Aku Yang Tersakiti

Aku Yang Tersakiti
Erna II


__ADS_3

Erna pamit ke toilet merapihkan make nya yang luntur karena menangis, dan Sofie meminta Nia menemani Erna, karena tubuh Erna seperti sedang sakit, wajahnya terlihat tidak sehat walau tertutup make up tebal, Sofie masih bisa melihat nya.


"Guys, kalian tahu gak siapa Pria bule tadi? dia itu klien Erna yang marah dan meminta uangnya di kembalikan”


"Maksud loe apa? gue gak ngerti" tanya Juki


"Jadi Erna itu ,... ”


"Jangan-jangan loe mau bilang kalau dia wanita penghibur?" tebak Irpan yang di angguki Azis


mereka saling berpandangan tak percaya


”loe jangan bercanda Aziz, ini serius”


"Gue gak becanda, tadi gue ngancam tuh bule akan gue laporin polisi, makanya dia jujur bilang kalau wanita itu (Erna) sudah di bayar tapi ternyata si bule kecewa karena Erna...”


"Ah loe ngomong gak jelas Zis , bikin orang mati penasaran aja"gerutu Juki


Aziz menghembuskan nafas beberapa kali, terlihat ia sedang berfikir keras


"Jadi kenapa si bule itu marah adalah karena ternyata Erna memiliki penyakit kelamin yang sudah lumayan parah, si bule belum sempet ajib - ajib karena keburu tahu kondisi Erna. Dia bilang sih bayar sama pacar nya Erna dan loe tahu gak ciri-ciri laki-laki yang si bule bilang serta namanya?


"Ricky" Dan menurut gue, ini Ricky temen sekolah kita dulu"


"Astaghfirullah”ucap mereka serentak


"loe yakin gak salah denger Azis?"


"Gue yakin tadi sampe dua kali memastikan kalau gak salah dengar, si bule kasih gambaran laki-laki itu, dan gue sempet tunjukkin foto si Ricky yang tahun lalu kita reuni Akbar, untung gue masih simpan foto kita dan tuh bule yakin baget kalau pria itu yang dia bilang pacar Erna"


"bajing*n si Ricky, istri sendiri dia jual"ucap Irpan geram dan pembicaraan mereka terhenti karena Erna dan Nia sudah kembali .


"Dajal itu manusia, tega banget istri di sewain gitu"ucap Juki tak kalah geram


Terlihat mereka semua geram akan perbuatan Ricky, walau Erna punya masa lalu kelam, tapi ia sudah jadi istrinya. Sofie melihat kedatangan Erna dan Nia, ia merasa terenyuh melihat kondisi Erna


Nia melihat tingkah laku mereka yang terlihat canggung dan ada sorot mata prihatin di sana, namun ia menahan untuk tidak bertanya.


"Erna loe tinggal dimana?, gimana kalau loe ikut nginep aja di tempat gue, kebetulan masih ada kamar kosong” ajak Sofie


"Gue, gue takut Ricky cari-cari, lain kali aja ya" tolak Erna


"Nanti gue yang tanggung jawab, masalah Ricky low serahin semua sama gue, mau ya??” Sofie memohon membuat Nia mengeryit kan dahi nya bingung, namun ia tak berani bertanya langsung.


Sama hal nya dengan Azis, Irpan dan Juki yang saling bertanya lewat pandangan mata.

__ADS_1


"kalau ada kamar lagi, gue juga minat"ucap Azis tiba-tiba membuat Irpan dan Juki melotot menanyakan maksud Azis namun Sofie mengerti dan langsung mengiyakan.


Malam ini Aziz cek out dari hotel dan ikut mereka tinggal di cottage keluarga Prakoso


Sepeninggalan mereka, kini tinggallah Juki dan Irpan yang masih berada di parkiran mobil, mereka bingung dengan maksud Sofie membawa Erna ke tempatnya. Pasalnya mereka tahu tabiat Ricky dan khawatir dengan keselamatan Sofie.


Beruntung Azis cepat tanggap ikut mereka untuk melindungi Sofie dan Erna.


Kedua pria tersebut tidak mengetahui jika Sofie kini dan dulu berbeda, Sofie yang kini adalah pewaris sah dari seorang pengusaha sukses dan kaya raya, sehingga tak mungkin jika ia pergi tanpa pengawalan.


walau Sofie sudah meminta papa nya tidak mau di kawal, namun ia mengetahui bahwa diam-diam papa nya meminta pengawal yang menyamar melindungi dan membuntuti nya.


Setelah sampai di cottage,Sofie mengorek keterangan dari Erna, dengan menangis Erna menceritakan semua nya, namun Erna menyembunyikan penyakitnya, ia enggan bercerita tentang penyakit yang dinderita nya, mungkin ia malu jika Sofie dan Azis mengetahui penyakit nya, setelah itu Nia mengantarkan Erna ke kamar nya dan ia masuk ke kamar nya sendiri.


Sementara Azis dan Sofie masih berdiskusi mengenai masalah Erna dan mencari jalan keluarnya


”Kita harus memberi pelajaran Ricky, walau bagaimana pun Erna istrinya, ia memperlakukan Erna seperti binatang”


”gue setuju, kita atur besok.


Gue, Juki sama Irpan akan cari cara buat jebak Ricky"


"Kasian Erna, walau dia bukan wanita baik-baik , tapi menjadikannya wanita penghibur, sungguh keterlaluan" Sofie menggelengkan kepala, ia miris dengan nasib Erna.


"Gue setuju, seburuk apapun ia tetap teman kita, lagi pula ia sudah mendapat karma dari perbuatannya.


memaafkan lebih baik daripada menyimpan dendam yang berbuah penyakit hati"


"Siap pak ustad"Seloroh Sofie


"Ya udah low rehat dulu, gue akan tidur disini aja.


Dari info yang gue terima dari Juki and Irpan kalau Ricky itu gak se simple yang terlihat, ia bandar besar, jadi demi keamanan kalian, gue tidur disini aja


"Tapi Zis? "


"Percaya sama gue"


"Ya udah kalau gitu, gue rehat dulu, kalau ada apa-apa kabarin gue" ucap Sofie yang di balas Anggukan Azis


Sofie berjalan masuk kedalam kamarnya, ia lalu menghubungi papa nya, walau sudah terlalu malam, ia tak bisa menunda hingga esok.


Tak lama pintu kamar nya di ketuk, Aziz berdiri di depan pintu dengan seorang pria bertubuh atletis


"Sof, orang ini bilang orang suruhan papa loe "

__ADS_1


"Malam mba Sofie, saya Dimas yang ditugaskan pak Prakoso, beliau meminta saya melapor pada mba, dan akan menjaga mba dan teman mba" ucap Dimas dengan suara bass nya


"Oh ya mas Dimas, tolong bantuannya ya"


"Siap mba, kalau begitu saya permisi" Ucap Dimas Sopan lalu meninggalkan mereka


"Sofie, jadi bener itu orang suruhan papa loe?" Tanya Azis masih tak percaya


"Iya , mereka di kirim papa untuk jaga kita"


"Kok bisa?maksud gue papa loe.."


"Nanti gue cerita, sekarang loe mending ke kamar istirahat, besok kita butuh tenaga buat rencana kita"


"Pak Bagus, tolong antar bapak ini ke kamar tamu ya"


ucap Sofie memanggil seorang pria setengah baya yang bertugas menjaga dan merawat cottage ini


"Baik mba Sofie, mari pak"ucap pak Bagus mengantar Azis menuju kamarnya.


Sofie masuk kedalam kamarnya, ia merebahkan tubuh nya di kasur, pikirannya melayang


Sofie lalu meraih ponsel di meja samping tempat tidurnya, lalu mengetik pesan singkat pada papa nya


***Sofie: "pa makasih ya, pak Dimas dan anak buahnya sudah di sini. maaf Sofie menyusahkan papa"


Prakoso:"Sudah kewajiban papa melindungi anak nya, apa perlu papa ke sana?"


Sofie:"Gak usah pa, sudah ada temen Sofie yang konsultan hukum disini, Sofie akan kabarin papa nanti"


Prakoso :"Hendra sedang on the way ke sana, papa gak tenang, jadi papa kirim Hendra"


Sofie: "Papa, Sofie bukan anak kecil lagi, Sofie bisa jaga diri, papa gak usah kwatir"


Prakoso :" Hendra ke sana atau papa yang ke sana"


Sofie menarik nafas frustasi, kadang ia merasa Prakoso terlalu over protective , namun ia memaklumi itu sebagai bentuk kasih sayang orangtua angkatnya tersebut.


Sofie: "Ya udah terserah papa, pak Hendra aja yang ke sini, papa tunggu kabar aja. Sofie istirahat dulu ya pa, Assalamu 'alaikum"


Prakoso: "Wa 'Alaikum salam***"


Sofie meletakkan kembali ponselnya di meja, ia kembali merebahkan tubuhnya, berusaha memejamkan matanya.


Ya Allah, aku ikhlaskan orang-orang yang membenci ku, ampuni mereka, sesungguh nya Azab Mu teramat pedih”

__ADS_1


__ADS_2