkat kamu juga karena mau berjuang demi mereka dan bangkit dari keterpurukan. Ngomong-ngomong apa kalian betah tinggal disini?, aku seperti nya harus merenovasi beberapa bagian rumah yang kamu tinggali, sementara kalian tinggal di rumah utama dengan ku"
"Aku dan anak-anak kerasan tinggal disini, mereka bersyukur bisa tinggal di rumah ini. menurutku rumah yang aku tinggali masih layak"
"Tapi kalian berempat sementara di sana hanya ada satu kamar, tidak nyaman rasanya berdesak-desakan satu kamar"
"Sof, percaya lah. Kami sudab bersyukur kamu beri tempat tinggal untuk bernaung"
"Tapi si kecil itu sebentar lagi akan besar dan ia butuh mandiri, aku sendiri akan jarang tinggal di rumah inu karena papa dan mama belum mengizinkan aku mandiri tinggal terpisah"
__ADS_1
"Itu karena mereka sangat menyayangimu, beruntungnya kamu"
"Ya, Aku sangat beruntung memiliki mereka di hidupku, tak terkecuali orangtuaku. aku bahagia memiliki mereka"
Erna terdiam lama, ia sebenarnya adalah anak keluarga berada, namun karena kelakuannya yang mencoreng nama keluarga nya, akhirnya Erna di coret dari daftar keluarga, tak dianggap anak.
"Bagaimana orangtuamu Er, apa kamu tidak ingin mengunjungi mereka bersama kedua buah hatimu? "
"Aku belum siap"
"Jangan kau tunda Er, semarah apapun orangtuamu, mereka tak akan membunuhmu jika kau datang dan meminta maaf.
perjuangkan maaf dari orangtuamu, sebelum kamu tak bisa meminta maaf lagi.
Terlebih lagi si kecil juga harus tahu keluarga nya, oma dan opa nya.
Percayalah jauh di dalam hati mereka merindukanmu"
"Aku butuh mengumpulkan keberanian ku dulu"
"Aku harap kamu tidak menunda-nunda sesuatu yang baik. Aku tahu keraguanmu karena masa lalu mu yang kelam.
Ingat kamu sudah bertaubat dan keluar dari sana. kamu juga berhak berbahagia."
"Aku mau izin bawa anak-anak jalan-jalan.
Sekalian membeli beberapa kebutuhan pokok. Apa kamu mau ikut juga? "
"Enggak, aku masih ada pekerjaan di dapur, biar kan anak-anak bersenang-senang, makasih ya Sof.
Kamu malaikat penolong bagi kami"
"Kalian sudah ku anggap saudaraku sendiri, jangan sungkan.
Ya udah aku siap-siap dulu ya. "
Sofie mendekati anak-anak Erna lalu membisikkan sesuatu. terlihat mereka bersorak senang lalu berlari kegirangan ke arah Erna.
Sofie meneruskan langkahnya menuju kamar untuk mandi dan berpakaian.
Satu jam kemudia Sofie turun dari kamarnya, terlihat Dian dan Sasha sudab duduk cantik di ruang tamu menunggu dirinya
"Mama Sofie" ucap mereka serentak lalu berlari memeluk Tubuh Sofie.
__ADS_1
"Apa kalian siap? " tanya Sofie
"Iyaaa" jawab Sasha dan Dian serentak.
"Kalian jangan nakal ya, jangan lari-larian, dengar apa kata mama Sofie" ucap Erna mencium kedua anaknya yang berpamitan
"Iya mama, Sasha akan jaga adik Diak biar gak nakal"ucap Sasha seperti anak besar, padahal selisih umur mereka hanya satu tahun.
"Huh, Dian sudah besar ya kan mama Sofie" ucap Dian tak terima meminta pembelaan Sofie
"Hahha kalian berdua memang lucu banget sih, Kak Sasha bener, Dian harus denger apa kata kak Sasha ya"
Dian mengangguk lesu membuat Sasha menjulurkan lidahnya meledek adiknya
"Kak dan Adik saling menjaga itu yang benar" ucap Sofie lagi
"Ayo kita berangkat, aku jalan dulu ya Er"
"Hati-hati dijalan, ingat jangan nakal ya anak-anak. " ucap Erna melambaikan tangan.
Sofie mengendarain kendaraan nya, sementara dua anak Erna di bangku penumpang.
Bang Jack Suami Erna sekarang jadi bodyguard Prakoso karena wajah garang dan badan Jack yang tinggi tegap dan berotot.
Selain iti ternyata Jack bisa dipercaya menjadi orang kepercayaan Prakoso, ia orang yang loyal dan pekerja keras.
Empat puluh menit kemudian, kendaraan Sofie sudah memasuki pelataran parkir sebuah mall terbesar di kota nya.
Mereka lalu masuk ke dalam mall, Sofie membawa membawa mereka kesebuah arena bermain anak-anak.
Mereka bermain sepuasnya, Sofie hanya mengikuti mereka yang memainkan permainan satu ke permainan lain nya hingga hampir tiga jam mereka puas bermain.
"Mama Sofie, Dian laper" ucap si kecil Dian menghampiri Sofie
"kemana kakakmu sayang? tanya Sofie mencari keberadaan Sasha.
Ia hanya meninggalkan mereka selama beberapa menit karena menerima panggilan telepon dari Nia
"Tadi kakak katanya mau pipis, Kakak liat mama lagi telepon jadi kakak jalan sendiri ke toilet" ucap Dian membuat Sofie menepuk jidat nya sendiri, karena sibuk menelpon ia mengendorkan pengawasannya pada kedua anak tersebut, beruntung Dian masih sibuk bermain tidak mengikuti kakak nya.
Sofie lalu berlari mencari keberadaan Sasha.
ia berjalan menuju toilet yang terdekat dari arena bermain
__ADS_1