
Insting Kuncoro mengatakan jika maksud kedatangan wanita itu tidam baik, ia langsung berfikir negatif, ia menebak jika wanita itumembawa kabar penting
Sepuluh menit kemudian Santi kembali mengetuk pintu, setelah mendengar Kuncoro memperbolehkan ia masuk, Santi masuk dengan di dampingi seorang wanita muda yang cantik seumuran anaknya yang perempuan
"Siang om, maaf kalau kedatangan saya mengganggu om"ucap wanita itu sambil menundukkan kepala, tak berani menataP Kuncoro yang menatap penuh selidik pada wanita itu
"Tak apa-apa, silahkan duduk" ucap Kuncoro mempersilahkan wanita itu duduk di sofa yang berada di dalam ruangannya
Setelah duduk wanita itu masih diam, ia masih tetap menundukan kepala sambil meremas dressnya sendiri karena gugup
Tak lama kemudian Santi kembali masuk membawakan minuman untuk Kuncori dan tamunya
"Silahkan diminum" ucap Kuncoro yang terlihat Santai, ia memang pribadi yang ramah dan bijaksana
"Makasih om" ucap wanita itu meneguk teh manis hangat dan menghela nafas panjang sebelum mengutarakan maksudnya
"Maaf kalau kedatangan saya mengganggu pekerjaan om dan waktu berharga om, saya gak tahu harus kemana lagi meminta bantuan, cuma om yang bisa saya minta tolong, ini menyangkut anak om dan nyawa tak berdosa dalam rahim saya" ucapnya mulai menangis
"Maksud kamu? kamu sedang mengandung anak Angga? apa benar begitu? " Kuncoro seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri, ia ingib memastikan lagi dengan memperjelas pertanyaannya, nampak wanita itu mengangguk pelan, terlihat ia takut dan malu
Kuncoro membuka kacamata yang membingkai matanya, ia mengurut kening dan pelipisnya yang terasa berdenyut, anak itu menimbulkan masalah yang sangat besar untuk perusahaannya dan kini menghamili anak orang.
"Siapa namamu nak, berapa lama kamu kenal dengan Angga? " tanya Kuncoro pelan
"Melisa om, saya sudah dua tahun berpacaran dengan Angga, saya mohon om, saya tidak mau mengugurkan anak ini, saya sudah banyak dosa dan saya tidak mau menambah dosa lagi" ucapnya masih dengan menundukkan kepalanya dan menangis tersedu-sedu, ia kawatir papanya Angga akan memintanya mengugurkan anak dalam kandungannya, seperti halnya Angga menyuruhnya, Melisa tidak mau, ia mau mempertahankan anak dalam kandungannya.
Melisa juga mengumpulkan keberanian menemui papanya Angga, karena dia tahu dari Angga jika papanya itu orang yang sangat terbuka dan bijaksana
"Baik Melisa, kamu benar datang pada om, bagaimanapun Angga harus bertanggung jawab padamu, dan om akan pastikan itu, kamu tak perlu kwatir tentang itu.
Beri waktu om sedikit ya? om perlu menyelesaikan sesuatu" ucap Kuncoro , ia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil selembar kertas dan pulpen lalu menodorkannya pada Melisa
"Tulis alamatmu disini, segera setelah urusan om selesai, kami akan melamarmu" ucap Kuncoro mencoba tersenyum, walau hatinya kini di liputi amarah pada Anggara, anak laki-lakinya semata wayang
__ADS_1
Melisa menuliskan alamat rumahnya lalu mengembalikan kertas itu pada Kuncoro
"Apa kamu sudah ke dokter untuk memeriksakan kandunganmu? tanya Kuncoro
"Sudah om, kandungan Mel sudah menginjak tiga bulan" ucapnya pelan sambil membuka tasnya mengambil sebuah amplop coklat
"Ini om hasil pemeriksaan kemarin" ucap Melisa menyerahkan pada Kuncoro
Kuncoro melihat dengab teliti wajah Melisa, anak ini jujur dan bisa ia percaya
"Om boleh pinjam hasil pemeriksaanmu? nanti om kembalikan"
"Baik om, kalau begitu Melisa pamit dulu,Assalamu'alaikum" ucap Melissa mencium punggung tangan Kuncoro
"Wa'alaikum salam, jika perlu apa-apa hubungi saja om" ucap Kubcoro menyerahkan kartu namanya
"Baik om, melisa permisi" Melisa pergi meninggalkan ruang kerja Kuncoro, kini wajahnya terlihat sedikit lega
Setelah kepergian Melisa, Kuncoro membanting vas bunga yang ada di atas mejanya, ia perlu meluapkan emosinya, selama ini ia sudah menahannya dan bersabar, berharap anak dan istrinya suatu saat akan sadar, namun kali ini ia harus bertindak tegas
Santi masuk kedalam ruang kerja Kuncoro, Santi melihat ruangan Kuncoro yang berantakan, ia tak pernah melihat boss nya itu semarah ini, ini kali pertama semenjak sepuluh tahun mengabdi
"Pesankan pesawat menuju jakarta, siang ini juga, segera" ucap Kuncoro yang berdiri menatap kota surabaya dari balik kaca
"Baik pak, ada lagi yang lain? "
"Tolong minta office boy membereskan kekacauan ini dan hati-hati banyak kaca, saya mau pulang sekarang, atur ulang semua jadwal saya seminggu kedepan kosongkan, karena saya gak tahu kapan akan kembali" ucap Kuncoro lalu melangkah pergi dengan wajah muram
"Ya Tuhan, apa yang membuat si boss sampai semurka in? pak Kuncoro tidam pernah marah dan jika ia sekarang seperti inu bisa dipastikan inu semua ulah mas Anggara, anak itu huh selalu menyusahkan papanya" Santi memanggil office boy merapihkan ruangan Kuncori, dan ia segera bergegas mencari penerbangan untuk bossnya itu siang ini juga
Sementara di apartemen Anggara
"Angga, apa yang kamu lakukan sehingga membuat papamu murka? dia tidak pernah berteriak pada mama sepanjang pernikahan kami, kali ini pasti kesalahanmu sudah fatal, mama tidak bisa menolongmu" ucap Andini mengangkat kedua tangannya
__ADS_1
"Angga gak melakukan apa-apa ma, suer" ucap Angga mengangkat dua jari tengahnya
"Mama gak tahu dan gak mau tahu, yang jelas kali ini mama benar-benar takut sama papamu, papamu marah besar" Andini berjalan menuju kamarnya sambil memijit kepalanya yang berdenyut
Baru kemarin mereka bertengkar, namun Kuncoro tidak berkata keras padanya hanya memintanya segera kembalu segera, namun kali ini suaranya menggelegar di sertai suara benda di lempar lalu hancur, terdengar Alin anak perempuan mereka menangis dan berteriak berusaha menenangkan papanya
"Ya Allah, anak itu selalu membuatku sakit kepala, tidak pernah bisa diandalkan" ucap Andini meminum obatnya lalu berbaring di tempat tidur
Drttttttt Drtttttttt Drttttttt
Ponsel Andini bergetar
Alin Calling......
"Assalamu'alaikum ma, mama kapan pulang ah maksud Alin mama jangab kemana-mana papa menuju Jakarta sekarang"ucap Alin panik
"Apaaaaa? kamu gak lagi becanda kan nak? "
"Ya elah mama, Alin buat apa becanda? papa tadi marah besar, pot kristal mama saja sampai hancur berkeping-keping, kak Angga benar-benar ya bikin malu"
"Maksud kamu apa nak, mama gak ngerti" Andini bergidik ngeri mendengar ucapan anaknya, ia lebih memikirkan dirinya daripada pot kesayangannya, itu juga pertama kalinya Kuncoro membanting barang saat marah
"Kak Angga menghamili anak orang ma" ucap Alin setengah berteriak
Tak terdengar sautan di ujung telepon
"Ma, mama dengar gak? " tanya Alin karena tak terdengar suara mamanya lagi
"Mama belum tuli, kamu teriak kencang di kuping mama, kamu kira mama budeg apa? teriak Andinu marah
"Maaf ma, ya udah, Alin di panggil papa, Alin mau antar papa ke bandara"
Tut..... tut... tut...
__ADS_1
Panggilan berakhir
"Anggaaaaaaaa, kamu bunuh mama aja sekaliaaaaannn, anak durhaka cuma bikin malu" teriak Andini menangis sejadi-jadinya